Tolong dibaca aturan di footer dibawah
--------------------------------------

Ass Wr Wb bapak Chaidir yth
   
  Sebenarnya  hanifah tidak menguasai  tentang adat istiadat, kecuali apa yang 
dijalanani ketika dibesarkan dikampuang. Karena Adat Salingka Nagari, tentu apa 
yang hanifah ketahui tentang adat di Banuhampu, mungkin berbeda dari daerah 
lain. Sepertinya pak Saaf sangat paham tentang hal ini, dan pak Saaf mencoba 
mencari celah bagaimanacara menyamakan persepsi, sehingga adat tersebut tidak 
berlaku Salingka Nagari, tapi berlaku di Minang Kabau. Sepertinya konsep itu 
yang sedang digali pak Saaf dan mencoba menawarkan pembaharuan pada konsep 
ABSSBK. 
   
  Menurut pak Chaidir, mungkin tidak impian pak Saaf tersebut terwujud?
  Oh ya bapak dulu sudah menganjurkan supaya masalah ini tidak hanya 
diperdebatkan, tapi ditindaklanjuti dengan penelitian. Mudah-mudahan ada yang 
mampu dan mau untuk menelitinya.
   
  Kalau konsep ABSSBK tersebut sudah jadi, maka menurut hanifah salah satu cara 
melestarikan budaya Minang Kabau adalah menjadikan ABSSBK sebagai salah satu 
matakuliah wajib lokal, yang diajarkan di PT di Sumbar dengn bobot 2 sks. 
Dengan begitu kekhawatiran punahnya budaya minang dapat dihindari.
   
  Hanya itu yang dapat hanifah kemukakan, terlebih terkurang mohon maaf. Maaf 
juga kalau hanifah CC kan ke palanta.
   
  Wass
   
  Hanifah Damanhuri
  
chaidir <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
      para dunsanak
   sebagai urang tuo perkenankan ambo menyampaikan kerisauan ambo Dalam contoh 
ko ambo mambandingkan generasi tuo urang Minang membandingkan dengan cino dan 
jahudi Kini pak Syaf meambik contoh ke tetangga ka urang Batak Baa nasib kito
  Ch N Latief
   
    SIAPA PEDULI HARI DEPAN ADAT BUDAYA MINANGKABAU
   
  H.Ch. N. Latief SH. MSi. Dt Bandaro
   
  Fakta dilapangan 
  Pendapat para pakar dan masih dibenarkan sebahagian terbesar masyarakat, 
bahwa Adat Budaya  adalah ciri atau jati diri dari suatu etnis. Keberadaan 
etnis yang beraneka ragam adat budayanya itu diakui dan akan tetap 
dipertahankan dan menjadi ciri dan kekuatan pula dari bangsa ini. Karena itu 
Kepala Negara sendiri pada tiap kesempatan menekankan  agar semua etnis 
berupaya berbenah dengan caranya masing masing 
  Suatu yang menonjol dari etnis Minang adalah bahwa makin lama perimbangan 
jumlah mereka yang ada di Ranahnya dan mereka yang ada di Rantau makin tidak 
seimbang. Melalui berbagai seminar dan loka karya diakui oleh tokoh urang 
Minang bahwa pemahaman nilai nilai yang terdapat dalam adat budaya yang 
merupakan jati diri itu makin melemah, terutama yang ada di perantauan. Melalui 
berbagai seminar dan loka karya yang dengan tema  serem  seperti “ Minangkabau 
ditepi jurang “ dll, nyatanya  sampai sekarang tidak ada suatu langkah nyata 
berkesinambungan yang dilakukan. 
  Semua urang Minang menyadari dan memahami bahwa  pelestarian nilai nilai  
tidak mungkin hanya dengan  ”ota  dan ruok ” dipalanta atau akan mengetahuinya  
masing masing  dengan melalui nalurinya sendiri sendiri, bim salabim  Nilai 
nilai harus difahami, dimengerti dan  dihayati sebagai sesuatu yang benar dan 
wajar,  terutama oleh generasi muda yang makin kritis  Ini memerlukan upaya dan 
cara.
  Bukannya tidak pernah ada usaha selama sekali. Melalui antara lain Loka Karya 
di Bandung, dua hari dua malam dengan amat serius yang berlangsung tidak 
seperti ekor tikus Terdokumentasi keputusan dan kesimpulan serta  
kesepakatannya yang mereka namakan “  Deklarasi Bandung “ dengan baik dalam 
satu buku. Melalui suatu musyawarah tokoh tokoh Minang  diseluruh Nisantara di 
Sawaklunto akhir 2005 dibuka wakil Presiden dan membentuk pengurus yang terdiri 
lebih 300 tokoh urang Minang dengan lebih tujuh puluh butir programnya. Sampai 
sekarang terhadap masalah yang penting ini belum juga ada gaungnya atau langkah 
nyata
  Sementara itu Gubernur Sumatra Barat menyampaikan fakta dilapangan bahwa dari 
3 urang Minang di Ranah 1.nya miskin, dengan segala ekses negative seperti 
pengangguran, kebodohan (ada peringkat kita  dimana secara nasional kita telah 
berada  dibawah propinsi baru seperti Bangka Bilitung ) dll Berbagai upaya 
dilakukan namun suatu fakta pula, orang lain maju dengan cepat kita basiengsuik 
dan masih   berdebat juga 
  Hal ini diakui erat kaitannya dengan pemahaman terutama penghayatan serta 
pelaksanaan nilai nilai adat budaya itu tadi 
   
