Assalaamu 'alaikum. Terima kasih bu Rahima atas penjelasannya yang panjang lebar dan lengkap dengan dalilnya yang jelas.
Saya setuju dengan pendapat Bu Rahima yang bangsa kita tak dapat terus maju kalau kita selalu menghabiskan masa berbahas tentang perkara asas. Contohnya, bagi saya yang berkahwin dengan orang bukan Minang, sudah tentu sulit kalau suami saya mempertahankan adatnya, manakala saya pula mempertahankan adat saya. Titik pertemuan kami adalah agama Islam, dan ini yang memudahkan dan menyatukan. Bukankah orang Minang suka merantau, dan hal kahwin campur seperti ini tentu mudah berlaku. Apatah lagi kalau pasangan kita itu menukar agamanya ketika berkahwin dengan kita (dengan keyakinannya, mudah-mudahan), lalu mendapati perkara asas dalam adat kita bertentangan dengan agama kita sendiri? Bagi kita orang Minang, bukankah telah sepakat memeluk islam, jadi kenapa kita harus bersusah payah mencari lagi? Allah swt telah menunjukkan jalan kepada kita, mudah saja bagi kita, kita hanya perlu menurut saja. Jika kita telah bersatu hati mengenai asas kehidupan, barulah kita dapat berfikir lebih jauh lagi, ke arah memajukan diri dan masyarakat yang sudah tentu tidak juga bertentangan dengan agama. Semoga Allah swt menetapkan hati kita pada jalan yang lurus, Amiin. Wassalaam, mardia (43) Sg Buloh Malaysia www.bakerette-cafe.com --- In [EMAIL PROTECTED], Sutan Sinaro <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Rahima <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > Assalamu'alaikumwarahmatullahiwabarakaatuhu. > > > > Saya ingat cerita suami saya, kalau disebahagian yang > terjadi di Minang itu, harta pusaka berupa sawah atau > lading itu adalah milik sang istri, kemudian sang > suami mengerjakan sawah lading tersebut, maka tatkala > telah menuai hasil, yang berdatangan mengambil hasil > itu adalah keluarga dari pihak sang istri, keluarga > pihak sang suami tidak diperbolehkan, dilarang, > alasannya itu adalah harta pusaka sang istri. > masyaAllah, suami yang tunggang tanggik sana sini > peras keringat mengusahakannya, namun hasilnya tidak > bisa dinikmati oleh keluarga sang suami? Walau itu > harta sang istri? > > Yg usahakan siapa, yang kerjakan siapa, inikan sama > saja dengan orang yang punya modal, yang mengelolalnya > orang lain, tentu haknya juga ada, bukan sepenuhnya > milik yg punya modal bukan, palin tidak > setengah-setengah hasilnya dinikmati oleh suami dan > keluarga(ayah,ibu dan saudara pihak suami), > sebagaimana pihak istri menikmatinya juga. Yang > terjadi di Minang tidak begitu bukan? Ini cerita > langsung suami saya yang lahir dan besar di Sumbar > itu. > > Akhirnya saya bilang, bagaimana kalau sang suami punya > tanggung jawab terhadap ibunya, tanggung jawab > terhadap adiknya, karena ayah mereka telah meninggal > dunia? > > Berbeda dengan posisi perempuan dalam Islam, bila > telah menikah, maka ia tidak ada tanggung jawab kepada > ortu, apalagi pada saudara-saudaranya. Hanya saja, > andaikan semasa hidupnya ia ingin membantu keluarga > dari harta warisannya atau harta pencahariannya, sang > suami ngak berhak melarangnya.Sebagaimana firman Allah > ta'ala:"Bagi laki-laki bagian dari apa yang ia > usahakan, begitupun bagi perempuan bagian apa yang ia > usahakan juga".Sama kedudukannya dalam islam terhadap > masing-masing mata pencaharian antara suami istri. > > Hak suami terhadap harta istri adalah apabila sang > istri telah meninggal dunia. Itu saja. Dan hak saudara > istri/suami pada istri/suaminya bila telah meninggal, > dilihat siapa yang ditinggalkan mereka, kalau kedua > antara suami dan istri punya anak lelaki, ingat, > saudara baik lelaki atau saudara perempuan dari pihak > suami/istri ngak dapat apa-apa, karena anak lelaki > mendinding (menutup)hak saudara. > > Alasannya itukan harta pusaka dan wasiat. Sekali lagi > balik keawal, wasiat diberikan hanya boleh sepertiga > dari harta.Dan kalaupun kita memberikan