Nan ka duo.....
Sado nan masak ambo ambuangan juo ka tangah. Nan katigo sadang dikuali.....
Wassalamu'alaikum,
Lembang Alam
2. Menuju Kampung Bako.
Hari baru jam tiga lebih sedikit. Cuaca cerah. Pohan mengendarai mobil
pelan-pelan mengikuti antrian taksi di depannya yang tertahan di tempat
pembayaran parkir. Aswin memperhatikan mobil-mobil taksi berwarna warni
berjejer. Ada plang pengumuman berulang-ulang di sebelah kiri dan kanan menuju
ke loket parkir dengan tulisan ’Cermat, amanah dan berhati-hati di jalan!’
Sesudah loket pembayaran itu sebelum masuk ke jalan besar ada baliho besar
potret seorang laki-laki baya berpakaian penghulu, tersenyum. Ada rangkaian
kalimat pula seolah-olah ucapannya, dalam bahasa Minang; ’Pacik arek amanah!
Tunjuak-an adaik istiadaik awak nan elok. Horomaik-i tamu! Sanang ati urang nan
datang, bamanfaaik ka nagari awak. Jaan di khianati urang nan datang! Badoso
awak ka Tuhan Allah!’
’Apa maksudnya tulisan di baliho itu? Kenapa dalam Bahasa Minang?’ tanya Aswin.
’Itu nasihat kepada anak nagari. Agar bersikap amanah. Agar menunjukkan adat
yang baik dan menghormati tamu-tamu yang datang. Diingatkan bahwa orang yang
datang berkunjung kesini pasti membawa manfaat bagi perekonomian anak negeri.
Oleh karenanya jangan dikhiananti karena khianat itu perbuatan dosa. Peringatan
ini ditujukan terutamanya kepada mereka yang bersentuhan langsung dengan para
turis seperti sopir taksi, petugas bandara, karyawan hotel, para pedagang dan
sebagainya. Agar mereka menjaga betul citra Minangkabau yang elok. Agar mereka
mampu bersikap ramah dan sopan santun,’ jawab Pohan.
’Cukup bijak. Tapi seberapa ampuh?’ tanya Aswin pula.
’Kampanye seperti ini dipimpin langsung oleh gubernur negeri ini. Beliau
meminta para ulama dan guru-guru sekolah untuk mendidik masyarakat memperbaiki
akhlak. Menghormati tamu dan menunjukkan budi pekerti yang baik kepada setiap
pendatang. Dan beliau membuat banyak sekali peringatan-peringatan senada.
Nanti kamu akan melihat dan menyaksikan plang-plang yang lain di mana-mana. Di
tengah pasar, di bawah jam gadang, di lembah Anai, di objek-objek wisata
lainnya. Seberapa ampuh? Mudah-mudahan sudah banyak perubahan. Masyarakat jadi
lebih santun. Walaupun masih pelan-pelan dan dalam tahap perubahan,’ jawab
Pohan.
’Itu satu lagi,’ kata Aswin menunjuk baliho dengan potret seorang penghulu yang
lain di pinggir jalan raya. Terbaca, ’Jaan mangicuah! Satiok sen asia kicuah
maundang hukuman Allah. Di dunia jo di akhiraik. Nan barasiah nan ka diagiah-an
ka anak binyi!’
’Apa pula artinya itu?’ tanya Aswin lagi.
’Jangan menipu! Setiap sen hasil menipu akan mengundang hukuman Allah baik di
dunia maupun di akhirat. Berikan hanya yang halal saja kepada anak istri.
Stiker kecil dengan kata-kata yang sama akan kamu lihat di depan pengemudi
dalam setiap taksi,’ jelas Pohan.
’Ya. Memang benar. Perlu senantiasa diingatkan. Dengan demikian mudah-mudahan
orang jadi ingat,’ komentar Aswin.
Mobil mereka melaju dengan santai menuju arah ke Bukit Tinggi. Melalui, Lubuak
Alung, Sicincin, Kayu Tanam. Di Sicincin mereka berpapasan dengan keretapi
wisata. Terlihat penuh dengan wisatawan di dalamnya.
’Kereta ini bisa sampai ke pinggir danau Maninjau?’ tanya Aswin.
’Bukan danau Maninjau. Ke pinggir danau Singkarak. Yang lebih banyak sampai ke
Padang Panjang saja. Para turis umumnya menyenangi perjalanan di atas lembah
Anai. Pemandangannya bagus,’ jawab Pohan.
