Tolong dibaca aturan di footer dibawah
--------------------------------------

India Merancang Layanan Jarak Jauh 

Simon Saragih

India melihat sebuah daur ulang dari revolusi ekonomi global. Pada 
awalnya, revolusi industri terjadi dengan terciptanya mesin turbin 
dan combustion engine.

Dengan teknologi itu, Barat memanfaatkan batu bara dan tambang 
minyak untuk menggerakkan mesin-mesin.

Kemudian terciptalah mobil, pesawat terbang, dan mesin-mesin 
penghasil produk manufaktur yang sifatnya massal. Hal itu membuat 
negara maju mencatatkan pertumbuhan ekonomi tinggi dan cepat.

Setelah kehabisan minyak, Barat memanfaatkan kekayaan minyak Timur 
Tengah dan di negara lain, sebagai sumber bahan bakar mesin 
perekonomian.

Setelah itu, ide-ide dan pengetahuan yang berkembang pesat menjadi 
andalan utama bagi kemajuan ekonomi Barat, terutama Amerika Serikat 
pada abad ke-19.

Pertarungan pada abad ke-20 ini adalah pertarungan ide, yang 
menghasilkan nilai ekonomi tinggi. Ide melahirkan inovasi, yang 
tidak saja dalam bentuk mesin tetapi ide-ide baru, yang terus-
menerus melahirkan sektor jasa yang baru.

Sektor pertanian dan industri bukan lagi menjadi andalan utama 
perekonomian, tetapi sektor jasa berbasiskan ide dan pengetahuan.

Ke depan, masyarakat global akan menjadi tergantung pada kegiatan 
industri berbasis pengetahuan. India melihat fenomena itu. Negara 
ini memiliki keunggulan komparatif soal itu karena ketersediaan 
pekerja dengan kemampuan berbahasa Inggris.

Di antara berbagai negara, India tergolong terdepan soal teknologi 
informasi di jajaran negara berkembang. Bahkan menakutkan negara-
negara maju.

Menurut analisis JP Morgan, dengan penduduknya yang mayoritas 
berusia muda dan berpengetahuan tinggi, maka dalam 20-30 tahun 
mendatang India diunggulkan dalam pelayanan berbasis teknologi 
informasi atau berbasis pengetahuan itu dan dengan layanan jarak 
jauh.

Malang bagi negara Barat, yang mulai kehilangan jumlah penduduk 
karena produktivitas kelahiran anak yang merosot drastis. Negara 
berkembang kini mengisi kekurangan penduduk global itu. Dunia akan 
semakin saling tergantung.

Untuk meraih kesempatan dari pengurangan penduduk di negara-negara 
dengan penduduk yang semakin menua (aging population), andalannya 
bukan sekadar banyaknya jumlah penduduk tetapi penduduk yang punya 
pengetahuan. India diprediksikan akan unggul soal itu.

Sekarang pun dunia sudah saling tergantung dan bukan hanya sekadar 
kata-kata. Bank Sentral India mengatakan hal itu sudah menjadi 
sebuah kesempatan nyata, yang diraih India. Misalnya, pemindahan 
pusat panggilan (call center) dari AS ke India sudah terjadi.

Contoh, nomor panggilan bebas pulsa 1-800-xxx untuk American Express 
Bank, yang tadinya bermarkas di AS, kini telah dipindahkan ke India. 
Nomor seperti itu biasanya merupakan akses untuk mendapatkan 
beberapa informasi soal perusahaan, keluhan, dan lainnya.

Ada banyak perusahaan AS yang melakukan itu dengan memindahkan 
pelayanannya ke India. India menerima devisa dari pekerja yang 
bekerja di pusat panggilan itu.

Sumit Malhorta, Presiden & Chief Executive Officer, Interactive 
World, kini pun disibukkan dengan kegiatan seperti itu. Ia melihat 
ke depan, aktivitas seperti itu makin meningkat.

Dalam buku The World is Flat, misalnya, juga disebutkan salah satu 
contoh lain. Seorang pasien yang berada di AS, menghadap seorang 
dokter di AS. Si dokter mencari tahu gejala- gejala penyakit yang 
dihadapi si pasien.

