-------------------------------------------------------------
Ikutilah Sholat & Do'a Bersama untuk Keselamatan Negeri, Minggu 18 Mar 07 jam
08:00 di Masjid Istiglal Jakarta
-------------------------------------------------------------
Assalaamu'alaikum wa rahmatullahi wa barakaatuhu Jo ayia mato balinang
manganang musibah nan malando nagari awak. Inna lillahi wa inna ilaihi
raaji'uun.
Wassalamu'alaikum,
Lembang Alam
___________ Cerita ini hanyalah khayalan semata. Nama-nama orang yang
disebutkan di dalam cerita ini bukan mewakili sipapun. Kesamaan nama bukanlah
dimaksudkan untuk menyalahgunakan nama pribadi siapapun. Keadaan di
tempat-tempat wisata yang diceritakan adalah angan-angan dan harapan.
Mudah-mudahan ke pariwisataan di Sumatera Barat di suatu hari nanti menyerupai
yang diceritakan disini. Penulis.
29. Gulai Itik Koto Gadang
Jam setengah lima mereka sudah sampai di rumah. Masih sangat siang. Etek justru
terheran-heran melihatnya.
’Dari mana kalian? Atau mau pergi lagi sesudah ini?’ tanya etek.
’Kami sudah menyelesaikan semua program. Kami baru saja dari Sungai Janiah.
Tadi pagi ke Ngalau Kamang,’ Pohan menjelaskan.
’Apa kalian sudah lapar? Tapi masak iya sih, sudah lapar jam segini?’
’Belum, tek. Kami mau berjalan-jalan melihat sawah,’ jawab Aswin.
’Atau kalian mau minum teh dulu? Etek membuat ketan dan kolak pisang. Mau
mencicipinya sekarang?’ tanya etek.
’Kalau itu sih boleh, kayaknya. Dan Mr. Aswin tidak minum teh, dia minum kopi,’
kata Pohan.
Nenek terbangun dari tidur siang. Beliaupun heran melihat anak-anak muda ini
cepat pulang.
’Anto capek pulang? Kama pai saariko?’ tanya nenek.
Aswin menceritakan tentang perjalanan mereka sehari ini. Dan mereka ’minum
kawa’ berempat, makan ketan dan kolak pisang, sambil mengobrol-ngobrol.
Menurut nenek, cerita ikan Sungai Janiah itu termasuk pembodohan yang
keterusan. Di tempat lain, seperti di Palupuh, di jalan ke Lubuk Sikaping juga
ada ikan sakti dengan cerita yang lain pula. Intinya, ikan itu tidak boleh
dimakan. Mungkin awalnya dulu adalah untuk melarang masyarakat agar tidak
sembarangan mengambil ikan. Di tempat lain juga ada terdapat ikan ’larangan’,
tapi lebih masuk di akal karena larangan itu berlaku pada waktu tertentu saja.
Sekali setahun larangan itu dibatalkan dan penduduk boleh mengambil ikan. Ini
lebih cerdas. Larangan-larangan itu mungkin berasal dari seseorang yang
berpengaruh. Oleh bawahannya dikarang cerita, seolah-olah ikan itu sakti, atau
ikan itu berasal dari manusia agar orang tidak mau memakannya. Di mana-mana
tidak pernah terjadi manusia berubah jadi ikan, dan cerita itu tidak mungkin di
terima akal. Dan pembodohan itu berketerusan sampai sekarang.
’Kok dicakau ikan tu, sudah tu digulai, amuah enek mamakan?’ tanya Pohan.
’Amuah. Baa lo kaindak amuah. Pai lah cakau kian, bao pulang!’ kata nenek,
tersenyum.
Pohan juga tersenyum.
Aswin mengerti maksudnya, bahwa nenek mau memakan ikan Sungai Janiah itu kalau
digulai.
’Seandainya ikan Sungai Janiah digulai etk kamu mau nggak memakannya?’ tanya
Pohan kepada Aswin.
’Jelas mau. Dan ikan seperti yang kita lihat tadi itu pasti enak sekali kalau
digulai,’ jawab Aswin.
Sesudah ’minum kawa’ kedua anak muda itu pamit mau berjalan-jalan ke sawah di
dekat kampung. Berjalan di pematang-pematang sawah. Melihat pemandangan gunung
Singgalang dan Marapi. Sawah yang padinya masih hijau. Membentang luas petak
demi petak. Mereka bertemu dengan orang-orang kampung. Yang menyapa mereka
dengan ramah. Mereka berjalan-jalan pula memudiki jalan-jalan kampung. Melihat
rumah adat Minangkabau berukir-ukir di tengah kampung. Di dekat rumah adat itu
mereka bertemu dengan seorang tua yang disapa Pohan dengan mak Sutan.
’Iko kan nan anak Tan Muncak, Pohan. Siapo namo?’
’Iyo mak Sutan. Namono Aswin,’ jawab Pohan.
Aswin menyalami orang tua itu.
’Lai pandai babahaso awak?’ tanya mak Sutan.
’Tidak pandai, mak Sutan,’ jawab Aswin.
’Bagaimana kabar ayah? Ada sehat-sehat saja dia. Sudah lama dia tidak
pulang-pulang.’
‘Beliau baik-baik saja. Masih tetap bekerja sampai sekarang,’ jawab Aswin.
‘Dimana tempat dia merantau di Amerika tu gerangan?’
‘Beliau di San Francisco. Saya di Los Angeles,’ jawab Aswin.
‘Jauh jaraknya tu?’
‘Tidak terlalu jauh. Dengan pesawat bisa dicapai dalam empat puluh menit.’
‘Ada lama, cuti. Pabila balik kesana?’
‘Besok, mak Sutan,’ jawab Aswin.
