SEMINGGU DI RANAH BAKO (8)  Assalaamu'alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuhu  
Ditaruihanlo stek lai. Nan ka lapan. 
 Wassalaamu'alaikum,  Lembang Alam  
Bukit Tinggi (2)
 
Sesudah shalat maghrib (kali ini mereka jama’ dengan shalat isya)  keduanya 
pergi ke bawah Jam Gadang. Betul saja, banyak orang duduk-duduk di taman di 
dekat Jam Gadang. Sambil ngobrol-ngobrol bergerombol-gerombol. Udara sangat 
cerah. Bulan hampir penuh bersinar di sebelah timur di ujung timur gunung 
Merapi. Sosok gunung Merapi terlihat cantik di bawah sinar bulan. Pemandangan 
ke gunung Singgalang agak tertutup dari sini. 
 
Disini juga banyak polisi wisata yang ikut berada di tengah keramaian sore itu.
 
’Berapa banyak petugas berbaju Melayu itu di seluruh Negeri Minangkabau? Aku 
melihat mereka hadir dimana-mana,’ tanya Aswin.
 
‘Mungkin ada sekitar lima ribu orang. Mereka bertugas bergiliran siang dan 
malam dan ditempatkan di setiap objek wisata. Tugas mereka untuk menjaga agar 
tidak ada yang melakukan hal-hal yang terlarang, baik oleh kaum pelancong 
maupun oleh anak negeri. Mereka sangat ramah, tapi juga sangat tegas. Kalau ada 
yang melakukan pelanggaran kecil, misalnya membuang sampah sembarangan, atau 
menyerobot antrian pasti mereka tegur. Tapi kalau ada yang melakukan 
pelanggaran berat, misalnya mencoba-coba membuat keonaran pasti mereka tangkap 
dan mereka serahkan ke polisi biasa, ’ Pohan menjelaskan.
 
’Apakah mereka bersenjata?’
 
’Tidak. Mereka hanya membawa borgol. Karena mereka sangat tegas mereka disegani 
dan ditakuti. Masyarakat juga diberitahu bahwa pembangkangan atau perlawanan 
terhadap polisi wisata berat hukumannya. Bisa sampai tahunan dalam penjara. Dan 
polisinya sendiri juga diawasi oleh atasan-atasan mereka dengan sangat ketat. 
Seandainya polisi wisata diketahui berbuat jahat kepada masyarakat, katakanlah 
misalnya dengan memeras maka hukumannya lebih berat pula kepada mereka.’
 
’Bagus sekali, dan sistim pengamanan itu bekerja sangat bagus kelihatannya,’ 
komentar Aswin.
 
’Kelihatannya begitu. Tapi, ngomong-ngomong apakah kamu sudah lapar?’ tanya 
Pohan pula mengalihkan pembicaraan.
 
’Sebenarnya belum. Tapi waktunya memang agak tanggung. Ada usulan?’ Aswin balik 
bertanya. 
 
‘Tadi kita sudah memberitahu etek kita tidak akan makan malam di rumah. Kalau 
kamu sudah sanggup makan lagi mari kita pergi makan gulai bebek hijau,’ ajak 
Pohan.
 
’Aha, gulai itik Koto Gadang? Ada restoran khusus gulai itik Koto Gadang?’’ 
Aswin jadi antusias.
 
’Ya. Gulai itik Koto Gadang. Kalau mau makan disana saat ini yang paling tepat. 
Kedai itu tutup jam sembilan malam. Kalau kita makan disana sekarang, gulainya 
baru masak dan masih panas,’ Pohan menjelaskan.
 
’Kalau begitu kita kesana sekarang. Bisalah perutku diisi lagi. Apalagi dengan 
gulai itik, mmmh,  pasti yummie.’
 
Pohan membawa Aswin ke kedai nasi gulai itik hijau di dalam Ngarai Sianok. 
Aswin agak terheran-heran waktu mobil itu di bawa melalui jalan menurun dan 
berkelok-kelok ke tempat tersebut.
 
’Dimana tempatnya?’ tanya Aswin.
 
’Di dalam ngarai yang kita lihat tadi sore,’ jawab Pohan.
 
’Di dalam ngarai? Apakah disana juga ada tempat pertunjukan?
 
’Tidak ada. Hanya kedai nasi gulai itik itu saja.’ 
 
Mereka sampai disana. Kedai nasi itu sedang banyak pengunjungnya. Aswin dan 
Pohan terpaksa menunggu kira-kira seperempat jam lamanya sampai ada tempat 
kosong. Bau gulai itik itu saja sudah menjadikan perut segera minta diisi.
 
