Hallo Mama Fadlan , semoga artikel dibawah ini dapat membantu yaaaa
  Tapi rasanya adek normal2 aja koq mom..
   
  Salam
  rinalyssa
   
  Frekuensi buang air besar (BAB) dan kecil (BAK) bayi berkaitan erat dengan 
asupan yang masuk. Buktinya, antara bayi yang mendapat ASI dan tidak berbeda 
pula frekuensi pup dan pipisnya. Kok bisa seperti itu? Lalu, bagaimana 
frekuensi yang normal? Simaklah penjelasan dari dr. Eva J. Soelaeman, SpA. 
  BAYI YANG MENYUSU ASI: 
  Usia 0-6 Bulan: 
  Frekuensi BAB normal: 
  Sehari 1-7 kali atau bahkan hanya 1-2 hari sekali. Dengan catatan berat badan 
bayi terus bertambah sesuai grafik normal yang tertera pada Kartu Menuju 
Sehat/KMS. Jika yang terjadi sebaliknya, si kecil harus menjalani pemeriksaan 
dokter. 
  Frekuensi BAB tidak normal: 
  * Setelah 2 hari tidak BAB atau BAB tiga hari 1 kali. Kondisi ini perlu 
dikonsultasikan pada dokter. Biasanya dokter akan melihat kondisi perut bayi, 
kembung atau tidak, keadaan feses, berat badan, dan tumbuh kembang bayi. 
Beberapa kemungkinan penyebab bayi jarang BAB adalah: 
  * Faktor makanan ibu. Misal, ibu menyusui sedang mengonsumsi 
obat-obatan/jamu. Akibatnya bayi yang memperoleh asupan makanan dari ASI ibu 
ikut "merasakan" dampak obat itu. Asal tahu saja, beberapa obat/jamu bisa 
membuat gerak/kerja usus menjadi lambat. Kondisi ini yang pada akhirnya membuat 
bayi mengalami sembelit. 
  * Masalah pada sistem pencernaan bayi. Misal, ususnya tersumbat atau 
melintir. 
  * Lebih dari 7 kali sehari. Frekuensi BAB yang lebih sering dari biasanya 
dapat disebabkan faktor makanan ibu. Contoh, ibu menyusui yang mengonsumi 
makanan pedas atau makan yang mengandung serat tinggi dapat membuat bayinya 
jadi lebih sering pup.
  BAYI YANG TIDAK MENYUSU ASI 
  Usia Usia 0-6 bulan 
  Frekuensi BAB yang normal: 
  Sekitar 3-4 kali sehari sampai hanya 1-2 hari sekali. Kenapa frekuensi 
BAB-nya lebih jarang dari bayi yang menyusu ASI? ASI seperti diketahui sangat 
mudah dicerna oleh bayi. Namun tidak begitu dengan susu formula yang lebih 
sulit dicerna dan diserap oleh sistem pencernaan bayi. Inilah yang menyebabkan 
kenapa bayi yang menyusu ASI jarang mengalami kegemukan, sementara "bayi susu 
formula" kerap kelebihan berat badan. 
  Frekuensi BAB yang tidak normal: 
  Bila feses bayi encer dan frekuensinya lebih dari 10 kali per hari disertai 
penurunan berat badan. 
  Usia 6 bulan ke atas 
  Frekuensi BAB normal: 
  Biasanya 3-4 kali sehari atau 2 hari sekali. Setelah anak menginjak 4 tahun, 
frekuensi BAB-nya sudah seperti orangtuanya, yakni satu sampai dua kali sehari. 
  Frekuensi BAB tidak normal: 
  * Lebih dari 4 kali sehari disertai gejala-gejala lain. Misalnya, bayi BAB 
sampai 6 kali sehari. Ini bisa dijadikan alarm bagi orangtua bahwa kondisi si 
kecil sedang tidak sehat. Coba perhatikan apakah bayi juga rewel atau gelisah? 
Jika ya, kemungkinan ada sesuatu yang tidak beres pada pencernaannya. Untuk 
menelusuri penyebabnya, ingat-ingat apa menu makanannya hari itu hingga 2 hari 
sebelumnya; apakah terlalu banyak serat? Terlalu banyak diberi buah/sayuran 
mungkin. Bayi yang terlalu banyak mengonsumsi serat berpotensi untuk lebih 
sering BAB dan akhirnya menjadi kurus. Sebab apa yang dikonsumsinya lebih 