‘He yayai, sudah mau balik saja kiranya? Ambo sangka mau lama di kampung.
Tolong sampaikan salam ambo ka Tan Muncak ya. Katakan dari Pak Amir Sutan
Mantari. Saya ini teman main beliau ketika kecil-kecil dulu. Berbapak memanggil
saya. Kalau Pohan iya bermamak,’ kata orang tua itu.
’Baik, pak Sutan,’ jawab Aswin, tersipu.
Mereka berpisah dengan pak atau mak Sutan. Sore itu mereka shalat maghrib di
mesjid. Sesudah shalat langsung pulang.
Sesudah shalat isya baru mereka makan. Acara makan malam jo gulai itiak Koto
Gadang yang sudah diprogram sejak tadi subuh. Ternyata memang ’dua jempol naik’
rasanya. Best of best, kata Aswin. Tidak terlalu pedas seperti yang di kedai
di Ngarai Sianok. Tapi sangat menggigit enak rasanya. Dan terpaksalah Aswin
bertambuh pula makan.
’Benar-benar berdaso, tek. Benar-benar enak,’ kata Aswin, sesudah kekenyangan.
’He..he..he.. Pandai betul kamu memuji. Kalau tidak dilarang membawa masuk
barang makanan di Amerika sana, etek bungkuskan untuk ayahmu. Gulai itik ini
masih bisa tahan sampai dua tiga hari. Yang di kedai di ngarai itu di bawa
orang sampai ke Irian.’
’Ya, sayang betul. Petugas custom di sana sangat tegas dan ketat. Tidak boleh
barang makanan dibawa masuk.’
’Suruah sin lah no pulang. Ndak taragak bagaino jo ambo. Suruah no pulang,
mak,’ kata nenek.
Aswin tersenyum-senyum mendengar.
’Kata nenek, bilang ke ayahmu agar pulang kampung. Masa dia nggak rindu sama
nenek,’ etek menterjemahkan.
Sedang mereka berbincang-bincang santai itu berbunyi telpon. Rupanya,
subhanallah, dari ayah Aswin. Dari San Francisco. Etek yang mengangkat.
’Kami baru kasudah makan. Panjang umua ambo Muncak, sadang kami pakecek-an
ambo sabantako. Ka mangariman gulai itiak untuak ambo. Nan kecek si Aswin indak
buliah dibao masuak di sinan......’
Ayah berbicara dengan etek, dengan nenek, dengan Pohan sebelum berbicara dengan
Aswin. Tadinya ayah sekedar mengecek, apakah Aswin jadi berangkat besok.
’Bagaimana nek? Sudah nenek bilang langsung menyuruh ayah pulang?’ tanya Aswin.
’Alah. Jadih jano,’ jawab nenek.
’Ya, kata ayahmu memang dia kepingin pula pulang kampung. Sudah sangat rindu,
katanya,’ etek menambahkan.
’Saya yakin, kali ini ayah akan benar-benar pulang. Kalau bilang rindu sudah
keseringan. Tapi belum pernah kesampaian. Nanti kalau sudah mendengar cerita
saya, tentang kenyamanan di sini, mudah-mudahan ayah akan lebih tergugah,’ kata
Aswin.
’Sudah berapa tahun mak dang nggak pulang tek?’ tanya Pohan.
’Sejak di Amerika hanya pulang sekali dan itupun hanya sebentar. Ketika mak tuo
Zainab, ibu beliau meninggal. Kira-kira sepuluh tahun yang lalu.’
’Ya, betul. Sepuluh tahun yang lalu. Ayah pulang sendirian selama seminggu,’
kata Aswin menambahkan.
’Dan ibumu, belum pernah sekali juga ke kampung ini. Kan iyo, mak? Alun panah
ceuk Lilis tu kamari?’ tanya etek kepada nenek.
’Alun. Alun panah lai,’ jawab nenek.
’Kalau ayah pulang kampung saya yakin bersama-sama ibu. Ibu juga selalu bilang
sangat ingin jalan-jalan ke negeri Minangkabau.’
Mereka berbincang-bincang santai malam ini. Menghotar ke sana ke mari. Sampai
jam sepuluh malam. Sebelum pergi tidur etek bertanya.
’Besok jam berapa kalian mau berangkat dari rumah?’
’Jam berapa bagusnya Pohan? Pesawat take off jam 3 sore,’ Aswin minta pendapat
Pohan.
’Ke Bandara perlu 75 menit dari sini. Kamu harus sudah di Bandara sebelum jam
dua siang. Lebih baik kita berangkat agak cepat. Jam dua belas misalnya.’
’Ya. OK kalau begitu.’
’Pagi sudah tidak kemana-mana, kan?’ tanya etek.
’Tidaklah, tek. Biar sekalian berangkat saja.’
*****
_________________________________________________________________
Search from any Web page with powerful protection. Get the FREE Windows Live
Toolbar Today!
http://toolbar.live.com/?mkt=en-id============================================================
Sukseskan Pulang Basamo se Dunia, Juni 2008.
------------------------------------------------------------
Website: http://www.rantaunet.org
============================================================
UNTUK SELALU DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply.
- Email dengan attachment tidak dianjurkan, sebaiknya melalui jalur pribadi.
- Posting email, DITOLAK atau DIMODERASI oleh system, jika:
1. Email ukuran besar dari >300KB.
2. Email dikirim untuk banyak penerima.
--------------------------------------------------------------
* Berhenti (unsubscribe), berhenti sementara (nomail) dan konfigurasi
keanggotaan, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-config
* Membaca dan Posting email lewat web, bisa melalui mirror mailing list di:
http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/messages
http://groups.google.com/group/RantauNet?gvc=2
dengan mendaftarkan juga email anda disini dan kedua mirror diatas.
============================================================