-------------------------------------------------------------
Ikutilah Do'a Bersama untuk Keselamatan Negeri, Minggu 18 Mar 07 jam 08:00 di 
Masjid Istiglal Jakarta
-------------------------------------------------------------



Dunsanak Z Chaniago ysh,
  Pertama-tama marilah kita dukung ‘usaha maksimal’ untuk membantu korban 
bencana kemarin berikut memulihkan kondisi pasca gempa. 
   
  Sehubungan dengan pertanyaan sanak, memang pertanyaan ini sudah tumbuh cukup 
lama dan menjadi pertanyaan klasik terutama ‘hanya’ di kalangan peneliti 
Indologi, peneliti-peneliti non-Minang, serta masyarakat di luar sistem adat. 
Dalam hal ini saya coba menanggapi dahulu dengan pertanyaan: apakah sistem 
kekeluargaan dan kekerabatan di Minangkabau itu dapat ‘dikategorikan’ sebagai 
‘matrilineal’ sesuai dengan maksud pembuat istilah tersebut? Sehingga bila kita 
sudah ‘terjebak dalam dikotomi peristilahan’ tersebut, tentunya perlu dipahami 
perbedaan matrilineal dan patrilineal secara mendasar. Istilah dan perbedaan 
ini sebenarnya tidaklah pernah dipermasalahkan di dalam masyarakat Minang.
   
  Memang perhitungan pengelompokan masyarakat di Minangkabau dilakukan melalui 
‘garis ibu’, seperti penentuan suku, penentuan penanggung jawab pusaka ‘warih 
dijawek pusako ditolong’, dan sebagainya. Walaupun sejak kedatangan Islam, hal 
ini tidak ada perubahan hingga saat ini; sehingga dapat dikatakan hal tersebut 
tidak bertentangan dengan syariat.
   
  Sejak kapan hal ini berlangsung? Tidak ada catatan dan keterangan yang pasti 
mengenai waktu kejadian, sehingga tentunya tidak dapat dijawab secara pasti. 
Upaya yang dilakukan oleh banyak ahli selama ini hanyalah membanding-bandingkan 
sistem budaya di berbagai tempat, sehingga membutuhkan wawasan dan pengetahuan 
yang sangat luas. Seperti yang dicontohkan oleh Pak Saaf, bahwa ada suatu 
komunitas adat di India yang juga menjalankan praktek matrilineal. Bila saya 
menambahkan, tidak hanya di India, di Mamberamo Papua pun terdapat komunitas 
seperti itu. Soekarno dalam buku ‘Sarinah’ juga menyebutkan suatu komunitas di 
Amazon Brazil yang keseluruhan penduduknya adalah wanita. Atau hal ini dapat 
direnungkan lebih lanjut: dalam beberapa sistem komunitas patrilineal ternyata 
juga dikenal sistem pewarisan melalui jalur wanita.
   
  Dalam buku ‘Da Vinci Code’ diperoleh juga informasi bila masyarakat Pagan di 
Macedonia memiliki penghormatan yang sangat tinggi terhadap kaum ibu. Bila 
ditelusuri catatan tambo, disebutkan asal-usul masyarakat Minang adalah dari 
armada Iskandar Zulkarnain yang juga berasal dari Macedonia (+/- 250 SM).
   
  Bila memperhatikan beberapa versi tambo, sebenarnya terdapat ‘legenda’ yang 
berkaitan dengan hal ini seperti dikisahkan: Dalam pelayaran Datuk Perpatih nan 
Sabatang dan Datuk Ketumanggungan dari Tiku Pariaman ke rantau Aceh, kapal yang 
mereka tumpangi terkalang dengan karang. Seluruh penumpang kapal turun ke laut 
membantu menghela kapal tersebut terkecuali anak-anak dari kedua datuk 
tersebut. Setelah itu Cati Bilang Pandai berkata, “hai Datuk-datuk sekaliannya 
dan Datuk orang yang berdua ini, meminta hamba sungguh-sungguh jangan diberikan 
juga pusaka itu kepada anak, melainkan baiklah kita berikan kepada kemenakan 
kita saja semuanya. Ampun beribu kali ampun, karena kita sudah mencoba menghela 
perahu ini tetapi sekalian mereka itu tidak mau menolong bapaknya sendiri”.
   
  Datuk Perpatih nan Sabatang melalui jalur Bodi-Caniago memenuhi permintaan 
ini, namun Datuk Ketumanggungan melalui jalur Koto-Piliang tetap mewariskan 
pusaka kepada anak. Sehingga Datuk Suri Dirajo menyampaikan amanat kepada Datuk 
Ketumanggungan, “Jikalau sepeninggal hamba berpulang kerahmatullah hendaklah 
engkau memelihara ‘anak kemenakan’ kita ini sesungguh hati, dan janganlah 
diperbedakan kedua belah pihak. Kaluak paku kacang balimbiang, anak dipangku 
kamanakan dibimbiang”. Sehingga kemudian biduk lalu kiambang bertaut.
   
  Hal yang kita hadapi hingga saat ini bilamana pewarisan pusaka adalah jatuh 
kepada kemenakan, sedangkan pewarisan harta pencaharian adalah kepada anak. 
Namun perlu kita pikirkan secara sungguh, dimanakah konteks matrilineal itu 
sebenarnya.
   
  Demikian yang dapat disampaikan. Wassalam.
   
  -datuk endang


Z Chaniago <[EMAIL PROTECTED]> wrote:  
Maaf Angku Dt Endang.... sapangatuan Angku Dt, apo nan manyababkan nenek 
moyang urang Minang mamiliah Matrilinial ? ........ iko salah satu nan 
manggantuang...mohon dengan tidak tersamar....

Wassalam
Z Chaniago - Palai Rinuak - Kaganti sawah jo ladang

 
---------------------------------
The fish are biting.
 Get more visitors on your site using Yahoo! Search Marketing.
============================================================
Sukseskan Pulang Basamo se Dunia, Juni 2008.
------------------------------------------------------------
Website: http://www.rantaunet.org
============================================================
UNTUK SELALU DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply.
- Email dengan attachment tidak dianjurkan, sebaiknya melalui jalur pribadi.
- Posting email, DITOLAK atau DIMODERASI oleh system, jika:
1. Email ukuran besar dari >300KB.
2. Email dikirim untuk banyak penerima.
--------------------------------------------------------------
* Berhenti (unsubscribe), berhenti sementara (nomail) dan konfigurasi 
keanggotaan, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-config
* Membaca dan Posting email lewat web, bisa melalui mirror mailing list di:
http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/messages
http://groups.google.com/group/RantauNet?gvc=2
dengan mendaftarkan juga email anda disini dan kedua mirror diatas.
============================================================

Kirim email ke