wasiat, atau > amanah mengenai harta, didalam islam, harus jelas dan > didengar atau ditulis oleh yang mewasiatkan atau yang > diwasiatkan, atau ada benar yang mendengarkannya. > Jelas kepada siapa diamanahkan dan diwasiatkan.dan > ingat sekali lagi, harus sepertiga dari harta yang > ditinggalkan.dan harta wasiat atau amanah akan gugur, > apabila yang diwasiatkanpun meninggal pula. > > Harta wasiat dan amanah itu dalam Islam pun sebatas > yang diamanahkan dan diwasiatkan masih hidup. Kalau ia > sudah meninggal, bila ia mewasiatkan pula,maka > sepertiga dari hartanya pula, dan tetap hak ahli waris > didahulukan. > > Berbeda dengan yang ada di Minang bukan. Okaylah > katanya harta itu diwariskan kepada suku. Okay, kalau > begitu suku Sikumbang banyak sekali diseantero dunia > ini, berhak dong saya sebagai orang suku Sikumbang > memakan harta mana saja, pokonya yang milik > Sikumbanglah. Inikan tidak? Yang menerima siapa, karib > kerabat itu keitu juga bukan? Apakah benar yang > menerima semua suku Sikumbang? > > Dikatakan lagi, bukan, dulu yang mengamanahkan itu > bilang, pokonya harta ini, jatuh pada keluarga saya > yang suku Sikumbang dari garis pihak keturunan saya > saja, ibu saja.Okay, disaat itu, sepanjang karib > kerabat yang diwasiatkan itu masih hidup, ngak jadi > maslaha, tetapi bagaimana kalau ada yang meninggal > salah satunya, atau seluruh yang diwasiatkan. > > Bukankah dari harta yang diwasiatkan itu pula ada hak > anak dari yang meninggal, sebelum ia mewasiatkan lagi > pada keturunannya pd pihak perempuan? Begitulah > seterusnya. Makanya dulu saya pernah bilang, harta > pusaka tinggi yang ada di Minang, dari awalnya itu > yang ngak jelas.Apakah masih bisa dirobah atau > diselesaikan dengan hukum Islam, kenapa tidak? > > Okaylah, katanya kita takut, kalau dijual, dan jadi > hak milik, khawatir lama kelamaan harta pusaka yang > ada di Minang itu habis kejual sama orang lain, > sebagaimana tanah yang ada di Betawi, Jakarta? > > Kenapa sih ada rasa ketakutan dan kekhawatiran dalam > diri orang Minang itu, takut harta habis kejual sama > luar Minang?Hmmm..mana sih yang lebih ditakuti, > Allahkah, atau manusia9adatnya), manakah yang > diinginkan dari hidup ini, keridhaan Allahkah, atau > keridhaan manusia. Kenapa kita tidak menanamkan dalam > diri kita keyakinan bahwa Allah maha segalanya, tidak > ada yang dikhawatirkan, ditakutkan, sepanjang kita > berada dalam garis-garis hukum Allah.Allah tidak akan > mungkin menganiaya orang-orang yang menjalankan dan > tegak, tetap dalam hukumnya. > > Yang menakut-nakuti akan takut kemiskinan, takut > kehilangan, takut habis, takut ngak kekal itu hanyalah > syetan semata. Sebagaimana syetan menggoda nabi Adam > dan Siti Hawa.Dan sudah bersumpah akan menggoda dan > menggelincirkan anak cucu nabi Adam untuk memgikuti > alan-jalannya, dengan cara ketakutan/kekhawatiran yang > tak berlandaskan agama.landasan ketakutam Ummat Islam > sesuai dengan Islam adalah ketaqwaan dan berkata yang > benar. > > Allah berfirman dalam ayatNya:"Syaithan > menjanjikan(menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan > menyuruh kamu berbuat kejahatan(kikir),sedangkan Allah > menjanjikan untukmu ampunan daripadanya dan karunia. > Dan Allah maha luas karunianya lagi maha > mengetahui.(Q.S AlBaqarah 268). > > Atau takut ciri khas adat Minang habis? > > Allah berfirman: "Sungguh kamu akan mendapati mereka, > seloba-loba manusia kepada kehidupan dunia, bahkan > lebih loba lagi dari orang musyrik. Masing-masing > mereka ingin agar diberi umur seribu tahun lagi. > Padahal umur panjang itu sekali-kali tidak akan > menjauhkannya daripada siksa. Allah maha mengetahui > apa yang mereka kerjakan(Q.S. Al Baqarah 97). > > Orang-orang beriman disuruh untuk menjaga diri dan > keluarganya dari api neraka. Juga kita diharapkan agar > memperhatikan nasib dari anak cucu keturunan kita, > jangan sampai kita meninggalkan mereka dalam keadaan > lemah, namun bukan dengan cara yang bathil, bukan > dengan jalan menyalahi hukum-hukum yang telah > ditetapkan oleh Allah ta'ala, tetapi dengan cara yang > baik dan dibenarkan oleh Syari'at. Rasa ketakutan atau > kekhawatiran semacam itu tidak baik. > > Bukan ketakutan dan kekhawatiran semacam itu yang > disuruh Allah Ta'ala. Ketakutan dan kekhawatiran, yang > disarankan Allah landasannya adalah taqwa, dan berkata > yang benar, sesuai dengan firmaNya dalam > Surah Annisa ayat 9 > > ."Dan hendaklah orang-orang takut kepada Allah, orang > yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka > anak-anak yang lemah, khawatir akan kesejahteraan > mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertaqwa, dan > mengucapkan perkataan yang benar. > > Kebenaran dan ketaqwaan itulah landasan orang-orang > beriman. Jangan asal takut miskin, takut harta > terjual, kita menggadaikan ketaqwaan kita pada Allah, > kita menyalahi hukum-hukum yang telah Allah atur, dan > sampai kita tidak mau mengatakan kebenaran itu. Kita > cari-cari alasan demi membenarkan keinginan kita itu, > sementara itu jelas berlawanan dengan hukum Allah. > > Kata orang, tidak satu jalan ke Roma, mencapai dan > mempertahankan kebaikan atau hak-hak kita itu tidak > satu jalan, masih banyak cara lain yang dibenarkan > oleh syari'at Islam. Padahal dalam setiap shalat kita, > kita selalu berdo'a "Tunjukilah kami kejalan yang > lurus, jalan orang-orang yang telah engkau beri nikmat > kepada mereka, bukan jalan orang-orang yang engkau > murkai dan bukan pula jalan orang-orang yang sesat, > sebagaimana jalannya orang Nasrani dan Yahudi, yang > sesat dan yang dimurkai, karena sikap mereka terlalu > berlebih-lebihan, juga tidak mau menerima kebenaran > yang datangnya dari Allah subhanahu wata'ala. > > Selama ini saya hanya heran, yang saya lihat antara > slogan adat Minang ABSSBK", kenyataannya tidaklah > demikian, ada adat Minang yang berbeda, tetapi tidak > menyalahi ajaran Islam, hal ini sudah pernah saya > sampaikan contohnya, ada yang berbeda dan menyalahi > hukum islam, itulah salah satu contoh diatas, > Allahu'alam apa lagi yang akan terungkap setelah ini, > sekali lagi saya hanya mampu meninjaunya dari sisi > agama bagaimana? > > Ngak ada keuntungan dan kerugian saya disana dalam hal > andaikan orang Minang tidak sesuai antara adat ABSSBK > dengan realitanya. Tidak ada sama sekali, hanya ada > sedikit perasaan malu sama daerah lain, bila hal ini > terungkap dan ditanyakan kepada saya, karena orang > banyak tau akan agama, apalagi dilingkungan saya ahli > agama hampir rata-rata. Dan saya sangat khawatir > slogan kita, yang tidak sesuai dengan realitanya itu > bisa terkena dengan firman Allah ta'ala:"betapa besar > dosanya disisi Allah ta'ala, apabila kamu mengatakan , > sesuatu yang kamu sendiri tidak melakukannya"(Q.S > Asshaf 3:61) > > Saya ingat, ada dulu yang bilang:"kamu telah > memikirkannya sebelum anda memikirkannya". Hmm, saya > tersenyum ketika itu..sebenarnya Allah lebih tau dan > lebih memikirkan segalanya dari manusia itu sendiri. > Dan saya bukannya ngak butuh buku-buku tentang > adat-adat Minang itu, perlu juga, tetapi justru yang > saya butuhkan adalah realisasi antara slogan dan > realitanya itu sesuai apa tidak? > > Kalau sesuai saya sangat mendukungnya, kalau tidak > sesuai, saya khawatir akan firman Allah diatas yang > baru saya sebutkan tadi. Dan mungkin selama di RN, > itulah perjuangan saya, agar mensesuaikan antara > slogan dan realita kehidupan yang ada, karena saya tau > slogan itu sangat bagus dan indah juga memang itulah > yang diharapkan Islam, tetapi bagaimana saya percaya > dan yakin, kalau antara slogan dan realitanya tidak > sesuai, dan saya berusaha menyampaikan, selalu saja > alasannya tidak tepat dengan agama, hanya karena ingin > mempertahankan adat semata? Saya yang masih muda ilmu > dan pengalaman inikan jadi bingung sendiri jadinya? > > Ingat