Website: http://www.rantaunet.org ==========================================
Assalamu'alaikum wr. wb. Walaupun terlambat, ambo berterima kasih ka Ibu/Uni Hanifah untuk berbagai cerita ini. Insya Allah setiap peristiwa memberi pesan tersendiri kepada kita, terlebih lagi pengalaman terkait maut ini. Kepada Allah jua lah kita tujukan segala pinta dan mohon. Kalau tidak keberatan, ambo pun ingin babagi cerita soal menunggu orang menjelang maut. Kebetulan ini pengalaman ambo jo nenek ambo Hj. Chadidjah binti Wahab yang meninggal sekitar sepuluh tahun lewat. Ambo memang mendapat amanah dari beliau, jauh-jauh hari sebelum beliau meninggal, di kala masih sehat, saat bergurau atau pun sedang rusuah hati beliau. Beliau bapasan agar ambo ado di sisi beliau saat beliau menjelang maut hingga mengantarkan beliau ke liang kubur. Sebelum ajal beliau tiba, menjelang masuk ICU, ambo lah berada di sisi baliau demi amanah itu. Satu dua hari menjelang masuk ICU, beliau bercerita bahwasanya banyak sekali orang besar-besar berbaju putih berada di ruangan kamar beliau istirahat. Ambo perhatikan bana tembok-tembok putih di kamar itu, kalau mungkin dapat pulo ambo melihat orang berbaju putih itu. Selain itu buru-buru ambo pai berwudhu untuk baco Qur'an, menghilangkan perasaan yang berkecamuk di dada ambo. Keesokan harinya, bacurito baliak beliau. Win, orang berbaju putih itu datang lagi, tapi kini hanya berdua saja. Tak lama setelah cerita itu, beliau kami larikan ke ICU. Dalam perawatan di ICU dan menjelang koma beliau, ado pulo hal berkesan nan ambo rasokan. Kepada setiap yang datang, nan ditanyokan beliau adalah nama ambo, bahkan jika ditemani amak ambo, anak beliau satu-satunya. Sehinggo, bilo lah sampai ke RS, langsuang sajo ambo masuk ke ICU karena lah diimbau urang bahwa baliau mamanggil-manggil nama ambo. Pun ketika beliau koma, di saat penunjuk parameter kondisi beliau tidak stabil, suster biasanya memanggil ambo untuk masuk ke ruangan perawatan. Anehnya, begitu ambo berada di sisi beliau, parameter kembali ke kondisi stabil. Setelah melewati kondisi kritis dan kembali sadar, tetapi tetap dengan alat bantu pernapasan dan lainnya, beliau meminta pulang karena sudah tidak kerasan berada di RS. Permintaan yang sangat kami sadari konsekuensinya, karena melepas alat bantu kehidupan. Setelah bertanya kepada ulama dan diberitahu tidak baik "menahan-nahan" kehidupan beliau dengan alat bantu tersebut, dan setelah memohon keridaan semua pihak, keputusan pun dijatuhkan, beliau akan kami bawa pulang. Menjelang pulang, ambo melihat keceriaan di wajah beliau, lai sempat beliau tersenyum ke ambo. Dalam perjalanan pulang di atas mobil jenazah RS beliau tetap tenang, dengan alat bantu pernafasan ke hidung yang sederhana. Sementara kami mulai menahan duka dan air mata yang jatuh satu dua sambil menghitung waktu. Di rumah, Ambo membantu beliau shalat Zuhur dan terus membaca Yasin, sambil membimbing kalimat Tauhid keluar dari mulut beliau. Ketika kalimat Allah terhenti dari mulut beliau, dan seorang kerabat memeriksa nadi beliau, ambo belum selesai membaca Yasin. Beliau telah pergi, dan kami ridha atas ketetapanMu ya Allah. "Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu agar mati husnul khatimah, dan aku mohon perlindungan dari-Mu dari su'ul khatimah." wassalam, erwin z On Monday 26 February 2007 11:15, hanifah daman wrote: > Waalaikum salam Wr Wb Bapak Saaf yth > > Amin YRA. Makasih doanya pak. > > Hanifah sering kepikiran... apa ketika papa dalam posisi tangan dilipat > seperti sholat... malaikat maut sudah hadir disisi papa? Kenapa papa bilang > dia bisa merasa tangan kiri dan kaki kirinya nya yang hanifah pegang ? > Dalam hati ... jangan-jangan itu adalah rasa ketika maut mulai menjemput. > > Kalau hanifah tidak dipanggil mbak nani kedapur tentulah hanifah sibuk > bermain-main dengan papa .. karena hanifah nggak ngerti kalau ajal papa > sudah dekat. Sebelumnya hanifah juga baru beberapakali menyaksikan orang > meninggal, itupun sudah lama. Dalam hal ini hanifah bersyukur ... tidak > sempat mengganggu lebih jauh jalan papa. > > Sengaja hanifah angkat cerita ini, mudah-mudahan ada pesan tersirat yang > dapat kita petik. Kita patut bersyukur .... bapak Suheimi mau mengupas > tentang Alfatihah. Kan biasanya orang-orang membaca surat Yasin.. tapi kok > papa minta Alfatihah ? Papa suka membaca dan analisisnya bagus sekali. > Waktu mama meninggal ... hanifah tanya ke papa sebaiknya kita baca surat > apa papa ?. Papa nyuruh baca Alfurqan... bukan surat Yasin. > > Ini saja dulu ya pak > > Wass > > Hanifah Damanhuri > > Sukseskan Pulang Basamo se Dunia, Juni 2008. ============================================================ UNTUK SELALU DIPERHATIKAN: - Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply. - Email dengan attachment tidak dianjurkan, sebaiknya melalui jalur pribadi. - Posting email, DITOLAK atau DIMODERASI oleh system, jika: 1. Email ukuran besar dari >300KB. 2. Email dikirim untuk banyak penerima. -------------------------------------------------------------- * Berhenti (unsubscribe), berhenti sementara (nomail) dan konfigurasi keanggotaan, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-config * Membaca dan Posting email lewat web, bisa melalui mirror mailing list di: http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/messages http://groups.google.com/group/RantauNet?gvc=2 dengan mendaftarkan juga email anda disini dan kedua mirror diatas. ============================================================

