Tolong dibaca aturan pada footer dibawah
-------------------------------------------
HUJAN TURUN TERLALU PAGI
Oleh ; K Suheimi
HUJAN turun terlalu pagi. Pagi jadi kelabu, seperti kelabunya hati
ini. Mendung masih menggelantung, seakan-akan tidak mau beranjak, tidak mau
meninggalkan tempatnya. Awan belum lagi tersibak, matahari seakan-akan tidak
mau menampakkan dirinya. Kabut begitu tebal. Biasanya di pagi seperti itu,
gunung Merapi dan Singgalang tampak cerah. Tetapi pagi ini, udaranya
redup, angin bertiup, itik dan ayam basah kuyup, tidak lagi terdengar
kokoknya. Semuanya diam, semuanya bisu, murai pun tidak berkicau. Alam
bagaikan menyimpan satu kedukaan.
Rumah Sakit itu diliputi mendung, semua berwajah muram, semua tertekur
dan satu-satu ada yang terisak, menahan tangis dalam sedu. Sedu sedan
diiringi linangan dan tetesan air mata yang mengalir di pipi tidak terasa.
Badanku basah kuyup ditimpa hujan, tetapi asinkah air hujan yang turun di
pagi itu? Terasa asin karena bercampur dengan air lain yang juga mengalir di
pipi ini.
Pelan-pelan dan secara sembunyi saya seka air yang mengalir di pipi itu,
saya saksikan satu pemandangan yang memilukan. Di pembaringan itu dia
tergeletak, umurnya terlalu muda, baru menginjak 21 tahun. Biasanya dia pakai
kerudung putih dan baju putih sebagai perawat, namun hari ini dia tidak
memakai semua itu lagi. Dia terbaring di pembaringan, diam, bisu, bibirnya
kebiruan, dia bertambah kurus, dan benjolan itu, benjolan yang ada di leher
kirinya itu, kentara sekali terlihat, berbenjol-benjol, merah kebiruan,
menakutkan dan tampaknya ganas sekali.
Hari itu dia baru selesai menjalani operasi untuk yang kedua kalinya.
Operasi yang kedua ini, bukan operasi pada benjolan yang ada di lehernya,
tetapi operasi pada perutnya. Perutnya sakit melilit di sebelah kanan,
semula diduga usus buntu, ternyata bukan. Dokter bedah baru tahu setelah
membuka perutnya. Rongga perutnya sudah ditumbuhi oleh penjalaran-penjalaran
tumor yang berasal dari tenggorokannya. Karena terlalu luas tidak mungkin
semua tumor itu diangkat, hanya sebagian kecil yang diambil untuk diperiksa di
laboratorium.
Dia tampak letih, dia tampak lesu, lebih-lebih ketika disadarinya bahwa dia
bukan menderita usus buntu, tetapi kanker tenggorokan yang dideritanya selama
ini, itulah yang telah menjalar ke mana-mana. Menyadari semua itu, kondisinya
cepat sekali menurun. Dia tidak bisa makan, dia tidak mau minum dan dia tidak
bisa tidur. Kadang-kadang dia tidak sadarkan diri, kadang-kadang dia
menggigau, wajahnya pucat, tulang-tulangnya pada menonjol, kurus sekali,
tidak seperti dulu.
Dulu, tawanya renyah, setiap pasien kenal dengan dia, dia mudah senyum,
dia tidak pernah mengatakan lelah atau cape, sekalipun tengah malam disuruh
mengangkat atau membersihkan serta menolong pasien, atau sedang membantu di
samping meja operasi. Dia begitu cekatan, tangannya lincah dan dia
ringan tangan. Karenanya dia sering dijadikan contoh dan suri teladan
bagi teman-temannya. Dia sering menggantikan temannya sesama perawat untuk
jaga malam, sifatnya suka dan ingin selalu menolong, menolong apa yang
dapat ditolongnya, meringankan beban sesama teman-teman. Maka
teman-temannya selalu berkata, dia adalah tempat kita meminta tolong, dan
tidak sedikit pun tampak kerut mukanya kalau kepadanya dimintakan bantuan dan
pertolongan. Semua pasien selalu menanyakannya, dia sederhana, namanya mudah
diingat, sesederhana orangnya.
