Assalamualaikum w.w. para Dunsanak,
 
Kita perlu berterima kasih kepada mantan Presiden BJ Habibie yang telah menulis 
dan menerbitkan buku hariannya tentang detik, menit, dan jam-jam  yang 
menentukan tanggal 20-21 Mei 1998. Keterangan tersebut penting untuk memahami 
sejarah Indonesia pada umumnya, dan sejarah lembaga kepresidenan pada 
khususnya. Pemahaman kita tentang lembaga kepresidenan ini akan lebih lengkap 
lagi seandainya seluruh personil yang terlibat dalam proses transisi kekuasaan 
yang demikian historis itu juga menerbitkan kenangannya.
 
Suatu kesimpulan yang menyolok dari kenangan Habibie ini adalah betapa besarnya 
peranan watak atau karaktek pribadi seorang presiden kepada kinerjanya sebagai 
presiden. Sungguh tidak saya duga betapa Presiden Soeharto menunjukkan sikap 
pribadi yang menghina Habibie pada detik-detik bersejarah tanggal 21 Mei 1998 
tersebut, apalagi di depan umum beliau menampakkan sikap yang demikian tenang 
dan berwibawa. Bersamaan dengan itu, saya kagum terhadap sikap tenang, 
terkendali dari peniuh tanggung jawab dari Habibie dalam menghadapi momen-momen 
bersejarah dalam hidupnya, dan yang sama sekali tidak diduganya itu. Karena itu 
kita perlu mengambil hikmah dari episoda penting sejarah nasional ini, 
khususnya untuk menentukan sikap kita terhadap para calon presiden yang akan 
datang.
 
Bagaimanapun, dalam sistem pemerintahan presidensial pada bentuk negara 
kesatuan kesatuan yang kita anut, peranan lembaga kepresidenan serta 
presidennya sendiri demikian penting. Menurut penglihatan saya, posisi 
kenegaraan para presiden Indonesia jauh lebih kuat dari posisi kenegaraan para 
presiden Ameria Serikat, yang hanya -- atau terutama  -- berpengaruh pada 
politik luar negeri belaka. Seperti kita ketahui, masalah politik dalam negeri 
merupakan kewenangan negara-negara bagian yang dipimpin oleh para gubernur 
sebagai 'presiden-presiden mini'. 
 
Mengingat demikian pentingnya posisi kenegaraan presiden serta pengaruhnya 
kepada nasib kita sebagai sebagai rakyat, rasanya perlu sekali kita merinci 
watak presidean [serta watak wakil presiden] yang kita butuhkan dalam memimpin 
Republik Indonesia yang bermasyarakat majemuk ini. Masukannya bisa kita ambil 
dari telaahan kita terhadap watak para presiden [serta para wakil presiden] 
yang telah serta sedang menjabat. Kita perlu mengkaji riwayat hidup mereka 
secara utuh dan mendalam, tidak hanya yang disajikan oleh tim sukses 
masing-masing, tetapi juga dari seluruh mereka yang mengenal mereka, baik sisi 
kuat maupun sisi lemahnya.
 
Tiga tahun lagi kita akan mengikuti pemilihan presiden berikutnya. Kini telah 
ada bebarapa tokoh nasional -- termasuk para mantan presiden -- yang sudah 
menunjukkan minatnya untuk menjadi presiden yang akan datang. Saya rasa, 
kinilah saatnya kita perlu mulai menilai para 'calon mantu' ini, secara kritis, 
bahkan amat kritis.
 
Wassalam,
Saafroedin Bahar.
 

 
----- Original Message ----
From: Arnoldison <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]; [EMAIL PROTECTED]
Sent: Tuesday, September 26, 2006 10:20:10 PM
Subject: [EMAIL PROTECTED] Habibie Menguak Misteri


Resensi
Habibie Menguak Misteri

DETIK-DETIK YANG MENENTUKAN: JALAN PANJANG INDONESIA MENUJU DEMOKRASI
Penulis: Bacharuddin Jusuf Habibie
Penerbit: THC Mandiri, Jakarta, September 2006, vi + 549 halaman

Masih  dengan  kehangatannya  yang  khas,  Prof. Dr. Bacharuddin Jusuf
(B.J.)  Habibie  mengundang sejumlah wartawan senior ke kediamannya di
Patra  Kuningan, Jakarta, Sabtu siang lalu. Didampingi istrinya, Ainun
Habibie,  presiden  ketiga RI itu tampak sehat dan bersemangat menyapa
para  tamu.  Rupanya,  siang  itu Habibie, pria kelahiran Parepare, 25
Juni 1936, punya gawe memperkenalkan memoarnya.

