Tikus Indonesia dan Kucing Cina Suatu hari, pada bulan Juni 1921, di tengah kota Shanghai diselenggarakan Kongres Partai Komunis Cina (PKC) yang pertama. Kongres ini dihadiri delegasi dari kelompok marxis, sosialis dan komunis dari seluruh daratan Cina. Tentu saja hadir pula Mao Zedong yang ketika itu masih tergolong anggota termuda partai, namun yang kemudian namanya mencuat dan berhasil memproklamasikan berdirinya Republik Rakyat Cina (RRC) pada tahun 1949. Dia pun melakukan pembenahan terhadap partai dan bahkan menjadi Ketua Partai Komunis Cina sampai akhir hayatnya. Garis politik partai yang dia jalankan, menutup diri dari dunia luar. Sangat eksklusif. Karena itu sejak Mao berkuasa sebagai ketua partai, Cina dikenal sebagai "negeri tirai bambu".
Salah satu peristiwa penting yang terjadi di masa kepemimpinan Mao adalah Revolusi Besar Kebudayaan Proletar yang mengakibatkan banyak kerusakan berbagai bangunan tradisional Cina, rumah-rumah peribadatan bahkan tradisi bangsa Cina itu sendiri yang dianggap tidak sesuai dengan garis politik PKC. Karena menimbulkan banyak kerugian, melahirkan banyak tindak anarkhis dan otoriter terutama yang dilakukan oleh Pengawal Merah maupun fungsionaris partai, maka Revolusi Kebudayaan ini resmi dibubarkan oleh PKC sendiri. Mao yang menganut garis keras dan menghendaki dilaksanakannya ajaran komunis "secara murni dan konsekwen" ini tentu tidak tahu bahwa para penerusnya, justru membawa PKC semakin "tidak murni dan tidak konsekwen".Membawa PKC yang semula merah darah menjadi flamboyant. Sambil terus mengumandangkan garis sosialisme, mereka semakin kental mempraktekkan kapitalisme. PKC tidak lagi dimonopoli oleh orang-orang ortodoks versi Mao, melainkan para intelektual yang bersikap pragmatis terutama di bidang politik dan ekonomi. Bahkan Deng Xiaoping "murid" Mao yang kemudian "murtad" meninggalkan ajaran sang guru, melahirkan diktum yang terkenal: "Bu guan hei mao bai mao neng zhua dao laoshu jiu shi hao mao". Tidak masalah apakah kucing itu hitam atau putih, asal bisa menangkap tikus. Garis kepemimpinan Deng ini jelas tidak ada konteks lagi dengan maoisme, apalagi marxisme yang sudah membuat garis tegas, mana kapitalis penindas, mana kaum buruh tertindas, mana kawan mana lawan. Tetapi kucing Deng ini membuahkan hasil yang luar biasa. Sejak itulah rakyat Cina bangkit meninggalkan kemiskinan dan melepaskan semua belenggu dogma maoisme bahkan juga marxisme. Yang menjadi anggota partai justru yang dulu harus dibasmi, yakni kaum borjuis sampai kapitalis. Kucing Deng menjadikan Cina sebagai calon negara adidaya baru, bahkan sekarang pun sudah menjadi negara maju yang dominan di dunia, baik dalam segi kekuatan ekonomi, teknologi dan militer maupun pengaruh politiknya sesudah AS, Jepang dan Jerman. Bagaimana dengan Indonesia? Di negeri yang beda dengan tetangga-tetangganya, yakni tidak semakin maju melainkan semakin merosot di segala bidang ini, tidak ada kucing Deng seperti di Cina, tetapi banyak memiliki tikus. Kalau di Cina ada semboyan tidak masalah kucing hitam atau kucing putih yang penting bisa menangkap tikus, maka di Indonesia juga ada semboyan tidak masalah tikus hitam atau tikus abu-abu, tikus sawah atau tikus got, yang penting bisa korupsi. Maka di negeri yang berdasarkan Pancasila dengan msyarakatnya yang konon religius ini tikus ada di mana-mana, mulai di lembaga legislatif, eksekutif bahkan juga yudikatif. Lembaga-lembaga yang secara resmi dibentuk untuk memberantas tikus justru menjadi sarang tikus. Sudah lama pula Departemen Agama - sebuah lembaga pemerintah yang bertugas mensosialisasikan ajaran agama, mengakomodir kegiatan-kegiatan keagamaan, dan kita tahu agama apa pun tidak membenarkan tindak korupsi - malah dikenal sebagai sarang tikus terbesar bila dibanding dengan departemen lainnya. Kucing Cina membawa berkah bagi rakyat negeri itu. Tikus Indonesia membawa bencana bagi bangsa, negara dan rakyat negeri ini. Dari tahun ke tahun Indonesia menduduki posisi sebagai negara dengan tingkat korupsi yang tinggi, baik menurut ukuran Asia maupun dunia. Kucing di Cina setiap harinya berhasil menangkap tikus dan menyeretnya langsung ke pengadilan. Bila terbukti bersalah melakukan korupsi, langsung kena dor tanpa menunggu besok atau lusa. Tingkat kesejahteraan rakyat Cina terus melaju berkat kucing-kucing yang tegas dan piawai dalam menangkapi tikus. Kesejahteraan rakyat Indonesia terus merosot karena bukan saja tikus-tikus tidak dapat ditangkap oleh kucing yang seharusnya menangkapnya, bahkan si kucing berkolaborasi dengan tikus untuk memperlancar jalannya korupsi. Di Cina tikus takut pada kucing, di Indonesia kucing takut pada tikus. Di Cina ada Revolusi Besar Kebudayaan Proletar yang merusak segala tatanan hidup budaya rakyat Cina yang sudah mapan. Di Indonesia ada "revolusi besar budaya korupsi" baik yang dilakukan oleh birokrat atau bukan, yang telah merusak segala tatanan hukum negeri ini. Lain kucing Cina, lain tikus Indonesia, hehehehehehe Salam Kenal IQBAL
Sukseskan Pulang Basamo se Dunia, Juni 2008. ----------------------------------------------------------------- Website: http://www.rantaunet.org ============================================================ UNTUK SELALU DIPERHATIKAN: - Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply. - Email dengan attachment tidak dianjurkan, sebaiknya melalui jalur pribadi. - Posting email, DITOLAK atau DIMODERASI oleh system, jika: 1. Email ukuran besar dari >500KB. 2. Email dikirim untuk banyak penerima. -------------------------------------------------------------- * Berhenti (unsubscribe), berhenti sementara (nomail) dan konfigurasi keanggotaan, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-config * Membaca dan Posting email lewat web, bisa melalui mirror mailing list di: http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/messages http://groups.google.com/group/RantauNet?gvc=2 dengan mendaftarkan juga email anda disini dan kedua mirror diatas. ============================================================

