Pakiah Marajo nama beliau.  Beruntung sekali, di ujung hayatnya, 
saya masih sempat bertemu beliau.  Saya masih ingat betul.  Ketika 
itu saya masih di kelas-kelas awal SD.  Mak Pakiah adalah seorang 
saudagar sukses untuk kelas nagari kami.  Ia adalah pengusaha kasur 
kapuk terkenal.  Kerjaannya manggaleh babelok dari pekan ke pekan.  
Profesi ini ia warisi dari mamaknya yang juga bergelar sama.  Satu 
yang unik dari Mak Pakiah ini (begitu semua orang kampung memanggil, 
walaupun sebenarnya beliau jalannya angku bagi saya) adalah alat 
transportasi yang beliau gunakan.  Sampai akhir 70-an, beliau 
menggunakan pedati untuk berkeliling dari pasar ke pasar.  Di tahun 
70-an beliau sudah mulai menggunakan mobil untuk berkeliling, 
walaupun untuk beberapa pasar yang dekat pedati masih beliau gunakan.

Kata ayah saya, pedati beliau sangatlah banyak.  Kusir dan kerbaunya 
pun sudah diatur dengan schedule yang pas. Untuk memelihara 
kerbaunya saja, beliau mempekerjakan satu keluarga.  Belum untuk 
urusan perniagaan, sungguh banyak karyawannya.  Armada pedati mak 
pakiah, juga berfungsi sebagai dinas pos buat warga desa.  Ayah saya 
salah satunya.  Dari SMP, ayah adalah pelanggan tetap pedati mak 
Pakiah.  Maklumlah, mobil yang lewat kampung kami sangatlah jarang 
waktu itu.    Beras dan sayur kiriman dari orang tuanya selalu 
dititipkan pada pedati mak Pakiah.  Tak jarang, uang belanja juga 
dititipkan pula.  Hampir semua orang kampung saya seangkatan ayah, 
pasti merasakan jasa pedati mak Pakiah.

Hari berganti.  Masa berubah.  Armada pedati mak pakiah semakin 
menyurut.  Digantikan oleh toyota hiace atau mitsubishi L-300. 
Volume perdagangan kasur Mak pakiah tak sebesar dulu lagi.  Hampir 
seluruh anaknya sudah beralih profesi.  Armada pedati beliau tinggal 
kenangan belaka.  Saya cukup beruntung, masih melihat deretan pedati 
Mak Pakiah ketika parkir di depan rumah beliau.

Ayah saya adalah orang yang paling semangat bercerita tentang pedati 
mak Pakiah.  Mungkin karena banyaknya kenangan yang beliau alami 
bersama Pedati-Pedati mak Pakiah. Ketika adik saya mengatakan bahwa 
pedati itu sudah nggak up to date dengan perkembangan zaman, ayah 
langsung mencak-mencak.  Kata beliau, adik saya tidak menghargai 
kebudayaan tradisional.  Pedati adalah alat transportasi murah, 
ramah lingkungan dan sarat budaya lokal.  Saya sih setuju-setuju aja.

Mendekati akhir masa tugas sebagai PNS, ayah mulai mencari-cari 
kegiatan sosial.  Segera saya usulkan pada ayah agar beliau 
membentuk organisasi pewaris pedati mak pakiah.  Ayah tinggal 
menggajak teman-teman ayah yang punya ikatan emosional dengan pedati 
Mak Pakiah.  Mereka kan sudah pada jadi orang semua.  Lalu dicari 
anak muda yang pernah melihat pedati mak pakiah di ujung masa 
tugasnya.  Pasti akan banyak orang kampung kita yang akan tertarik.  
Lalu mulailah ayah membuat program menghidupkan pedati di kampung 
kita.  Pasti seru yah...


bersambung.......


Sukseskan Pulang Basamo se Dunia, Juni 2008.
-----------------------------------------------------------------
Website: http://www.rantaunet.org
============================================================
UNTUK SELALU DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply.
- Email dengan attachment, tidak dianjurkan.
- Posting email, DITOLAK atau DIMODERASI oleh system, jika:
1. Email ukuran besar dari >500KB.
2. Email dikirim untuk banyak penerima.
--------------------------------------------------------------
* Berhenti (unsubscribe), berhenti sementara (nomail) dan konfigurasi 
keanggotaan, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting
* Membaca dan Posting email lewat web, bisa melalui mirror mailing list di:
http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/messages
http://groups.google.com/group/RantauNet?gvc=2
dengan mendaftarkan juga email anda disini dan kedua mirror diatas.
============================================================

Kirim email ke