Assalaamu'alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuhu
Bapetai-petai awak dek ujan, dek banjir. Indak ado nan jadi rencana ciek juo 
doh. Indak jadi rapek MAPPAS, indak jadi ka lua kota. Kaditaruihan carito sajak 
hari Jumaaik malam tu bendi rusak pulo. Tu elok bendi, jaringan talipon untuak 
interenek lo nan rusak. Tapi carito awak jalan taruih sudah itu. Ko lah dapek 
nan nomor 7, 8 jo 9. Ambo kiriman ciek-ciek
 
Wassalaamu'alaikum,
 Lembang Alam
7. Bukit Tinggi (1)
 
Mobil Toyota Kijang itu kembali menuju ke arah simpang Maninjau, menuju kelok 
ampek puluah ampek yang sekarang akan diawali dengan kelok 1 sampai kelok 44 di 
atas sana. Cuaca cerah dan hari menunjukkan pukul tiga lebih lima menit. Di 
jalan mereka berpapasan dengan turis-turis kulit putih sedang berjalan kaki 
yang kelihatannya baru keluar dari danau. Turis kulit putih memang banyak 
terlihat di Maninjau dan  mereka menginap di sini. Ada yang senang menghabiskan 
hari-hari mereka bermain ski air di danau ini. Di sisi kanan dan kiri jalan ada 
beberapa restoran dengan menu untuk orang asing, yang ditulis dangan bahasa 
Inggeris. Rupanya tempat ini cukup menyenangkan bagi turis-turis asing 
tersebut. Sejauh ini tidak ada masalah dengan mereka karena mereka mematuhi 
apa-apa yang boleh dan menjauhi apa-apa yang tidak boleh dilakukan turis di 
negeri Minangkabau.
 
Beberapa menit saja mobil mereka telah sampai di simpang Maninjau. Mobil itu 
segera berbelok ke kiri, mengawali tanjakan dan belokan. Berliku melalui setiap 
kelok. Meliwati kelok yang banyak monyetnya tadi. Pemandangan sambil mendaki 
ini lain pula indahnya, sambil sekali-sekali terserobok kembali dengan 
pemandangan ke arah danau Maninjau di sisi bawah.
 
’Kamu tahu, ayah bermimpi suatu hari nanti akan ada kereta kabel sejak dari 
Bukit Tinggi, melintasi ngarai Sianok, melalui kampung Sianok, terus ditarik 
menuju puncak Lawang lalu turun ke Maninjau. Aku jadi mengerti sekarang tentang 
khayalan atau mimpi ayah tersebut, tentang kenapa ayah berkhayal seperti itu. 
Seandainya suatu hari nanti kereta kabel itu jadi kenyataan, aku yakin tempat 
ini akan semakin ramai dengan pengunjung karena pemandangan disini benar-benar 
mengagumkan untuk dinikmati dari atas kereta kabel,’ Aswin mengawali cerita.
 
’Ya, itu memang jadi impian mereka-mereka orang rantau. Yang sudah melihat hal 
yang sama di tempat lain dan ingin membawa pulang untuk dipasang di Maninjau 
ini. Tapi kayaknya itu memerlukan investasi cukup besar dan belum ada orang 
yang berani turun tangan,’ Pohan menambahkan.
 
’Mungkin suatu saat nanti. Suatu saat yang tidak lama lagi. Mungkin saja di 
antara turis yang datang sudah melihat kesempatan itu dan sedang 
menghitung-hitung berapa banyak modal yang diperlukan untuk membangunnya,’ 
Aswin ikut berkhayal.
 
’Menurutmu mungkin nggak kereta kabel itu dibuat melintasi danau sampai ke 
seberang?’ Pohan bertanya.
 
’Mungkin saja. Berapa lebar danau ini?’ Aswin balik bertanya.
 
’Aku tidak tahu, tapi kuperkirakan mungkin sekitar delapan kilometer,’ jawab 
Pohan.
 
