Assalamualaikum w.w. Ananda Rahima dan Ananda Mardia M, Karano ambo sato 'nguping' di palanta, izinkan ambo manyalo saketek. Ambo faham dan mandukuang pandapek Ananda Rahima dan ingin manggarih bawahi parnyataan Ananda Mardia barikuik ko: " Jika kita telah bersatu hati mengenai asas kehidupan, barulah kita dapat berfikir lebih jauh lagi, ke arah memajukan diri dan masyarakat yang sudah tentu tidak juga bertentangan dengan agama." Alhamdulillah, sabana tapek dan padek parnyatoan Ananda ko. Iko bana nan manjadi obsesi ambo salamo ko tantang ABS SBK ko. Salinteh di ateh parmukaan nampaknyo masalahnyo alah salasai, tapi kalau kito sigi sacaro khusus dan mandalam tantang aspek-aspek palaksanaannnyo dalam iduik kito, sarupo masalah nasab dan kakarabatan, soal harato warih, atau soal kawin mawin, nyato sakali bahaso indak ciek faham tantang tu. Akibaiknyo kito indak maju-maju, karano masih basiarak manganai hal nan amat mandasar dalam kahidupan sosial budaya kito. Jo kato lain, karano simpang siuanyo faham, urang Minang indak mampu maadokan apo nan dinamokan 'efek sinergi' dari sagalo potensi nan inyo miliki. Labiah dari itu, banyak bana golongan nan indak diagiah tampek dalam adat kito: anak pisang, urang mudo, padusi (sic!),urang sumando, parantau, pangusaha, pagawai nagari, atau ilmuwan, nan kasadonyo ambo sabuik sabagai 'antimun bungkuak Minangkabau'. Masuak lai diituang indak. Mungkin itulah nan manyababkan gajala nan disabuik dek Dunsanak Darul Makmur, kito urang Minang hanyo 'bisa samo-samo bakarajo, tapi indak bisa bakarajo samo'. Kan indak mungkin urang nan 'frame of refence' babedo bak siang jo malam ka saliang picayo dan bakarajo samo ?. Jadi basamoan jo mancari panyalasaian sacaro konseptual, nan alah dilakukan dek warga palanta sacaro intensif dalam bulan-bulan balakangan ko, kito kumpuakan data konkrit di lapangan sabagai pambandiang dan sabagai masukan bagi sagalo pihak nan bapaduli dan ingin manjaniahkan masalah ABS SBK ko. Maingek wacana Ananda baduo kali ko sabana mandasar, dan supayo indak putuih alur patuka pikiran, mako indak ambo karek. Lain itu ado nan nampak di ambo, yaitu wacana nan bagitu mandasar tantang palaksanaan ABS SBK ko dilancarkan dek duo Bundo Kanduang kito nan bamukim di Rantau. Baa ko indak ado para bundo kanduang kito nan di Ranah sato dalam mamikiakan palaksanaan ABS SBK ko? Apo indak ado nan biaso basilanca di internet ko ? Sampai di siko dulu Ananda baduo. Salamaik bapuaso. Wassalam, Saafroedin Bahar (70 th kurang).
----- Original Message ---- From: mardia_n <[EMAIL PROTECTED]> To: [email protected] Sent: Monday, September 25, 2006 9:43:10 PM Subject: Re: [EMAIL PROTECTED] FWD: Antara Adat dan Agama(2) Assalaamu 'alaikum. Terima kasih bu Rahima atas penjelasannya yang panjang lebar dan lengkap dengan dalilnya yang jelas. Saya setuju dengan pendapat Bu Rahima yang bangsa kita tak dapat terus maju kalau kita selalu menghabiskan masa berbahas tentang perkara asas. Contohnya, bagi saya yang berkahwin dengan orang bukan Minang, sudah tentu sulit kalau suami saya mempertahankan adatnya, manakala saya pula mempertahankan adat saya. Titik pertemuan kami adalah agama Islam, dan ini yang memudahkan dan menyatukan. Bukankah orang Minang suka merantau, dan hal kahwin campur seperti ini tentu mudah berlaku. Apatah lagi kalau pasangan kita itu menukar agamanya ketika berkahwin dengan kita (dengan keyakinannya, mudah-mudahan), lalu mendapati perkara asas