Dia selau dipanggil Erni. Hari ini Erni tidak bisa tertawa lagi, tidak ada
lagi senyum yang menghias bibirnya, tidak ada lagi kelincahan geraknya.
Dipanggil namanya pun, seperti tidak didengarnya lagi, dia tidak acuh dan
tidak peduli lagi dengan keadaan sekelilingnya. Nafasnya sesak, suaranya
hilang, keringat membasahi muka dan bajunya. Dia tampak sedang menahan sakit
yang hebat, keningnya menyeringit dan dari sana terpancar peluh. Hari demi
hari berlalu dengan cepat, setiap datang hari baru, bagi Erni bukan berarti
datang dan timbulnya harapan, tetapi hari baru baginya berarti keparahan dan
sakitnya pun bertambah larat.
Kadang-kadang dia tidak sadarkan diri, kadang-kadang dia tahu dan menyapa
kita yang datang, tetapi suaranya tidak terdengar. Dia seakan-akan minta
tolong, dia seakan-akan minta diringankan beban dan deritanya. Tetapi semua
dihadapkan ke ketidakberdayaan. Terakhir dokter angkat bahu, tidak ada lagi
jalan, tidak mungkin untuk diobati lagi. Erni dan keluarga minta diizinkan
pulang ke kampung ke Kuraitaji. Di Kuraitaji, di sebuah desa yang tenang,
tempat dia dilahirkan , tempat dia dibesarkan dan tempat dia bermain, tempat
dia pernah bergembira ria, berlari ke sana ke mari, tertawa cerah bersama
teman-teman. Di sana pulalah, dia menghabiskan sisa-sisa harinya yang
terakhir, dan di sana dia akan menutup mata, pergi untuk selama-lamanya,
meninggalkan dunia yang fana ini. Dan di sana pulalah dia minta dikuburkan.
Permintaan terakhir untuk pulang ke Kuraitaji itupun dikabulkan oleh dokter.
Sementara dia di pembaringan, kakaknya berusaha mencarikan obat ke lereng
gunung Merapi, ke rumah seorang dukun. Pertama minum obat dukun seperti ada
perbaikan dan angsuran, tetapi seminggu kemudian sakitnya semakin dan
bertambah parah, dia tidak bisa lagi duduk, dia tidak kuat lagi menggerakkan
tangan dan kakinya, dia tidak bisa lagi menelan makanan dan dia tidak sanggup
lagi meminum minuman. Dia tidak kuat lagi berjuang melawan kanker yang
bersarang di tubuhnya.
Dan tibalah hari itu, tanggal 16 April 1992, terjadilah apa yang selama ini
tidak diingini, terjadilah apa yang selama ini dikhawatirkan, hari yang membawa
duka yang sangat dalam. Erni yang telah beberapa bulan menanggung
penderitaan, akhirnya menghadap ke Yang Satu, pergi untuk selama-lamanya,
pergi untuk tidak akan kembali lagi. Dia meninggal karena sudah banyak
penyakit yang bersarang di tubuhnya. Semua tidak menyangka, semua tidak
menduga bahwa dia pergi begitu cepat, usianya terlalu muda, dia terlalu
baik. Kerjanya selama ini selalu menolong dan meringankan beban orang, melalui
tangan-tangannya banyak yang telah terselamatkan dan banyak yang sudah
tertolong, tetapi di saat dia butuh pertolongan, seakan-akan semua tidak
berdaya, semua tidak bisa menolongnya.
Sebetulnya semua orang mau, ingin dan bersedia menolongnya, namun tidak
satu daya dan upaya pun yang dapat membebaskannya dari derita penyakitnya
itu. Penyakit kanker, penyakit yang sangat menakutkan dan penyakit yang mudah
sekali merenggut nyawa, penyakit yang menyebar dengan sangat cepat dan ganas.
Penyakit yang sampai hari ini, membuat dokter angkat tangan, penyakit
yang belum ditemukan obatnya, penyakit yang membuat orang bertekuk lutut,
penyakit yang menyebabkan manusia menyerah dan pasrah. Tiada daya dan
tiada upaya. La haula wala Kuata illa billahil 'azidhul aziim.
