Assalaamu'alaikum wa rahmatullahi wa barakaatuhu
Taruih juo lai baru
Wassalamu'alaikum,
Cerita ini hanyalah khayalan semata. Nama-nama orang yang disebutkan di dalam
cerita ini bukan mewakili sipapun. Kesamaan nama bukanlah dimaksudkan untuk
menyalahgunakan nama pribadi siapapun. Keadaan di tempat-tempat wisata yang
diceritakan adalah angan-angan dan harapan. Mudah-mudahan ke pariwisataan di
Sumatera Barat di suatu hari nanti menyerupai yang diceritakan disini.
Penulis.
21. Teluk Bungus
Teluk Bungus terletak sekitar 20 kilometer di sebelah selatan kota Padang.
Untuk mencapainya harus melalui jalan ke Teluk Bayur dan terus ke arah selatan
melalui jalan berliku di perbukitan di tepi pantai. Sepanjang jalan di punggung
bukit ini terlihat pemandangan yang indah dan memukau. Terutama pemandangan ke
arah lautan Hindia yang luas terbentang, dengan warna biru berkilau. Teluk
Bungus merupakan sebuah teluk yang cukup luas, bahkan lebih luas dari pelabuhan
Teluk Bayur, dan menjadi objek wisata yang sangat popular di kota Padang.
Dikelilingi oleh perbukitan, bibir pantai Teluk Bungus terlihat agak sempit di
bagian utara dan selatan. Jalan masuk ke pantai di teluk ini terletak di
bagian tengah teluk, menurun dari bukit ke arah pantai yang lebih lebar di
bagian ini.
Orang datang ke sini untuk berenang dan menyelam, melihat keindahan dasar laut
dengan segenap faunanya. Ada juga yang datang untuk memancing. Di sisi sebelah
utara ada perkampungan nelayan, dan orang juga dapat melihat perahu nelayan
yang beriring-iring dari sini menuju ke tengah laut untuk mencari ikan. Di
bagian tengah yang lebih luas dan landai banyak terdapat bungalow dan villa,
tempat orang dari kota Padang datang menginap di akhir pekan. Suasana di Teluk
Bungus lebih tenang dibandingkan dengan suasana kota Padang yang sibuk dan
ramai.
Dinas pariwisata pemerintah daerah menjaga benar keindahan dasar laut di teluk
ini karena pemandangannya sangat menyenangkan bagi para pelancong. Penggunaan
speed boat dan perahu bermotor di larang agar tidak mencemari laut. Disini
pelancong bisa juga berlayar dengan menggunakan perahu layar tanpa mesin. Atau
mereka dapat menyelam ke dasar laut di bagian pinggir yang hanya sekitar dua
atau tiga meter dalamnya. Bagian dasar laut ini ditumbuhi terumbu karang
berwarna warni dan banyak ikan berukuran kecil sampai sedang bermain di
sela-sela karang.
Jam delapan kurang, Pohan dan Aswin sudah sampai di Teluk Bungus. Tapi
sebelumnya mereka masih sempat melihat orang menarik pukat tidak jauh dari
Hotel Pangeran. Orang menarik pukat itu terlihat secara kebetulan oleh Aswin,
di pantai sebelah utara bangunan hotel, ketika dia memandang dari jendela
hotel. Tadi, jam enam pagi mereka sudah sarapan. Dan sesudah itu langsung
check out dari hotel. Sebelum menuju ke arah Teluk Bayur untuk pergi ke Teluk
Bungus, mereka singgah ke tepi pantai di sebelah utara hotel, ke tempat para
nelayan sedang menarik pukat beramai-ramai. Pemandangan orang menarik pukat
yang dilakukan tidak jauh dari hotel ini termasuk sebuah atraksi untuk ditonton
pelancong yang menginap di hotel. Sebelumnya, kegiatan ‘mahelo pukek’ ini sudah
semakin langka. Mungkin karena secara materi hasilnya semakin kurang
meyakinkan. Pukat yang di di tarik beramai-ramai oleh sekumpulan sekitar lima
belas orang, sebelumnya menjelang subuh dihantarkan dengan perahu ke tengah
laut, sekitar dua sampai tiga kilometer dari pantai. Begitu matahari terbit,
mulailah para nelayan itu bergotong royong menarik atau ‘mahelo pukek’ di
pantai yang berpasir. Menarik pukat dalam formasi berbaris ke belakang,
berjalan mundur dengan tangan menghela tali pukat, bahkan ada yang dengan
melilitkan tali itu ke pinggangnya. Setiap kali yang paling belakang cukup jauh
dari tepi air dia berpindah kembali ke depan, menarik sejak dari batas hempasan
ombak. Begitu bergantian berulang-ulang.
