Assalaamu'alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuhu
Nan katigo baru bana ka masak. Ko no ha.....
Wassalaamu'alaikum,
Lembang Alam
3. Menuju Kampung Bako (2)
Mereka menuju kendaraan di tempat parkir. Parkir disini bebas, tidak ada
petugas pemungut biaya parkir. Parkir berbiaya hanya di pasar di tengah kota,
di Bandara, di pelabuhan Teluk Bayur dengan petugas resmi pegawai pemerintah
daerah. Rumah makan dilarang memungut biaya parkir, begitu peraturan daerah. Di
objek-objek wisata juga dilarang memungut biaya parkir. Pelataran parkir kedai
sate mak Syukur luas dan bersih. Banyak kendaraan terparkir di pelataran ini,
sebanyak orang yang sedang menikmati makan sate di dalam kedai.
Udara Padang Panjang yang dingin, tidak terasa sejuk di sore hari ini. Mungkin
karena Aswin berasal dari negeri yang bermusim lebih dingin atau juga karena
perutnya kekenyangan sesudah diisi puluhan tusuk sate.
’Jam berapa acara saluang di Minangkabau Mini?’ tanya Aswin waktu mereka mulai
meninggalkan kedai sate mak Syukur.
’Jam delapan. Sesudah waktu shalat isya. Masih cukup lama. Sekarang akan saya
tunjukkan langit merah sesudah maghrib di pinggir danau Singkarak yang tidak
jauh dari sini. Ini sebenarnya tidak ada dalam program yang saya rencanakan.
Tapi sekedar pengisi waktu menunggu jam delapan. Kita akan shalat maghrib nanti
sekembali dari sana. Bagaimana, setuju?’ tanya Pohan.
’Tentu. Hari kelihatan masih siang. Berapa jauh danau Singkarak dari sini?’
’Tidak jauh. Ujung utara danau itu tidak jauh dari sini. Tapi jalan di
sepanjang pinggir danau cukup jauh sampai mendekati kota Solok, sampai sekitar
40 km jaraknya. Kita cukup ke tempat yang dekat saja. Seringkali terlihat warna
awan berubah menjadi merah di atas danau sesudah matahari terbenam.’
Pemandangan sawah di kiri dan kanan jalan di luar kota Padang Panjang sangat
menyenangkan Aswin. Sawah yang berjenjang-jenjang bagaikan berlari ke kaki
gunung Merapi. Jauh lebih indah dari yang pernah dilihatnya melalui foto-foto.
Pada saat azan maghrib mereka sudah sampai di Ombilin, di tepi danau Singkarak.
Ada sebuah mesjid besar di sana dan suara azan berasal dari mesjid itu.
Pemandangan disinipun menyenangkan. Kelihatan daratan di seberang danau yang
mulai dirayapi temaram, dan danau yang beriak kecil terlihat indah. Benar saja,
awan-awan di atas ujung sebelah selatan danau terlihat berwarna merah bergumpal
dengan latar belakang langit yang juga kemerah-merahan, menakjubkan.
Mereka ikut shalat maghrib berjamaah di mesjid Ombilin. Ramai yang ikut shalat
berjamaah, termasuk jamaah wanita. Sesudah shalat mereka kembali memandang
danau yang sudah diselimuti gelap. Diseberang terlihat kelip kelip lampu dalam
gelap. Mereka menikmati panorama danau Singkarak dalam kegelapan malam itu
beberapa saat lagi.
’Apakah danau ini menghasilkan ikan?’ tanya Aswin.
’Ya, ikan bilih. Ikan kecil-kecil yang biasanya diasap atau digoreng. Gurih
rasanya.’
’Yang dibuat palai atau apa namanya itu?’
’Bukan. Itu di Maninjau. Rinuak namanya. Ikan sangat kecil. Dibuat palai dan
namanya palai rinuak.’
’Kapan kita ke Maninjau?’
’Besok. Besok acara kita ke Puncak Lawang lalu turun ke Maninjau.’
’Meliwati bengkolan empat puluh?’
’Empat puluh empat. Kelok empat puluh empat. Ya kita akan meliwatinya besok.’
’Fantastik. Dan apakah kita juga akan ke Pantai Sikek?’
’Pandai Sikek, bukan pantai. Itu nama sebuah kampung yang penduduknya ahli
bertenun kain songket. Ya, kita bisa mampir kesana sekembali dari Maninjau.’
’Masih dengan alat tenun tradisional katanya seperti yang saya baca di website.
Pasti sangat menarik. OK. Mungkin sudah waktunya kita pergi menonton saluang.
Aku sudah tidak sabar,’ ajak Aswin.
’Baik. Mari kita berangkat.’