Kemudian si dokter mengirimkan informasi tentang gejala penyakit 
kepada ahli kedokteran atau ahli farmasi di India lewat jaringan 
teknologi informasi. Setelah membaca informasi itu, ahli kedokteran 
atau farmasi di India kemudian memberi tahu kembali, resep-resep 
yang harus diberikan kepada pasien di AS itu. Komunikasi seperti itu 
bisa berlangsung cepat.

Ke depan, yang akan terjadi bukan lagi sekadar pemindahan tugas-
tugas dari luar India ke India. Ke depan, hal sebaliknya pun akan 
terjadi. Ahli-ahli India memberikan pelayanan jasa-jasa India ke 
negara-negara lain tanpa harus terjadi perpindahan atau migrasi 
warga India ke negara lain.

Pekerja di India bisa tetap berada di tempat asalnya, namun tugasnya 
adalah melayani pelanggan di seluruh dunia. Lagi-lagi hal itu bisa 
terjadi karena munculnya teknologi informasi yang semakin canggih 
dari hari ke hari.

Ke depan, teknologi informasi bukan lagi sekadar menawarkan 
komunikasi lewat huruf, suara, dan gambar dengan kualitas yang masih 
buruk seperti sekarang, tetapi dalam bentuk kualitas yang lebih 
bagus dan seperti nyata. Hal itu membuat layanan jarak jauh seperti 
hidup.

Misalnya, India akan melayani konsultasi perpajakan, konsultasi 
keuangan, pelayanan pendidikan jarak jauh dengan pelanggan di Barat. 
Semuanya berlangsung lewat jaringan teknologi informasi.

Diprediksikan, ada kesempatan kerja sebanyak 40 juta untuk India 
tentang kegiatan di bidang itu pada tahun 2020. Nilai ekonominya 
juga tidak tanggung-tanggung, yakni sekitar 130 miliar dollar AS per 
tahun.

Dr PK Das, staf dari Sekretariat Departemen Perdagangan Industri, 
memberi informasi soal itu kepada Kompas. Perancangan kebijakan juga 
telah disusun di India, yang melibatkan All India Management 
Association (AIMA). Badan ini telah membentuk sebuah badan bernama 
High Level Strategic Group, yang terdiri dari sektor industri, 
akademisi, dan pemerintah.

Hasil pemikiran mereka dibantu The Boston Consulting Group. 
Muncullah sebuah perencanaan soal itu. Proyeksinya, India akan 
menjadi tenaga utama dalam pelayanan jarak jauh.

Jika negara lain baru mulai sadar soal itu, India sudah melakukannya 
pada tahun 2003. Jika ada negara yang sadar sekarang, dan baru 
memulainya, hal itu jelas terlambat. Masalahnya, pelayanan jarak 
jauh tergantung pula pada program pendidikan, perbaikan kelembagaan, 
yang jelas membutuhkan waktu tahunan. Dalam hal ini, China pun 
mungkin akan kalah dari India.

Sumber:
Kompas.com








Membangun Kekuatan Ekonomi dari Lembah Silikon 

Yuni Ikawati

Dominasi Amerika Serikat di bidang teknologi informasi lambat laun 
mulai tergusur oleh hadirnya industri telekomunikasi dan komputer 
dari Asia, salah satunya India.

ila negeri Paman Sam ini merintis pembangunan industri teknologi 
informasi (TI) pada tahun 1940-an dari usaha rumahan bermodal 
ventura dan melokalisasi kegiatan produksi itu di kawasan industri 
di California yang populer dengan sebutan Lembah Silikon, India pun 
setengah abad setelah itu pada awal 1990-an mulai mengikuti AS 
melakukan hal yang sama.

Membangun kekuatan di bidang TI yang diyakini sebagai kekuatan 
ekonomi masa depan, India bisa segera memetik hasilnya. Dengan 
kebijakan yang tepat pada saat yang pas telah membawa negara ini 
berjaya di industri TI sejak dekade terakhir.

Dilihat dari pendapatan ekspornya, penjualan dari produk TI tercatat 
yang terbesar sejak awal tahun 1990-an hingga kini. Ekspor perangkat 
lunak (software) dari India pada tahun 1991-1992 sudah tumbuh hingga 
35 persen dan menyumbang 70 persen dari 73 persen perusahaan 
software nasional yang berada di kawasan itu.