B.J.  Habibie  mengaku  menulis  sendiri memoarnya. "Semua berdasarkan
catatan  yang  ada  pada saya. Tak ada hal yang saya tulis berdasarkan
katanya...   katanya,"  ujar  ayah  dua  putra  itu.  Fokusnya  adalah
bagaimana  ia mengambil peran di saat-saat genting menjelang peralihan
kekuasaan  1998  dan  bagaimana pula ia mengemban misi selaku presiden
ketiga RI.

Memoar  itu terbit tujuh tahun setelah ia melepas jabatan presiden dan
ketika  usianya  memasuki  70 tahun. Ia menunggu gejolak mereda hingga
memoarnya tidak perlu memantik kontroversi politik. Dengan begitu, apa
yang ia ungkapkan bisa diterima dengan pikiran lebih jernih.

Silaturahmi yang Putus

Habibie memulai memoarnya dengan membuka catatan hariannya pada 20 Mei
1998.  Ia kaget ketika pukul 10 malam menerima telepon dari sekretaris
kabinet  yang  memberitahu  bahwa  Presiden  Soeharto akan mundur dari
jabatan  esok harinya. Padahal, malam sebelumnya, ia bertemu Pak Harto
di Cendana, membahas susunan kabinet baru yang sedianya diumumkan pada
23  Mei  di Istana Negara, di depan pimpinan MPR/DPR. Rupanya, situasi
itu berubah cepat.

Pengunduran  diri  Pak  Harto  di  luar rencana itu sendiri menyisakan
pertanyaan  di  benak  Habibie.  Apa  sebenarnya  yang dikehendaki Pak
Harto?  Apakah  ia diharapkan juga undur diri, mengingat pernyataan di
depan  sejumlah  tokoh  masyarakat  pada  19  Mei,  Pak Harto terkesan
meragukan kemampuannya?

Yang   pasti,   tali  silaturahminya  dengan  Pak  Harto,  orang  yang
dihormatinya  itu, terputus sejak 21 Mei 1998. Hanya sekali komunikasi
terjalin.  Itu  pun  melalui  telepon, yakni 8 Juni 1998 di hari ulang
tahun  ke-77 Pak Harto. Lewat berbagai jalur, ia berkali-kali berusaha
menemui mantan orang nomor satu di Indonesia itu, tapi hasilnya nihil.
Malah,  ketika Pak Harto terserang stroke pertama, September 1999, dia
tak diperkenankan menjenguk oleh para dokter yang merawat Pak Harto.

Mengenai  hal  itu,  Habibie  menulis,  "... pertanyaan yang tetap tak
terjawab  sampai  sekarang ini ialah, mengapa Pak Harto tidak bersedia
bertemu  atau  berkomunikasi  dengan  saya sampai saat ini? Menghadapi
kenyataan  sikap  Pak  Harto  yang  seolah 'misterius' itu, saya yakin
bahwa  Pak  Harto  punya  alasan  tersendiri  dan  mungkin beranggapan
sebaiknya biarlah saya tidak mengetahuinya. "

Yang  lebih  menyakitkan, menurut Habibie, adalah sikap Pak Harto pada
21  Mei  pagi. Ketika itu, ia telah dijanjikan bertemu. Namun, saat ia
tiba  di  istana,  protokol  telah mengagendakan pertemuan pertama Pak
Harto  dengan  pejabat negara lain. Habibie kecewa. Tapi ia hanya bisa
menunggu,  meski merasa kecewa, terhina, dan merasa diperlakukan tidak
adil.  Karena  lama  tak  dipanggil, ia memberanikan diri menuju Ruang
Jepara.  "Namun, baru saja saya berada di depan pintu, tiba-tiba pintu
terbuka,  lalu protokol mengumumkan bahwa presiden akan memasuki ruang
upacara," tulisnya.