’Tapi bisa sampai ke Bukit Tinggi?’ tanya Aswin lagi.
’Bisa. Bukit Tinggi pusat kereta wisata kedua. Bahkan bisa sampai ke Paya
Kumbuh dan ke Lembah Harau.’
’Setiap hari dijalankan?’
’Hampir setiap hari. Pada saat-saat liburan panjang di bulan Juli dan Agustus
bahkan lebih banyak lagi perjalanan kereta wisata itu.’
Tak terasa mereka sudah mendekati Anai. Aswin menatap pemandangan sepanjang
jalan itu dengan decak kagum. Di dekat Air Mancur, Pohan menghentikan mobilnya.
Mereka turun dari mobil dan berjalan ke arah air terjun melalui deretan kedai
suvenir. Ramai juga pengunjung sore itu. Ada beberapa buah bis parawisata
terparkir di pinggir jalan. Di tempat air terjun sendiri banyak orang turun ke
pinggir kolam. Aswin tidak terlalu menikmati air terjun itu tapi lebih
mengagumi lembah dengan batang air di bawah sana. Di atas terlihat jembatan
jalan keretapi. Pemandangan ini jauh lebih mengagumkan baginya. Aswin mengambil
foto pemandangan itu.
Mereka berhenti sekitar setengah jam di lembah Anai sebelum meneruskan
perjalanan. Aswin melihat plang pengumuman yang lain disini. Diantaranya
ajakan menghormati tamu dalam bahasa Minang dan ajakan menjaga kebersihan
lingkungan. Memang cukup bersih disini. Setiap dua puluh meter terdapat tong
sampah plastik bertutup. Tidak ada sampah berceceran. Ada dua orang berpakaian
baju teluk belanga berjalan santai sambil mengawasi orang yang lalu lalang di
sekitar tempat itu. Orang itu tersenyum ramah ketika Aswin memotretnya. Menurut
Pohan mereka adalah polisi wisata, yang mengawasi ketertiban di tempat objek
wisata. Orang yang ramah, yang tidak segan-segan mengambilkan sampah yang
tercecer, menolong orang yang memerlukan bantuan, biasanya orang yang mintak
tolong dipotretkan.
Mereka meneruskan perjalanan.
’Kata ayah rel yang di lembah Anai ini masih peninggalan Belanda. Apakah masih
aman?’ tanya Aswin melanjutkan perbincangan.
’Secara berkala diperiksa tingkat keamanannya. Mudah-mudahan tetap aman.’
’By the way, sudah berapa lama keretapi wisata itu dijalankan? Karena menurut
ayah keretapi di negeri Minangkabau ini sudah mati sejak pertambangan batubara
di Sawahlunto tidak lagi ekonomis.’
’Baru sejak awal tahun 2007 yang lalu. Digagas oleh orang rantau pencinta
kereta api waktu itu.’
’Oh begitu? Jadi perantau Minang yang membiayai untuk menghidupkan kembali
perkeretapian ini?’
’Bukan membiayai. Tapi memprakarsai. Kata-kata ini mungkin sulit bagimu. Yang
menggagas atau mengingatkan serta mengkampanyekan ide untuk menghidupkan
kembali perkeretapian.’
’Mereka gagas dari rantau saja?’
’Tidak. Bahkan mereka turun dan datang kesini, bertemu dengan penjabat di kota
Padang. Memberikan saran, dukungan dan sebagainya sampai akhirnya pemerintah
daerah yakin dengan apa yang mereka anjurkan dan sependapat untuk menjalankan
kereta wisata itu. Yang alhamdulillah berhasil.’
’Aku sangat salut dengan keperdulian perantau Minangkabau dengan tanah leluhur
mereka,’ celetuk Aswin.
’Ya. Termasuk ayahmu. Mak Dang Pamuncak,’ jawab Pohan.
’Oh ya. Aku baru ingat gelar ayah Sutan Pamuncak. Gelarmu siapa?’ tanya Aswin
pula.
’He..he.. aku belum bergelar. Gelar diberikan ketika laki-laki Minang sudah
menikah, dan aku belum menikah.’
’Oh ya. Aku ingat cerita ayah tentang itu.’
’Kita segera memasuki Padang Panjang. Ada dua objek disini dalam program
untukmu. Mengunjungi Minangkabau Mini. Hanya saja, kunjungan kesana lebih
bermakna kalau dilakukan sampai malam hari. Malam hari ada pertunjukan randai
serta kesenian saluang jo rabab. Apakah kamu akan langsung mengunjunginya malam
ini?’