banyak yang dikeluarkan ketimbang yang diserap. 
  Dua kali dalam kurun waktu tujuh hari atau kurang. Kemungkinan bayi mengalami 
konstipasi/sembelit atau pemampatan feses di usus besar. Hati-hati, jika feses 
yang keras membuat anusnya luka dan si kecil mengalami trauma sehingga enggan 
untuk buang air besar yang berikutnya. 
  Penyebab konstipasi: 
  * Bisa jadi bayi terlalu banyak minum susu dan kurang mendapat makanan padat 
serta kurang minum air putih. 
  * Kurang serat/kurang mengonsumsi sayuran atau buah-buahan. 
  Cara mengatasinya, penyebab pertama bisa diatasi dengan mengurangi asupan 
susu formula pada bayi dan menggantikannnya dengan memperbanyak asupan makanan 
padat sesuai usianya. Sementara yang kedua, tentu bayi harus lebih banyak 
diberi makan buah-buahan, sayuran, dan tak lupa banyak minum air putih. Bila 
kondisi ini tidak mengalami perbaikan, amat bijak bila si kecil diperiksakan ke 
dokter. 
  FREKUENSI BAK 
  Dalam sehari, normalnya bayi buang air kecil sekitar 3-4 kali. Namun, 
sebetulnya frekuensi BAK tidak perlu terlalu dikhawatirkan. Jika lebih dari itu 
oke-oke saja. Kecuali bila pipisnya sangat sering (lebih dari 10 kali/hari) 
atau jarang sama sekali. Dalam artian selama tidak ada tanda-tanda dehidrasi 
atau bayi menjadi lesu dan rewel, tak perlu terlalu mempermasalahkannya. 
Apalagi sampai khawatir bayi terkena diabetes militus karena DM pada anak, 
apalagi bayi sangat jarang terjadi. 
  Namun waspadai bila frekuensi BAK bayi jarang/menjadi jarang. Misalnya, satu 
hari hanya sekali padahal biasanya bisa 4 kali. Atau sejak lahir si kecil 
memang jarang pipis padahal asupan cairannya mencukupi. Beberapa penyebab 
frekuensi BAK yang jarang adalah: 
  3 Bayi mengalami kekurangan cairan. Ini bisa karena ibu yang menyusui kurang 
banyak minum atau bayi sedang mengalami muntah-muntah atau berkeringat 
berlebihan. Kondisi seperti ini dapat diatasi dengan banyak memberi asupan 
cairan pada bayi. Ibu menyusui, misalnya, mesti banyak minum. Namun untuk kasus 
muntah-muntah, sebaiknya bayi segera dibawa ke dokter untuk mencari penyebabnya 
dan mencegahnya dari dehidrasi.
  3 Pada bayi laki-laki, coba perhatikan ujung kulupnya apakah terlihat kecil 
atau tidak. Bila ya, bisa jadi ia mengalami phymosis (ujung kulup kecil) 
sehingga menyebabkannya jarang BAK. Sebagai solusi biasanya dokter akan 
melakukan pembesaran dengan cara sunat. Kondisi ini perlu diatasi segera karena 
jika dibiarkan bisa menimbulkan infeksi pada saluran kencing bayi. 
  3 Sukar pipis pada bayi perempuan bisa disebabkan infeksi pada organ intimnya 
meski bisa juga BAK-nya justru jadi lebih sering. Sebagai pecegahan, sehabis 
BAK, lubang kencing dan daerah sekitarnya mesti langsung dibersihkan. Sisa air 
seni bisa mengendap di lipatan-lipatan sekitar kelaminnya dan menimbulkan 
infeksi. Perha-tikan juga teknik menceboki. Jangan menceboki dari arah belakang 
ke depan namun dari depan kebelakang. Ini dimaksudkan agar kotoran dari anus 
tidak terbawa ke vagina.
  FESES IDENTIK DENGAN KESEHATAN  Feses berwarna abu-abu menandakan bayi 
terlalu banyak mengonsumsi zat besi.
  Kondisi feses bayi tidak selalu sama setiap harinya. Perubahan ini tergantung 