Habibie  juga  tercengang,  Pak  Harto  melewatinya  begitu saja tanpa
sapaan  apa  pun  --hal yang disebut melecehkan keberadaannya di depan
semua  yang  hadir.  "Betapa  sedih perasaan saya saat itu. Saya hanya
melangkah  ke  ruang  upacara mendampingi Presiden Soeharto, seseorang
yang saya sangat hormati, cintai, dan kagumi, yang ternyata menganggap
saya seperti tidak ada," tulis dia lagi.

Pemilu 48 Partai

Seperti  dicatat  dalam sejarah, pagi itu Presiden Soeharto menyatakan
mundur,  dan  Habibie  diambil sumpahnya sebagai presiden baru. Segera
setelah  iitu,  berbagai  pernyataan  negatif  tentang kepemimpinannya
bermunculan. Bukan saja dari dalam, juga dari luar negeri. Pemberitaan
pers  yang  mengutip pernyataan tokoh-tokoh politik yang berseberangan
dengannya kerap dirasakannya menyakitkan hati.

Tak  kurang  dari tokoh Lee Kuan Yew, Menteri Senior Singapura, secara
terbuka  meragukan  kemampuannya.  Dari  dalam  negeri, sejumlah tokoh
politik  senior  dan  purnawirawan  ABRI  yang tergabung dalam Barisan
Nasional bahkan disebut seperti melakukan character assassination atas
dirinya.  Kelompok  itu,  tulisnya,  dipelopori  Letjen (purnawirawan)
Kemal Idris dan Rachmat Witoelar.

Habibie  menghadapi  berbagai pernyataan minor itu dengan lapang dada.
Habibie   punya   pendirian   sendiri  yang  ia  pegang  teguh.  "Saya
berpendapat bahwa berpolemik dengan mereka yang sehaluan dengan Senior
Minister  Lee  Kuan  Yew  akan  lebih  merugikan  bangsa  dan  negara.
Satu-satunya   cara  menghadapinya  adalah  dengan  karya  nyata  yang
membuktikan bahwa mereka keliru," tulis Habibie pula.

Belakangan,  Lee Kuan Yew meralat sikapnya. Itu diketahui Habibie dari
surat  yang  dilayangkan  sang menteri senior itu lewat Menteri Negara
BUMN  Tanri  Abeng.  Lee  mengucapkan  selamat  atas keberhasilan B.J.
Habibie  menghentikan  jatuh  bebasnya mata uang rupiah terhadap dolar
dan kemampuan pemerintahannya menekan inflasi.

Dalam  buku  ini  pun  terungkap sikap Habibie saat menghadapi tekanan
dari  berbagai  pihak,  baik  politisi  maupun  kalangan  militer. Ia,
misalnya,  pernah  didesak  agar  menggelar pemilihan umum dalam waktu
tiga  bulan.  Habibie  menolak  dengan pendirian, tak adil bila pemilu
digelar  sebelum rakyat diberi kesempatan membentuk partai-partai yang
akan membawa aspirasi dan wawasan baru.

Habibie  tegas menjawab bahwa pemilu baru bisa dilakukan satu tahun ke
depan. Pembentukan partai-partai baru membutuhkan waktu. Demikian pula
upaya   untuk   memasyarakatkan   aspirasi   dan  wawasannya.  Seperti
diketahui,  Pemilihan  Umum  1999  kemudian diikuti tak kurang dari 48
partai.

Pemilihan   umum   multipartai  memang  menjadi  agenda  politik  yang
dirancang  Habibie sejak malam hari setelah dilantik menjadi presiden.
Ia  begitu  sadar  bahwa  keran  demokrasi  harus  dibuka lebar-lebar.
Kebebasan  mengeluarkan pendapat, kebebasan berbicara, kebebasan pers,
dan  kebebasan berunjuk rasa harus segera dilaksanakan. Itu salah satu
dari 11 butir pemikirannya pada malam itu.

Ketika  menyusun  kabinet pada 22 Mei, ia menerima surat dari Jenderal
Besar  A.H.  Nasution.  Dalam  surat  yang  dibawa  dua perwira tinggi
Angkatan  Darat  itu,  Nasution  menyarankan  agar  Habibie mengangkat
Jenderal  Subagyo  H.S.  menjadi  Panglima  ABRI  (Pangab)  dan Letjen
Prabowo  Subianto  sebagai  KSAD.  Tapi  Habibie  bergeming.  Ia tetap
mempertahankan Jenderal Wiranto di posisi Pangab.