dalam adat kita bertentangan dengan agama kita sendiri? Bagi kita orang Minang, bukankah telah sepakat memeluk islam, jadi kenapa kita harus bersusah payah mencari lagi? Allah swt telah menunjukkan jalan kepada kita, mudah saja bagi kita, kita hanya perlu menurut saja. Jika kita telah bersatu hati mengenai asas kehidupan, barulah kita dapat berfikir lebih jauh lagi, ke arah memajukan diri dan masyarakat yang sudah tentu tidak juga bertentangan dengan agama. Semoga Allah swt menetapkan hati kita pada jalan yang lurus, Amiin. Wassalaam, mardia (43) Sg Buloh Malaysia www.bakerette-cafe.com --- In [EMAIL PROTECTED], Sutan Sinaro <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Rahima <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Assalamu'alaikumwarahmatullahiwabarakaatuhu. > Saya ingat cerita suami saya, kalau disebahagian yang terjadi di Minang itu, > harta pusaka berupa sawah atau lading itu adalah milik sang istri, kemudian > sang suami mengerjakan sawah lading tersebut, maka tatkala telah menuai > hasil, yang berdatangan mengambil hasil itu adalah keluarga dari pihak sang > istri, keluarga pihak sang suami tidak diperbolehkan, dilarang, alasannya > itu adalah harta pusaka sang istri. masyaAllah, suami yang tunggang tanggik > sana sini peras keringat mengusahakannya, namun hasilnya tidak bisa > dinikmati oleh keluarga sang suami? Walau itu > harta sang istri? > > Yg usahakan siapa, yang kerjakan siapa, inikan sama saja dengan orang yang > punya modal, yang mengelolalnya orang lain, tentu haknya juga ada, bukan > sepenuhnya milik yg punya modal bukan, palin tidak setengah-setengah > hasilnya dinikmati oleh suami dan keluarga(ayah,ibu dan saudara pihak > suami), sebagaimana pihak istri menikmatinya juga. Yang terjadi di Minang > tidak begitu bukan? Ini cerita langsung suami saya yang lahir dan besar di > Sumbar itu. > > Akhirnya saya bilang, bagaimana kalau sang suami punya tanggung jawab > terhadap ibunya, tanggung jawab terhadap adiknya, karena ayah mereka telah > meninggal dunia? > > Berbeda dengan posisi perempuan dalam Islam, bila telah menikah, maka ia > tidak ada tanggung jawab kepada ortu, apalagi pada saudara-saudaranya. Hanya > saja, andaikan semasa hidupnya ia ingin membantu keluarga dari harta > warisannya atau harta pencahariannya, sang suami ngak berhak > melarangnya.Sebagaimana firman Allah ta'ala:"Bagi laki-laki bagian dari apa > yang ia usahakan, begitupun bagi perempuan bagian apa yang ia usahakan > juga".Sama kedudukannya dalam islam terhadap masing-masing mata pencaharian > antara suami istri. > > Hak suami terhadap harta istri adalah apabila sang istri telah meninggal > dunia. Itu saja. Dan hak saudara istri/suami pada istri/suaminya bila telah > meninggal, dilihat siapa yang ditinggalkan mereka, kalau kedua antara suami > dan istri punya anak lelaki, ingat, saudara baik lelaki atau saudara > perempuan dari pihak suami/istri ngak dapat apa-apa, karena anak lelaki > mendinding (menutup)hak saudara. > > Alasannya itukan harta pusaka dan wasiat. Sekali lagi balik keawal, wasiat > diberikan hanya boleh sepertiga dari harta.Dan kalaupun kita memberikan > wasiat, atau amanah mengenai harta, didalam islam, harus jelas dan didengar > atau ditulis oleh yang mewasiatkan atau yang diwasiatkan, atau ada benar > yang mendengarkannya. Jelas kepada siapa diamanahkan dan diwasiatkan.dan > ingat sekali lagi, harus sepertiga dari harta yang ditinggalkan.dan harta > wasiat atau amanah akan gugur, apabila yang diwasiatkanpun meninggal pula. > > Harta wasiat dan amanah itu dalam Islam pun sebatas yang diamanahkan dan > diwasiatkan masih hidup. Kalau ia sudah meninggal, bila ia mewasiatkan > pula,maka sepertiga dari hartanya pula, dan tetap hak ahli waris > didahulukan. > > Berbeda dengan yang ada di Minang bukan. Okaylah katanya harta itu diwariskan > kepada suku. Okay, kalau begitu suku Sikumbang banyak sekali diseantero > dunia ini, berhak dong saya sebagai orang suku Sikumbang memakan harta mana > saja, pokonya yang milik Sikumbanglah. Inikan tidak? Yang menerima siapa, > karib kerabat itu keitu juga bukan? Apakah benar yang menerima semua suku > Sikumbang? > > Dikatakan lagi, bukan, dulu yang mengamanahkan itu bilang, pokonya harta > ini, jatuh pada keluarga saya yang suku Sikumbang dari garis pihak keturunan > saya saja, ibu saja.Okay, disaat itu, sepanjang karib kerabat yang > diwasiatkan itu masih hidup, ngak jadi maslaha, tetapi bagaimana kalau ada > yang meninggal salah satunya, atau seluruh yang diwasiatkan. > > Bukankah dari harta yang diwasiatkan itu pula ada hak anak dari yang > meninggal, sebelum ia mewasiatkan lagi pada keturunannya pd pihak perempuan? > Begitulah seterusnya. Makanya dulu saya pernah bilang, harta pusaka tinggi > yang ada di Minang, dari awalnya itu yang ngak jelas.Apakah masih bisa > dirobah atau diselesaikan dengan hukum Islam, kenapa tidak? > > Okaylah, katanya kita takut, kalau dijual, dan jadi hak milik, khawatir lama > kelamaan harta pusaka yang ada di Minang itu habis kejual sama orang lain, > sebagaimana tanah yang ada di Betawi, Jakarta? > > Kenapa sih ada rasa ketakutan dan kekhawatiran dalam diri orang Minang itu, > takut harta habis kejual sama luar Minang?Hmmm..mana sih yang lebih > ditakuti, Allahkah, atau manusia9adatnya), manakah yang diinginkan dari > hidup ini, keridhaan Allahkah, atau keridhaan manusia. Kenapa kita tidak > menanamkan dalam diri kita keyakinan bahwa Allah maha segalanya, tidak ada > yang dikhawatirkan, ditakutkan, sepanjang kita berada dalam garis-garis > hukum Allah.Allah tidak akan > mungkin menganiaya orang-orang yang menjalankan dan tegak, tetap dalam > hukumnya. > > Yang menakut-nakuti akan takut kemiskinan, takut kehilangan, takut habis, > takut ngak kekal itu hanyalah syetan semata. Sebagaimana syetan menggoda > nabi Adam dan Siti Hawa.Dan sudah bersumpah akan menggoda dan > menggelincirkan anak cucu nabi Adam untuk memgikuti > alan-jalannya, dengan cara ketakutan/kekhawatiran yang tak berlandaskan > agama.landasan ketakutam Ummat Islam sesuai dengan Islam adalah ketaqwaan dan > berkata yang > benar. > > Allah berfirman dalam ayatNya:"Syaithan menjanjikan(menakut-nakuti) kamu > dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan(kikir),sedangkan Allah > menjanjikan untukmu ampunan daripadanya dan karunia. Dan Allah maha luas > karunianya lagi maha mengetahui.