"Panakiak pisang sirauik, ambiak galah batang lintabuang, selodang
jadikan niru, nan satitiak jadikan lauik, nan sakapa jadikan gunuang,
alam takambang jadi guru". Pepatah diatas merupakan cerminan pola
pikir Minangkabau yang sangat mendasar dan bersifat terbuka terhadap
semua pandangan, pendapat, agama yang memperkaya adat dan budaya. Sebuah
falsafah social kemasyarakatan yang lahir dari budaya yang egaliter.



Belajar kepada alam adalah kata bijak yang selalu di dengung dengungkan
dari generasi ke generasi Minangkabau. Dengan begitu Orang Minangkabau
selalu memiliki pikiran yang terbuka serta mampu mengikuti perkembangan
dunia yang terus berjalan secara linear. Hal ini juga terkandung kedalam
pepatah Minang yang lain " sakali ayia lalu sakali tapian barubah
" yang semakin mengokohkan masyarakat Minangkabau untuk bertekad
selalu menyesuaikan diri dengan perubahan yang ada,tentunya melalui
proses penyaringan demi kesempurnaan adat dan limbago.



Kedalaman makna filosofi yang dikandung pepatah Minangkabau diatas
sungguh sangat dirasakan oleh masyarakat Minang beberapa generasi lalu.
Perombakan budaya dan adat besar besaran yang paling menentukan dalam
Minangkabau mungkin adalah ketika terjadinya perang saudara antara kaum
ulama pembaharu dengan kaum tua adat yang akhirnya berdamai di Bukit
Marapalam.



Kedinamisan itupun berlanjut ke jaman perjuangan kemerdekaan dimana satu
persatu tokoh Minangkabau muncul menjadi kaum intelektual yang mendorong
lahirnya republic ini. Tak dapat disangkal saat itu suku minangkabau
dikenal sebagai Gudangnya intelektual.



Bagaimana dengan Minangkabau saat ini ? Tampaknya pepatah yang
mencerminkan perubahan yang dinamis tersebut semakin kehilangan rohnya.
Dapat dilihat dengan tiadanya perubahan yang cukup berarti dalam
khasanah kehidupan masyarakat. Sangat jarang Orang Minang masuk kedalam
jajaran elite baik di pemerintahan ataupun pimpinan politik. Lalu apakah
penyebab penurunan kualitas intelektual ini ?



Banyak ahli sejarah dan tokoh masyarakat berpendapat asal muasal
kemunduran Minangkabau dari pentas nasional adalah dikarenakan kekalahan
dalam pemberontakan PRRI silam. Akibat dari kekalahan itu sungguh luar
biasa. Orang Minang kehilangan harga dirinya dan berlaku sebagai orang
yang takluk (audrey Kahn).



Namun seiring perjalanan waktu sepertinya faktor Minang yang takluk itu
musti dipertanyakan lagi. Masyarakat Minangkabau sudah kembali ke
pemerintahan nagari sejak 6 tahun lalu begitupun otonomi daerah yang
merupakan tujuan semula perjuangan PRRI telah dirasakan bersama..



Kalau memang sistem social dan politik masyarakat Minang sudah pulih
seperti sebelum jaman pergolakan lalu kenapa respon masyarakat terhadap
perubahan tidak seperti yang diharapkan ? Masyarakat Minang seolah olah
tidak siap kembali ke zaman ber nagari. Banyak kalangan berpendapat hal
itu disebabkan oleh "ketaklukan" terhadap masa lalu yang cukup
lama ditanggung masyarakat sedangkan kalangan lain menganggap karena
tidak adanya "user manual" mengenai kembali ke nagari tersebut.



Terlepas dari segala macam teori yang berkembang masyarakat Minangkabau
memang sedang mengalami "muno" tidak mau tahu dengan
perkembangan dinamika yang ada. Mereka seolah olah larut dengan budaya
barat serta mengalami kejumudan yang berlebihan dengan membangga
banggakan diri sendiri terkait dengan romantisme masa lalu.



