Dalam mancari-cari Mandeh Rubiah di Internet untuak Rang Lapau, tabosek lo 
arsip Majalah Gatra, tahun 2000, Edisi Khusus Mudiak wakatu itu. Barangkali 
rancak lo dibaco untuak parintang-rintang manjalang rayo atau padoman dalam 
pajalananan pulang kampuang nan ka dilalui.

Salam,
--MakNgah
Di salin dari internet untuak Rang Lapau tanpa izinpanabik.

Salam,
--MakNgah
====================
NASIONAL

Mudik Edisi Khusus
Tiga Arah Penuh Pesona

MUDIK saat Lebaran, tentu, bukan sekadar mengisi waktu libur, mengunjungi 
kampung halaman, dan sanak keluarga. Mudik Lebaran, terutama bagi warga 
Jakarta, akan mengingatkan bahwa Indonesia memang kaya, dan dunia bukan 
cuma Ibu Kota. Perjalanan darat ke Pulau Sumatera, misalnya, adalah sebuah 
penjelajahan yang penuh pesona.

Dari pusat kota Jakarta, melintasi kota industri Cilegon dan Serang --calon 
ibu kota Provinsi Banten-- selama dua jam, akan sampai di Pelabuhan Merak. 
Di kota pantai paling barat Pulau Jawa itu, terdapat 20 unit feri di tiga 
dermaga, yang bergiliran melayani penyeberangan nonstop 24 jam. Dengan 
berlayar sekitar dua setengah jam melintasi Selat Sunda, kita akan sampai 
di Pelabuhan Bakauheni, bibir selatan Pulau Sumatera yang juga bernama 
Perca atau Andalas itu.

Suasana berdesakan, kemacetan, dan antrean panjang kendaraan di Pelabuhan 
Merak atau Bakauheni, seperti lazimnya di Jakarta, segera terlupakan begitu 
kita memacu kendaraan sejauh 91 km, atau sekitar dua jam perjalanan ke 
Bandar Lampung. Di ibu kota Provinsi Lampung ini, kita bisa melepas lelah 
sembari mencicipi kopi Lampung yang harum. Sekalian mengudap kripik pisang 
atau nangka, penganan ringan yang dikemas apik dan dijual di warung nasi di 
sepanjang jalan.


Tiga Jalur

UNTUK menuju ujung Pulau Andalas, tinggal pilih salah satu dari tiga jalur 
yang ada: jalur tengah, timur, atau lewat pesisir barat. Jalur pantai 
barat, dari Bandar Lampung ke Bandar Jaya, 80 km, kemudian terus 87 km ke 
Bukitkemuning. Di sini belok ke kiri menuju kota Liwa sejauh 100 km 
melintasi Sumber Jaya, kemudian sampai di Krui. Dari Krui perjalanan 
menyisir pantai sejauh 200 km melintasi kota Manna, menuju kota Bengkulu.

Terus menelusuri pantai arah ke utara sepanjang 341 km dari Bengkulu, akan 
sampai di Lunang, lokasi transmigrasi di perbatasan Sumatera Barat. 
Selanjutnya, di kota kecil Tapan, Sumatera Barat, jalan bersimpang dua: ke 
kanan, 60 km menuju Sungai Penuh, ibu kota Kabupaten Kerinci, Provinsi 
Jambi. Ke arah kiri, 213 km menuju Padang melintasi Painan, ibu kota 
Kabupaten Pesisir Selatan. Dari Padang, jalur pantai barat masih bisa 
diteruskan 56 km ke Pariaman, terus ke Manggopoh di Kabupaten Agam dan 
sampai di Panti, Kabupaten Pasaman, ketemu lagi lintas tengah Sumatera 
menuju Sumatera Utara.

Meski agak sempit, cuma 5-6 meter, jalan lintas barat ini terbilang 
lengang. Bahkan, selepas dari Liwa ke Bengkulu, setelah sekitar 200 km, 
kita akan melintasi hutan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan sepanjang 
100 km yang sepi. Tak ada lagi stasiun pengisian bahan bakar dan rumah 
makan yang memadai. Yang ditemukan cuma kebun-kebun penduduk. Di beberapa 
permukiman, di malam hari, yang terlihat hanya kerbau dan sapi yang 
bergolek di jalanan.

