Assalaamu'alaikum wa rahmatullahi wa barakaatuhu

Iko nan ka 13. Taruih juo lai baru sudah iko, tapi
ambek cah dulu. Dek banyak urusan siang ariko. 

Wassalamu'alaikum,

Lembang Alam


13.     Tabek Patah

Langit cerah sore ini. Warna rumah gadang istano Pagar
Ruyung yang kaya dengan warna kehitaman terlihat indah
dibawah naungan birunya langit. Cahaya matahari sore
memandikannya melalui setiap lekuk ukiran yang
berwarna warni, sehingga tampak berbinar-binar. Tak
puas mata memandang. Dan bangunan ini memang lebih
indah dilihat dalam keutuhannya. Aswin masih terpaku
memandangnya dari sini, dari pelataran parkir. Ketika
mereka siap mau berangkat meninggalkan tempat ini.

Merekapun berangkat. Melalui jalan yang tadi mereka
tempuh ketika datang. Menuju mula-mula ke Batu
Sangkar. Melalui deretan kampung dan nagari. Yang juga
mempunyai rumah gadang yang indah berukir-ukir,
terlihat di sisi jalan. Meski tentu saja tidak seindah
istano Pagar ruyung.

’Dari Batu Sangkar ke Bukit Tinggi kita bisa juga
melalui Padang Panjang. Kalau kita menempuh jalan itu
berarti kita mengelilingi gunung Marapi. Tapi kita
tidak akan melalui jalan tersebut karena kita akan
singgah di Tabek Patah,’ Pohan mengawali pembicaraan.

’Kalau kita melalui Padang Panjang tidak adakah objek
wisata lain di jalan?’

’Ada. Batu bertikam di Limo Kaum. Di sekitar lokasi
batu itu sekarang ada taman bunga,’ jawab Pohan.

’OK, saya pernah membaca tentang hal itu. Batu yang
konon di tikam oleh salah seorang Datuk  di antara
Datuk Perpatih dan Datuk Ketumanggungan waktu
beliau-beliau ini berselisih pendapat. Iya kan?’ Aswin
mengomentari.

’Kali ini ternyata kamu lebih tahu. Benar, batu itu
sebuah batu berlubang, meski lubangnya terlalu besar
sebagai bekas tikaman. Sayang cerita batu bertikam itu
hanya diceritakan dari mulut ke mulut dan agak susah
membuktikan kebenarannya,’ Pohan mencoba menjelaskan.

’Ya. Dan di prasasti batu bersurat mungkin tidak ada
cerita tentang  sejarah batu bertikam.’

’Bagaimana pendapatmu tentang ’istano’ Pagar Ruyung?’
tanya Pohan pula.

’Bagus dan indah sekali. Ukiran dan warna cat pada
ukirannya sangat khas negeri Minangkabau. Lumayan
untuk dikunjungi dan dilihat para pengunjung. Tapi
istano itu sepertinya hanya untuk simbol saja. Istano
yang asli aku rasa tidak seperti ini,’ jawab Aswin.

’Maksudmu?’

’Aku tidak yakin istano yang asli juga bertingkat
seperti yang sekarang ini. Dan menurut literatur yang
aku baca, bangunan rumah adat Minangkabau tidak ada
yang bertingkat. Satu lagi yang aku perhatikan, bagian
yang ketinggian di sebelah kedua ujung istano tidak
mempunyai jendela. Entah kenapa demikian,’ kata Aswin.

’Kamu ternyata seorang pemerhati dan kritikus yang
baik. Aku tidak pernah terpikir tentang kedua hal itu.
Tapi benar, istano ini hanya sebagai lambang atau
simbol seperti yang kamu katakan. Pada dasarnya Negeri
Minangkabau sudah lama tidak mengenal raja. Istano
yang dimiliki raja terakhir Minangkabau kabarnya di
hancurkan oleh tentara Paderi di awal abad ke sembilan
belas. Istano atau rumah gadang penggantinya dibuat
jauh kemudian, dan istano ini yang terbakar di akhir
tahun lima puluhan. Istano pengganti sekarang ini baru
selesai di penghujung tahun tujuh puluhan,’ ungkap
Pohan.

’Aku sedang membaca kisah Cindurmato yang dibeli
kemarin. Istano  negeri yang dipimpin Bundo Kanduang
tentulah di Pagar Ruyung ini. Apakah mungkin di istano
yang dihancurkan oleh pasukan Paderi itu?’