  Banyaknya pertanyaan yang tidak pernah terjawab atau dijawab  
  Fakta  diatas menimbulkan banyak sekali pertanyaan  Pertanyaan itu selama ini 
tak pernah terjawab atau dijawab. Dalam literatur diungkapkan bagaimana 
tingginya nilai nilai adat budaya Minangkabau yang sekarang masih dibanggakan 
oleh generasi tua.    Mungkin akan banyak yang akan meradang kalau dengan jujur 
pula diajukan pertanyaan sederhana dan esensial  ” masih dihayatikah nilai 
nilai yang tinggi itu” oleh orang Minang atau lebih sederhana  ”masih 
mengertikah urang Minang akan adat budayanya” 
  Dalam suatu diskusi untuk mengajarkan adat budaya Minangkabau ke generasi 
muda di Jawa Barat, hadir tokoh tokoh ya profesor ya pejabat ya ada yang 
bergelar datuk, dengan jujur mengakui kurangnya pemahaman mereka  tentang adat 
budaya Minangkabau.
  Agama Islam saja yang katanya agama urang Minang, karena adatnya yang basandi 
syaraq syaraq basandi Kitabullah dan pengajaran agama itu diulang ulang tiap 
hari tiap waktu, masih saja kelepotan. Apalagi adat budaya yang tak pernah 
diajarkan lagi, tak ada buku buku, tak ada kursus dll  Sementara  masih saja 
dikatakan adat budaya itu jati diri, pandangan hidup urang Minang dsbnya.
  Pertanyaan berikutnya adalah masih perlukan urang Minang punya jati diri, 
punya pandangan atau filsafah hidup seperti yang diajarkan nenek moyang mereka  
 Apa sebenarnya jati diri, pandangan hidup atau filsafah hidup urang Minang 
dewasa ini
  Jati diri adalah sesuatu yang khas yang membedakan  ernis Minang dengan etnis 
lainnya Jati diri bukan milik perorangan tetapi milik suatu komunitas, milik 
suatu etnis.atau bangsa. Jati diri berkaitan dengan harga diri,  harga diri 
dari suatu kumunitas  Pandangan hidup membentuk watak. Kalau telah terjadi 
perubahan terhadap  apa yang dinamakan jati diri atau pandangan hidup. apakah 
dengan demikian tidak merobah pula watak dari urang Minang. Apakah ini bukan  
suatu masalah bagi urangMinang.
  Pertanyaan yang paling penting adalah siapa sekarang yang peduli dan benar 
benar memikirkan hari depan  adat budaya Minangkabau ini Di rantau orang hanya 
mengenal atau menyaksikan adat budaya Minang kalau ada kawinan dari mereka yang 
berdui,ada berita batagak gala, atau dalam omongan sambil lalu.. Masalah adat 
budaya tidak mungkin hanya dikupas  dan ditentukan perorangan Peran organisasi 
atau lembaga amat penting Sampai sebarapa jauh peran  Organisasi yang menamakan 
Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau atau LKAAM  atau GEBU MINANG yang telah 
merubah namanya menjadi Gerakan Eekonomi dan Adat Budaya Minang  Atau Perguruan 
Tinggi yang pernah membangun Centre for Minangkabau Sudies atau Pemda Sumbar 
yang pernah membentuk Pusat Pengkajian Islam dan Adat Budaya Minangkabau
   
