--- Muhammad Dafiq Saib <[EMAIL PROTECTED]>
wrote:

> Assalaamu'alaikum wa rahmatullahi wa barakaatuhu
> 
> Tatap indak bisa ambo kirim sabantako dari hotmail.
> Malntun no baliak. Tapi ka hotmail alah ado nan
> masuak
> dari Palanta.
> 
> Lah nomor 12 carito awak.
> 
> Wassalamu'alaikum
> 
> Lembang Alam
> 
> 12.    Pagar Ruyung
> 
> ’Sungai Tarab. Mana yang benar, Sungai Tarab atau
> Sungai Tarok?’ tanya Aswin ketika mobil mereka mulai
> bergerak menuju Pagar Ruyung.
> 
> ’Dalam bahasa Minang yang benar adalah Sungai Tarok,
> tapi ada kecenderungan sementara orang
> membahasaindonesiakan nama-nama yang dalam bahasa
> Minang sehingga muncul Sungai Tarab. Namun
> kadang-kadang jadi kurang pas terdengarnya,’ jawab
> Pohan.
> 
> ’Apa arti kata ’tarab’ atau ’tarok’ itu?’
> 
> ’Itu nama sejenis pohon kayu. Menurut cerita nenek,
> di
> jaman penjajahan Jepang, ketika perekonomian
> masyarakat hancur, ada orang yang terpaksa
> menggunakan
> baju yang dibuat dari kulit tarab. Tapi aku sendiri
> tidak tahu pohon seperti apa pohon tarab,’ jawab
> Pohan
> lagi.
> 
> ’Jadi Sungai Tarok, mungkin di pinggir sungai di
> kampung ini dulu banyak pohon tarok. Kalau Padang
> Tarok yang kita lalui tadi apakah berarti lapangan
> yang banyak pohon taroknya?’ Aswin mencoba
> menganalisa.
> 
> ’Mungkin saja. Memang banyak sekali nama-nama tempat
> baik kota maupun kampung di Ranah Minang yang
> terdiri
> dari dua kata yang menunjukkan asal usul nama
> tersebut.’
> 
> ’Lalu apa kira-kira arti Paya Kumbuh?’
> 
> ’Paya artinya rawa, sedang kumbuh sejenis tanaman
> seperti pandan yang bisa untuk membuat tikar atau
> karung. Jadi Paya Kumbuh artinya rawa yang di
> dalamnya
> tumbuh tanaman ’kumbuh’. Lagi-lagi ini kata nenek,’
> jawab Pohan.
> 
> ’Apa pula arti ’ruyung’ pada Pagar Ruyung?’
> 
> ’Ruyung adalah bagian keras dari pohon enau. Pohon
> enau ini sejenis palma. Buah enau dibuat orang jadi
> campuran minuman, yang disebut kolang kaling. Pohon
> enau mempunyai bagian yang keras sekali di bagian
> luar
> yang disebut ruyung dan bagian yang empuk di sebelah
> dalam yang disebut sagu. Sagu ini bisa dibuat
> tepung,
> untuk makanan manusia. Ingat lompong sagu yang kita
> makan. Bisa juga jadi makanan kuda. Ruyung sangat
> kuat
> dan biasanya dijadikan penutup bahagian bawah rumah
> adat. Tapi bisa pula dijadikan pagar. Akhirnya,
> Pagar
> Ruyung ini dulu mungkin sebuah kota yang dipagari
> dengan ruyung.’
> 
> ’Hebat kamu. Paham kamu semuanya.’
> 
> ’Guruku nenek he..he..he.. Coba nanti kamu tanyakan
> yang lain-lain kepada nenek!’ 
> 
> ’Nah, kalau Batu Sangkar ini? Apa batunya sangkar
> atau
> sangkarnya batu..he..he..’
> 
> ’Harusnya batunya sangkar. Mungkin batu untuk
> memagari
> sangkar atau kandang ayam atau itik. Karena kandang
> jenis burung-burung biasanya disebut sangkar. Dan
> lagi
> pula kalau sangkarnya batu tidak bermakna. Buat apa
> batu disangkarkan. Benar nggak?’ jawab Pohan.
> 
> ’He..he..he.. Benar juga. Tapi, by the way, kamu
> bilang di Batu Sangkar adalah tempat pertunjukan
> silat
> Minang. Kenapa kita tidak menonton itu saja?’
> 
> ’Silat Minang dilakukan hanya siang hari di hari
> Minggu,’ jawab Pohan
> 
> ’Waah, sayang. Berarti kemarin? I’ve missed it.’
> 
> ’Kamu tinggal saja sampai hari Minggu depan. Mudah
> kan?’
> 
> ’Aku tidak mungkin mengganti jadwal. Tidak apa-apa, 
> setelah melihat ’ranah bako’ sekali ini, aku akan
> kembali lagi sesudah ini.’
> 
> Mereka sudah berada di Batu Sangkar.  Di kota budaya
> Minangkabau. Lalu lintas tidak seberapa ramai. Ada
> juga bendi di sini tapi tidak sebanyak di Paya
> Kumbuh.
> Yang banyak justru sepeda dan sepeda motor.  Kota
> Batu
> Sangkar juga sangat bersih. Banyak taman dalam kota
> ini dan semua tertata dengan rapi Ada sebuah pohon
> beringin besar di tengah kota dan di bawahnya
> terdapat
> bangku-bangku tempat duduk. Banyak orang sedang
> bersantai-santai di sana. Sebahagian mungkin juga
> para
> pelancong.
> 
> Pohan membawa mobil itu sekedar berputar dalam kota
> Batu Sangkar sebelum terus ke Pagar Ruyung.