’Betul juga yang kamu bilang. Kalau kita terlambat datang mungkin makin lama 
antrinya. Bisa-bisa kita tidak kebahagian.’
 
’Kebagian sih pasti. Karena mereka memasak banyak sekali setiap sore, untuk 
dijual sampai besok siang. Hanya, jam sembilan malam kedai ini sudah tutup. Aku 
agak heran kenapa mereka tidak memperbesar ruangan kedai ini sehingga bisa 
lebih banyak lagi orang bisa ditampung,’ ucap Pohan.
 
’Apakah pemiliknya orang Koto Gadang?’ tanya Aswin.
 
’Ternyata bukan. Tapi masakannya diakui seenak gulai itik orang Koto Gadang. 
Pengakuan ini keluar dari mulut etek, yang pintar memasak itu,’ jawab Pohan.
 
Mereka berbincang-bincang santai sambil menunggu giliran dalam sebuah antrian. 
Akhirnya giliran mereka datang juga. Tempat kosong sudah tersedia untuk mereka. 
Sementara di belakang mereka masih ada sekitar sepuluh orang lagi yang antri. 
 
Dan gulai itik hijau itu ’is the best’. Pedas tapi sangat enak. Mereka makan 
bertambuh-tambuh lagi. Dengan gulai dada dan kalang itik. Bukan main.
 
Aswin terperangah sesudah menghabiskan dua piring nasi dan tiga potong gulai 
itik. Sampai peluhnya bercucuran, padahal dimalam yang sudah mulai dingin 
udaranya. 
 
’Waaw. Aku makan disertai nafsu malam ini. Gulai itik ini sangat menggoda. 
Perutku tersiksa kekenyangan,’ Aswin mengeluh.
 
’Kalau begitu sebaiknya besok kita puasa saja,’ jawab Pohan berseloroh.
 
’Ya. Kecuali minum kopi telur pagi-pagi. Dan sepiring kecil ketan lalu goreng 
pisang raja, cukuplah,’ jawab Aswin.
 
’He..he..he.. Bagaimana kalau sarapan besok pagi etek tidak menyiapkan ketan 
dan goreng pisang?’
 
’Mudah-mudahan tetap ada. Soalnya tadi pagi aku memohon begitu,’ jawab Aswin 
pula.
 
Setelah terperangah kekenyangan untuk beberapa saat, mereka segera meninggalkan 
kedai itu. Sebelumnya orang kedai sudah datang menghitung harga makanan yang 
mereka makan, memberi isyarat halus, karena diluar masih panjang antrian orang 
yang akan makan gulai itik pula.
 
’Ada lagikah makanan khas yang akan kita coba besok-besok?’ tanya Aswin dalam 
perjalanan kembali keluar dari dalam ngarai.
 
’Tentu. Ada nasi Kapau. Masakan Minang biasa tapi agak khusus. Berasal dari 
kampung Kapau,’ jawab Pohan.
 
’Biarlah itu urusan besok. Makanan disini enak-enak semua.’
 
’Ada lagi sate ayam berbumbu kacang. Tempatnya di Atas Ngarai tadi. Ada kedai 
sate di  belakang  bangunan panorama tempat tadi kita duduk-duduk.’
 
’Sudahlah, pokoknya kamu atur saja agar kita bisa mencicipi masing-masing itu.’
 
’Dan jangan lupa ampiang badadiah yang belum sempat kamu cicipi tadi,’ Pohan 
masih memanas-manasi
 
‘He..he..he… jangan-jangan dalam seminggu tidak sempat tercicipi semua.’
 
’Kalau begitu diperpanjang saja waktu disini. Sebulan misalnya..... he.. 
he..he..’
 
’Aku langsung dipecat dari tempat bekerja,’ jawab Aswin.
 
Sekarang mereka menuju ke gedung Eri tempat permainan kim seperti yang 
diceritakan Pohan tadi. Pohan membeli dua lembar karcis masuk. Kepada mereka 
diberikan sepuluh lembar kartu kim. Lembaran dengan angka-angka antara angka 1 
sampai angka 90 tercantum berjajar-jajar, lima kolom angka ke kanan dan enam 
baris ke bawah. Di dalam ruangan bekas bioskop ini sudah banyak orang yang 
menunggu permainan kim dimulai.  Didepan mereka ada sebuah papan board berisi 
angka-angka dari 1 samai 90 pula, cukup besar untuk dapat dilihat dari kursi 
paling belakang.
 