Keuntungan ekspor peranti lunak TI dan layanan jasanya (termasuk 
business process outsourcing), menurut Kiran Karnik, President 
Nasscom (National Association of Software & Services Company), 
melampaui 100.000 crore rupee (sekitar 22,43 miliar dollar AS) pada 
tahun 2005-2006. Pertumbuhan ini sebagian besar karena meningkatnya 
pekerjaan dengan tingkat keahlian tinggi atau sophisticated seperti 
riset, analisis, dan permodelan.

Kombinasi antara pengetahuan domain dan kemampuan TI menciptakan 
peluang dengan nilai tambah tinggi seperti jasa teknik, animasi, dan 
penemuan program antivirus.

Karena itu dalam laporan Nassom-Mc Kinsey diproyeksikan ekspor 
proyek BPO ini akan meningkat menjadi 25 miliar dollar AS pada tahun 
2010 dan melibatkan satu juta tenaga kerja langsung atau meningkat 
dua kali lipat dibanding saat ini. Bila dihitung termasuk tenaga 
kerja tak langsung yang terlibat di industri ini, maka jumlahnya 
mencapai 9 juta orang.

Brain Gain

Membangun kekuatan ekonomi berbasis industri TI, India tentu 
memulainya dari dunia pendidikan dengan mencetak tenaga ahli di 
bidang ini. Upaya yang dirintis India memang tak beda jauh dengan 
apa yang dilakukan Taiwan dan Jepang terhadap Amerika Serikat.

Untuk menguasai teknologi khususnya TI yang dikuasai Amerika 
Serikat, Pemerintah India mengirim ribuan pemuda yang berotak 
brilian untuk memperdalam TI di AS, juga ke Eropa. Namun, setelah 
memperoleh keahlian, mereka lalu bekerja di sana, terutama di Lembah 
Silikon. Perekrutan tenaga ahli dari India antara lain selain karena 
keahlian mereka dan penguasaan bahasa Inggris yang baik juga 
didasari pada nilai upah mereka yang relatif rendah.

Eksodus para ahli komputer India ke AS ini terjadi pada kurun waktu 
1980-an hingga awal 1990-an. Di lembah silikon AS yang terbentang 
dari San Francisco hingga San Yose itu dari sekitar 150.000 pekerja 
asing yang bekerja di sana sebanyak 60.000 di antaranya adalah pakar 
software dari India.

Sumber daya manusia India ini tentunya memiliki andil bagi 
berkembangnya industri IT Amerika Serikat pada kurun waktu dua 
dasawarsa terakhir ini. Berkibarnya kekuatan India di negeri Barat 
ini dilirik Narasimha Rao yang menjadi perdana menteri India kala 
itu.

Sebagai kiat menarik kembali pakar India dari Amerika Serikat dan 
memanfaatkan keahlian mereka, ia menerapkan kebijakan pemberian 
insentif dan menciptakan suasana kondusif.

Untuk menggalang modal, negeri yang masih tergolong sedang 
berkembang ini membuka pintu seluas-luasnya bagi masuknya modal 
asing, dengan menawarkan berbagai kemudahan, seperti penghapusan 
pajak bagi barang modal untuk industri ini dan menghapus monopoli, 
termasuk pemotongan monopoli di bidang Internet Service Provider 
(ISP) dan link satelit internet. Sedangkan insentif menarik bagi 
karyawan perusahaan TI ini adalah kepemilikan saham perusahaan.

Kebijakan ini, diakui Ajay Gupta, Direktur Laboratorium Hewlett 
Packard India, yang berlokasi di Bangalore (kini bernama Bangaloru), 
yang menjadi salah satu daya tarik dirinya kembali ke tanah airnya. 
Meskipun di negerinya ia harus bekerja di perusahaan Amerika.

Hasilnya, di bawah kepemimpinan Rao, brain drain memang bisa 
berbalik menjadi brain gain. Diprakarsai oleh para pakar komputer 
India yang pernah bekerja di berbagai industri di Amerika Serikat, 
pada tahun 1990 India mulai membangun Software Technology Park (STP) 
di Pune, Bangalore, dan Bhubaneswar dan setahun kemudian diikuti 
Nioda, Gandhi Nagar, Hyderabad, dan Thiruwabanthapuram. Semua 
kawasan ini dilengkapi dengan stasiun bumi untuk sambungan 
komunikasi data.