Setelah memasuki wilayah Sumatera Barat, suasana mulai berubah. Jalannya 
lebar dan mulus. Permukiman penduduk terbilang rapat, dan di kiri-kanan 
jalan banyak rumah makan. Pompa bensin pun ada di Balaiselasa dan 
Batangkapas, 70 km sebelum kota Painan.

Perjalanan di pantai barat cukup mengasyikkan. Selain bisa menghirup udara 
segar di kawasan hutan perawan, saat-saat Lebaran, kota Bengkulu, yang 
pernah diduduki Gubernur Inggris Raffles, lazimnya diramaikan pesta tabot, 
kesenian yang berasal dari Goa, India. Berbeda dengan tabot atau tabut di 
Pariaman, Sumatera Barat, yang cuma menampilkan dua tabot, di Bengkulu 
melibatkan seluruh kampung dan instansi pemerintah.

Meski bau sakral masih kental, tabot, yang merupakan visualisasi perang di 
Karbela, antara Hasan dan Husein, cucu Nabi Muhammad, di Bengkulu atraksi 
itu menjadi hiburan rakyat. Yang ditampilkan bukan lagi huru-hara, 
melainkan kemegahan masing-masing tabot. Jumlahnya mencapai ratusan. Jangan 
heran jika saat pesta tabot berlangsung, kota Bengkulu tenggelam dalam 
keramaian umat dan gemerlap warna-warni lampu hias tabot.

Di Desa Lunang, Sumatera Barat, bisa disinggahi rumah tua milik Mandeh 
Rubiah, pewaris Bundo Kanduang, raja wanita dari Kerajaan Pagaruyung 
Minangkabau. Di situ juga terdapat kuburan Bundo Kanduang, Cinduo Mato, dan 
pengikut raja lainnya. Rumah penuh peninggalan sejarah abad ke-16 itu masih 
berdinding kulit kayu. Padahal, ribuan hektare tanah ulayat warga Lunang 
telah diambi alih untuk lokasi transmigrasi. Meski demikian, disarankan 
jangan coba bertangan jail di sana. Berbicara kasar pun bisa membuat Anda 
batal melanjutkan perjalanan.

Tak jauh dari Lunang, ada Desa Muara Sakai. Di situ terdapat sisa pelabuhan 
peninggalan VOC, Kantor Dagang Belanda, di abad ke-18. Sebelum 
meninginjakkan kaki di kota Padang, ada objek wisata Pantai Bungus dan 
Pelabuhan Telukbayur di pinggir selatan kota. Di sana terdapat beberapa 
rumah makan dengan sajian khusus gulai kepala ikan.

Dari Padang, bila Anda mau ke kota Medan, Sumatera Utara, banyak jalan 
alternatif. Bisa lewat Lembah Anai yang sejuk, terus ke Padang Panjang dan 
Bukittinggi, Lubuk Sikaping, Panti, perbatasan Sumatera Utara, sekitar 240 
km. Atau, menyisir pantai lagi, 56 km, ke Lubukalung, belok kiri sampai di 
Pariaman. Terus ke Manggopoh dan Simpang Ampat, melintasi kehijauan kebun 
sawit, sejauh 110 km. Dari Simpang Ampat, terus ke Panti dan bergabung lagi 
dengan jalan lintas tengah Sumatera.

Waktu tempuh jalan ini terbilang lebih cepat, karena hampir tak terdapat 
tikungan berarti. Jalannya pun lebar dan mulus. Di Desa Padang Tujuh, 
sebelum kota kecil Talu, Anda dapat bermain-main sejenak dengan ikan 
larangan yang suka makan kacang goreng, di halaman Masjid Syekh Inyiak Landua.