Jam setengah sembilan permainan itu dimulai. Di atas panggung ada seorang 
penyanyi ditemani pemain musik talempong dan peniup bansi. Penyanyi itu 
mendendangkan pantun-pantun yang setiap pantun menjelaskan nomor. Dia 
berdendang diiringi suara bansi dan talempong. Kali ini musik dan irama lagunya 
tidak menghiba-hiba seperti lagu saluang. Setiap kali penyanyi itu mengambil 
sebuah koin angka dari sebuah kaleng, lalu menyebutkan angka yang tertera itu 
dengan pantun-pantun yang sesuai. Pada saat yang sama lampu dengan angka yang 
dicabutnya itu menyala di board angka-angka. Setelah mengeluarkan beberapa buah 
angka, kaleng koin itu diguncangnya, menambah heboh suasana. Peserta main kim 
sibuk mencoret setiap angka yang keluar di kartu mereka masing-masing dengan 
kapur yang disediakan. Sambil mereka terangguk-angguk mengikuti irama lagu 
tukang nyanyi. Peserta main kim ini adalah para turis, bahkan orang-orang 
asing. Mereka ikut menikmati dendang yang seronok diiringi bunyi bansi dan 
talempong yang juga seronok. Sedangkan angka yang keluar cukup mereka lihat 
dari board angka-angka karena mereka tidak mengerti isi pantung tukang nyanyi 
kim. Setelah beberapa waktu berlalu, dan jumlah angka-angka yang keluar sudah 
lebih dari separo, tiba-tiba seseorang berteriak sambil mengacungkan kartunya. 
Kelihatannya dia sudah berhasil memenuhi lima kolom dan tiga baris angka atau 
lima belas angka dalam kolom-kolom  yang berurutan. Kartu itu diserahkannya 
kepada penyanyi di atas panggung.
 
Si penyanyi memeriksa apakah dia betul-betul sudah memenangkan permainan. 
Ketika si penyanyi mengesahkan kemenangan itu, si pemenang diberi hadiah yang 
lucu-lucu. Ada yang mendapat hadiah boneka gajah. Permainan seri yang sama 
dilanjutkan sampai pemenang berikutnya juga berteriak memberi tahu bahwa dia 
juga sudah memenuhi kolom-kolom angkanya. Kali ini pemenangnya dapat hadiah 
sebuah peci. Agak lumayan.
 
Permainan kim akan berlanjut sampai jam sebelas malam. Aswin menyukai permainan 
ini dan ikut terangguk-angguk mendengar dendang si penyanyi. Tapi dia tidak 
terlalu perduli dengan angka-angka yang keluar. Karena capek juga setiap kali 
harus menengadah melihat angka yang menyala di papan board angka-angka.
 
‘Sudah jam sepuluh lebih, kamu belum ngantuk ?’ tanya Pohan ketika dia lihat 
Aswin sudah beberapa kali menguap.
 
‘He..he.. aku sudah ngantuk. Kita pulang ?’ 
 
‘Aku tahu kamu sudah ngantuk. Aku lihat kamu berkali-kali menguap. Tapi aku 
heran kok kamu masih betah,’ kata Pohan pula.
 
’Ya. Lagu kim ini memang asyik. Tapi, ya sudahlah. Mari kita pulang. Pasti kamu 
juga sudah kecapekan,’ ujar Aswin sambil berdiri dari tempat duduknya.
 
Mereka segera menuju pulang ke Koto Gadang. Untuk segera tidur. Karena hari ini 
sangat melelahkan. Namun sangat berkesan. Melihat semua yang indah dan 
menakjubkan.
 
 
                                                                        *****
_________________________________________________________________
Live Search: New search found
http://get.live.com/search/overview
Sukseskan Pulang Basamo se Dunia, Juni 2008.
-----------------------------------------------------------------
Website: http://www.rantaunet.org
============================================================
UNTUK SELALU DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply.
- Email dengan attachment, tidak dianjurkan.
- Posting email, DITOLAK atau DIMODERASI oleh system, jika:
1. Email ukuran besar dari >500KB.
2. Email dikirim untuk banyak penerima.
--------------------------------------------------------------
* Berhenti (unsubscribe), berhenti sementara (nomail) dan konfigurasi 
keanggotaan, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting
* Membaca dan Posting email lewat web, bisa melalui mirror mailing list di:
http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/messages
http://groups.google.com/group/RantauNet?gvc=2
dengan mendaftarkan juga email anda disini dan kedua mirror diatas.
============================================================

Kirim email ke