’Aku rasa mungkin saja. Dan seandainya itu bisa pula dijadikan kenyataan tentu 
lebih mengagumkan lagi.’
 
Mobil mereka terus mendaki dan berbelok dengan tenang. Beberapa kali berpapasan 
dengan bus pariwisata penuh penumpang.  Akhirnya merekapun sampai di puncak 
setelah  menyelesaikan kelok yang ke empat puluh empat. Seterusnya melaju 
melalui Embun Pagi, terus ke Matur dan melalui ’country road’ tadi untuk 
berliku-liku pula di sana. Sampai di Koto Tuo mereka terus menuju Padang Luar 
dan berbelok ke kiri menuju Bukit Tinggi.
 
Sepanjang jalan mereka berdiskusi tentang keindahan danau Maninjau, keindahan 
pemandangan dari Puncak Lawang. Tidak luput pula dari bahasan mereka tentang 
prilaku turis yang datang, tentang prilaku masyarakat anak kemenakan orang 
Minang yang tinggal di kampung, dan pergaulan mereka dengan turis yang datang.
 
Sebelum menjelang Bukit Tinggi mobil itu berbelok ke kiri melalui jalan mendaki 
dan menurun agak sempit, menuju kampung Pandai Sikek yang terkenal dengan 
kerajianan menenun kain songket. Kampung ini terletak tidak jauh dari jalan 
raya Padang – Bukit Tinggi, di kaki gunung Singgalang. Pohan memarkir mobilnya 
di sebuah tanah lapang.  Di sini terparkir pula dua buah bus pariwisata. 
Dihadapan mereka ada sebuah bangunan rumah adat yang terlihat seperti rumah 
adat bergonjong lainnya. Di halamannya ada dua buah rangkiang juga beratap 
gonjong. Di bawah rangkiang terpajang beberapa potong kayu berukir hasil 
kerajinan ukiran Pandai Sikek.
 
Rumah gadang ini merupakan bengkel tenun di kampung itu. Tempat anak-anak gadis 
bekerja menenun kain songket. ’Rumah tampek mananun’ ini milik koperasi anak 
nagari, tempat dipusatkannya pekerjaan menenun dan sekaligus tempat 
mempertunjukkannya cara menenun kepada para turis. Bagian dalam rumah ini 
berbeda dengan rumah adat lain karena tidak ada kamar sama sekali, melainkan 
hanya ruangan lepas luas. Hanya saja kedua sisinya tetap ditinggikan sedikit 
sebagai anjung. Di kedua anjung ini terletak masing-masing sebuah etalase 
tempat kain tenun yang sudah jadi dipajang. 
 
Pekerjaan menenun adalah seutuhnya pekerjaan wanita dan umumnya dilakoni oleh 
anak-anak gadis. Alat yang digunakan masih merupakan alat tenun tradisional. 
Justru disitulah muncul daya tariknya. Wanita-wanita muda itu bekerja dengan 
cekatan mengurai dan menjalin benang helai demi helai untuk kemudian 
menjadikannya sehelai kain songket yang indah.
 
Waktu Aswin dan Pohan sampai disana, kegiatan menenun itu baru saja dimulai 
kembali. Banyak pula pengunjung lain, turis dari luar maupun dalam negeri sudah 
hadir disini, sehingga di rumah itu agak berdesak-desak. Memang biasanya 
atraksi menenun untuk dipertunjukkan dilakukan di pagi hari menjelang siang 
sebelum waktu shalat zuhur  setelah itu para penenun itu beristirahat sampai 
sesudah waktu shalat asar. Bunyi dekak-dekak alat kayu perkakas tenun memenuhi 
ruangan besar rumah gadang itu. Setiap penenun bekerja dengan sangat serius 
dalam konsentrasi penuh.
 