Dua daerah yang mengalami kemajuan pesat di antaranya adalah 
Bangalore yang berada di negara bagian Karnataka dan Hyderabad, ibu 
kota Andra Pradesh, hingga menjadi Silicon Valley of India. Dari dua 
daerah yang menjadi kota digital ini dicapai pertumbuhan ekonomi 25 
persen per tahun.

Negara bagian yang dulunya terbelakang ini kemudian disulap menjadi 
kawasan industri maju yang dipenuhi dengan gedung berarsitektur 
modern. Di lembah silikon itu kini berdiri sekitar 200 industri 
besar peranti lunak dan menyerap ratusan ribu karyawan dengan 
tingkat keahlian tinggi di bidangnya.

Keberhasilan pembangunan kawasan industri peranti lunak di Bangalore 
juga mendorong pembangunan industri yang sama di daerah tingkat dua 
seperti Mysore di Karnataka. Dan dalam waktu dua tahun telah meluas 
ke 21 kota kabupaten lainnya.

Sejak tahun 1996, pemerintah pusat memainkan peran yang sangat 
proaktif dalam memajukan industri TI. Setelah pemerintah Karnataka 
keluar dengan kebijakan pertamanya tentang TI, banyak negara bagian 
lain mencontohnya.

Strategi pembangunan kawasan industri terpadu untuk teknologi 
informasi ini kemudian diikuti oleh negara bagian lain, seperti 
Chennai. Munculnya lembah-lembah silikon ini telah berhasil 
mendongkrak produksi industri komputer, terutama peranti lunak, 
hingga menjadi nomor satu di dunia.

Produk dari ribuan perusahaan peranti lunak India, sebut saja di 
antaranya yang terbesar Infosys Technologies yang memiliki delapan 
pusat perkembangan TI di India, Tata Infotech dan National Institute 
of Information Technology (NIIT), lembaga yang dibidani IBM, 
Microsoft, dan Oracle untuk membangun jaringan antara universitas di 
AS dan India. Mereka telah menembus pasar di mancanegara, terutama 
AS dan Eropa, selain Asia sendiri.

Menurut data dari Nasscom, pertumbuhan ekspor software dari India 
mendekati 52 persen per tahun atau 1,8 miliar dollar AS per tahun. 
Sementara perusahaan seperti Infosys Technologies, Satyam Computer 
Services, Wipro and Tata Consultancy Services memperkirakan lebih 
dari 80 persen keuntungan dari ekspor produk ini.

Sekitar 62 persen ekspor software India ke AS, atau mencapai 14 
persen total ekspor India. Pendapatan ekspor software ini menyumbang 
dua persen dari produk domestik bruto negeri ini.

Keberhasilan ini rupanya telah mendorong negara berkembang lainnya 
untuk menjalin kerja sama dengan India, di antaranya Mauritius, Sri 
Lanka, Nepal, Aljazair, dan Indonesia, terutama dalam pembangunan 
Software Technology Park dengan konsep yang sama.

Sumber:
Kompas.com



Muhammad Syahreza
PT. NOK Indonesia
Plant Engineering Dept.
Telp. : 021-898 1041 Ext. 128/135
Fax. : 021-898 0764
e-mail : [EMAIL PROTECTED]

"voorprong van het achterlijkheid."
Orang bisa melompat maju tanpa perlu mengikuti irama pengalaman yang dialami
orang lain tapi dengan belajar meniru menggunakan kemajuan teknologi

Tahukah anda bahwa dunia sudah berubah? Tahukah anda negara lain sudah
berubah? Inginkah anda negara anda juga berubah? Sudahkah anda berubah?

Kita memang miskin sumber daya alam tapi bukan berarti miskin kreatifitas

Perubahan memerlukan upaya dan dimulai dari diri sendiri, dimulai dari hal
yang terkecil dan dimulai saat ini juga
--------------------------------------------------------------
Website: http://www.rantaunet.org
=========================================================
* Berhenti (unsubscribe), berhenti sementara (nomail) dan konfigurasi 
keanggotaan,
silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting
* Posting dan membaca email lewat web di
http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/messages
dengan tetap harus terdaftar di sini.
--------------------------------------------------------------
UNTUK SELALU DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply.
- Posting email, DITOLAK atau DIMODERASI oleh system, jika:
1. Email ukuran besar dari >100KB.
2. Email dengan attachment.
3. Email dikirim untuk banyak penerima.
================================================

Kirim email ke