’Kenapa tidak? Tapi apa program kedua?’
’Mampir di sate mak Syukur.’
’Waaw. Kalau begitu kedua-duanya. Tepat sekali, kita makan sate mak Syukur dulu
dan setelah itu kita jalan-jalan menikmati Minangkabau Mini sampai pertunjukan
salung jo rebab itu. Randai aku hanya sekedar ingin menonton sebentar saja
karena tidak yakin aku akan mengerti.’
’Kalau saluang apakah kamu akan mengerti?’
’Aku ingin melihat seperti apa saluang yang katanya hanya bambu bolong begitu
saja dan peniupnya bisa memainkannya tanpa berhenti dalam waktu lama. Itu pasti
akan sangat mengagumkan.’
’Baik kalau begitu, di depan kita kedai sate mak Syukur. Mudah-mudahan kamu
akan menyukainya,’ ujar Pohan sebelum membelokkan mobilnya ke pelataran parkir.
’Aku akan menyukainya. Aku sudah membayangkannya sejak masih di LA sana.
Waaw.... at last. Mak Syukur…… here I come....’ Aswin gembira sekali.
‘Tapi aku akan shalat dulu sebentar. Silahkan kamu memulainya,’ ujar Pohan pada
saat mereka melangkah masuk ke kedai sate.
‘Aku juga mau shalat kalau begitu,’ Aswin menimpali.
‘Wah syukurlah kamu juga shalat. Tapi di pesawat selama dalam perjalanan…..
apakah kamu juga tetap dapat mengerjakan shalat?’ tanyanya pula.
‘Tentu saja. It is a must. Apakah kamu membayangkan aku seorang Amerika kafir?’
tanya Aswin sedikit cemberut.
Pohan tersenyum mendengar pernyataan terakhir ini. Mak Dang Pamuncak rupanya
tetap mendidik anaknya ini sebagai seorang Muslim. Yang baik.
Selesai shalat baru mereka menikmati hidangan sate. Ternyata Aswin benar-benar
excited. Dia berpacu-pacu menghabiskan tusukan demi tusukan sate itu.
’Tapi.... apakah setiap orang Minang makan sate sebanyak ini?’ tanya Aswin
sambil melahap sate yang ke sekian tusuk.
’Tidak. Sate ini dihidangkan sebanyak itu, kalau sanggup silahkan makan sampai
habis, tapi kalau tidak sanggup memakan semuanya, yang akan dibayar hanya
sebanyak yang dimakan saja,’ Pohan menjelaskan.
’Ooh begitu. Tapi sepertinya aku sanggup. Ini benar-benar enak. Kamu mungkin
sudah bosan ya makan sate. Kelihatannya kurang semangat.’
’Ya silahkan..... Aku bukan juga bosan. Tenang saja. Kan kita bisa makan sambil
santai-santai,’ jawab Pohan sambil tersenyum.
Sudah hampir jam enam waktu mereka selesai makan sate. Selama itu pula mereka
bercerita tentang macam-macam. Tentang rantau Aswin dan ayahnya di Amrik sana.
Tentang kampung mereka Koto Gadang. Tentang Negeri Minangkabau tanah nan
dicinto.
Kebersihan di kedai sate ini tidak luput dari perhatian Aswin. Dan plang-plang
peringatan lagi. Seperti yang dari tadi sudah dibacanya di sepanjang jalan
sejak dari Bandara. Meski semua peringatan itu terlihat nyinyir agaknya, tapi
mungkin memang harus demikian untuk membuat masyarakat sadar. Sebuah usaha yang
positif.
*****
_________________________________________________________________
Try Live.com - your fast, personalized homepage with all the things you care
about in one place.
http://www.live.com/getstarted
Sukseskan Pulang Basamo se Dunia, Juni 2008.
-----------------------------------------------------------------
Website: http://www.rantaunet.org
============================================================
UNTUK SELALU DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply.
- Posting email, DITOLAK atau DIMODERASI oleh system, jika:
1. Email ukuran besar dari >500KB.
2. Email dengan attachment, tidak dianjurkan.
3. Email dikirim untuk banyak penerima.
--------------------------------------------------------------
* Berhenti (unsubscribe), berhenti sementara (nomail) dan konfigurasi
keanggotaan, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting
* Membaca dan Posting email lewat web, bisa melalui mirror mailing list di:
http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/messages
http://groups.google.com/group/RantauNet?gvc=2
dengan mendaftarkan juga email anda disini dan kedua mirror diatas.
============================================================