Menjelajahi Kriteria Kepemimpinan Nasional, Mengusaikan Transisi di Pemilu 2004
Oleh :Agus Haryadi A b s t r a k Keberhasilan transisi bagi banyak negara Dunia Ketiga seperti Indonesia dipengaruhi oleh banyak faktor. Satu di antaranya yang paling dominan adalah, perkara kepemimpinan nasional. Dalam masyarakat yang berbudaya politik subyekatau bahkan semi parokial[i], Indonesia nyaris mengeliminasi variabel peran publik dalam menentukan jalannya pemerintahan. Keadaan ini ikut ditunjang oleh suasana sosiologis yang secara turun temurun mentradisikan relasi kuasa patron-klien. Hingga akhirnya, kekuasaan oligarkis menjadi model yang paling dinikmati dan telanjur sukar dihindari. Bagi yang mendapat kesempatan berkuasa, suasana demikian adalah surga. Tapi tidak, bagi rakyat yang sejatinya merupakan pemilik sah kedaulatan. Cuaca politik transisi semacam ini telah mengabaikan kebutuhan akan partisipasi. Kelas menengah yang diwakili partai politik, gagal memediasi aspirasi dengan policy. Yang terjadi justru kesenjangan yang akut, kronis, sekaligus dramatissebuah indikasi atas tak berjalannya prinsip-prinsip kongruensi. Pada waktu yang sama, mekanisme pengawasan dan perimbangan antarlembaga negara (checks and balances mechanism) juga nyaris lenyap lantaran praktik-praktik negosiasi kotor (back room deal). Tingginya pelanggaran hukum dan masih mewabahnya praktik korupsi yang tercermin dalam penilaian Transparency International[ii] sedikitnya menyampaikan bukti, kepemimpinan nasional belum berada di tangan yang tepat. Sekurang-kurangnya, ada 2 faktor yang mencuat sebagai persoalan utama bila lokus masalah diletakkan pada soal kepemimpinan nasional (lembaga kepresidenan). Yakni, otentisitaskeselarasan antara pikiran, kata, dan perbuatan; dan transformasi moralitas individu menjadi moralitas publik yang mengikat serta memiliki daya paksa. Kondisi ini belum menyertakan persoalan-persoalan lain semisal model transisi Indonesia yang mengambil bentuk transplacement[iii]; pengaruh kuat pihak asing dalam pengelolaan negara; hingga sisa-sisa persoalan yang diwariskan rejim masa lampau. Karenanya, pemilu 2004 mendatang mendapati arti penting dan relevansinya untuk keluar dari lubang krisis. Pemilihan presiden secara langsungsebagai konsekuensi sistem presidensial, telah menciptakan ranah baru yang lebih terbuka bagi publik (partisipatif). Tapi di lain pihak, kondisi ini juga sekaligus rentan terhadap kemungkinan munculnya (kembali) pemimpin nasional tanpa kompetensi individu yang cukup memadai dalam mengatasi masalah yang adanamun sangat populis dalam kacamata publik. Tulisan ini mencoba mengangkat sejumlah persyaratan dasar bagi kepemimpinan nasional yang dikaitkan dengan kebutuhan-kebutuhan mendesakyang urgen diatasi Indonesia. Dalam cara yang ringkas, Indonesia saat ini membutuhkan seorang pemimpin kuatbukan otoriter, yang mengombinasikan moralitas individu dan kualifikasi manajerial yang lebih dari sekadar cukup, untuk mengelola jalannya pemerintahan. Untuk Indonesiayang dikiaskan kerusakannya telah mendekati sempurna dan nyaris memenuhi seluruh persyaratan menuju kepunahan[iv], maka tak ada jalan lain kecuali menularkan kesadaran untuk memilih presiden dengan kualitas individu yang mumpuni, sebagai aktifitas epidemik di masyarakat. Kesimpulan dan Rekomendasi Melalui serangkaian pembahasan yang telah disampaikan, maka simpul-simpul gagasan berikut diupayakan untuk dapat memetakan kriteria penting dalam melafalkan kebutuhan Indonesia atas kepemimpinan nasional menghadapi tantangan ke depan. Krisis berkepanjangandan semipermanenyang dialami Indonesia mesti diakhirkan dengan mengikutsertakan sejumlah catatan penting di dalamnya. Pemilihan presiden langsungyang sejatinya meneguhkan sistem presidensial di Indonesia, akhirnya menjadi ujung tombak yang diharapkan dengan penuh kecemasan. Kekhawatiran kian menggelora saat pilihan definitif diduduki oleh individu yang jauh dari kompeten dan layak, serta ancaman yang datang dari para politisi tercela. Namun di lain pihak, keberhasilan juga dapat diraih sejauh masyarakat memiliki kesadaran tinggi atas tanggung jawab pilihannya. Bayang-bayang kegagalan bisa saja dengan singkat bermenifestasi jadi kenyataan saat pintu terakhir yang bisa diharapkan benar.benar terdobrak. Perjalanan transisi Indonesia membutuhkan kepiawaian yang tersimpul dalam individu yang dikriteriakan sebagai berikut: 1. Memiliki kepribadian otentik, yakni kemampuan untuk menyelaraskan antara pikiran, kata, dan perbuatan. Kepribadian otentik juga menyangkut hal-hal yang terkait dengan integritas dan moralitas individu dalam menegasikan praktik-praktik despotikdan memiliki kemauan untuk mentransformasikannya sebagai moralitas publik yang diobyektifikasi lewat perangkat peraturan yang memiliki daya ikat dan paksa. 