’Itulah yang susah dijawab. Tidak ada yang tahu kapan
tepatnya Bundo Kanduang memimpin negeri Minangkabau.’

’Tapi cerita tentang Bundo Kanduang sendiri harusnya
bukan fiksi?’

’Aku yakin keberadaan Bundo Kanduang bukan khayalan.
Meskipun di akhir cerita Cindurmato nanti akan kamu
temui bagian yang kurang masuk akal. Pada saat
terakhir Bundo Kanduang beserta putera dan menantunya
terbang ke langit dengan kendaraan perahu terbang.
Bagian ini pasti tidak benar.’

’Aku setuju. Dan tempat-tempat di dalam cerita itu
masih jelas.  Kalau tidak salah tempat tinggal  Datuk
Bendahara, salah satu pembantu Bundo Kandung adalah di
Sungai Tarab, kampung dekat tempat kita makan siang
tadi. Apakah pengganti tempat tinggal Datuk Bendahara
masih ada di kampung itu?’

’Entahlah. Aku tidak tahu. Paling tidak aku tidak
pernah mendengar.’
 
Tak terasa mereka sudah hampir sampai di Tabek Patah.
Hari sudah menjelang maghrib. Mereka masuk ke area
Panorama melalui jalan kecil yang sedikit mendaki. Di
lapangan parkir ada beberapa buah kendaraan pribadi.
Jadi pelancong kemalaman ini bukanlah mereka saja
rupanya. Atau mungkin pemandangan di sini lebih indah
saat matahari menjelang terbenam? Aswin bertanya-tanya
dalam hatinya.

’Mungkin terlalu sore kita mampir kesini,’ kata Aswin.

’Iya juga sih. Tapi tidak apa-apa. Kita masih bisa
melihat pemandangan ke bawah dari panorama ini
sekarang. Nanti kita bisa shalat maghrib di mushala di
sini. Sesudah shalat kita masih bisa melihat panorama
yang sama di bawah sinar bulan,’ jawab Pohan pula.

Dan benar saja. Pemandangan indah di senja hari itu
terlihat mempesona. Di bawah terhampar dataran yang
luas. Umumnya merupakan sawah yang sambung menyambung.
Di beberapa tempat terlihat rimbunan pepohonan dari
kampung-kampung seperti onggokan di tengah-tengah
hamparan. Ada beberapa teropong pula terdapat di sini.
Dengan bantuan teropong Aswin mengintip ke arah
hamparan luas itu. Ke arah kampung yang mempunyai
rimbunan pohon-pohon. Sungai-sungai kecil di kejauhan
sana tercirikan dari pohon-pohon yang berbaris
berbelok-belok mengikuti aliran sungai. 

’Dimana posisi kita ini sebenarnya? Apakah kita sedang
berada di sebuah bukit? Kecuali melalui jalan yang
berbelok-belok, rasanya kita tidak pernah mendaki
bukit dalam perjalanan tadi. Jalan mendaki hanya dari
jalan raya di depan ini saja,’ Aswin bertanya dengan
sedikit penasaran.

’Maksudmu di bandingkan dengan tanah datar di bawah
itu?

’Ya.’

‘Kita berada di ’matakaki’ gunung Marapi. Dan hamparan
di bawah itu persis di telapak kakinya he..he..,’ 
jawab Pohan asal-asalan.

’Oh ya?’

’Kita berada di bagian bawah gunung Marapi dan lembah
itu ibarat ngarai seperti ngarai Sianok. Hanya tidak
bertepi,’ Pohan menambahkan. Kali ini lebih serius.

’Ya. Cantik sekali. Lain indah pemandangan dari Puncak
Lawang, lain pula indahnya tempat ini,’ komentar
Aswin.

Azan maghrib terdengar dikumandangkan. Dari arah
lembah suara azan terdengar sayup-sayup
bersahut-sahutan. Bulan yang nyaris membundar,
terlihat di langit sebelah timur lembah, mulai sedikit
berbinar seiring meredupnya cahaya siang. Para
pelancong di panorama ini semakin asyik terbuai oleh
suasana syahdu pergantian siang dan malam seperti ini.
Indah.

Lalu mereka pergi shalat maghrib ke mushala di dekat
pelataran parkir. Sebuah mushala mungil asri dan
bersih. Beberapa orang petugas dan polisi wisata sudah
hadir di mushala itu. Dan di belakang mereka
serombongan kecil pelancong tadi juga ikut datang
untuk melaksanakan shalat maghrib. Mereka ternyata
pelancong dari Malaysia.