  Memematahkan garis turun dari mana
  Garis turun dari apa yang diutarakan diatas kalau tidak dipatahkan akan 
menuju kekehancuran  Pertanyaan kita ” titik patah itu harusnya  dimulai 
darimana”  
  Pertama harus disepakati dulu ”apa yang salah pada urang Minang selama ini”  
dan adanya kemauan dan upaya  ”merubah diri” tidak membuat lagi kesalahan yang 
sama itu  Menurut hasil penelitian kami di Bandung kelemahan urang Minang 
selama ini ” habis waktu di ota jo ruok ”  tidak ada langkah nyata berlanjutan 
” angek angek cirik ayam ”  Yang paling parah adalah  sulit bersinergi. Mereka 
merasa  semua samo gadang, suatu pengertian yang salah dari ” didahulukan 
selangkah, ditinggikan serantiang ” . Menurut diskusi kami urang Minang kini 
kehilangan induak. Tidak ada pimpinan urang Mimamg yang dijadikan panutan. Yang 
ada adalah mantan pejabat yang dijadikan pemimpin. Jumlah pejabat urang Minang 
yang menomjol itupun makin berkurang  Sedangkan yang ada itupun tidak dipupuk 
tidak digadangkan, tetapi dikorek dicari kesalahannya Inilah yang harus 
dipatahkan lebih dahulu 
  Selanjutnya adalah pemahaman dan penghayatan akan adat budaya itu sendiri 
Salah satu  esensi adat budaya adalah solidaritas atau rasa kebersamaan  Rasa 
kebersamaan timbul dari dalam. Ia dihayati karena ia ditanamkan turun temurun  
sebagai suatu kebenaran dan keharusan. Dalam masyarakat yang memiliki rasa 
kebersamaan rasa hormat kepada pemimpin inharen dengan rasa kebersamaan itu. 
Pemahaman dan penghayatan solidaritas dimulai dengan antar saudara, antar kaum  
terus menaik antar suku, antar etnis  dan antar suku bangsa menjadi solidaritas 
nasional  Rasanya ini benar yang makin menurun tajam Observasi kami solidaritas 
 yang nasih tersisa adalah solidaritas sporadis, kalau ada bencana,  membangun 
mesjid dll Namun demikian  kita belumn terlambat  Dimanapun urang Minang berada 
yang tua sampai yang muda masih mengerti ” kabukik samo mandaki kalurah samo 
manirun, sasakik sasanang sahino samalu sadanciang bak basi saciok bak ayam” 
dst dst. Maalahnya bagaimana memberi isi kalimat
 kalimat diatas secara nyata menjadikan satu tittik balik yang perlu dicarikan 
penerapannya yang tepat
   
