Assalaamu'alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuhu
Malaju juo lai baru, masih di Kiktenggi juo lai curitotu.
Wassalamu'alaikum,
Lembang Alam
9. Bukit Tinggi (3)
Paginya mereka agak kesiangan, dan bangun sudah jam setengah enam. Mungkin
saking kecapekan. Mereka sarapan bersama seperti kemarin sambil
berbincang-bincang santai. Sambil menikmati kopi telur ditemani ketan dan
goreng pisang raja. Dan bika si Mariana yang di panaskan di micro wave.
’Hari ini kemana lagi acaranya?’ tanya etek Rasuna.
’Pagi ini ke Bukit Tinggi. Kalau bisa menunggang kuda di Bukit Ambacang.
Sesudah itu melihat-lihat Benteng dan Gua Jepang. Jam sepuluh nanti kita
menuju Harau. Siangnya ke Pagar Ruyung,’ Pohan menjelaskan secara rinci.
’Menunggang kuda? Kamu berani Aswin?’ tanya etek pula.
’Berani saja. Dan saya sudah pernah melakukannya,’ jawab Aswin.
’Atau bisa juga mengendarai bendi Bugih di sana, kalau Aswin kurang yakin untuk
menunggang kuda,’ Pohan menambahkan.
’Mungkin aku akan mencoba kedua-duanya,’ jawab Aswin.
’Dimaa kalian makan? Ndak pai mancubo gulai itiak?’ tanya nenek pula.
’Sudah tadi malam, nek. Tadi malam kami makan gulai itiak Koto Gadang di ngarai
Sianok,’ jawab Aswin.
’He..he.. alah nan iyo. Lai lamak? Lai katuju?’ tanya nenek pula.
’Batambuah-tambuah no makan, sampai barek ka tagak. Sudah itu siuak-siuaki
kapadehan,’ jawab Pohan.
’Apa itu maksudnya?’ tanya Aswin.
’Kata Pohan, kamu makannya banyak, sampai sulit mau berdiri. Sehabis makan
sibuk karena kepedasan,’ etek menjelaskan.
’He..he..he.. memang benar. Gulai itik itu memang enak sekali,’ jawab Aswin.
’Kini pukuah bara lo ka pai?’ tanya nenek lagi.
’Ka pai kini sakali, sudah makan katan ko,’ jawab Pohan.
’Pailah, jaan lamo-lamo amek ka pulang. Latiah amek badan,’ kata nenek lagi.
’Anak-anak muda ini mana mengenal letih,’ etek ikut menambahkan.
Sesudah sarapan, masih belum jam tujuh mereka berangkat ke Bukit Tinggi.
Melalui jalan di ngarai Sianok seperti yang mereka lalui tadi malam. Mereka
langsung ke Bukit Ambacang. Dalam waktu dua puluh menit mereka sudah sampai
disana. Di arena pacu kuda itu memang disewakan kuda untuk dipacu berkeliling
lapangan bagi yang bisa menunggang kuda. Yang digunakan umumnya bekas kuda pacu
atau bahkan ada juga kuda pacu sungguhan. Biasanya kuda pacu yang tidak pernah
menang dalam pacuan alias kuda penggembira. Tapi umumnya kuda-kuda itu
sehat-sehat dan kekar serta besar tubuhnya dengan bulu yang berkilat-kilat. Ada
juga bendi Bugih yang oleh Aswin disebut seperti kereta Ben Hur.
Kuda-kuda itu diberi berpelana. Pohan menjelaskan bahwa pada pacuan kuda
sungguhan di arena ini, kudanya tidak dipakaikan pelana. Jadi joki langsung
duduk di punggung kuda. Lebih menantang dan unik.
