Tolong dibaca aturan di footer dibawah
--------------------------------------

Di PUNCAK GUNUNG SALJU
Oleh: K.Suheimi 



LAIN  rasanya berada di puncak Gunung  Salju,  terasa 
sepi dan mencekam, sunyi yang merasuk, dingin yang
menusuk sampai   ke sumsum  tulang.  Termometer
menunjukkan suhu di bawah  nol   derajat Celsius.  Di
ujung lereng yang sangat curam, di puncak gunung  yang
tertinggi, di atas  itulah pesawat Helicopter kami
mendarat. Hanya 7  menit  saya mampu bertahan di luar,
kemudian  sudah   tidak  kuat lagi.  Jari-jari  sudah
mulai kaku, untuk menekan  tombol  tustel saja  rasa
ndak bisa lagi. Di puncak gunung salju itu,  kaki 
kami terbenam  di dalam  es, menggigil kedinginan
dengan  geraham  yang gemeletuk, ujung hidung, ujung
telinga dan  ujung jari kaki  kaku sudah. 
Di puncak  gunung salju yang sunyi itu, di dekat  kota
 Queens-town,  di daerah yang mendekati Kutub Selatan,
walaupun di  musim semi,  namun  saljunya  tetap
membeku  berwarna  putih.  Di puncak gunung salju yang
seperti  ini, saljunya akan selalu ada,  walaupun 
memasuki musim panas, disebut sebagai salju  abadi. 
Apalagi ketinggian 3.000 meter di atas  permukaan 
laut.
Di  lereng-lerengnya yang terjal, sebagian salju itu 
tampak meleleh.  Lelehannya berubah menjadi air terjun
 yang  sangat banyak  dan  sangat   tinggi  di
sepanjang  lereng-lerengnya  yang curam. Dari  puncak 
gunung salju, pemandangan terasa  lebih  luas, apa-apa
 yang tidak terlihat dari bawah jelas sekali dari 
puncak gunung ini. Menyaksikan panorama yang bukan
alang kepalang indahnya,  dengan  danau Waikapu di
bawah  terbentang  membiru  dengan pulau-pulau  dan 
rumah-rumah penduduk  serta  dikelilingi   oleh
hijaunya  padang rumput tempat domba-domba berkembang 
biak.  Tidak  pernah  sebelum  ini  saya menyaksikan 
pemandangan  yang  sangat menakjubkan itu.
Menyaksikan semua itu ada 2 hal yang bergema di hati. 
Rasa syukur yang sedalam-dalamnya, atas rahmat  dan 
karunia-Nya. Karena saya berhasil menjejakkan kaki di
puncak gunung salju. Tidak  semua  orang bisa berhasil
sampai ke sana.  Kalau  bukanlah karena limpahan
rahmat-Nya tentu saya tidakkan mungkin sampai  ke
sana.  Di puncak gunung salju itu cakrawala menjadi
luas, alam terbentang  dengan sangat besarnya, di sana
terasa betapa kecilnya  diri ini  dan  tidak berarti
serta tidak berdaya sama  sekali.  Terlafas kata-kata 
"Allahu Akbar" sewaktu menyaksikan betapa  besar 
ciptaan-Nya  ini.  Ke mana pun  mata dipandangkan 
yang  tampak  hanya kebesaran  demi  kebesaran-Nya. 
Di puncak gunung  salju  itu  hati tergetar  ingin
mendekat kepada-Nya. Ingin bersujud ke  haribaan-Nya. 
Oh, alangkah indahnya jika Yang  Maha  Perkasa 
mengizinkan hamba yang hina dina ini menyembah
menghadap-Nya. Di atas  Helicopter,  sewaktu mau turun
 dari  puncak  gunung salju, tampak puncak-puncak
gunung salju yang lain, juga terlihat kokoh,  anggun
dan mengesankan. Di atas Helicopter hati ini 
terenyuh, ingin berbakti dan mengabdi kepada-Nya.
Puncak  gunung  salju, sekarang engkau  telah 
kutinggalkan, namun sampai nanti engkau tetap anggun
dan kokoh, kendatipun  aku telah tiada, kendatipun aku
telah meninggalkan dunia ini.  Engkau masih  dan  akan
tetap begitu-begitu juga. Sejak  dulu  kala  dan
sampai  hari  akhir nanti. Sedangkan aku hanya 
singgah  sekejap, tidak lama, hanya 7 menit berada di
puncakmu.
Lalu saya berfikir untuk apa membanggakan dan 
menyombongkan diri, untuk apa suatu kesombongan itu?
Ada  satu hal yang dirasakan oleh orang yang  berada 
di atas suatu  puncak,  ialah cakrawalanya bertambah 
luas,  dan  dirinya terasa semakin kecil. Di puncak
sana orang tidakkan mungkin  menyombongkan  diri,  di
puncak sana orang tidakkan mungkin  pongah  dan
takabur,  serta  menepuk dada mengatakan hanya dia 
yang  paling berjasa. Di puncak sana, terasa diri ini
sangat kecil tidak  berarti apa-apa. Dan kalau kita
sempat berada di puncak, itu hanya  berkat rahmat dan
karunia-Nya jua adanya.
Untuk  semua ini, di mana pun kita berada,  Tuhan 
menginginkan agar kita jangan sampai sok-sok-an.  Sok
itu adalah sigkatan dari sombong,  ongeh dan ka
gadang-gadangan. Karena salah  satu  sifat yang sangat
dibenci Tuhan adalah sombong. Sebagaimana  firman-Nya:
“Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang sombong
dan  membanggakan diri.” (Surat Annisa’ ayat 36).



“Air mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang
rendah”. Begitu juga belas kasih yang tulus selalu
mengalir kepada orang yang rendah hati. Sangat jarang
belas kasih diberikan ke orang yang sombong

Kegagalan akan menghapus kebiasaan yang buruk.
Kegagalan, akan menghancarukan kesombongan, sehingga
menciptakan sikap yang rendah hati, dan akan
meningkatkan kecerdasan emosi

-       
-       Mungkin anda memberikan sumbangan kepada orang yang
tidak punya. Kemudian anda akan merasa riya’ dan
sombong. Tiba-tiba ada suara yang samar-samar
berbicara : “jangan mencari pujian!” Ingatlah, itu
suara hati Sang Maha Mulia, Al Raqiib (Sang Maha
Pembaca Rahasia).
-       Anda baru saja membeli mobil baru, ada suara hati
berbicara : “jangan sombong!” Ingatlah, itu suara hati
Sang Maha Kaya, Al Ghaniy (Sang Maha Kaya).






__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

--------------------------------------------------------------
Website: http://www.rantaunet.org
=========================================================
* Berhenti (unsubscribe), berhenti sementara (nomail) dan konfigurasi 
keanggotaan,
silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting
* Posting dan membaca email lewat web di
http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/messages
dengan tetap harus terdaftar di sini.
--------------------------------------------------------------
UNTUK SELALU DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply.
- Posting email, DITOLAK atau DIMODERASI oleh system, jika:
1. Email ukuran besar dari >100KB.
2. Email dengan attachment.
3. Email dikirim untuk banyak penerima.
================================================

Kirim email ke