Di hari ini hanya satu kata yang dapat diucapkan "Innalillahi wa inna
illahi Raajiun". Milik Allah kembali lagi kepada-Nya. Semua tertekur, semua
tersedu, semua kehilangan, kehilangan orang yang sangat disayangi, kehilangan
orang yang senantiasa ingin menolong, kehilangan putri terbaik di usia
yang sangat muda.
Erni, hari ini engkau pergi, engkau yang masih bersih dan suci, engkau
belum lagi digeluti oleh dosa-dosa di dunia ini. Umurmu sangat pendek,
tetapi telah memberikan arti yang sangat dalam bagi sesama yang pernah
mengenalmu. Engkau hanya sebentar mampir di dunia, tetapi jasamu sangat
besar. Engkau adalah orang yang terbaik yang pernah kami kenal. Ya Tuhan,
kenapa Engkau kirimkan dia kepada kami, kalau untuk Engkau ambil kembali
dengan cepat? Kami tidak mengerti apa mau-Mu dan rahasia apa yang
terkandung di balik semua ini. Mengapa tidak Kau biarkan dia lebih lama lagi
bersama kami? Kami ingin rasakan keramahannya, senyumnya, kepeduliannya dan
kebaikannya. Ya Allah, dia orang baik, terimalah dia sebagai hamba-Mu yang
terbaik, tempatkan dia dalam golongan hamba-hamba-Mu yang Kau cintai.
Tempatkan dia pada tempat yang sebahagia-bahagianya, pada tempat yang
semulia-mulianya. Ampunilah segala dosa-dosanya dan maafkan segala
kekeliruan dan kesalahannya. Berilah dia kesenangan di akhirat kelak, sebagai
ganti kesenangan, yang tidak pernah dirasakannya selama hidup di dunia ini.
Amin, amin.
Semula Erni cuma mengatakan dia ada amandel. Itu kan biasa, semua orang
kebanyakan menderita amandel. Dimakannya obat, namun amandel itu tidak
kunjung mengecil. Sampai selang beberapa tahun, dia mulai sukar menelan. Dia
pergi ke ahli THT, dianjurkan untuk operasi. Sebetulnya, sesudah operasi
amandel, biasanya orang segera sembuh, tetapi tidak demikian halnya dengan
Erni. Betapa terkejutnya dia, betapa terkejutnya dokter yang merawatnya,
betapa terkejutnya keluarga dan betapa terkejutnya teman-teman sama-sama
perawat. Semua terkejut, semua tercengang dan semua diam, semua bisu, sewaktu
hasil laboratorium menunjukkan bahwa Erni menderita kanker. Kanker yang
diidapnya itu sejenis tumor yang sangat ganas, dan cepat menyebarnya.
Memang, dalam waktu yang tidak begitu lama, benjolan yang tadinya hanya
di tenggorakan, menyebar ke leher dan rahang. Tampak lehernya membengkak
dan rahangnya tidak simetris. Dia dianjurkan berobat dan rontgen ke
Jakarta. Sebagai perawat dia tahu, apa itu kanker, bagaimana ganasnya dan
akibat apa yang akan di- tanggungnya. Begitu dia membaca fonis bahwa yang
diidapkannya suatu kanker tenggorokan, dia terisak, tangisnya tertahan.
Dicarinya setiap orang yang pernah dikenalnya, dan disalaminya, dia pamit,
dia minta maaf, dia ingin pergi berobat ke Jakarta. Saya betul-betul lupa
pada wajahnya di saat dia berkunjung ke rumah.
Betapa terkejutnya dan jadi penyesalan sampai hari ini, sewaktu Erni
dengan lemah berkata, Semua orang telah melupakan Erni. Bagaimana tidak akan
lupa, dia tampak kurus sekali, loyo dan wajah pun berubah. Saya menyesal,
kenapa dia tidak saya tegur, padahal dia datang hanya untuk pamit kepada
kami sekeluarga, sedangkan saya pada waktu itu tidak ada di rumah. Hari itu
dia pamit untuk pergi ke Jakarta. Kami lepas dia dengan rasa terharu diiringi
doa, semoga kepergiannya itu akan membawa kesembuhan.