Ternyata mereka datang kepagian, tapi justru lebih baik. Masih belum banyak
pengunjung. Masing-masing memilih seekor kuda untuk disewa. Aswin ternyata
sangat cekatan menunggang kuda. Berdua mereka mengendarai kuda itu sambil
kudanya berlari-lari kecil. Jadi bukan dipacu. Perhitungan sewa menyewa
didasarkan dengan mengendarai kuda mengitari lapangan Bukit Ambacang. Sepuluh
ribu rupiah untuk dua kali putaran, sebagai sewa minimum. Mereka menyewanya
untuk empat putaran dan pada putaran ke empat nanti mereka akan berlomba.
Ada enam ekor kuda yang sudah disewa di lapangan saat itu berlari berpencaran.
Aswin mendekati setiap pengendara lain dan mengajak untuk berlomba pada putaran
mereka yang terakhir. Mereka setuju. Keenam pengendara itu memposisikan kuda
masing-masing di garis start. Waktu mereka bersiap-siap itu seorang petugas
lapangan datang membantu untuk mengibarkan bendera start. Dan merekapun
berpacu. Kuda-kuda itu ternyata sangat lincah dan bersemangat pula dalam
perlombaan itu. Kuda yang dikendarai Pohan yang jadi juara. Kuda Aswin hanya
diurutan ketiga.
Setelah perlombaan berpacu, sekarang mereka menyewa bendi Bugih.
Berkeliling-keliling lagi di arena. Naik bendi inipun lain pula asyiknya. Pada
waktu kuda dihalau berlari kencang Aswin berdiri di bendi Bugih. Seperti gaya
tentara Romawi. Semakin siang semakin banyak penyewa kuda di arena. Bercampur
antara pengendara kuda dan bendi Bugih. Tapi kalau ada yang ingin berlomba,
seperti yang tadi dilakukan Aswin dan rombongannya, mereka bisa minta tolong
petugas lapangan untuk membebaskan dan mengatur lapangan agar tidak saling
mengganggu. Acara berkuda seperti ini sangat banyak pula diminati para
pelancong.
Jam setengah sepuluh mereka sudah puas berkuda, naik bendi Bugih dan menonton
orang lain mengendarai kuda. Mereka segera meninggalkan Bukit Ambacang.
Sekarang menuju ke Gua Jepang di ngarai. Aswin mengagumi gua ini tapi tidak
berminat untuk menjelajahnya ke dalam. Mereka masuk ke bahagian luar gua saja.
Orang Jepang telah mengabadikan jejak sejarah penjajahan mereka di negeri ini
dengan adanya gua ini.
Dari gua Jepang mereka naik ke benteng tua Fort de Kock. Melihat pemandangan ke
arah jalan ke Medan. Di sekitar benteng tua terdapat taman. Bukit Tinggi sangat
cantik dengan taman-taman seperti ini yang sangat terpelihara dan terdapat di
banyak tempat. Di benteng ini banyak juga pengunjung. Mereka duduk-dudk di
taman di bawah payung besar sambil bersantai-santai. Ada dua orang yang sedang
melukis menggunakan kanvas besar.
’Mari kita menyeberang ke kebun binatang,’ ajak Pohan.
Aswin setuju. Mereka menyeberang melalui jembatan Limpapeh. Ke kebun binatang
yang juga disebut kebun bunga. Banyak binatang-binatang liar yang baru sekali
ini dilihat Aswin. Seperti tapir dan badak Sumatera. Dan harimau Sumatera.
Kebun bunga di lingkungan kebun binatang ini mempunyai banyak sekali tanaman
anggerek yang cantik-cantik. Indah dan menyejukkan mata memandang.
Mereka naik ke museum rumah gadang. Melihat-lihat koleksi barang–barang kuno
yang biasa digunakan dalam pesta adat Minangkabau. Di dalam musium ini
sayup-sayup terdengar suara pupuik tanduak yang diputar dari kaset. Di sebuah
pojok ada toko buku mini menjual buku-buku tentang Negeri Minangkabau. Ada
buku-buku dalam bahasa Minang ada juga yang dalam bahasa Indonesia. Aswin
mencari-cari di antara koleksi buku-buku itu. Akhirnya dia membeli lima buah
buku yang ditulis dam bahasa Indonesia dan dua buah buku dalam bahasa Minang.
