Tolong dibaca aturan di footer dibawah
--------------------------------------

Assalamu'alaikum WW

....sabananyo 'saluang se lah nan manyampaikan'..... namun tulisan Buya Uki 
juo berkesimpulan baraso " Sejarah mencatat sejak awal, alam Minangkabau 
yang seratus persen dapat membumikan sistim adat dan agama seperti yang ada 
dalam falsafah itu mungkin hanya utopia (mimpi)."

Dalan tulisan dibawah juo dikatokan baraso ado duo pemakalah nan 'pemangku 
adat' menyatakan "bahwa kini, memang penghulu dan ulama sebagai unsur 
penting dalam adat terpinggirkan dalam sistim hidup bernegara dan 
bermasyarakat."....


Tanya kenapa ?  Tanya kenapa ??

Wassalam


http://www.padangekspres.co.id/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&artid=8896

Eksistensi Ulama dan Pengulu
Oleh Duski Samad, Dosen Pascasarjana IAIN Imam Bonjol Padang
Jum'at, 08-Desember-2006, 05:01:35 8 clicks


Setelah mengikuti Kongres Kebudayaan dan Apresiasi Seni Budaya Minangkabau 
yang diselenggarakan Dinas Pariwisata Seni dan Budaya Pemprov Sumbar, di 
Inna Muara, 29-30 November 2006 lalu, ada sesuatu yang masih menggelitik 
untuk disampaikan.




Helat budaya yang cukup bergengsi dan diikuti oleh berbagai elemen penting 
anak nagari, tidak saja menampilkan sosok ragam budaya alam minangkabau, 
akan tetapi juga memberikan ruang kepada budayawan, pakar, pemerhati, 
praktisi dan tokoh-tokoh adat, ulama dan anak nagari untuk untuk menuangkan 
gagasan, pikiran, kritikan, apresiasi yang keselurahannya tentu dimaksudkan 
untuk memberikan penguatan pada agama, adat dan budaya Minangkabau.

Kesan bahwa ulama, ninik mamak, ada dan agama seolah-olah terpinggirkan 
dalam sistim hidup bermasyarakat dan bernegara akhir-akhir ini terasa kuat 
di alam pikiran peserta kongres. Pada diskusi panel kelompok C yang membahas 
tentang agama dan budaya dalam amatan berbagai kelompok masyarakat, terlihat 
sekali ada beban berat yang dipikul oleh sebahagian penghulu dan alim ulama, 
khususnya ketika pemakalah berbicara bahwa kini penghulu dan ulama 
terpinggirkan.

Diskusi yang dipandu oleh budayawan Darman Moenir yang cukup cerdas 
mengunggah peserta berfikir kritis, menampilkan dua pemakalah satu dari 
rantau pesisir Ulakan Pariaman dan satu lagi dari luhak nan bungsu 50 Kota. 
Kedua pemakalah yang memang praktisi adat dan menyandang gelar adat itu 
dengan suara meyakinkan mengatakan bahwa kini, memang penghulu dan ulama 
sebagai unsur penting dalam adat terpinggirkan dalam sistim hidup bernegara 
dan bermasyarakat. Salah seorang pemakalah dengan ringan menumpahkan 
ketidakpuasaannya dengan membuat beberapa ilustrasi yang mencerminkan begitu 
terpinggirkannya peran ninik mamak dan alim ulama. Ada hal yang sangat sulit 
dipahami lagi, sang ninik mamak kita itu berbicara bahwa penjajah saja dulu 
memberikan penghargaan yang memadai pada ninik mamak dan alim ulama, 
contohnya, ninik mamak dan alim ulama tidak dipungut bayaran bila naik 
kereta api, atau ketika ada acara adat pemerintah Belanda membantunya.

Bahasan tentang terpinggirkannya ninik mamak dan alim ulama yang diangkat 
dalam sesi pagi itu ternyata mendatangkan apresiasi yang berbeda. Unsur kaum 
tua---generasi berumur lebih lanjut (tua)---yang umumnya pemuka adat 
(penghulu), alim ulama, dan budayawan senior tampaknya sepakat dengan 
pemakalah. Melalui ragam petatih-petitih dan bahasa adat dapat ditarik 
benang merah pemikiran mereka bahwa ninik mamak, alim ulama dan unsur adat 
betul-betul terpinggirkan. Dipihak generasi muda yang direpresentasikan oleh 
beberapa penanya mempertanyakan bentuk, model dan pola pewarisan adat yang 
seperti apa yang telah, sedang dan akan diberikan oleh ninik mamak, alim 
ulama dan tokoh adat kepada kami generasi Minangkabau masa datang?

