Website: http://www.rantaunet.org
==========================================

Dunsanak ysh,
  Sebuah buku terbaru yang mengungkap beberapa peran Adityawarman dalam 
Kerajaan Melayu adalah karya Uli Kozok berjudul “Kitab Undang-undang Tanjung 
Tanah: Naskah Melayu yang Tertua”, diterbitkan oleh Yayasan Naskah Nusantara 
dan Yayasan Obor Indonesia, edisi pertama Juli 2006.
   
  Ada beberapa hal yang saya simpan dulu terhadap okupasi Melayu ke Singhasari, 
penjelmaan Melayu di Jawa menjadi Majapahit, peran Adityawarman di Majapahit, 
kembalinya Adityawarman ke tanah leluhur, alasan pemindahan ‘istana’ dari 
Dharmasraya ke Saruaso, dan beberapa hal lain yang tidak populer selama ini 
diungkapkan dalam berbagai analisis sejarah. Sedikit meloncat ke depan, ketika 
Adityawarman sudah berada di Minangkabau, untuk menanggapi beberapa pernyataan.
   
  Pada masa itu (1347) seharusnya Adityawarman telah cukup berumur dan tentunya 
berbeda masa dengan Jayanegara (1309-1328). Sebagai mantan panglima perang dan 
‘werdha mantri’ Majapahit serta selanjutnya ‘meneruskan’ dinasti Melayu di 
Sumatera hingga jabatan ‘maharajadiraja’, Adityawarman telah memiliki 
pengalaman dan pengetahuan yang sangat cakap di bidang ketatanegaraan.
   
  Bila menelisik Tambo Alam Minangkabau, dapat dilihat bilamana ‘penerimaan’ 
Adityawarman adalah dengan penuh kesukarelaan pada era ‘Datuk Ketumanggungan’ 
dan ‘Datuk Perpatih nan Sabatang’, atau adanya keterbukaan secara adat terhadap 
kehadiran Adityawarman. Yang menarik perhatian saya, kedatangan Adityawarman 
adalah ‘seorang diri’, atau tidak dalam rombongan besar, apalagi bersifat 
‘penundukan’. Sehingga sementara waktu saya sebut sebagai ‘kedatangan urang 
sumando’.
   
  Teori kedua adalah ‘penerimaan sukarela’ karena ideologi keagamaan 
Adityawarman adalah Hindu-Budha atau Tantra, sebagai pengaruh sistem keagamaan 
di Majapahit yang pernah dialaminya pada masa sebelumnya. Pada masa itu saya 
melihat dikotomi keagamaan di Minangkabau cukup terasa yang membentuk pembagian 
tiga luhak: Tanah Datar dan Agam (Ketumanggungan/Hindu) serta Limo Puluh Koto 
(Perpatih nan Sabatang/Budha); sehingga ‘profil’ Adityawarman mudah diterima di 
dalam komunitas adat Minangkabau.
   
  Boleh jadi Adityawarman pada masa mudanya adalah seorang yang ambisius, 
seperti dapat dilihat sewaktu memimpin penaklukan Bali (Pabali 1343); namun di 
usia senjanya di Minangkabau saya memperkirakan beliau adalah seorang yang arif 
bijaksana. Pewarisan dan penularan ilmu pengetahuan dan pengalaman di bidang 
ketatanegaraan adalah sedemikian rupa sehingga tentunya niscaya mempengaruhi 
sedikit-banyak perubahan sistem nilai adat dan kebudayaan Minangkabau. Walaupun 
demikian tiada keinginan dari beliau untuk mengukuhkan suatu sistem monarki 
atau merombak tatanan adat dan kemasyarakatan yang ada di Minangkabau. Bisa 
juga karena resistensi orang Minang yang cukup besar dan waspada terhadap 
berbagai pengaruh eksternal.
   
  Beberapa hal yang masih tersisa dari pengetahuan Adityawarman misalnya: 
delineasi wilayah Minangkabau di tiga luhak, khususnya Tanah Datar; perintisan 
konsep ‘basa ampek balai’ yang begitu fungsional, hingga saat ini menitis 
menjadi ‘urang ampek jinih’; kaidah ‘bajanjang naiak, batanggo turun’; hingga 
kaidah-kaidah ekonomi seperti ‘ameh manah tiang bubug’, pembagian ‘ameh rajo’, 
dan lain sebagainya.
   