Sekembalinya dari Jakarta, tampak dia sedikit sembuh, bengkak yang
dilehernya mulai mengecil, tampaknya dia sudah mulai biasa kembali, dikira
sudah sembuh betul, sampai kami mulai melupakan penyakitnya. Ternyata
itupun tidak terlalu lama. Beberapa bulan kemudian terbetik berita, Erni
dioperasi lagi, tetapi di perut. Waktu akan dioperasi, semula diduga usus
buntu, karena dia mengeluh sakit di perut sebelah kanan bawah, tetapi
ternyata kanker itu telah menyebar luas di seluruh perut. Dokter ahli
bedah tidak dapat membongkar semua tumor itu, hanya mengambil sedikit
jaringan. Sewaktu jaringan itu diperiksa, ternyata memang benar kanker yang
sudah menyebar luas.
Erni kesakitan, namun dia tampak pasrah, penyakit itu telah menggerogotinya
sampai ke semua rongga perutnya, dia tidak punya harapan lagi. Dengan
pertimbangan yang berat dia minta pulang dan diizinkan, karena tidak ada lagi
pengobatan yang dapat diberikan. Di rumahnya di Kuraitaji, Erni terbaring
lunglai. Tubuhnya tinggal lagi kulit pembalut tulang, batuknya tidak kunjung
henti, nafasnya sesak, panasnya tinggi. Dia mulai beralih pada dukun, yang
selalu saja memberikan harapan dan harapan. Namun harapan tinggallah
harapan, sakitnya semakin larut. Setiap yang datang menjenguk, tidak tahan
melihat deritanya. Kami datang, kami terharu dan kami tersedu. Erni yang
terbaring sekarang, bukan Erni yang dulu lagi. Setahun yang lalu dia tampak
segar, lincah, penuh tawa dan keramahan, tetapi kini yang terbaring adalah
sosok tubuh yang lunglai rapuh dan tidak lama lagi mungkin akan pergi
meningalkan kita semua. Memang beberapa hari kemudian Erni
pergi untuk selama-lamanya dengan goresan kenangan yang dalam untuknya.
Dalam buku harian yang ditulisnya 4 tahun yang lalu, dia mengukir namanya
ERNI MAYANA. Erni artinya hidup, Mayana artinya mati. Erni tidak lama hidup,
sebentar lagi akan mati, tulisnya. Kami semua memarahinya waktu membaca
tulisannya itu, kenapa Erni membikin tulisan yang bukan-bukan. Tetapi entah
kenapa dia mengartikan namanya begitu, entahlah, mungkin dia lebih tahu.
Atau Tuhan menggerakkan tangannya membikin itu. Kita yang tidak kunjung
mengerti akan apa yang akan terjadi.
Sekarang barulah kami mengerti akan makna apa yang ditulisnya itu. Di hari
kepergiannya itu, si Ibu hanya berucap, Tuhan, dia anakku yang terbaik,
kenapa Engkau berikan ia padaku, kalau untuk Engkau ambil kembali?
Pertanyaan itu tinggal pertanyaan, dan kita tahu, semua tahu, burung-burung
pun tahu, bahwa tidak mudah mendapat jawaban dari atas sana.
Erni orang yang terbaik yang pernah saya kenal, pergi terlalu
cepat, usianya sangat muda, namun kanker itu, kanker itu telah merayap ke
mana-mana, sehingga Erni tidak berdaya, dia jatuh dan dia pergi. Hujan turun
terlalu pagi, seperti turunnya hujan di pagi itu, 16 April 1992.
Dan bahwa kepada Tuhanmu akhirnya kau kembali ?
Firman Tuhan di atas itulah yang dibutuhkan dan merupakan jawaban yang
dibutuhkan oleh setiap insan. Suatu kawasan batiniah yang selama ini mereka
cari-cari. Kesadaran akan Hari Kemudia yang akan mendorong manusia untuk
terus berbuat dan berjuang dengan sebaik-baiknya di muka bumi hingga akhir
hayat, tanpa perlu merasa diri sudah mandeg (tidak berkembang) seperti itu,
atau bertanya, Apalagi sekarang?