pada kondisi dan kesehatan si kecil. Karena itu saat mendapati feses bayi yang 
"mencurigakan", salah satu hal yang bisa dilakukan orangtua adalah melakukan 
observasi menu makanan yang dikonsumsi bayi, tak hanya dalam satu hari tapi 
juga 2 hari sebelumnya. Kenapa? Sebab gerak usus pada bayi yang normal adalah 
selama 24 sampai 36 jam. Jadi, makanan yang dikonsumsi bayi sekarang akan 
keluar 24 atau 36 jam kemudian. 
  Nah, menurut dr. Eva J. Soelaeman, SpA., normal tidaknya feses dapat dilihat 
dari warna, bentuk, dan bau. Berikut penjelasannya: 
  Mendeteksi feses dari warna
  Normal: warnanya kuning tua. 
  Tidak normal: 
  - Abu-abu atau abu-abu kehitam-hitaman bisa terjadi kalau si kecil terlalu 
banyak mengonsumsi makanan dengan kandungan zat besi yang terlalu tinggi. 
Solusi: Tetap berikan ASI atau pilih susu formula dengan kandungan zat besi 
yang standar, tidak berlebih. 
  - Merah. Penyebabnya: (1) terlalu banyak mengonsumsi makanan berwarna merah, 
(2) pengaruh obat (3) pertanda adanya darah. Penyebab ketiga inilah yang patut 
diwaspadai. Untuk itu bila yakin darah yang terlihat, segera bawa bayi ke 
dokter untuk diperiksa lebih lanjut.
  Mendeteksi feses dari bentuk 
  Normal: 
  Feses bayi yang berbuih/bercampur buih sekali dua kali adalah wajar. 
Penyebabnya bisa makanan ibu menyusui yang terlalu banyak mengonsumsi makanan 
yang merangsang, seperti pedas. Tapi jika sudah lebih dari tiga kali dan berat 
badannya turun, itu pertanda si kecil mengalami dehidrasi dan ada infeksi di 
ususnya. Kondisi seperti ini perlu penanganan dokter. 
  Tidak normal: 
  - Seperti dempul dengan warna putih/putih kekuning-kuningan. Bisa dipastikan 
si kecil mengalami kelainan liver/hati. Segera bawa ke dokter untuk pemeriksaan 
lebih lanjut. 
  - Hitam dan dibarengi sakit perut. Kemungkinan besar si kecil mengalami 
perdarahan. Segera bawa si kecil ke dokter dan bawa sampel feses untuk dicek ke 
laboratorium guna mencari penyebabnya. 
  Mendeteksi feses dari bau 
  Normal: 
  - Beraroma khas, bukan bau busuk.
  Tidak normal: 
  - Baunya sangat busuk. Dicurigai, ada pembusukan yang tidak normal oleh 
bakteri di usus. 
  - Bau sangat asam. Biasanya pertanda ada gangguan penyerapan gula atau 
istilahnya malabsorbsi karbohidrat laktosa karena bayi tidak dapat mengonsumsi 
susu sapi. Coba, gantilah susu si kecil dengan susu kedelai. 


Ilnayuti Sari <[EMAIL PROTECTED]> wrote:          Dear moms,

Aku mau tanya danmungkin ada yang udah punya pengalaman. 
Fadlanku (4 bulan) dan 2 hari ini BAB nya encer. So far sih minum ASI nya biasa 
aja, tetep 2 jam sehari. Fadlan belum makan tambahan apapun, hanya aja kalau 
aku sedang kerja dan kebetulan persediaan ASI menipis, fadlan dikasih susu 
formula. So far baik2 aja hanya aja 2 hari ini BAB nya encer. Gak ada tanda2 
dia sakit perut atau apa. 

Kira2 wajar gak sih kalau BAB encer gitu ? 

Maklum belum pengalaman nih Kalau hari ini masih encer juga mungkin aku akan 
bawa ke dokter, tapi aku rada kuatir kalau anak umur segitu dikasih obat2 kimia 
... mohon pencerahannya. Terima kasih 



-- 
www.asiabersama.com/ilna


         

 __________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

Kirim email ke