  Sementara waktu demikian, wassalam.
   
  -datuk endang


Syafrinal Syarien <[EMAIL PROTECTED]> wrote:  Website: http://www.rantaunet.org
==========================================

Saya meragukan pendapat yang mengatakan bahwa
Adityawarman lah yang banyak mewariskan sistem
ketatanegaraan dan falsafah adat di Minangkabau.

Adityawarman adalah seorang ambisius. Dia balik ke
Sumatra karena di Jawa ia tidak dapat kekuasaan
apa-apa dari Majapahit. Kembali ke Sumatera dia
berharap bisa jadi raja di Dharmasraya menggantikan
kakeknya. Sayang ketika dia balik, ternyata sudah ada
yang menduduki tahta itu. Sistem monarki Dharmasraya
yang patrilineal tidak memungkinkan dia untuk
menggantikan kakeknya karena bapaknya orang Jawa.

Gagal bertahta di Dharmasraya, Adityawarman sakit
hati. Apalagi ambisinya tidak disokong sepupunya
Jayanegara, sang raja majapahit. Kabarnya dia mencoba
melakukan kudeta namun kalah dan terdesak sampai
akhirnya dia mendirikan kerajaan sendiri di sudut
bukit kecil dekat Batusangka itu.

Ia membangun istana dengan corak berbeda dengan
kerajaan Hindu pada masa itu. Istananya sederhana dari
kayu (kalau benar bahwa replika yang terbakar itu
adalah istana Adityawarman). Tanpa patung. Tanpa
alun-alun. Tanpa arca dewa-dewi. Kemungkinan karena
dia ingin melepaskan diri dari pengaruh Majapahit atau
memang kerajaannya sangat miskin sehingga tidak
sanggup untuk bermegah-megah. Mengingat bahwa kerajaan
yang jaya pada masa itu biasanya berlokasi di pinggir
pantai atau dekat aliran sungai sehingga memudahkan
perdagangan lewat jalur air. 

Salah satu versi sejarah menyebutkan bahwa
Adityawarman memerintah dengan otoriter. Sehingga
sebagian anggota keluarga kerajaan yang protes diusir
dari istana. Yang terusir itu mengungsi sampai ke
Lunang, Pesisir Selatan. Kabarnya di sana ada istana
Rumah Gadang Mande Rubiyah yang penuh dengan
peninggalan sejarah mirip dengan milik kerajaan
Pagaruyung.

Adityawarman bukanlah penggagas konsep ketatanegaraan
Minangkabau. Kenyataannya pemerintahannya cukup rapuh.
Kekuasaanya yang rapuh itu diteruskan oleh anaknya
Ananggawarman yang juga lemah. Tak banyak yang tahu
dengan anaknya ini.

Agaknya sistem pemerintahan setelah periode
Adityawarman yang dipegang oleh Basa Ampek Balai yang
berhasil menggagas konsep ketatanegaraan yang lebih
demokratis dan egaliter. Berbeda jauh dengan monarki.


--- Datuk Endang wrote:


 
---------------------------------
Need a quick answer? Get one in minutes from people who know. Ask your question 
on Yahoo! Answers.
Sukseskan Pulang Basamo se Dunia, Juni 2008.
============================================================
UNTUK SELALU DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply.
- Email dengan attachment tidak dianjurkan, sebaiknya melalui jalur pribadi.
- Posting email, DITOLAK atau DIMODERASI oleh system, jika:
1. Email ukuran besar dari >300KB.
2. Email dikirim untuk banyak penerima.
--------------------------------------------------------------
* Berhenti (unsubscribe), berhenti sementara (nomail) dan konfigurasi 
keanggotaan, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-config
* Membaca dan Posting email lewat web, bisa melalui mirror mailing list di:
http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/messages
http://groups.google.com/group/RantauNet?gvc=2
dengan mendaftarkan juga email anda disini dan kedua mirror diatas.
============================================================

Kirim email ke