Kesadaran akan Hari Kemudian adalah pusat dari segala integritas sekaligus
pemenuhan akan dahaga batiniah. Suatu kesadaran bahwa segala tindakan dan
hasilnya kelak dirancang untuk tidak berhenti hingga di dunia saja, tetapi juga
hingga Hari Keadilan tiba. Teruslah berjuang dengan sebaik-baiknya karena
siklus tidak hanya berhenti di sini. Masih ada siklus lanjutan.
Kesadaran akan adanya Hari Kemudian adalah suatu alat kendali dan
pengawasan melekat yang mandiri, agar mausia selalu berada di jalan terbaiknya,
serta terhindar dari kesalahan yang dibuatnya. Tatkala ia merasa sudah tidka da
lagi orang lain yang mengawasi secara langsung untuk berbuat kejahatan atau
kecurangan, maka kesadaran akan Hari Kemudian dengan sendirinya akan
megendalikan dirinya. Inilah sistem pemeliharaan Tuhan terhadap manajemen alam
semesta raya. Inilah dasar dari segala dasar pengendalian kecerdasan emosi itu,
yang pada akhirnya akan menghasilkan sebuah karya terbaik manusia untuk berbuat
secara maksimal dengan cara yang sebaik-baiknya.
Kesadaran akan Hari Kemudian adalah suatu pusat rasa aman yang
sesungguhnya, di mana setiap orang selalu menghadap terhadpa i tekanan dari
kondisi lingkungan yang terus berubah dengan cepat tanpa bisa dikendalikan. Ia
akan merasa aman dengan adanya janji Tuhan itu.
Sikap proaktif yang selalu dikumandangkan oleh para penulis Barat itu, bagi
saya barulah sebatas metode atau baru berupa kulit (surface), bukanlah jawaban
yang tuntas untuk masalah ini. Sikap proaktif tanpa prinsip yang benar, bagi
saya adalah seperti orang buta yang sudah bisa melihat kembali namun tidak bisa
menentukan mana warna merah dan mana warna biru. Ia buta warna meskipun sudah
mampu melihat. Begitu juga konsep visinya. Tidak akan efektif seratus persen.
Terbukti orang-orang yang telah sukses mewujudkan visinya di dunia, tetapi
setelah mereka mencapai usia lima puluhan, mereka kembali menyadari bahwa
mereka telah menaiki tangga yang salah. Konsep visi mereka barulah orientasi
jangka menengah, belum menjangkau siklus yang sesungguhnya, yaitu Hari
Kemudian.
Namun, janganlah anda salah mengartikan penjelasan saya ini menjadi suatu
pengertian bahwa hidup di dunia ini tidak penting, dan kehidupan akhiratlah
yang tutama, tanpa mau berusaha bekerja dengan sungguh-sunguh di duia. Tuhan
menurunkan dan menciptakan anda sebagai wakil Tuhan di muka bumi, justru
bertugas sebagai rahmatan lil alamin. Kalau anda tidak mau berjuang dan
tidak pernah memberikan upaya, bagaimana Tuhan menimbang pekerjaan dan usaha
yang telah anda berikan selama anda bertugas di dunia ini? Berikan yang terbaik
di dunia, maka niscaya kemenanganan akan anda raih, baik di dunia dan di Hari
Kemudian.
Cobalah simak puisi Hasan Al Fatihah Bashri, pada zaman Rasulullah masih
hidup :
Aku tahu rizkiku tak mungki diambil orang lain
Karenanya hatiku tenang
Aku tahu, amal-amalku tak mungkin dilakukan orang lain
Maka, aku sibukkan diriku bekerja dan beramal
Aku tahu, Allah selalu melihatku
Karenanya, aku malu bila Allah mendapatiku melakukan maksiat
Aku tahu, kematian menantiku
Maka, kupersiapkan bekal untuk berjumpa dengan Rabbku
Tuhan tidak menciptakan segala sesuatu dengan sia-sia. Di bawah ini akan saya
sampaikan perkataan manusia ketika di Hari Pembalasan, menurut FirmanTuhan,
Ia (manusia) berkata : aduhai! (dahulu) kubuat persiapan untuk hidupku ini!