Jika memilih jalur tengah, yang selama ini dikenal dengan sebutan ''lintas 
Sumatera'', dari Lampung harus lewat Kotabumi, Bukitkemuning, Martapura, 
kemudian masuk ke wilayah Sumatera Selatan, kota Baturaja, Muara Enim, 
Lahat, Tebingtinggi, dan Lubuklinggau. Kemudian melintasi Sorolangun dan 
Muarobungo, Provinsi Jambi. Jalan yang rata-rata bak benang terentang itu, 
meski ramai, cukup lebar dan mulus, tak melelahkan. Tak jarang, pengemudi 
berani melarikan mobilnya di atas 100 km per jam.

Cuma, di sepanjang jalan tak banyak tamasya yang bisa dinikmati, kecuali 
hutan-hutan belukar sisa-sisa lahan hak pengusahaan hutan. Baru setelah 
masuk Sungai Dareh, Provinsi Sumatera Barat, tampak rumah makan berjejer di 
sepanjang jalan 260 km ke Padang. Permukiman pun lebih padat dibandingkan 
dengan daerah Jambi. Dari Sungai Dareh, terus ke Kiliran Jao. Dari situ, 
Anda bisa ke Pekanbaru, Provinsi Riau, belok ke kanan melewati Lubuk Jambi, 
Teluk Kuantan, Logas, dan Lipat Kain.

Dari ibu kota Provinsi Riau itu, mau ke kota Medan, Anda bisa melanjutkan 
perjalanan lewat Minas, terus ke kota Duri, Bangko, dan Baganbatu di 
perbatasan Riau-Sumatera Utara. Sampai di Kotapinang, Rantau Parapat, 
perjalanan tinggal diteruskan ke Kisaran, Tebing Tinggi, sampai di Medan.

Perjalanan ini pun menyenangkan. Wartawan Gatra Rosul Sihotang khusus 
ditugaskan untuk menelusuri jalur ini dari Jakarta sampai ke Medan, awal 
bulan lalu. Melewati jalur ini, Anda bisa menyaksikan hamparan areal 
konsesi tambang minyak milik PT Caltex. Belukar bergelombang, nyaris 
dipenuhi pompa angguk, penyedot minyak dari bumi Melayu itu. Di sana-sini 
terlihat pipa minyak ukuran 20 cm dan 60 cm menjalar di sepanjang pinggiran 
jalan.

Sampai di wilayah Sumatera Utara, pemandangan mendadak berubah. Mulai 
Baganbatu hingga Tebing Tinggi, sekitar 300 km, yang tampak cuma hijauan 
kebun sawit dan karet. Sesekali terlihat desa-desa kecil yang nyaris 
tenggelam dalam kelebatan tanaman perkebunan.

Jika dari Kiliran Jao, mengikuti jalan sepanjang 190 km ke kota Solok, bisa 
singgah di Muara Kalaban, persimpangan ke kota tambang batu bara 
Sawahlunto, mencicipi ''dendeng batokok''. Atau, sekitar 26 km sebelum 
Solok, turun di Desa Silungkang. Pengunjung tinggal pilih aneka hasil 
kerajinan anak nagari di celah bukit itu. Ada tenunan songket, sarung, 
pakaian muslim, serta anyaman bambu dan rotan. Yang tak dilupakan pelintas 
Sumatera, biasanya, adalah sapu ijuk yang makin sulit ditemukan. Harganya 
cuma Rp 10.000-Rp 15.000 sebuah. Atau membeli kerupuk singkong, seukuran 
koin atau selebar piring.

Dari kota Solok, 60 km dari Padang, ada dua pilihan. Ke kiri bisa naik ke 
perbukitan jajaran Gunung Talang, menikmati pemandangan alam berupa 
persawahan yang indah. Melintasi Cagar Alam Tarusan, akan sampai di 
panorama alam Sitinjau Laut, sebelum menuruni Taman Hutan Raya Bung Hatta 
sampai di pabrik semen PT Semen Padang di Indarung, pinggiran kota Padang. 
Disebut Sitinjau Laut, karena dari daerah itu bisa disaksikan laut lepas 
pantai Padang. Kala malam tiba, terlihat indahnya temaran lampu-lampu kota 
Padang, pabrik PT Semen Padang, dan kerlipan lampu perahu nelayan.