> Ditunjukkannya pula bangunan benteng Belanda yang
> dibangun saat perang Paderi, benteng Van der
> Capellen.
> Dulu Batusangkar ini dinamai oleh Belanda dengan
> Fort
> van der Capellen, sebagaimana Bukit Tinggi mereka
> namai Fort de Kock. Nam-nama itu hanya digunakan
> oleh
> orang-orang Belanda dan para pegawai pemerintah
> kolonial mereka saja. Orang Minang tetap menyebutnya
> Batu Sangkar.
> 
> Mereka terus menuju Pagar Ruyung. Jarak Pagar Ruyung
> dari Batu Sangkar hanya sekitar 4 kilometer saja.
> Sudah jam setengah lima sore waktu mereka sampai di
> hadapan Istano Pagar Ruyung, sebuah bangunan rumah
> adat Minangkabau berukuran sangat besar.  Aswin
> berdecak kagum memandangnya.  Melihat rumah adat
> bergonjong yang tinggi besar, yang berukir-ukir
> dengan
> warna merah keunguan dan keemasan, dengan gonjong
> yang
> berlapis empat. Dengan jendela besar-besar. Dengan
> atap ijuk hitam, dan tangga kayu megah di hadapan.
> Yang di halamannya berjejer rangkiang yang juga
> besar-besar.  Semua itu merupakan pemandangan
> menakjubkan bagi Aswin, terhampar di hadapan
> matanya.
> Dia sudah melihatnya di foto, tapi ini adalah
> aslinya.
> 
> 
> Bangunan ini memang bukan istana raja-raja. Bukan
> bangunan tembok kokoh bertingkat-tingkat dan
> bergemerlapan. Tapi lebih merupakan simbol kebesaran
> negeri Minangkabau. Yang pernah punya sejarah yang
> membanggakan. Aswin juga tahu bahwa rumah gadang
> Istano Pagaruyung ini bukanlah yang asli karena yang
> asli sudah terbakar. Melainkan sebuah bangunan yang
> baru dibuat beberapa puluh tahun yang lalu sebagai
> pengganti. Letaknya masih di tempat yang sama. Di
> sebuah tanah  perumahan yang luas. Agak beberapa
> puluh
> meter ke belakang ada  bukit batu terjal setinggi
> seratus lima puluh meter berwarna hitam. Mirip
> dengan
> dinding terjal di Harau. Dinding terjal yang
> bagaikan
> menjadi benteng dari belakang.
> 
> Dan yang agak mengherankan Aswin, sebanyak itu
> kerumunan orang di halaman tidak seorangpun yang
> mencoba naik ke atas rumah gadang itu. Orang
> berkumpul
> bergerombol di dekat tangga naik seolah-olah sedang
> menantikan sesuatu. Padahal mereka sudah membeli
> karcis masuk ketika memasuki pekarangan ’istano’ dan
> tertulis sebagai tanda masuk ke dalam istano
> tersebut.
> Pohan juga tidak menjelaskan apa-apa. Di antara yang
> sedang berdiri di sana ada beberapa orang berpakaian
> hitam-hitam dan berdestar.  Mereka berdiri di
> tengah-tengah pengunjung berdua-berdua di tempat
> yang
> terpisah. Sepertinya memang ada sesuatu yang
> ditunggu.
> 
> Tiba-tiba Aswin dikejutkan oleh suara seseorang yang
> 
> berdiri di dekatnya berbicara seperti berpidato
> dalam
> bahasa Minang. Aswin langsung ingat, tentu ini yang
> 
=== message truncated ===



St. Lembang Alam




 
____________________________________________________________________________________
Be a PS3 game guru.
Get your game face on with the latest PS3 news and previews at Yahoo! Games.
http://videogames.yahoo.com/platform?platform=120121

Sukseskan Pulang Basamo se Dunia, Juni 2008.
-----------------------------------------------------------------
Website: http://www.rantaunet.org
============================================================
UNTUK SELALU DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply.
- Email dengan attachment tidak dianjurkan, sebaiknya melalui jalur pribadi.
- Posting email, DITOLAK atau DIMODERASI oleh system, jika:
1. Email ukuran besar dari >500KB.
2. Email dikirim untuk banyak penerima.
--------------------------------------------------------------
* Berhenti (unsubscribe), berhenti sementara (nomail) dan konfigurasi 
keanggotaan, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting
* Membaca dan Posting email lewat web, bisa melalui mirror mailing list di:
http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/messages
http://groups.google.com/group/RantauNet?gvc=2
dengan mendaftarkan juga email anda disini dan kedua mirror diatas.
============================================================

Kirim email ke