Banyak pelancong yang menyaksikan pagi ini. Bahkan ada yang ikut membantu
menarik pukat. Dua orang turis Jepang, ikut berbaris, menghela seirama dengan
para nelayan. Mungkin sebagai pembuktian betapa cintanya orang Jepang terhadap
usaha mencari ikan. Gerakan itu terus berlalu, berjalan mundur ke belakang,
menghela dalam tarikan nafas, meski ada juga yang bersenandung dalam gumaman
laku ’Helo pukek iyo rang helokan’.
Kira-kira sejam sejak tarikan pertama, semakin dekat pukat itu ke pantai.
Bahkan sudah terlihat beriak-riak di dalam laut yang bukan riaknya gelombang.
Ketika ikan di dalam pukat berusaha menggelepar dalam pukat yang semakin
menyempit saja. Lalu satu, dua, tiga, empat lima, enam............. Seseorang
memberi komando, karena perut pukat sudak muncul di pasir yang masih dihempas
oleh ombak. Menggelembung penuh berisi ikan. Pukat itu sampai sudah di pantai,
di tarik ketempat kemudian ikan-ikan itu diambil dan dipindahkan ke
keranjang-keranjang yang sudah disediakan. Macam-macam ikan yang tertangkap.
Tenggiri, cakalang, kakap, dan entah apa saja lagi. Bermacam-macam pula
warnanya. Semua menggelepar-gelepar. Dan tertangkap pula seekor kura-kura di
dalam pukat. Yang tadi memberi komando, yang mungkin memang pemimpin nelayan
itu menyuruh lepaskan penyu itu kembali ke laut. Karena memang ada himbauan
pemerintah daerah untuk melindungi penyu.
Kedua orang Jepang yang ikut menghela pukat nampak sangat exited. Dia ikut
menimang-nimang ikan tenggiri sebelum memasukkannya ke keranjang. Si pemimpin
berceloteh.
’Hajan inyo ko mah yuang. Agieh lah inyo gak duo ikue, nak dimakan nyo
matah-matah lauek tu...’
Teman-teman nelayan tertawa mendengar.
Aswin juga sangat terkagum-kagum melihat hasil tangkapan dengan cara
tradisional yang sederhana itu. Terkagum-kagum melihat ikan segar dan
besar-besar menggelepar. Ada ikan kakap yang sekitar sepuluh kilo beratnya.
Tangkapan yang sangat bagus. Dan ikan-ikan yang besar-besar itu tanpa di lelang
sudah di pesan oleh hotel. Untuk jadi santapan tamu hotel nantinya. Ikan segar
yang baru keluar dari laut yang kaya raya, di hadapan kota Padang.
Setelah menyaksikan pemindahan ikan ke keranjang itu barulah Aswin dan Pohan
berangkat meninggalkan pantai. Keluar ke arah jalan raya Ir. H. Juanda
kembali. Berbelok ke kanan. Mereka menuju ke arah Teluk Bayur. Melalui jalan
yang sedikit macet di tengah kota. Mereka sempatkan juga melihat-lihat sambil
terus melaju, bagian-bagian kota Padang. Berjalan di jalan raya di tepi pantai.
Melalui Muaro, jembatan Siti Nurbaya, Kampung Cina dengan bangunan antik tempo
doeloe di Pondok.
Lalu terus ke arah pelabuhan Teluk Bayur. Terus lagi ke arah selatan melalui
jalan berbukit dan berliku. Kadang-kadang mendaki, lalu berbelok, menurun dan
berbelok patah mengelilingi bukit. Kadang-kadang merapat ke pantai lalu agak
menjauh. Di sepanjang jalan terlihat pohon-pohon cukup tinggi berbaur dengan
pohon kelapa di lereng perbukitan ini. Setelah melalui semua itu akhirnya
mereka sampai di Teluk Bungus.
’Waaw, ini bagus sekali,’ komentar Aswin waktu mereka turun menuju pantai Teluk
Bungus, memandang teluk luas yang hanya beriak kecil saja di pagi ini,
terbentang di hadapan.
’Inilah Teluk Bungus,’ kata Pohan.
’Indah. Sangat indah,’ kata Aswin.
Pantai Teluk Bungus sudah ramai pagi-pagi begini. Para pelancong ramai-ramai
berenang dan menyelam. Dan ada juga yang masih berjalan-jalan di sepanjang
pantai tapi sudah berpakaian untuk berenang. Laut biru dan tenang memang sangat
mengundang untuk diterjuni dan dijelajahi.
’Kita bisa menyewa alat untuk menyelam di sini,’ kata Pohan waktu mereka keluar
dari mobil.
’Pakaian dan tabung udara untuk menyelam maksudnya?’
’Mungkin itu juga ada. Tapi bukan itu yang aku maksud. Sekedar alat snorkling.
Untuk melindungi mata. Kita tidak usah sampai masuk jauh ke tengah laut. Di
pinggir-pinggir sini saja cukup indah dasar lautnya,’ kata Pohan.
Dan itulah yang mereka lakukan. Menyewa alat snorkling, berikut sepatu
pendayung, dan menyelam di sekitar pinggir laut yang relatif tenang airnya.