Yang terakhir ini hadiah untuk ayah nanti.
Setelah puas melihat-lihat di musium dan kebun binantang, sebelum kembali ke
mobil yang terparkir di dekat benteng, Pohan mengajak Aswin pergi menikmati
ampiang badadiah. Tempatnya di rumah makan di samping Mesjid Raya. Restoran ini
sejatinya adalah tempat makan nasi, tapi juga menyediakan makanan ringan
seperti ampiang badadadiah dan lemang tapai. Ampiang badadiah disini menurut
Pohan termasuk yang terbaik di Bukit Tinggi. Tawaran yang tidak mungkin ditolak
Aswin. Memang sudah waktu ’minum kawa’ karena sudah lebih jam sepuluh.
Aswin dan Pohan membahas kegiatan yang sudah mereka lakukan sejak pagi ini
dengan santai sambil menunggu pesanan mereka. Tentang acara menunggang kuda
yang menyenangkan tadi itu. Tidak lama kemudian pesanan ampiang badadiah dan
kopipun datang.
Ampiang badadiah inipun ternyata juga ’best’. Dadiah yang bercampur dengan
tengguli itu yang membuatnya legit dan enak. Tidak heran kalau restoran ini
banyak pengunjungnya meski belum jam makan siang. Tamu restoran umumnya memesan
ampiang badadiah atau lemang tapai.
’Makan siang kita dimana?’ tanya Aswin sambil menikmati.
’Nanti di jalan ke Batusangkar. Ada rumah makan di tepi sawah,’ jawab Pohan.
’Jam berapa nanti kira-kira kita makan siang?’ tanya Aswin lagi.
’Mungkin sekitar jam dua. Dari sini kita ke Harau. Mudah-mudahan kita bisa
sampai di Harau sekitar jam dua belas. Melihat-lihat disana lalu kita menuju
Batusangkar dan Pagaruyung. Kita berhenti makan di tempat yang aku sebut itu.
Tapi kenapa kok kamu sibuk bertanya jam berapa kita makan siang?’ tanya Pohan.
‘Karena aku sedang berfikir mau menambah ampiang badadiah atau sudah cukup satu
mangkok ini saja,’ jawab Aswin polos.
‘He..he.. Kalau mau tambah saja. Masih empat jam lagi baru kita makan siang.
Apa lagi nanti perutmu akan cepat kosong karena goncangan mobil,’ kata Pohan.
’Kamu mau nambah?’ tanya Aswin.
’Baik, mari aku temani. Mintalah satu mangkok lagi,’
Dan mereka memesan satu porsi lagi.
Sesudah menikmati ampiang badadiah itu mereka berjalan kaki kembali ke benteng
melalui jemabatan Limpapeh, ke tempat mobil mereka di parkir. Sekarang mereka
akan melanjutkan kunjungan ke Harau di sebelah timur Paya Kumbuh.
*****
_________________________________________________________________
Personalize your Live.com homepage with the news, weather, and photos you care
about.
http://www.live.com/getstarted.aspx?icid=T001MSN30A0701Sukseskan Pulang Basamo se Dunia, Juni 2008.
-----------------------------------------------------------------
Website: http://www.rantaunet.org
============================================================
UNTUK SELALU DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply.
- Email dengan attachment, tidak dianjurkan.
- Posting email, DITOLAK atau DIMODERASI oleh system, jika:
1. Email ukuran besar dari >500KB.
2. Email dikirim untuk banyak penerima.
--------------------------------------------------------------
* Berhenti (unsubscribe), berhenti sementara (nomail) dan konfigurasi
keanggotaan, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting
* Membaca dan Posting email lewat web, bisa melalui mirror mailing list di:
http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/messages
http://groups.google.com/group/RantauNet?gvc=2
dengan mendaftarkan juga email anda disini dan kedua mirror diatas.
============================================================