Dari rumah sabalah Dosa Metropolitan
Judul itu saya "pungut" dari Dokter Tan Shot Yen. Suatu siang, di Bumi Serpong Damai, Tangerang, tempat praktek dia, sepasang oma-opa berobat. Oma tersebut stroke, jalannya tertatih-tatih. Ia mengeluh perut mual kalau makan. Kontan Dokter Yen menyimpulkan, pasti makan sembarangan. "Buang makanan sampah itu," katanya. Buat apa dikonsumsi kalau cuma jadi penyakit. Jangan makan nasi, terigu, kacang-kacangan, umbi-umbian, gula, pemanis buatan, kecap, dan saus. Ganti daging merah dengan daging ayam atau ikan. Dari makanan, Yen menyoal perawatan. "Mana anak Oma," tanyanya. "Bekerja di luar kota," ujar si Oma. Jawaban itu kontan mengaduk-aduk emosi dokter wanita yang energik tersebut. "Kalau ada pasien begini 10 saja, dokternya bisa mati duluan," kata dia lantang. Lalu ia meminta agar si anak disuruh bekerja di Jakarta saja. Buat apa mencari duit banyak kalau orangtua ditelantarkan. "Itu namanya 'dosa metropolitan'. Keliru! Masak anak butuhnya kalau mau nikah supaya direstui. Orangtua hanya dipajang untuk menerima tamu," kata Yen. Oma itu diam, tapi air matanya mengalir. Sebagai lansia, mungkin dia merasa yang tersisa cuma "menghitung hari tua". Toh disalahkan pula. Lansia itu identik dengan sakit-sakitan, tak produktif, plus kesepian. Tiada anak yang merawat, tiada kawan berbagi rasa. Ia tenggelam dalam kesedihan. Terlebih kala Dokter Yen mengatakan bahwa anak "produk" metropolitan selalu merasa diri telah berbakti. Telah memenuhi kebutuhan makan dan sandang orangtua secara sempurna. Sopir tersedia, bisa mengantar ke mana saja. Memang, siang itu, pasangan oma-opa tadi ditemani seorang sopir. Salah besar! "Tahu nggak, sih, anak yang berbakti pada orangtua tidak akan jauh dari rezeki. Ada saja rezeki dari Tuhan. Hidupnya dilapangkan," kata Dokter Yen, yang ruang prakteknya terbuka sehingga puluhan pasien lain bisa nguping "kuliah"-nya. "Suruh dia kemari, biar saya ceramahin," ia melanjutkan. Omongan Yen benar walau pedas. Bisa jadi, kita memang acap menciptakan "dosa metropolitan" tanpa sadar. Kita kurang berkorban pada orangtua, pada lingkungan. Kebaikan itu seolah tertutup oleh ribuan selubung. Kita memburu duit karena khawatir pada masa depan yang belum pasti. Buntutnya, semua dikalkulasi secara materi. Mau berbuat baik pun ditindas oleh diri sendiri: "Ngapain repot-repot." Bukannya di-support: "Kan, bisa mengurangi beban orang lain. Mengikis pementingan diri secara arif." Bukankah ustad sering bilang: "Derajat paling tinggi dalam kedermawanan adalah mengutamakan orang lain." Tampaknya istilah "tidak ada makan siang yang gratis" benar-benar mengerosi hingga memiskinkan rasa. Apalagi ditambahi pemahaman bahwa orang lansia itu punya dunia tersendiri yang sulit diikuti. Lansia dipenuhi kesan yang tak mengenakkan dan sukar dilupakan. Maka, khususnya pada orang Cina, tulis Yoseph Tulus Swandjaja, 83 tahun, dalam Tetralogi Kehidupan Lansia, Catatan Harian Nonitje, mereka sering disebut bo taw lo --diucapkan dalam nada agak merendahkan, bahkan menghina-- yang berarti tidak punya kegiatan, tidak punya penghasilan, dan identik dengan malas. Jika "dosa metropolitan" dan bo taw lo itu dipadukan, seakan klop. Beberapa hari lalu, tetangga saya yang tinggal di rumah petak kontrakan dihebohkan oleh bau tak sedap. "Kayak bau bangkai tikus," ujar seseorang. Tetangga lain berucap: "Kayak septic tank." Sumber bau busuk itu tak ketemu. Belakangan ada yang curiga, karena rumah petak yang dihuni seorang wanita tua itu pintunya