Lantas bagaimana menyikapi problematika psikis masyarakat tersebut ?
Sesungguhnya problem yang mendasar ini dialami oleh hampir seluruh
lapisan masyarakat. Mulai dari anak nagari, tokoh masyarakat, tokoh
agama bahkan jajaran pemerintah. Boleh dikatakan tidak ada ide-ide
brilian yang muncul dari pemerintah untuk kembali memajukan taraf hidup
masyarakat apakah itu melalui pendidikan, ekonomi maupun khasanah
budaya.



Pemerintah sebagai penanggung jawab pembangunan dan perubahan selalu
memperlihatkan pemikiran yang standar . Padahal sesungguhnya yang
dibutuhkan adalah pemikiran yang benar-benar baru diluar mainstream yang
ada untuk mendobrak kebiasan lama penyebab kemunduran semangat
perjuangan masyarakat, meskipun itu akan menentang arus. Semboyan
"sakali ayia lalu sekali tapian barubah", musti di masyarakatkan
lagi. Ketika pembangunan harus merubah tatanan masyarakat atau budaya
yang telah ada sebelumnya pemerintah mau tidak mau musti menjalankannya
karena kodrat dari kebudayaan dan norma masyarakat adalah perubahan itu
sendiri.



Sesungguhnya kita tidak perlu dulu memperdebatkan pola pendidikan apa
yang cocok atau sistem apa yang baik bagi Sumbar saat ini. Sistem yang
sempurnapun akan tidak berfungsi jika digerogoti oleh pihak yang
menegakkan system tersebut.Yang perlu kita lakukan secepatnya adalah
membangkitkan kembali "spirit" untuk menjadi yang terbaik dan
berani menerima perubahan baik itu cara berfikir,berbudaya, bergaul,
mengelola sumber daya/keelokan negeri dan yang terpenting objektif dalam
menilai dan memahami diri sendiri.



Sejenak kita lupakan dulu kegemilangan masa silam, Kesalahan lain yang
telah mendarah daging adalah kita terperangkap kedalam mitos mitos bahwa
suku Minangkabau adalah suku yang hebat dan paling egaliter di
Indonesia. Kita selalu terperangkap kedalam romantisme masa lalu ketika
jaman Hatta, Natsir, Agus Salim, Tan Malaka menjadi tokoh yang turut
membidani bangsa ini. Sehingga julukan orang minangkabau pun bertambah
dengan "orang yang suka membicarakan kehebatan diri sendiri".



Kita juga selalu membicarakan kekayaan alam yang cukup melimpah, obyek
wisata alam yang sangat indah bahkan melebihi Bali. Itu tidak salah
namun faktanya kita belum bisa menanfaatkan kelebihan alam itu dengan
sebaik baiknya. Kenyataan menjelaskan kemajuan suatu suku bangsa atau
masyarakat tidak dapat dijamin oleh tersedianya kekayaan alam. Bahkan
Negara seperti Singapura dan Jepangpun bisa maju meskipun tanpa SDA yang
memadai.



Meminjam kata kata Mari'e Muhammad kunci kemajuan suatu bangsa
adalah kepemimpinan dan manajemen. Inovasi/perubahan, kepandaian, dan
kelihaian menyerap teknologi dari bangsa lain yang lebih maju seraya
mengembangkan teknologi yang ada dalam diri mereka sendiri.



Sesungguhnya hal itulah makna sebenarnya dari pepatah "alam
takambang jadi guru" semoga kesadaran memaknai alam dengan terus
mengikuti perubahan dan perkembangan jaman akan membangkitkan kembali
spirit dan semangat masyarakat Minangkabau untuk mengejar ketertinggalan
yang ada.

--------------------------------------------------------------
Website: http://www.rantaunet.org
=========================================================
* Berhenti (unsubscribe), berhenti sementara (nomail) dan konfigurasi 
keanggotaan,
silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting
* Posting dan membaca email lewat web di
http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/messages
dengan tetap harus terdaftar di sini.
--------------------------------------------------------------
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan Reply
- Besar posting maksimum 100 KB
- Mengirim attachment ditolak oleh sistem
=========================================================

Kirim email ke