Tolong dibaca aturan di footer dibawah
--------------------------------------
Haji Miskin...
"Hari ini telah Kusempurnakan agamamu ini untuk kamu
sekalian, dengan
Kucukupkan nikmat-Ku kepadamu, dan Aku ridha Islam
ini menjadi agama
kamu." (al-Maaidah: 3, ayat terakhir yang turun ketika
Nabi menunaikan
haji perpisahan)
Salah satu yang paling ditakuti pemerintah penjajah
Kristen Belanda
dari ajaran Islam adalah sifat internasionalnya
berupa ibadah haji.
Haji menyuruh Muslimin dari seluruh bagian dunia
untuk berkumpul di
Makkah sekurang-kurangnya sekali dalam setahun.
Demikian kesimpulan
Deliar Noer, ahli sejarah politik.
Dalam bukunya yang sangat teliti berjudul Gerakan
Modern Islam di
Indonesia 1900-1942, Deliar mencatat bahwa pada paruh
awal abad ke-19,
untuk berangkat haji seorang Indonesia akan
menghabiskan waktu selama
3 tahun. Namun hal itu sama sekali tak mengurangi
minat orang untuk
berhaji. Apalagi sesudah kapal uap ditemukan dan
Terusan Suez dibuka,
maka frekuensi hubungan antara Indonesia dan
Timur Tengah semakin
tinggi.
Pada pertengahan abad ke-19, dicatat bahwa jumlah
orang Indonesia yang
berangkat haji rata-rata 2.000 orang. Jumlah itu
bertambah pada tahun
1886 menjadi 5.000 orang dan pada tahun 1890
menjadi 7.000 orang.
Jumlah rata-rata untuk kurun waktu 1899-1909
adalah 7.300 orang
setahunnya; tahun 1889 menunjukkan angka yang
paling kurang, yaitu
3.100 orang, sedangkan tahun 1896 mencapai puncaknya,
sebanyak 11.700
orang.
Tahun 1804 merupakan pengalaman yang membawa
pemerintah penjajah
Kristen Belanda kepada trauma pada haji. Yaitu ketika
tiga orang haji
pulang ke kampung halamannya di Minangkabau.
Mereka lalu
menyebarluaskan pemikiran Islam yang murni,
membangkitkan kesadaran
akan penjajahan aqidah, fisik, ekonomi, dan
pemikiran. Mereka adalah
Haji Miskin Pandai Sikat dari luhak Agam, Haji
Abdurrahman Piobang
dari luhak Lima Puluh, dan Haji Sumanik alias
Haji Muhammad Arif
Tuanku Lintau dari luhak Tanah Datar. Gerakan ketiga
orang haji inilah
yang kemudian berpuncak pada perlawanan besar-besaran
oleh Tuanku Imam
Bonjol.
Khusus di Minangkabau, Buya Hamka juga mencatat adanya
gelombang kedua
kebangkitan Islam yang dipelopori para haji. Yaitu
ketika empat orang
haji pulang dari tanah suci di permulaan abad
ke-20. Mereka adalah
Haji Muhammad Jamil Jambek dari Bukittinggi, Haji
Muhammad Thayib Umar
dari Tanjung Sungayang, Haji Abdullah Ahmad dari
Padang Panjang, dan
ayah Hamka sendiri Haji Abdul Karim Amrullah dari
Maninjau (lalu ke
Padang Panjang). Mereka ini murid-murid
Syeikh Ahmad Khatib
al-Minangkabawi, yang amat terkenal dalam dan luas
ilmunya sehingga
menjadi ulama yang disegani di Makkah
al-Mukarramah. Syeikh Ahmad
Khatib juga memiliki murid yang lebih lunak terhadap
penjajah Kristen,
namanya Ahmad Dahlan dan Hasyim Asy'ari, yang satu
kemudian mendirikan
gerakan Muhammadiyah, yang lain mendirikan Nahdlatul
Ulama.