Aswin berkeliling melihat-lihat para penenun yang sedang bekerja itu, dan tidak 
lupa memotretkannya.  Memperhatikan kain tenun yang sudah jadi di etalase. Ada 
juga barang-barang suvenir kecil terbuat dari bahan kain songket dipajang 
disitu. Para turis banyak yang berbelanja membeli barang-barang suvenir sampai 
kain songket utuh. Aswin membeli tiga pasang sendal Minang untuk oleh-oleh.
 
Dari ’rumah tampek mananun’ mereka mampir ke ’bengkel ukia’  agak ke samping 
dari rumah tanun. Bangunan ini merupakan bangunan bengkel lepas berlantai semen 
yang bukan dengan atap bergonjong. Disini mereka jumpai beberapa tukang ukir 
Pandai Sikek sedang bekerja memahat dan mengukir kayu. Ukiran ini umumnya 
adalah ukiran untuk rumah adat. Motif ukirannya berulir berbunga-bunga. Orang 
Pandai Sikek terkenal pula untuk kerja mengukir ini. Para pelancong juga 
menonton pekerjaan mengukir ini. Aswin ikut mendengar seorang pemandu wisata 
sedang bercerita menerangkan tentang ukir-ukiran itu.
 
Setelah puas melihat-lihat di Pandai Sikek, mereka sekarang menuju Bukit 
Tinggi.  Hari sudah jam lima seperempat. Matahari masih agak tinggi sebelum 
terbenam. Waktu maghrib adalah jam enam tiga puluh di sini. Sebentar saja 
mereka sudah sampai di Bukit Tinggi, melalui Jambu Ayia dan Birugo. Pohan 
menunjuk ke arah Jam Gadang yang terlihat dari kejauhan.
 
’Itu lambang kota Bukit Tinggi,’ ujarnya.
 
’Jam Gadang?’ tanya Aswin melihat ke arah yang ditunjukkan Pohan.
 
’Betul, Jam Gadang. Tapi sebenarnya tak seberapa gadang,’ tambah Pohan.
 
’Gadang artinya besar, kan? Apakah kita langsung kesana?’
 
’Lebih baik kita ke Atas Ngarai dulu.  Akan aku tunjukkan ngarai Sianok yang 
sudah kamu kenal namanya itu. Setelah itu baru kita ke Jam Gadang,’ jawab Pohan.
 
Mereka sekarang menuju ke Panorama Atas Ngarai. Tempat ini juga dipenuhi turis, 
di sore hari begini. Para pelancong itu menikmati panorama, memandang ke bawah 
ke dalam ngarai yang elok itu. Pemandangan yang sungguh sangat menyejukkan. 
Banyak kera yang kelihatannya lebih jinak atau lebih berani disini. Mereka 
datang menghampir mendekati orang. Kalau diberi makanan mereka berebut-rebutan. 
 
 
Aswin dan Pohan berjalan-jalan di taman dengan bunga-bunga beraneka warna yang 
terpelihara indah di tempat ini. Disini, seperti di tempat lain ada plang-plang 
pengumuman dan peringatan. Ada tong sampah tersedia di banyak tempat dan 
kebersihan memang sangat terpelihara. Aswin juga mengamati lebih banyak polisi 
wisata yang mengawasi para pelancong disini tapi dia tidak tahu kenapa demikian.
 
’Kemana kita dari sini?’ tanya Aswin sesudah mereka cukup lama berada di Atas 
Ngarai, dan bersiap untuk pergi.
 
’Ke atas. Ke dekat Jam Gadang. Kita shalat maghrib di Mesjid Raya dan sesudah 
itu kita bisa melihat-lihat di bawah Jam Gadang. Biasanya banyak orang 
duduk-duduk disana bersantai-santai, melihat ke arah Gunung Merapi di waktu 
malam. Apalagi hari ini terang bulan.’
 
‘Setelah itu apa acara kita?’
 
‘Nanti sesudah shalat isya ada acara main kim di gedung Eri. Gedung itu bekas 
bioskop. Main kim ini diiringi oleh alat musik bansi dan telempong. Tapi kalau 
kamu tidak suka kita juga bisa pergi menonton pertunjukan tari-tarian 
Minangkabau di gedung kesenian. Inipun dimulai sesudah shalat isya. Nah 
sekarang kamu mau memilih yang mana?’ Pohan menjelaskan.
 