Sesudah shalat mereka kembali lagi ke atas sana.
Pemandangan di lembah itu sekarang berwarna kuning
pucat bermandikan cahaya bulan. Lain pula syahdunya
pemandangan seperti ini. Cahaya lampu di
kampung-kampung di kejauhan sana terlihat seperti
manik-manik. Dan di tempat mereka berada terdengar
suara jengkerik sedikit mengusik kesyahduan.

’Enche dari mana? Kelihatannya bukan orang asli kat
sini?’ tanya seorang pelancong Malaysia tadi yang juga
ikut kembali ke sini seusai shalat maghrib. 

’Saya asli dari sini. Dia ini saudara sepupu saya dari
Amerika. Bapak sendiri dari mana?’ tanya Pohan.

’Saya dari Negeri Sembilan, Malaysia. Datang
menziarahi kampung nenek datuk saya ke negeri yang
sangat elok ni. Dari tadi saya tengok yang awak berdua
bercakap Indonesia, tapi saya dengar saudara awak
banyak mengeluarkan kata-kata bahasa Inggeris. Saya
tertanya-tanya tampaknya saudara yang satu ni bukan
datang dari kat sini. Apa mungkin dari Malaysia juga.
Tapi saya tengokpun, bahasanya tak pula bahasa Melayu.
Rupanya dari Emerika,’ kata enche Malaysia itu panjang
lebar.

’Saya juga datang ke kampung ayah saya. Ayah saya
mamak dari saudara saya ini. Kampung beliau di Koto
Gadang,’ Aswin ikut berbicara, setelah mereka
bersalam-salaman.

’Oooh. Jadi awak dan ayah awak sekarang tinggal di
Emerika Syarikat?’

‘Benar. Dan bapak? Sudah bertemu kampung nenek
datuknya?’ tanya Aswin pula.

‘Saya dah lihat ada kampung Batu Hampar manakala kami
melalui lebuh nak  ke Pagar Ruyung siang tadi. Tapi
entahlah kampung itu yang merupakan kampung asal nenek
buyut saya. Saya generasi keempat yang tinggal di
Negeri Sembilan. Manalah boleh nak tanya tanya lagi,
kalaupun itu betul kampung datuk saya. Suku saya Batu
Hampar,’ jawab orang itu.

‘Baru sekali ini datang ke sini?’ tanya Pohan.

‘Dah berulang kali. Tak ada bosan-bosan menengok
negeri indah permai cam ni. Dan lagipun dekat saja.
Sekarang 45 minit dah sampai. Kalau enche muda ni?
Siapa nama? Baru sekali ini ke?’

‘Ya. Nama saya Aswin. Baru sekali ini. Saya umur lima
tahun di bawah ayah ke Amerika dan sejak itu belum
pernah pulang ke Indonesia. Waktu kecil saya juga
belum pernah dibawa ke kampung ayah,’ jawab Aswin.

‘Bertuah kita jadi anak cucu orang Minangkabau yang
negerinya sangat elok ni.’

Mereka masih bercakap-cakap dengan orang-orang
Malaysia itu beberapa saat lagi, di panorama Tabek
Patah. Sebelum mereka menuju Bukit Tinggi. Di bawah
cahaya bulan.

                        *****




St. Lembang Alam




 
____________________________________________________________________________________
Do you Yahoo!?
Everyone is raving about the all-new Yahoo! Mail beta.
http://new.mail.yahoo.com

Sukseskan Pulang Basamo se Dunia, Juni 2008.
-----------------------------------------------------------------
Website: http://www.rantaunet.org
============================================================
UNTUK SELALU DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply.
- Email dengan attachment tidak dianjurkan, sebaiknya melalui jalur pribadi.
- Posting email, DITOLAK atau DIMODERASI oleh system, jika:
1. Email ukuran besar dari >500KB.
2. Email dikirim untuk banyak penerima.
--------------------------------------------------------------
* Berhenti (unsubscribe), berhenti sementara (nomail) dan konfigurasi 
keanggotaan, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting
* Membaca dan Posting email lewat web, bisa melalui mirror mailing list di:
http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/messages
http://groups.google.com/group/RantauNet?gvc=2
dengan mendaftarkan juga email anda disini dan kedua mirror diatas.
============================================================

Kirim email ke