Pandangan penjajah Kristen terhadap para haji dikutip
oleh Deliar Noer
dari tulisan seorang missionaris terkenal di Jawa
Tengah, Cornelis
Poensen (Encyclopaedie van Nederlandsch Indie
dalam Mekkagangers).
Begini katanya:
"Tanah Arab bukan saja merupakan pusat untuk
menyatukan jemaah-jemaah
haji yang taat, melainkan juga pusat
untuk menyatukan
politisi-politisi dan pemimpin-pemimpin berbagai
bangsa-bangsa Islam
yang berkumpul di sana dan yang juga
membicarakan
kepentingan-kepentingan dan rencana-rencana politik
mereka; di sanalah
mereka tukar-menukar pendapat, dan jemaah-jemaah
yang pulang pun
dibekali dengan kitab-kitab yang meningkatkan
perasaan agama dan
kesadaran beragama ?hal-hal yang harus dianggap
mencurigakan bagi
kepentingan jaminan keamanan dan ketertiban di
kalangan orang-orang
Islam yang berada di bawah pemerintahan Kristen."
Lamanya waktu yang dibutuhkan seseorang menunaikan
haji di zaman itu,
membuat mereka merasa sayang untuk sebentar saja
berada di tanah suci.
Maka haji bukan hanya pelaksanaan ibadah maudhu',
tetapi juga sebuah
proses pencerahan ruhani, pendalaman ilmu, dan
penghayatan kehidupan
Rasulullah dan para sahabat. Ghirah Islam
berkobar-kobar muncul dari
proses itu. Bahkan terjadi juga sebuah proses
networking yang luar
biasa efektif karena sedang berada dalam
frekuensi ruhani,
intelektualitas, serta keadaan fisik yang sama.
Seseorang yang pulang dari menunaikan haji,
bukan saja merasakan
dirinya kembali ke fitrah kesucian, tetapi juga
tumbuh dalam dirinya
perasaan menjadi bagian dari sebuah masyarakat
dunia bernama bangsa
Muslim. Suatu bangsa yang merapatkan barisan di atas
landasan tauhid
yang menyatukan raja dengan rakyat jelata, ulama
dengan kaum dhuafa,
jenderal dengan rakyat terjajah. Landasan tauhid juga
mempersaudarakan
orang Arab dan orang Melayu, perantau Cina dan
muallaf Eropa, budak
Afrika dan pedagang India. Muncul di dada setiap
haji, bahwa dirinya
adalah bagian dari suatu kekuatan besar.
Sesungguhnya, lewat haji
telah terjadi globalisasi dengan Makkah, Mina,
Arafah, serta Madinah
sebagai pusat-pusat gravitasinya.
Apa yang ditakutkan orang-orang seperti missionaris
Poensen sebenarnya
adalah kebersihan dan kemurnian diri seorang Muslim.
Sebuah modal awal
yang amat penting bagi lahirnya kekuatan
jaringan yang tak
terkalahkan. Mudah-mudahan 2 juta orang haji yang
menyemuti tanah suci
tahun ini memetik hikmah tersebut, dan
kembali ke negerinya
masing-masing membawa kekuatan baru.
Majalah Suara Hidayatullah : Maret 2001
http://www.hidayatullah.com/2001/03/salam.shtml
____________________________________________________________________________________
Need a quick answer? Get one in minutes from people who know.
Ask your question on www.Answers.yahoo.com
--------------------------------------------------------------
Website: http://www.rantaunet.org
=========================================================
* Berhenti (unsubscribe), berhenti sementara (nomail) dan konfigurasi
keanggotaan,
silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting
* Posting dan membaca email lewat web di
http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/messages
dengan tetap harus terdaftar di sini.
--------------------------------------------------------------
UNTUK SELALU DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply.
- Posting email, DITOLAK atau DIMODERASI oleh system, jika:
1. Email ukuran besar dari >100KB.
2. Email dengan attachment.
3. Email dikirim untuk banyak penerima.
================================================