‘Sebentar, bukankah main kim itu sejenis perjudian? Bagaimana ceritanya?’ tanya 
Aswin.
 
‘Ya, pada awalnya permainan itu bisa dikategorikan seperti judi. Orang yang 
datang membeli kartu berisi angka-angka untuk setiap ’game’ dan kemudian 
seseorang yang paling dahulu mengisi kartu dengan angka-angka yang keluar 
dinyatakan sebagai pemenang dan mendapat hadiah berupa uang. Cara seperti itu 
jelas judi. Tapi sekarang acaranya bukan demikian. Orang datang biasanya untuk 
mendengarkan kepiawaian tukang nyanyi membacakan pantun-pantun yang berkaitan 
dengan angka yang keluar. Nyanyian itu diiringi dengan alat musik bansi dan 
telempong. Setiap pengunjung dipungut bayaran satu kali saja sebagai biaya 
tanda masuk. Kemudian dia ikut bermain dan kalau menang diberi hadiah sekedar 
cendera mata. Barang yang tidak besar sangat nilai uangnya dan. Dan pemenangnya 
 bukan hanya satu orang. Artinya sesudah satu orang berhasil memenangkan game, 
permainan dilanjutkan sampai ada orang kedua dan ketiga ikut menang pula, dan 
mendapatkan hadiah  juga. Permainan itu bisa diulangi berkali-kali sampai jam 
sebelas malam dan hadirin boleh mengikuti setiap kali tanpa harus membayar 
apa-apa. Jadi sifatnya lebih ke arah hiburan, sehingga boleh dilaksanakan dan 
tidak melanggar ketetapan pemerintah daerah tentang judi.’
 
’Waaw. Panjang sekali keterangannya. Aku ingin menyaksikannya,’ kata Aswin.
 
Mereka sudah sampai di pelataran parkir Mesjid Raya ketika azan maghrib 
berkumandang.
 
’Padahal seharusnya kamu boleh meringkas dan menggabungkan shalat karena kamu 
seorang yang sedang berpergian,’ ucap Pohan ketika mereka sedang melangkah ke 
tempat wudhu’.
 
’Aku tahu, dan aku di pesawat melakukan seperti itu. Tapi ketika aku lihat kamu 
shalat tidak digabung akupun ikut. Bukankah hari ini kamu juga musafir? Tapi 
kita tadi shalat zuhur di mesjid Maninjau dan shalat asar di mesjid Pandai 
Sikek. Kamu melakukannya seperti itu, aku ikuti saja ,’ jawab Aswin.
 
’Ya, betul. Hari ini akupun musafir sebenarnya. Kalau begitu nanti sesudah 
maghrib langsung kita lakukan shalat isya,’ ajak Pohan.
 
                                                                        *****
 
 
_________________________________________________________________
Personalize your Live.com homepage with the news, weather, and photos you care 
about.
http://www.live.com/getstarted.aspx?icid=T001MSN30A0701
Sukseskan Pulang Basamo se Dunia, Juni 2008.
-----------------------------------------------------------------
Website: http://www.rantaunet.org
============================================================
UNTUK SELALU DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply.
- Email dengan attachment, tidak dianjurkan.
- Posting email, DITOLAK atau DIMODERASI oleh system, jika:
1. Email ukuran besar dari >500KB.
2. Email dikirim untuk banyak penerima.
--------------------------------------------------------------
* Berhenti (unsubscribe), berhenti sementara (nomail) dan konfigurasi 
keanggotaan, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting
* Membaca dan Posting email lewat web, bisa melalui mirror mailing list di:
http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/messages
http://groups.google.com/group/RantauNet?gvc=2
dengan mendaftarkan juga email anda disini dan kedua mirror diatas.
============================================================

Kirim email ke