tertutup empat hari. Pintu diketuk, tiada sahutan. Terpaksa didobrak. Benar, wanita itu telah meninggal tanpa ketahuan siapa pun. Sanak familinya tak jelas. Ya, semua orang bak dikejar derap metropolitan. "Dosa metropolitan" lain adalah "membuang" uang receh di jalanan. Secara tak langsung kita telah menjerumuskan anak jalanan di Jabotabek ke dalam jurang ketidakberdayaan. Berdasar data Komisi Perlindungan Anak, jumlah anak jalanan di Jabotabek mencapai 75.000. Mereka, hanya dengan menengadahkan tangan, menepuk-nepuk kedua tangan, atau menyapukan kemoceng di kaca mobil, memperoleh pendapatan per hari Rp 20.000-Rp 30.000 tiap anak. Beda tipis dengan gaji lulusan diploma. Jika angka Rp 20.000 dikalikan 75.000, diperoleh angka Rp 1,5 milyar per hari. Luar biasa. Begitu mudah mereka mendapat duit. Bisa jadi, kitalah yang membetahkan mereka di jalanan. Penelitian oleh sejumlah LSM menyebutkan, uang hasil anak-anak marjinal itu sebagian tidak dipakai untuk mendukung peningkatan kesejahteraan mereka. Untuk apa? Dipakai jajan berada di peringkat pertama. Main dingdong atau main elektronik lain di urutan kedua. Dan terakhir disetor ke orangtua atau inang/senior sebagai pelindung mereka di jalanan. Bahkan, berdasar obrolan warung kopi, anak-anak usia belasan tahun itu mulai mengonsumsi narkoba. Cilaka! Maka, tak berlebihan jika salah satu program Unicef adalah: hentikan memberi uang kepada anak-anak jalanan! Kita harus berhenti memanjakan mereka. Apalagi, beberapa anak mulai tererosi perilaku buruk: sorot mata sinis, mulut mengumpat, dan mulai ada unsur memaksakan kehendak. Tak mustahil bakal mengancam. Sebuah e-mail dari Sahabat Anak menawarkan solusi: berikan mereka nutrisi bergizi! Mulai sekarang, sediakan dalam tas atau mobil Anda: biskuit, permen, buah, susu kotak, yang langsung bisa diberikan begitu tangan-tangan kecil itu menengadah. Kita bisa menjadi sahabat anak tiap saat. Ya, kita harus jadi penerang bagi orang-orang yang berjalan dalam kegelapan. Kita harus memiliki sikap yang benar dalam kehidupan --kalau ingin maju-- tanpa menyalahkan siapa pun. Tiap orang pasti punya sisi yang dapat dicela. Muhammad Syahreza PT. NOK Indonesia Plant Engineering Dept. Telp. : 021-898 1041 Ext. 128/135 Fax. : 021-898 0764 e-mail : [EMAIL PROTECTED] "voorprong van het achterlijkheid." Orang bisa melompat maju tanpa perlu mengikuti irama pengalaman yang dialami orang lain tapi dengan belajar meniru menggunakan kemajuan teknologi Tahukah anda bahwa dunia sudah berubah? Tahukah anda negara lain sudah berubah? Inginkah anda negara anda juga berubah? Sudahkah anda berubah? Kita memang miskin sumber daya alam tapi bukan berarti miskin kreatifitas Perubahan memerlukan upaya dan dimulai dari diri sendiri, dimulai dari hal yang terkecil dan dimulai saat ini juga -------------------------------------------------------------- Website: http://www.rantaunet.org ========================================================= * Berhenti (unsubscribe), berhenti sementara (nomail) dan konfigurasi keanggotaan, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting * Posting dan membaca email lewat web di http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/messages dengan tetap harus terdaftar di sini. -------------------------------------------------------------- UNTUK DIPERHATIKAN: - Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan Reply - Besar posting maksimum 100 KB - Mengirim attachment ditolak oleh sistem =========================================================