Penanya kelompok ketiga adalah generasi tengah---tuo alun, mudo 
talampaui---yang umumnya generasi Minang terdidik dengan profesi mapan. 
Kesan yang ditangkap dari komentar dan pertanyaannya, mereka semua masih 
memiliki rasa optimisme bersamaan dengan pikiran kritis mereka mengajukan 
beberapa argumen yang kiranya patut dianalisis.

Penanya mencermati jalan sejarah Minangkabau, dapat dikatakan sejak awalnya 
adat dan budaya Minangkabau memang hidup dalam dialektika budaya kompetitif 
dan generasi masa lalu dapat memenangkan pertandingan itu. Sejarah mencatat 
sejak awal, alam Minangkabau yang seratus persen dapat membumikan sistim 
adat dan agama seperti yang ada dalam falsafah itu mungkin hanya utopia 
(mimpi). Yang pasti, sejak penjajah; zaman merdeka, orde lama, orde baru dan 
kini orde reformasi ninik mamak dan alien ulaina adalah diposisikan sebagai 
tokoh informal. Artinya sistim dan struktur negara belum pernah masuk secara 
utuh kedalam sistim adat. Kalaupun ada Ninik Mamak yang jadi Regent, 
Gubernur, Bupati, Camat dan wali Nagari akan tetapi dalam peiaksanaan 
tugasnya tetap saja ia berpedoman kepada sistim dan undang-undang yang 
ditetapkan Negara RI. Ini dapat dijadikan indikasi bahwa sejak lama di ranah 
bundo ini tetap berjalan dua kekuasaan secara parallel, Negara sebagai 
pemegang kekuasaan formal, penghulu dan ulama sebagai pemegang kekuasaan 
kultural.

Berfikir paralel (structural dan cultural) tentunya akan membuat dua 
pemegang kedaulatan (power) ini bisa lebih arif dalam memposisikan peran dan 
fungsinya. Penghulu, Ulama dan Tokoh Formal---pejabat perintah---sebenarnya 
adalah individu-individu yang sama-sama anak nagari, yang sama-sama cinta 
pada budaya dan nenek moyangnya, namun kedudukan dan fungsi menjadikan 
mereka berbeda dalam bersikap. Keberbedaan dan ketidaksesuaian dalam 
kebijakan dan prilaku politik yang seyogyanya dapat diminimalisir ketika 
mereka memerankan diri dengan jujur, ikhlas dan bertanggung jawab.

Kembali kepada diskursus ulama dan ninik mamak dipinggirkan atau 
meminggirkan diri. Kaum muda terdidik Minangkabau hampir sama nadanya. 
Kompetisi yang semangkin sengit dan sempit ini pasti memerlukan energi 
lebih. Mental orang menang, prilaku kemandirian tidak merasa tamu di rumah 
sendiri, jujur, ikhlas dan bermartabat adalah sifat-sifat yang harus 
dipunyai ninik mamak dan alim ulama modern jika ingin survive diera global 
ini. Menjauhi berfikir aji mumpu, bermental calo -lebih parah lagi calo 
politik, mengedepankan tangan di bawah adalah virus mematikan dan 
meminggirkan peran seorang tokoh.

Akhirnya, diskusi ini ditutup oleh moderator tanpa niat menyimpulkan, karena 
setiap orang membawa kesimpulan yang berbeda. Sangat meyakinkan ungkapan 
seorang peserta dari Agam, ninik mamak dan alim ulama tidak akan pernah 
terpinggirkan ketika ia hadir dengan jati dirinya dan berperan sesuai dengan 
semangat zaman. ***




Z Chaniago - Palai Rinuak - http://www.maninjau.com
======================================================================
Alam Takambang Jadi Guru
======================================================================

_________________________________________________________________
MSN Shopping has everything on your holiday list. Get expert picks by style, 
age, and price. Try it! 
http://shopping.msn.com/content/shp/?ctId=8000,ptnrid=176,ptnrdata=200601&tcode=wlmtagline


--------------------------------------------------------------
Website: http://www.rantaunet.org
=========================================================
* Berhenti (unsubscribe), berhenti sementara (nomail) dan konfigurasi 
keanggotaan,
silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting
* Posting dan membaca email lewat web di
http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/messages
dengan tetap harus terdaftar di sini.
--------------------------------------------------------------
UNTUK SELALU DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply.
- Posting email, DITOLAK atau DIMODERASI oleh system, jika:
1. Email ukuran besar dari >100KB.
2. Email dengan attachment.
3. Email dikirim untuk banyak penerima.
================================================

Kirim email ke