Ihwal  Wiranto,  Habibie  tak  menyembunyikan  kesan  baiknya terhadap
jenderal  ini. Ia menilai Wiranto sebagai sosok yang beretika dan bisa
dipercaya.   Kesan   itu  muncul  kuat  saat  Wiranto  secara  terbuka
memperlihatkan  instruksi  presiden  inpres  yang diterimanya dari Pak
Harto sebelum lengser.

Isinya,  memberi  kewenangan kepada jenderal itu untuk bertindak dalam
keadaan  darurat.  Ya,  sebut  saja  semacam  Supersemar  seperti yang
diterima Pak Harto dahulu. Habibie pun menyuruh Wiranto menyimpan saja
dokumen  itu.  Ia menilai, bisa saja Wiranto mengerahkan pasukan untuk
merebut kekuasaan, tapi itu tak dilakukannya.

Yang  tak  kalah  menarik adalah uraian Habibie yang tampak meluruskan
isu-isu   seputar   "ancaman"   Prabowo   yang  sempat  berkembang  di
masyarakat.  Menurut kabar burung yang beredar, Prabowo sambil membawa
senjata mendatangi Habibie untuk meminta jabatan Pangab. Ternyata, isu
itu tidak benar sama sekali.

Habibie  bertutur,  pada  pagi  hari 22 Mei, ia mendapat kabar tentang
adanya  gerakan  pasukan  Kostrad  ke  Jakarta. Ia menilai, pengerahan
pasukan  ini berada di luar pengetahuan dan koordinasi Pangab. Lalu ia
meminta  Wiranto segera mengganti Pangkostrad, yang ketika itu dijabat
Prabowo, hari itu juga.

Rupanya, Prabowo tidak bisa menerima pencopotan dirinya. Ia pun datang
ke  istana  dan  menemui Habibie setelah makan siang. Menurut Habibie,
Prabowo  sama  sekali tak membawa senjata. Dalam dialog itu terungkap,
Prabowo    ternyata   berniat   mengamankan   presiden   dan   meminta
pencopotannya  diralat.  Habibie  bertahan  pada pendiriannya. Ia juga
seperti  memaklumi  sikap  kritis  Prabowo  yang dinilainya dibesarkan
dalam lingkungan intelektual dan rasional.

Habibie  mengungkap  pula  bagaimana  lobinya kepada Pemerintah Jerman
sangat   membantu  pemulihan  ekonomi  Indonesia.  Terutama  kesediaan
Kanselir  Helmut  Kohl  mengutus  pakar bank sentral Jerman untuk ikut
membenahi  perangkat  lunak  Bank  Indonesia.  Setidaknya, ia menyebut
peran dua nama: Helmut Schlesinger dan Wolfgang Kartte.

Bagaimanapun,  buku  ini  memberi  banyak  informasi  tentang apa yang
dilakukan  Habibie  selama  menjadi  orang  nomor  satu di negeri ini.
Banyak  terobosan  yang  dilakukannya.  Begitu  pula  tampak  sikapnya
sebagai seorang demokrat yang memelopori pembukaan keran demokratisasi
bagi  bangsa  ini.  "Sebagai pemimpin, kita baru bisa disebut berhasil
kalau  generasi  sesudah  kita berkarya lebih baik dari kita," ujarnya
ketika mengantar pelepasan memoarnya.

Erwin Y. Salim
[Buku, Gatra Edisi 45 Beredar Kamis, 21 September 2006] 

http://www.gatra. com/artikel. php?id=98055




--------------------------------------------------------------
Website: http://www.rantaunet.org
=========================================================
* Berhenti (unsubscribe), berhenti sementara (nomail) dan konfigurasi 
keanggotaan,
silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting
* Posting dan membaca email lewat web di
http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/messages
dengan tetap harus terdaftar di sini.
--------------------------------------------------------------
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan Reply
- Besar posting maksimum 100 KB
- Mengirim attachment ditolak oleh sistem
=========================================================
--------------------------------------------------------------
Website: http://www.rantaunet.org
=========================================================
* Berhenti (unsubscribe), berhenti sementara (nomail) dan konfigurasi 
keanggotaan,
silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting
* Posting dan membaca email lewat web di
http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/messages
dengan tetap harus terdaftar di sini.
--------------------------------------------------------------
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan Reply
- Besar posting maksimum 100 KB
- Mengirim attachment ditolak oleh sistem
=========================================================

Kirim email ke