Q.S. 89 Surat Al Fatihah Fajr (Fajar) Ayat 24
II.5.f. SIKLUS KEHIDUPAN DAN JAMINAN MASA DEPAN
Ia-lah yang menciptakan semula, Dan kembali (menghidupkan)
Q.S. 85 Surat Al Fatihah Buruuj (Gugusan Bintang) Ayat 13
Siklus kehidupan diciptakan tiga kali. Siklus pertama adalah alam Dzuriyah
atau alam sebelum dunia. Siklus kedua adalah alam nyata, dan siklus ketiga
adalah alam akhir atau kembali ke alam pertama. Inilah lingkaran siklus yang
sesungguhnya atau life cycle. Siklus pertama adalah alam Dzuriyah, sebelum anda
diciptakan, namun anda masih bisa megenal alam ini melalui pemahaman tentang
suara hati yang telah saya jelaskan pada pemahasan prinsip pertama, pada bagian
sebelumnya. Anda masih bisa merasakan keindahannya melalui perenungan suara
hati anda sendiri yang terdiri dari sembilan puluh sembilan dorongan suara
Tuhan yang masih membekas. Contohnya, dorongan suara hati igin selalu
bersikap rahman dan rahim, ingin selalu indah, ingin selalu mulia, ingin selalu
teratur, atau ingin selalu kekal atau kaya dan makmur. Itu semua masih tetap
dirasakan hingga saat ini. Inilah rekaman suara hati dair alam ruh sebelumnya.
Siklus kedua, ketika manusia sudah dilahirkan ke muka bumi, dan ia ditugaskan
untuk mensejahterakan bumi dengan modal suara hati yang serba agung, kecerdasan
otak serta pancaindera. Kemudian tuhan menyerahkan tugas yaitu sebuah bumi
untuk dikelola. Kemudian manusia diberikan oleh-Nya sebuah buku pedoman atau
buku manual tentang pengelolaan alam semesta, yaitu Al Quran Al Karim. Namun
manusia sering lupa bahwa hidup di dunia adalah sebuah tugas mulia dan
kepercayaan yang diberikan oleh Sang Pemiliki alam semesta ini. Oleh karena,
itu anda diminta untuk memberikan upaya terbaik yang anda miliki untuk
mensejahterakan bumi. Tidak selayaknya anda mengharapkan sebuah surga dengan
cara menghindarkan diri atau melarikan diri dari sebuah tugas dan perjuangan
untuk tidak hanya menegakkankebenaran, namun juga menciptakan kemajuan.
Siklus ketiga, yaitu ketika fisik manusia sudah tidak berfungsi laig. Maka
otomatis ia makan kembali lagi ke alam pertama. Ia, tentu saja seperti
lazimnya, harus mempertanggungjawabkan kepercayaan dan tugas yang pernah
diemban untuk mengelola bumi. Harapan Sang Pemilik tentu saja agar anda
berhasil melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya. Selanjutnya tugas tersebut
akan diteruskan lagi oleh generasi berikutnya didunia. Masa tugas anda
rata-rata antara enam puluh sampai dengan tujuh puluh tahun. Begitulah
seterusnya, sehingga suatu saat kelak bumi ini semakin sejahtera. Di mana
idealisme suara hati sebagai ciptaan pertama menemukan bentuknya pada ciptaan
kedua di alam nyata ii. Tidak mudah memang, karena tantangan dan rintangan
berat pasti akan menghadang dan merintangi perjuangan kita. Kita pasti akan
menghadapi lawan yang keras. Masih ingat perjuangan Rasulullah ketika
menghadapi kaum Quraisy? Itulah misi Tuhan, dan itulah seni serta keindahan
hidup yang sesungguhnya.
Apakah mereka menunggu sampai (azab) Allah datang kepada mereka dalam naungan
awan gemawan dengan para malaikat? Tetapi perkara telah diputuskan, dan kepada
Allah dikembalikan segala urusan.