Atau, dari Solok tadi belok kanan, 45 km ke Padangpanjang, atau 15 km 
sebelum Bukittinggi. Lintasan ini memberikan kenangan tersendiri kala 
menelusuri sepertiga bibir Danau Singkarak nan indah. Rumah makan di 
pinggir danau, seperti di Desa Ombilin atau Desa Kacang, menyajikan 
hidangan dengan menu khusus ikan danau. Misalnya ikan bilih, garing, 
kapiek, dan juga ikan mas. Ikan bilih kering, seukuran jari kelingking, ada 
yang dibelah atau siap digoreng, tersedia di pinggir danau.

Bukittinggi, kota sejuk yang dijuluki ''kota Jam Gadang'', adalah tempat 
istiharat yang menyenangkan. Udaranya bersih, segar, dan beraneka jenis 
masakan khas Bukittinggi dapat diperoleh dengan mudah. Ayam pop, yang lebih 
gurih daripada ayam goreng Amerika atau California, paling diminati 
pendatang. Juga dendeng kering dan nasi kapau, di sinilah pusatnya. Dari 
kota inilah asal pengusaha rumah makan yang terdapat di sepanjang jalan 
raya lintas Sumatera atau di Jakarta dan di beberapa kota lainnya. Antara 
lain Rumah Makan Roda Baru, Simpang Raya, dan Garuda.

Bukittinggi juga menawarkan hasil kerajinan aneka sulaman, bordiran untuk 
berbagai keperluan. Rupa-rupa makanan ringan: kerupuk sanjai, kerupuk 
balado, aneka wajik, kelamai, dan sagun selalu jadi rebutan para pelancong. 
Di kota wisata itu tersedia ratusan penginapan, dari sekadar rumah singgah 
sampai hotel-hotel berbintang.

Dari Bukittinggi, perjalanan bisa dilanjutkan dengan naik mobil sepanjang 
40 km menuju bibir Danau Maninjau. Di sana bisa dirasakan serunya tikungan 
jalan Kelok 44, atau udara sejuk di Puncak Lawang, di kening perbukitan 
yang memagar Danau Maninjau.

Bila capek ke luar kota, perjalanan bisa dialihkan ke panorama alam Ngarai 
Sianok, kebun binatang, atau menatap kota dari puncak Bukit Fort de Cock. 
Atau cukup mengabadikan diri di depan Jam Gadang dan memasuki Lobang, alias 
gua peninggalan Jepang, sekitar 100 meter di bawah permukan tanah.

Dari kota tiga gunung itu, selanjutnya terserah Anda. Jika mau ke kota 
Pekanbaru, sekitar 180 km dari Bukittinggi, akan melewati Waduk PLTA Koto 
Panjang, danau seluas 140.000 hektare, yang mengempang Batang Kampar. Dari 
perbatasan Sumatera Barat-Riau hingga ke kota Pekanbaru, dengan mudah bisa 
ditemukan masakan ikan patin yang terkenal nikmatnya. Atau makan udang 
galah khas Batang Kampar --yang langka-- di Desa Rantau Berangin. Di kota 
Pekanbaru sendiri, di kawasan Simpang Tiga, juga bisa ditemukan restoran 
khusus sop dan sate daging rusa.

Bila Anda hendak ke kota Medan, dari Bukittinggi dapat meneruskan 
perjalanan ke Lubuk Sikaping, ibu kota Kabupaten Pasaman, terus ke Panti 
dekat perbatasan Sumatera Utara. Ini perjalanan yang menyenangkan. Selain 
sejuk, Anda juga bisa bernapas seleganya di Cagar Alam Lembah Berangin atau 
Hutan Lindung Rimba Panti.

Suasana Sumatera Utara kian terasa begitu Anda meninggalkan Rao, Kecamatan 
Rao Mapat Tunggul. Mengikuti jalan berliku-liku, rumah-rumah penduduk 
berjejer rapat di pinggir jalan, sampai di Kotanopan dan Padang Sidempuan. 
Dahaga di perjalanan segera terobati begitu singgah di warung-warung 
penjual salak yang menjadi julukan kota Padang Sidempuan itu. Terus ke 
Sipirok, Tarutung, Balige, Parapat, Pematang Siantar, Lubukpakam, 30 km 
dari Medan.