(Q.S AlBaqarah 268). > > Atau takut ciri khas adat Minang habis? > > Allah berfirman: "Sungguh kamu akan mendapati mereka, seloba-loba manusia > kepada kehidupan dunia, bahkan lebih loba lagi dari orang musyrik. > Masing-masing mereka ingin agar diberi umur seribu tahun lagi. Padahal umur > panjang itu sekali-kali tidak akan menjauhkannya daripada siksa. Allah maha > mengetahui apa yang mereka kerjakan(Q.S. Al Baqarah 97). > > Orang-orang beriman disuruh untuk menjaga diri dan keluarganya dari api > neraka. Juga kita diharapkan agar memperhatikan nasib dari anak cucu > keturunan kita, jangan sampai kita meninggalkan mereka dalam keadaan lemah, > namun bukan dengan cara yang bathil, bukan > dengan jalan menyalahi hukum-hukum yang telah ditetapkan oleh Allah ta'ala, > tetapi dengan cara yang baik dan dibenarkan oleh Syari'at. Rasa ketakutan > atau kekhawatiran semacam itu tidak baik. > > Bukan ketakutan dan kekhawatiran semacam itu yang disuruh Allah Ta'ala. > Ketakutan dan kekhawatiran, yang disarankan Allah landasannya adalah taqwa, > dan berkata yang benar, sesuai dengan firmaNya dalam Surah Annisa ayat 9 > > ."Dan hendaklah orang-orang takut kepada Allah, orang yang seandainya > meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, khawatir akan > kesejahteraan mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertaqwa, dan > > mengucapkan perkataan yang benar. > > Kebenaran dan ketaqwaan itulah landasan orang-orang beriman. Jangan asal > takut miskin, takut harta terjual, kita menggadaikan ketaqwaan kita pada > Allah, kita menyalahi hukum-hukum yang telah Allah atur, dan sampai kita > tidak mau mengatakan kebenaran itu. Kita cari-cari alasan demi membenarkan > keinginan kita itu, sementara itu jelas berlawanan dengan hukum Allah. > > Kata orang, tidak satu jalan ke Roma, mencapai dan mempertahankan kebaikan > atau hak-hak kita itu tidak satu jalan, masih banyak cara lain yang > dibenarkan oleh syari'at Islam. Padahal dalam setiap shalat kita, kita > selalu berdo'a "Tunjukilah kami kejalan yang lurus, jalan orang-orang yang > telah engkau beri nikmat kepada mereka, bukan jalan orang-orang yang engkau > murkai dan bukan pula jalan orang-orang yang sesat, sebagaimana jalannya > orang Nasrani dan Yahudi, yang > sesat dan yang dimurkai, karena sikap mereka terlalu berlebih-lebihan, juga > tidak mau menerima kebenaran yang datangnya dari Allah subhanahu wata'ala. > > Selama ini saya hanya heran, yang saya lihat antara slogan adat Minang > ABSSBK", kenyataannya tidaklah demikian, ada adat Minang yang berbeda, > tetapi tidak menyalahi ajaran Islam, hal ini sudah pernah saya sampaikan > contohnya, ada yang berbeda dan menyalahi hukum islam, itulah salah satu > contoh diatas, Allahu'alam apa lagi yang akan terungkap setelah ini, sekali > lagi saya hanya mampu meninjaunya dari sisi agama bagaimana? > > Ngak ada keuntungan dan kerugian saya disana dalam hal andaikan orang Minang > tidak sesuai antara adat ABSSBK dengan realitanya. Tidak ada sama sekali, > hanya ada sedikit perasaan malu sama daerah lain, bila hal ini terungkap > dan ditanyakan kepada saya, karena orang banyak tau akan agama, apalagi > dilingkungan saya ahli agama hampir rata-rata. Dan saya sangat khawatir > slogan kita, yang tidak sesuai dengan realitanya itu bisa terkena dengan > firman Allah ta'ala:"betapa besar > dosanya disisi Allah ta'ala, apabila kamu mengatakan , sesuatu yang kamu > sendiri tidak melakukannya"(Q.S Asshaf 3:61) > > Saya ingat, ada dulu yang bilang:"kamu telah memikirkannya sebelum anda > memikirkannya". Hmm, saya tersenyum ketika itu..sebenarnya Allah lebih tau > dan lebih memikirkan segalanya dari manusia itu sendiri. Dan saya bukannya > ngak butuh buku-buku tentang adat-adat Minang itu, perlu juga, tetapi justru > yang saya butuhkan adalah realisasi antara slogan dan realitanya itu sesuai > apa tidak? > > Kalau sesuai saya sangat mendukungnya, kalau tidak sesuai, saya khawatir > akan firman