firman Allah Ta'ala tentang bagaimana sukarnya > Rasulullah mengharapkan keimanan orang-orang Yahudi, > sekedar ingat saja, bukan berarti saya mengatakan yang > bukan-bukan dalam hal ini terhadap orang Minang, > karena bagaimanapun toh saya sendiri orang Minang, > saya ngak mau memercik-mercikkan air didulang, yang > saya maukan adalah intropeksi dan merobah sesuatu yang > salah menurut agama, yang menyalahi dari agama dari > adat Minang itu kepada Islam, dan menyesuaiakan > anatara slogan dan realita, karena sudah ada > peringatan Allah akan hal ini, jangan mengatakan apa > yang tidak kita perbuat. Kalaulah bukan karena adanya > slogan ABSSBK itu, mungkin saya sangat cuek orangnya. > Karena tidak ada dosa seseorang menanggung dosa > lainnya. > > Tapi justru karena adat yang melarang, yang dibolehkan > agama, adat melakukan yang berlainan dan menyalahi > agama, sebagai orang Minang rasanya ada berkewajiban > menyampaikan kebenaran yang saya ketahui. Diterima > atau tidak diterima, itu bukan urusan saya.Bukankah > Allah sudah katakan:"Sesungguhnya engkau tidak dapat > menunjuki orang-orang yang kamu kehendaki, tetapi > Allahlah yang memberikan hidayah kepada mereka". > > Firman Allah dalam .(Q.S AlBaqarah 75-77). > > Apakah kamu masih mengharapkan mereka akan percaya > kepadamu, padahal segolongan dari mereka mendengar > firman Allah, lalu mereka merubahnya setelah mereka > memahaminya, sedang mereka mengetahui. > > Dan apabila mereka berjumpa dengan orang-orang yang > beriman, mereka berkata, kamipun telah beriman, dan > bila bertemu sesame mereka saja, mereka > mengatakan:"Apakah kamu mengatakan kepada mereka, apa > yang telah diterangkan Allah kepadamu, supaya dengan > demikian mereka dapat mengalahkan hujjahmu dihadapan > tuhanmu, tidakkah kamu mengerti? > > Tidakkah mereka mengetahui, bahwa Allah mengetahui > segala yang mereka sembunyikan, dan segala yang mereka > nyatakan". > > Terakhir Allah ta'ala berfirman: " Sesungguhnya Allah > tidak akan merobah suatu kaum, sampai kaum itu sendiri > yang merobah nasibnya". > > Demikian, semoga bermanfaat adanya, dan mohon maaf, > kalau terlalu panjang.. > > Wassalamu'alaikum. Rahima. > > > __________________________________________________ > Do You Yahoo!? > Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around > http://mail.yahoo.com > > > > > --------------------------------- > All-new Yahoo! Mail - Fire up a more powerful email and get things done faster. > -------------------------------------------------------------- > Website: http://www.rantaunet.org > ========================================================= > * Berhenti (unsubscribe), berhenti sementara (nomail) dan konfigurasi keanggotaan, > silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting > * Posting dan membaca email lewat web di > http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/messages > dengan tetap harus terdaftar di sini. > -------------------------------------------------------------- > UNTUK DIPERHATIKAN: > - Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan Reply > - Besar posting maksimum 100 KB > - Mengirim attachment ditolak oleh sistem > ========================================================= > -------------------------------------------------------------- Website: http://www.rantaunet.org ========================================================= * Berhenti (unsubscribe), berhenti sementara (nomail) dan konfigurasi keanggotaan, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting * Posting dan membaca email lewat web di http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/messages dengan tetap harus terdaftar di sini. -------------------------------------------------------------- UNTUK DIPERHATIKAN: - Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan Reply - Besar posting maksimum 100 KB - Mengirim attachment ditolak oleh sistem =========================================================