  Jadikan Kemiskinan dan SDM urang Minang sebagai pemicu
  Ujung ujung dari masalah adat budaya yang jati diri atau pandangan hidup dll 
itu adalah adanya etnis yang jaya, terhormat,  dihargai ( etnis dan Ranah 
Minang  pernah mendapat tempat terhormat itu )  karena punya dan melaksanakan 
nilai nilai yang tinggi itu   Ini menyangkut SDM urang Minang  Inilah yang 
harus kita benahi Untuk mematahkan garis turun membangkik batang tarandam,  
yang pasti kita perlu dana  Tidak boleh miskin 
  Dalam suatu artkel saya, saya pernah menyampaikan bahwa menurut adat budaya 
Minangkabau. maupun menurut agamanya yang Islam, urang Minang tidak boleh 
miskin. Suatu yang istimewa dari adat budaya Minangkabau adalah,  kebersamaan 
itu di back up dengan aturan ekonomi keluarga yang dinamakan oleh de Joselin de 
Jong sebagai  ”community fund atau social fund yang pada adat Minangkabau 
dinamakan hak ulayat ”
  Sekelompok anak muda tengah bergerak ikut mengentasi kemiskinan itu dengan 
membenahi  ” ulayat baru urang Minang  ”  berupa dana abadi milik etnis 
Minangkabau, Yang dimintakan dari solidaritas kebersamaan itu  tidak banyak, 
Hanya 2000 rupiah sebulan atau 25 000 rupiah setahun  Kalau dapat menghimpun 
800 000 keluarga Minang saja, ( yang diasumsikan terdiri dari suami istri dan 3 
anak ) akan terkumpul tiap tahunnya  100 M  dana segar Suatu jumlah yang luar 
biasa  
  Disinilah kita menguji dan melihat titik patahnya garis turun kebersamaan 
dari adat budaya Minangkabau yang jati diri pandangan hidup itu. Semua kita 
menyadari bahwa pada waktu ini  etnis Minang sangat memerlukan dana sendiri  
Yang dimintakan itu tidak seberapa Kita menggugah kepedulian dan rasa 
kebersamaan itu Namun sampai sekarang masih saja bergeraknya upaya ini lamban 
sekali 
  Mari kita bandingkan generasi orang tua kita Pada permulaan revolusi kita 
membutuhkan kapal terbang Keadaan ekonomi keluarga  belum sebaik seperti 
sekarang Gelang ditangan cincin dijari diberikan  Dalam waktu singkat kita 
mampu membeli sebuah kapal terbang
  Mari pula kita lihat etnis lain Melalui the International Overseas Chinees 
Convention Negri Cina membutuhkan dana membangun negrinya Dengan sekejap 
terkupiul sebanyak 650 M $ dan oleh orang Yahudi terkumpul 250 M $ Yang pasti  
dana yang dibutuhkan masuk dulu Mereka manfaarkan dana itu Membangun negrinya 
tanpa banyak komentar Setelah ada uang mereka langsung bagi kerja dengan ketat 
Ada yang merencanakan, yang mengawasi – kalau ada yang curang kalau perlu 
tembak -, ada yang mengerjakan dsbnya Tidak seperti urang Minang berdebat 
berkepanjangan dan uang tidak masuk masuk  Kita lihat hasilnya bagaimana negara 
dan bangsa itu sekarang. Kapan kita akan berubah Kapan titk balik itu akan 
terjadi    
  Moga moga tulisan singkat ni ada manfaatnya 
   
   
   
   


 
---------------------------------
Check out the all-new Yahoo! Mail - Fire up a more powerful email and get 
things done faster.
--------------------------------------------------------------
Website: http://www.rantaunet.org
=========================================================
* Berhenti (unsubscribe), berhenti sementara (nomail) dan konfigurasi 
keanggotaan,
silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting
* Posting dan membaca email lewat web di
http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/messages
dengan tetap harus terdaftar di sini.
--------------------------------------------------------------
UNTUK SELALU DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply.
- Posting email, DITOLAK atau DIMODERASI oleh system, jika:
1. Email ukuran besar dari >100KB.
2. Email dengan attachment.
3. Email dikirim untuk banyak penerima.
================================================

Kirim email ke