Allah diatas yang baru saya sebutkan tadi. Dan mungkin selama di > RN, itulah perjuangan saya, agar mensesuaikan antara slogan dan realita > kehidupan yang ada, karena saya tau slogan itu sangat bagus dan indah juga > memang itulah yang diharapkan Islam, tetapi bagaimana saya percaya > dan yakin, kalau antara slogan dan realitanya tidak sesuai, dan saya > berusaha menyampaikan, selalu saja alasannya tidak tepat dengan agama, hanya > karena ingin mempertahankan adat semata? Saya yang masih muda ilmu dan > pengalaman inikan jadi bingung sendiri jadinya? > > Ingat firman Allah Ta'ala tentang bagaimana sukarnya Rasulullah mengharapkan > keimanan orang-orang Yahudi, sekedar ingat saja, bukan berarti saya > mengatakan yang > bukan-bukan dalam hal ini terhadap orang Minang, karena bagaimanapun toh > saya sendiri orang Minang, saya ngak mau memercik-mercikkan air didulang, > yang saya maukan adalah intropeksi dan merobah sesuatu yang salah menurut > agama, yang menyalahi dari agama dari adat Minang itu kepada Islam, dan > menyesuaiakan anatara slogan dan realita, karena sudah ada peringatan Allah > akan hal ini, jangan mengatakan apa yang tidak kita perbuat. Kalaulah bukan > karena adanya > slogan ABSSBK itu, mungkin saya sangat cuek orangnya. Karena tidak ada dosa > seseorang menanggung dosa lainnya. > > Tapi justru karena adat yang melarang, yang dibolehkan agama, adat melakukan > yang berlainan dan menyalahi agama, sebagai orang Minang rasanya ada > berkewajiban menyampaikan kebenaran yang saya ketahui. Diterima atau tidak > diterima, itu bukan urusan saya.Bukankah Allah sudah katakan:"Sesungguhnya > engkau tidak dapat menunjuki orang-orang yang kamu kehendaki, tetapi > Allahlah yang memberikan hidayah kepada mereka". > > Firman Allah dalam .(Q.S AlBaqarah 75-77). > > Apakah kamu masih mengharapkan mereka akan percaya kepadamu, padahal > segolongan dari mereka mendengar firman Allah, lalu mereka merubahnya > setelah mereka memahaminya, sedang mereka mengetahui. > > Dan apabila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka berkata, > kamipun telah beriman, dan bila bertemu sesame mereka saja, mereka > mengatakan:"Apakah kamu mengatakan kepada mereka, apa yang telah diterangkan > Allah kepadamu, supaya dengan demikian mereka dapat mengalahkan hujjahmu > dihadapan tuhanmu, tidakkah kamu mengerti? > > Tidakkah mereka mengetahui, bahwa Allah mengetahui segala yang mereka > sembunyikan, dan segala yang mereka nyatakan". > > Terakhir Allah ta'ala berfirman: " Sesungguhnya Allah tidak akan merobah > suatu kaum, sampai kaum itu sendiri yang merobah nasibnya". > > Demikian, semoga bermanfaat adanya, dan mohon maaf, > kalau terlalu panjang.. > > Wassalamu'alaikum. Rahima. > > -------------------------------------------------------------- Website: http://www.rantaunet.org ========================================================= * Berhenti (unsubscribe), berhenti sementara (nomail) dan konfigurasi keanggotaan, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting * Posting dan membaca email lewat web di http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/messages dengan tetap harus terdaftar di sini. -------------------------------------------------------------- UNTUK DIPERHATIKAN: - Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan Reply - Besar posting maksimum 100 KB - Mengirim attachment ditolak oleh sistem =========================================================