Indah sekali pemandangan di bawah sana, dengan terumbu karang dan ikan-ikan
yang seolah-olah seperti bisa ditangkap dengan tangan. Kedua anak muda itu
sangat pandai berenang dan menyelam. Mereka seperti melayang dalam air.
Mengejar ikan-ikan yang tentu saja jauh lebih gesit. Bergerak ke mana-mana.
Bermacam-macam jenis dan warna ikan di bawah sana. Ada ikan-ikan kecil berwarna
hijau kekuningan yang ratusan atau bahkan mungkin ribuan jumlahnya berenang
berkelompok. Seperti ada komandan pemimpinnya, dan yang lain, yang jumlahnya
sangat banyak itu mengiring di belakang, berenang melingkar-lingkar. Dan ada
pula cumi-cumi yang berenang seperti payung yang mengembang menguncup lucu
sekali. Di dasar laut, di sela-sela karang, ada sejenis ikan yang bersembunyi,
mengintip mangsanya, ikan kecil lainnya dan dengan kesigapan luar biasa
menangkap mangsa itu.
Mereka lihat ikan pari berenang. Ada tiga ekor berenang terpisah. Ikan yang
mirip tempayan besar, dengan buntut panjang. Aswin memberi isyarat agar menjauh
dari ikan pari itu. Pohan maklum dengan isyarat itu, bahwa ikan pari sangat
berbahaya dengan pecut ekornya yang berbisa. Tapi kalau tidak diganggu,
mudah-mudahan ikan itu juga tidak akan menyerang balik.
Semua pemandangan itu indah dan menakjubkan. Tidak bosan-bosan untuk
mengamatinya. Turis-turis Jepang atau mungkin juga orang Korea datang dengan
perlengkapan yang lebih lengkap dengan kamera, mengabadikan pemandangan dasar
laut ini. Mereka menyelam ke tempat yang lebih dalam.
Dengan peralatan sederhana yang mereka sewa, Pohan dan Aswin tidak bisa pergi
ke tempat yang dalam. Kadang-kadang mereka naik dulu ke permukaan sebentar lalu
kembali lagi berenang dan menyelam. Menikmati panorama bawah air yang sangat
elok. Tapi akhirnya mereka kecapekan juga. Sesudah sekitar satu setengah jam
bermain dalam air akhirnya mereka berhenti dan keluar dari laut. Aswin yang
lebih dulu mengajak keluar.
’Perjalanan kita masih akan berlanjut. Sebaiknya kita tidak terlalu lama di
sini. Nanti kamu terlalu capek menyetir,’ katanya.
’OK. Kalau begitu kita keluar sekarang saja,’ kata Pohan setuju.
Mereka mengembalikan peralatan yang mereka sewa. Lalu mandi di kamar mandi di
tempat penitipan barang. Dan bersiap-siap untuk berangkat. Di dalam laut masih
banyak orang yang berenang dan menyelam. Ada juga yang baru saja sampai.
’Benar-benar indah,’ Aswin berkomentar. ’Kalau waktuku banyak ingin aku
menginap di tempat yang cantik ini.’
’Sayang kamu terburu-buru. Atau kamu segera saja kembali lagi. Masih banyak
sebenarnya objek wisata yang perlu dikunjungi di negeri ini,’ Pohan
mengomentari.
’Aku akan kembali. I shall return, for sure,’ jawab Aswin.
‘Dan jangan hanya untuk seminggu,’ tambah Pohan.
‘You know what? Aku akan berpromosi kepada teman-temanku di sana tentang
Minangkabau Country. Akan aku perlihatkan foto-foto yang aku ambil selama
kunjungan ini. Satu hari nanti aku akan datang dengan rombongan pelancong ke
sini. Kamu bersiap-siap saja untuk jadi pemandu kami. I promise, I shall
return.’
‘No problem. Aku akan selalu siap. Insya Allah.’
‘Ya. Insya Allah.’
*****
_________________________________________________________________
Call friends with PC-to-PC calling -- FREE
http://get.live.com/messenger/overviewSukseskan Pulang Basamo se Dunia, Juni 2008.
-----------------------------------------------------------------
Website: http://www.rantaunet.org
============================================================
UNTUK SELALU DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply.
- Email dengan attachment tidak dianjurkan, sebaiknya melalui jalur pribadi.
- Posting email, DITOLAK atau DIMODERASI oleh system, jika:
1. Email ukuran besar dari >500KB.
2. Email dikirim untuk banyak penerima.
--------------------------------------------------------------
* Berhenti (unsubscribe), berhenti sementara (nomail) dan konfigurasi
keanggotaan, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-config
* Membaca dan Posting email lewat web, bisa melalui mirror mailing list di:
http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/messages
http://groups.google.com/group/RantauNet?gvc=2
dengan mendaftarkan juga email anda disini dan kedua mirror diatas.
============================================================