2. Bersungguh-sungguh melakukan migrasi dan segregasi politik, tanpa mengabaikan kebutuhan atas rekonsiliasi nasional yang mampu memutus siklus dendam dan kekerasan baru, serta menciptakan keharmonisan antarsesama sebagai kapital sosial pembangunan Indonesia. 3. Memfasilitasi ruang yang kondusif bagi usaha-usaha penegakan hukum. 4. Mendorong kemandirian sebagai sikap yang tercermin lewat perhatian yang tinggi terhadap sektor pendidikan dan usaha-usaha progresif menuju revolusi teknologiyang salah satunya tercermin dalam anggaran yang memadai dan fasilitas mencukupi yang diberikan negara terhadap berbagai penelitian terencana. 5. Menjadikan penegakan hukum sebagai panglima yang memediasi penciptaan stabilitas politik dan iklim berusaha yang kompetitiftanpa harus terjerembab dalam praktik-praktik otoritarian, koersif, dan represif. 6. Pluralis, dan mengedepankan perilaku proeksistensif dalam mendialogkan perbedaan dalam masyarakat dan menghindari perilaku sektarian tanpa harus mengikis identitas individual. 7. Meneguhkan 4 pilar demokrasi dalam pengelolaan negara, yakni partisipasi, kontestasi, konstituensi, dan puncaknya, kongruensi. 8. Memiliki pantauan jauh ke depan (visioner) yang mampu membawa Indonesia keluar dari jeratan krisis dan memasuki era baru yang sejahtera, adil, demokratis, dan berpihak pada kepentingan masyarakat luas. Dalam jangka pendek dan menengah, kepemimpinan nasional dirasakan perlu untuk menyusun platform dan agenda kerja praksis yang ditempatkan sebagai skala prioritas. 9. Mengembangkan budaya politik oposisi yang mengarah pada peningkatan kinerja rejim berkuasa dan menghindari intimidasi politik terhadap kekuatan-kekuatan sosial di luar institusi negara. 10. Menciptakan hubungan yang harmonis sipil-militer tanpa mengabaikan pentingnya fungsionalisasi sektor pertahanan dalam sebuah rejim demokrasi. Reposisi yang penuh kehatian-hatian perlu dilakukan untuk mencegah kembalinya dominasi politik militer dan penggunaan kekerasan dalam penciptaan stabilitas. 11. Mengembangkan pola pembangunan yang bertumpu pada pertumbuhan dan pemerataan ekonomi lewat desentralisasi dan otonomi daerah. Yang ditunjang dengan redistribusi kapital aset negara kepada kelompok-kelompok usaha kecil, menengah, dan para petani. 12. Memiliki ketangguhan, kepiawaian, dan kecakapan dalam berinteraksi dengan dunia internasional tanpa harus kehilangan harga diri, martabat, dan mengorbankan kepentingan nasional. Serangkaian catatan ini tentu saja masih membutuhkan langkah-langkah praksis lain yang lebih terinci. Sukarnya medan transisi yang dihadapi Indonesia telah memaksa dan memanggil tanggung jawab masyarakat seluruhnya untuk terlibat mencari langkah-langkah solusi yang tepat. Sebagai langkah awal, pemilihan presiden langsung yang akan diselenggarakan pada tahun 2004 akan sangat menentukan sejauh mana keberhasilan akan sungguh-sungguh dicapai. Atau sebaliknya, periode transisiyang berdampak pada krisis berlapis ini, menjadi lebih panjang. Sejauh masyarakat bertanggung jawab atas pilihannya, maka harapan masih terbuka. Tapi selagi kesalahan yang diperbuat, maka harapan keberhasilan, untuk sementara waktu, mesti dikubur dalam-dalam. Semoga tak akan ada. __________________________________________________ Do You Yahoo!? Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around http://mail.yahoo.com -------------------------------------------------------------- Website: http://www.rantaunet.org ========================================================= * Berhenti (unsubscribe), berhenti sementara (nomail) dan konfigurasi keanggotaan, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting * Posting dan membaca email lewat web di http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/messages dengan tetap harus terdaftar di sini. -------------------------------------------------------------- UNTUK DIPERHATIKAN: - Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan Reply - Besar posting maksimum 100 KB - Mengirim attachment ditolak oleh sistem =========================================================