Jalur Timur

ADA jalan pintas dari Bandar Lampung ke Palembang, Jambi, atau Pekanbaru, 
Riau, yang disebut ''lintas timur Sumatera''. Jalan selebar 5-6 meter itu 
pun terbilang sepi tikungan, dan hampir tak bertanjakan. Dari Bandar 
Lampung belok kanan di Bandarjaya, terus melaju ke Indralaya, dekat 
Pelembang. Cuma, jalan ini agak sepi. Sejauh 300 km perjalanan, hanya 
terdapat delapan pompa bensin. Bengkel dan rumah makan pun jarang dijumpai. 
Hanya ada dua, di Kayu Agung dan Tanjungraja.

Malam hari, lengang sekali. Di sini, para pengemudi sering dihantui bajing 
loncat yang suka menabur paku di tengah jalan. Jika ban mobil kempis, 
mereka menyergap pengemudi dan merampas bawaan penumpang. Belakangan, 
kondisi jalan di daerah berawa-rawa itu kian parah. Lubang-lubang berlumpur 
menganga lebar, sering memerangkap kendaraan yang lewat. Terutama di 
desa-desa Kecamatan Lempuing, sekitar 120 km selepas perbatasan Sumatera 
Selatan-Lampung. Sejak bulan lalu, pemerintah daerah bekerja keras 
merapikan jalan itu, menyambut arus mudik.

Dari Palembang ke kota Jambi, sekitar 270 km, bisa ditempuh melewati 
Betung, Bayungilir, terus ke Tempino, 27 km sebelum masuk kota Jambi. 
Kemudian, sekitar 500 km ke utara kota di pinggir Sungai Batanghari itu, 
kendaraan boleh dipacu ke arah Pekanbaru, Riau. Dari Kuala Tungkal, terus 
ke Merlung, dan sampai di Sebrida, perbatasan Riau-Jambi. Kemudian 
dilanjutkan ke Pematangrebah, Japura, dan sampai di Pangkalan Kerinci, 
daerah konsesi pabrik bubur kayu (pulp) milik PT RAPP, sekitar 80 km dari 
pinggir kota Pekanbaru.

Selanjutnya, tinggal pilih tujuan berikutnya. Bila melanjutkan ke Medan, 
bisa melalui Minas, kota Duri, terus ke Baganbatu dekat perbatasan Sumatera 
Utara-Riau. Atau, belok kiri, berkeliling, ke kota Payakumbuh dan 
Bukittinggi, kemudian terus ke Panti di perbatasan Sumatera Barat-Sumatera 
Utara. Namun, perjalanan lintas timur Bandar 
Lampung-Palembang-Jambi-Pekanbaru tidak disarankan. Selain jalannya agak 
sempit, suasana di perjalanan pun kurang nyaman. Menurut laporan wartawan 
Gatra, Budi Pristiwanto, dari Palembang, kondisi jalan di daerah itu masih 
parah. Sepanjang jalan, sepi permukiman. Yang terlihat cuma rawa-rawa serta 
perkebunan karet dan sawit. Itu pun setelah mendekati wilayah Provinsi Riau.

Melintasi Sumatera akan lengkap setelah dari Medan berkunjung ke Banda 
Aceh, ibu kota Provinsi Daerah Istimewa Aceh, 574 km dari Medan. Sebelum 
meninggalkan kota Medan, 125 km ke perbatasan ''provinsi rencong'' itu, 
disarankan mencoba manisnya rambutan Binjai yang terkenal itu. Kemudian, 
sampai di Stabat terus ke Tanjungpura, kota penghasil dodol terkenal di 
Sumatera Utara. Maklum, kota tempat berdirinya Masjid Azizi dan Makam 
Pujangga Tengku Amir Hamzah itu memang banyak dihuni penduduk asal Pulau Jawa.