Mereka kembali menuju ke arah Padang Panjang. Ke Minagkabau Mini. Melihat
rumah-rumah gadang berukir-ukir. Dengan rangkiang berderet di halamannya
Banyak juga pengunjungnya malam hari begini. Pohan memarkir mobil di pelataran
parkir yang cukup luas. Ada dua bus parawisata dan beberapa buah mobil kecil
terparkir disitu. Keluar dari mobil terasa nuansa Ranah Minang yang lebih
kental. Sayup-sayup terdengar bunyi bansi dan talempong, meskipun kelihatannya
berasal dari pita kaset yang diputar.
Mereka melangkah ke sebuah lapangan dengan pentas besar. Lapangan itu ditutupi
terpal di bagian atas, sekedar menjaga dari kemungkinan hujan yang sering turun
di kota ini. Tapi tidak ada dinding sehingga udara dingin langsung terasa. Di
bagian belakang pentas ada layar besar. Rupanya disini akan diadakan randai
malam hari ini. Dihadapan pentas ada deretan kursi-kursi plastik yang sudah
diatur berjejer. Sebahagian besar kursi itu sudah diisi oleh para tamu. Belum
terlihat siapapun di atas pentas. Musik bansi dan talempong tadi rupanya
berasal dari arena ini.
Jam delapan lebih seperempat acara di pentas itu dimulai. Seorang peniup
saluang dan penggesek rebab tampil di atas pentas, memberi hormat kepada
penonton dan langsung duduk bersila. Keduanya segera memainkan kedua alat di
tangan mereka itu yang mengeluarkan suara yang mendayu-dayu. Rupanya ini adalah
lagu pengantar. Tapi tidak ada yang berdendang.
Setelah itu barulah muncul para pemain randai, memainkan randai Nan Tongga
Magek Jabang. Aswin mengikuti semua itu dengan mata melotot. Setiap kali
pemain-pemain randai itu menepuk celana galembong mereka sesudah aba-aba ’heip
tah, heip tah, heip tah..tah..tah..’, Aswin bergidik melihatnya. Dia tidak
terlalu memperdulikan rangkaian pantun yang kelihatannya merupakan cerita inti
pertunjukan randai tersebut. Tapi gerakan-gerakan pemain randai yang
berputar-putar di atas pentas diiringi suara rebab sangat menggelitik hatinya.
Tidak terasa mereka telah menonton randai hampir satu jam. Pohan berbisik
bertanya.
’Masih mau menonton orang bersaluang dan berdendang?’
’Ya, tentu. Apa kita pindah sekarang?’ jawab Aswin juga berbisik.
’Kamu kelihatan masih asyik menikmatinya. Apa mau menonton ini sampai selesai?’
’Ini bagus. Tapi baiklah, kita pindah sekarang. Jauh tempatnya?’ tanya Aswin
lagi sambil bangkit berdiri.
’Tidak. Masih di arena ini juga. Di sebelah kanan dari tempat kita parkir
tadi,’ jawab Pohan yang mengikuti Aswin berdiri.
Kedua anak muda itu berjalan meninggalkan arena pentas randai menuju sebuah
bangunan agak jauh ke sebelah kanan dari pelataran parkir. Sebuah aula dengan
tempat duduk dari bambu di dalamnya mengelilingi sebuah pentas dari bambu juga
yang agak lebih luas di salah satu pojok. Cukup ramai penonton yang duduk
disini, bersila, bukan duduk di kursi, sambil menyimak lagu demi lagu saluang
yang dibawakan. Sambil terakuk-akuk pula, dalam kelumunan kain sarung,
kedinginan. Umumnya para penikmat lagu saluang malam ini adalah para laki-laki
meski ada juga satu dua orang wanita. Aswin dan Pohan mengambil tempat
mendekati pentas yang kata Pohan palanta namanya. Mereka ikut duduk bersila
disana.
Ada lima orang yang duduk sebagai penyaji acara di atas palanta bambu itu.
Seorang peniup saluang, seorang penggesek rebab dan tiga orang tukang dendang,
dua orang wanita dan satu orang laki-laki. Baik yang laki-laki maupun yang
wanita berpakaian adat. Yang laki-laki mengenakan pakaian warna hitam, memakai
deta dan kain sarung sementara yang wanita memakai baju kurung Minang, yang
satu berwarna hijau yang satunya berwarna merah. Keduanya memakai tengkuluk
tanduk.
Bunyi saluang dan rebab mendayu-dayu, mengikuti irama lagu tukang dendang ke
setiap cengkok suara sedemikian rupa. Suara dendang, yang sayangnya, semua
lirih dan bagaikan meratap sedih. Suara yang menghimbau dengan nada tinggi, dan
jauh, merintih panjang lalu dikuti dengan lekuk-an irama yang berliku. Dan
lagu-lagu ataupun suara bunyi alat musik itu tidak disambungkan ke pengeras
suara, tetap dengan suara dan nada aslinya saja.