Q.S. 2 Surat Al Baqarah (Sapi Betina) Ayat 210
II.5.g. TIADA KERAGUAN
Pergunakan suatu metode historis untuk membaut suatu prediksi akan masa
depan. Seperti layaknya sebuah proyeksi, data masa lalu dikumpulkan dan
dianalisa kebenarannya, berdasarkan data masa lalu dan kondis saat ini.
Kemudian, bandingkan kebenarannya dengan Al Quran, niscaya anda akan terkesima
dengan kebenaran sejarah dan kondisi saat ini. Semua terbukti benar adanya.
Contoh, kisah Firaun, yang begitu terlambat mengakui dosa-dosanya, hingga
mummi-nya yang dalam posisi membungkuk diabadikan pada sebuah museum mesir
kuno, dalam kisah Nabi dan Rasul yang masih bisa dilihat peninggalannya.
Sekarang pelajari semua ajaran-ajarannya, lalu bandingkan dengan kondisi saat
ini, seperti konsep EQ atau barangkali buku ini, yang membahas tentang Rukun
Iman dan Rukun Islam, atau penemuan-penemuan ilmiah tentang alam semesta,
misalnya kebenaran ilmiah Surat Yunus ayat 5 tentang matahari, bulan, dan
bintang, atau tentang keseimbangan jumlah kata-kata yang berlawanan atau
sepadan di
dalam Al Quran.
Tiadakah mereka perhatiakn unta-unta bagaimana diciptakan ?
Dan langit, bagaimana ditinggikan? Gunung-gunung, bagaimana ditegakkan?
Dan bumi, bagaimana dihamparka?
Q.S. 88 Surat Ala Ghaasyiyah (Hari Pembalasan) Ayat 17 20
Hai kumpulan jin dan manusia !
Jika sanggup kamu menembus keluar ari daerah-daerah
Langit dan bumi, tembuslah ?
Tanpa kekuasaan(kami), tiada sanggup kamu menembusnya.
Maka karunia manakah dari Tuhanmu yang kamu dustakan?
Yang merah laksana minyak berkilauan.
Maka karunia manakah dair Tuhamu yang kamu dustakan ?
Q.S. 55 Sruat Ar Rahman (Maha Pengasih) Ayat 33, 34, 35
Catatan :
Pelajari Big Bang (Ldakan bear) Stephen Hawkings (Black Hole). Tampak bahwa
Big Bang adalah seperti bunga mawar raksasa yang merah berkilauan di angkasa.
HASIL ISION PRINCIPLE PRINSIP MASA DEPAN
Selau berorientasi pada tujuan akhir dalam setiap langkah yang
dibuat. Melakukan setiap langkah secara optimal dan sungguh-sungguh. Memiliki
kendali diri dan sosial, karna telah memiliki kesadaran akan adanya Hari
Kemudian. Memiliki kepastian akan masa depan dan memiliki ketenangan batiniah
yang tinggi, yang tecipta oleh keyakinannya akan adanya Hari Pembalasan.
Katakalah : Hai kaumku! Berbuatlah menurut kehendakmu! Sungguh, aku pun akan
melakukan (kehendakku). Nanti kamuakan mengetahui, siapa (di antara kita) yang
(paling baik)tempat kediamannya pada akhirnya.
Sungguh, orang durjana tiadakan mendapat kejayaan
Q.S. 6 Surat Al Anaam (Binatang Ternak) Ayat 135
---------------------------------
We won't tell. Get more on shows you hate to love
(and love to hate): Yahoo! TV's Guilty Pleasures list.
Sukseskan Pulang Basamo se Dunia, Juni 2008.
-----------------------------------------------------------------
Website: http://www.rantaunet.org
============================================================
UNTUK SELALU DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply.
- Posting email, DITOLAK atau DIMODERASI oleh system, jika:
1. Email ukuran besar dari >100KB.
2. Email dengan attachment.
3. Email dikirim untuk banyak penerima.
--------------------------------------------------------------
* Berhenti (unsubscribe), berhenti sementara (nomail) dan konfigurasi
keanggotaan, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting
* Membaca dan Posting email lewat web, bisa melalui mirror mailing list di:
http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/messages
http://groups.google.com/group/RantauNet?gvc=2
dengan mendaftarkan juga email anda disini dan kedua mirror diatas.
============================================================