Sebelum masuk Kualasimpang, kota pertama yang dijumpai di Provinsi Aceh, 
Anda akan melewati kota Pangkalan Brandan, daerah tambang minyak milik 
Pertamina, Bukitaruna, dan Pantebuaya penghasil jeruk manis ternama di 
Aceh. Kualasimpang pun dikenal dengan hasil karetnya, dan makanan khas ikan 
segar dan kuah gulai pliek-u. Jika memang harus beristirahat, Anda boleh 
menginap di Hotel Kartika, satu-satunya di kota Langsa, kota setelah Kuala 
Simpang.

Kota berikutnya adalah Peureulak, Peudawa, dan Idi, penghasil ikan laut 
terbesar di Aceh Timur, juga duku manis seperti halnya di beberapa daerah 
di Palembang. Kota Lhoknibong, dan Pantonlabu, Aceh Utara, adalah daerah 
penghasil pisang. Dari Lhoksukon terus ke Simpang Ceubrek, kawasan 
eksplorasi minyak dan gas milik Exxon Mobil. Terus ke kota Geudong, Samudra 
Passe, tempat agama Islam pertama kali diterima di Asia Tenggara. Itu, 
misalnya, dibuktikan dengan adanya sejumlah kuburan tua. Antara lain, makam 
Malikulsaleh dan Ratu Nahrisyah, yang masih sering dikunjungi tamu dari 
India atau Arab Saudi.

Kota Lhokseumawe, ibu kota Kabupaten Aceh Utara, adalah kota berikutnya. 
Kota ini kian ramai bersamaan berkembangnya perusahaan gas dan minyak bumi, 
seperti PT Arun, PT Pupuk Iskandar Muda, PT Asean Aceh Fertilizer, dan PT 
Kertas Kraft Aceh. Lelah menyaksikan cerobong asap pabrik, Anda boleh makan 
sate kambing terkenal di kota Matang Geulumpangdua. Terus ke kota Mini, 
Beureunuen, dan Sigli di Kabupaten Pidie, yang dikenal dengan emping 
melinjonya, yang dijual Rp 14.000 per kg.

Sebelum menjangkau kota Banda Aceh, masih harus melewati kawasan Pegunungan 
Seulawah, tempat kawanan monyet suka duduk di pinggir jalan. Anda boleh 
mengulurkan makanan, seperti kerupuk ubi dan kue-kue yang dijual di 
desa-desa sekitarnya. Menuruni perbukitan Seulawah, Anda masuk ke daerah 
Aceh Besar dan Banda Aceh, kota yang tak pernah sepi dari pemberitaan media 
massa berkaitan dengan aksi masyarakat, dalam 20 tahun terakhir ini.

Suasana Aceh belakangan memang sering menciutkan nyali para pengendara 
mobil, terutama di malam hari. Namun, menurut laporan koresponden Gatra di 
Aceh, Ibrahim Passe, di sepanjang lintasan Kuala Simpang hingga ke kota 
Aceh terdapat sekitar 46 pos keamanan. Petugas keamanan gabungan TNI/Polri 
itu memeriksa setiap kendaraan yang lewat, mengantisipasi kemungkinan 
penyelusupan gerakan bersenjata pengacau keamanan atau Gerakan Aceh 
Merdeka. Nah, selamat mudik, atau bertamasya sepanjang Sumatera.
Fachrul Rasyid HF, dan Kolam Pandia (Bandar Lampung) [Majalah Gatra: Edisi 
Khusus Lebaran 2000. Bengkalai Silaturahmi]



-- 
No virus found in this outgoing message.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.1.408 / Virus Database: 268.13.9/490 - Release Date: 10/20/2006



--------------------------------------------------------------
Website: http://www.rantaunet.org
=========================================================
* Berhenti (unsubscribe), berhenti sementara (nomail) dan konfigurasi 
keanggotaan,
silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting
* Posting dan membaca email lewat web di
http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/messages
dengan tetap harus terdaftar di sini.
--------------------------------------------------------------
UNTUK SELALU DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply.
- Posting email, DITOLAK atau DIMODERASI oleh system, jika:
1. Email ukuran besar dari >100KB.
2. Email dengan attachment.
3. Email dikirim untuk banyak penerima.
================================================

Kirim email ke