Aswin mengamati dan menyimak dengan sangat penuh perhatian. Matanya memelototi
tukang saluang, yang memang ternyata tidak henti-hentinya meniup. Entah
bagaimana caranya dia bernafas. Tidak sekalipun saluang itu lepas dari mulutnya
yang senantiasa dalam posisi meniup dan suara saluangpun tidak pernah putus.
Setelah sebuah lagu didengarkan agak beberapa saat, salah satu orang turun
mendekati palanta tukang nyanyi sambil berteriak;
’Matian Sutan, tukai jo Lintau basiang. Iko pitih,’ katanya sambil menyerahkan
selembar uang kertas lima ribu rupiah.
Aswin tidak mengerti apa maksudnya. Dia lihat penyanyi atau tukang dendang itu
menghentikan pantunnya serta merta. Tapi tidak tukang saluang dan tukang rebab.
Suara kedua alat itu berganti irama sekarang, seolah-olah otomatis. Tetap tanpa
saluang turun dari mulut tukang tiupnya. Dan tukang dendang kembali menarik
suara, panjang, lirih, tapi dengan nada yang sudah bertukar.
’Apa maksudnya yang dikerjakan orang tadi?’ tanya Aswin berbisik.
’Dia minta agar lagunya ditukar sebelum lagu tersebut tuntas. Namanya dia
’matikan’ dan dia membayar untuk mematikan lagu tadi,’ Pohan menerangkan.
’Kalau orang lain ingin mematikan pula? Apakah boleh?’
’Boleh. Dan itu seninya disini. Saling mati mematikan. Sambil bergurau. Yang
senang tukang dendang dan tukang saluang. Uang itu untuk mereka,’ jawab Pohan.
’Tetapi apakah itu tidak melanggar kesopanan? Tidak menyebabkan orang yang
memesan lagu pertama marah dan tersinggung?’
’Tidak. Namanya juga bergurau. Kalau dia tidak terima dia balik mematikan dan
minta lagunya mula-mula diteruskan lagi. Dan dia harus bayar pula, sebanyak
yang sama.’
’Tidak mesti membayar atau memberikan uang lebih?’
’Dilarang. Atau disepakati untuk tidak boleh agar jangan jadi arena
menang-menangan. Menghidupkan dan mematikan lagu dengan bayaran yang sama. Pada
waktu masih senja lima ribu rupiah. Kalau sudah agak malam, biasanya
disampaikan oleh tukang dendang kapan waktunya, dinaikkan menjadi sepuluh ribu
rupiah ,’ Pohan kembali menjelaskan.
’Irama lagunya cenderung membuat perasaan sedih. Tidak adakah irama gembira?’
’Hampir tidak ada. Paling agak lebih cepat sehingga kesannya kurang sedih. Tapi
memang umumnya lagu-lagu saluang ini lagu sedih.’
Mereka menonton sampai agak larut. Atas petunjuk Pohan, Aswin ikutan mematikan
sebuah lagu, dan meminta diganti dengan ’Marandang kopi’. Mana pula dia tahu
apa artinya. Di telinga Aswin tetap saja nada itu nada sedih. Selama hampir dua
jam mereka menonton, benar saja, tidak sekalipun saluang itu lepas dari mulut
tukang saluang. Aswin terkagum-kagum. Seandainya saluang itu diletakkan agak
sebentar, ingin rasanya dia melihat, alat musik tiup seperti apa sesungguhnya
saluang yang mampu mengeluarkan nada sengau mendayu-dayu itu. Sudah hampir
setengah dua belas malam waktu Pohan mengingatkan agar sebaiknya menonton
saluang jo rabab cukup sampai disitu. Aswin terpaksa setuju.
*****
_________________________________________________________________
Try Live.com: where your online world comes together - with news, sports,
weather, and much more.
http://www.live.com/getstarted
Sukseskan Pulang Basamo se Dunia, Juni 2008.
-----------------------------------------------------------------
Website: http://www.rantaunet.org
============================================================
UNTUK SELALU DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply.
- Email dengan attachment, tidak dianjurkan.
- Posting email, DITOLAK atau DIMODERASI oleh system, jika:
1. Email ukuran besar dari >500KB.
2. Email dikirim untuk banyak penerima.
--------------------------------------------------------------
* Berhenti (unsubscribe), berhenti sementara (nomail) dan konfigurasi
keanggotaan, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting
* Membaca dan Posting email lewat web, bisa melalui mirror mailing list di:
http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/messages
http://groups.google.com/group/RantauNet?gvc=2
dengan mendaftarkan juga email anda disini dan kedua mirror diatas.
============================================================