Dear Mama Adnan,
   
  Alyssa ku [23 bulan] juga beberapa bulan terakhir mulai bertemperamen hihihi, 
kalo minta sesuatu pake teriak, kalo nggak diturutin nangis kenceng2, kalo 
dilarang suka mukul, cembetut sampe mulutnya dimonyong2 in gitu deh, waduh 
waduh.... katanya sih lagi masanya begitu Mama Adnan...

  Tapi ini ada artikel yg cukup menarik... dari salah satu tabloid... semoga 
membantu..
   
  salam
  mama ina - mom alyssa
   
            PERKEMBANGAN EMOSI BATITA
  Bila kita memahami latar belakangnya, mengatasi hal apa pun tentu akan lebih 
mudah, termasuk perilaku egosentris dan negativistik anak. Berikut perkembangan 
emosi anak usia batita. 
  * Usia 1-2 tahun 
  - Egosentris 
  Anak masih berpikir dan memandang sesuatu dari sudut pandangnya sendiri. 
Ketika dia menginginkan sesuatu maka harus terpenuhi saat itu juga tanpa 
memikirkan akibat bagi dirinya maupun orang lain. Misalnya, ketika menginginkan 
mainan yang dipegang temannya akan langsung direbut. Hal ini dikarenakan batita 
hanya berpikir satu arah, dari dan ke arah dirinya sendiri. Pahami "keegoisan" 
ini sebagai salah satu tahap perkembangan emosinya dan buang pikiran yang 
menuduh anak ingin menang sendiri. 
  - Temper Tantrum 
  Pada anak sulit, temper tantrum sering kali melekat. Tempramennya mudah 
sekali meledak, umumnya terjadi pada anak usia 1-2 tahun yang belum lancar 
bicara. Karena belum lancar bicara makanya gampang frustrasi lantaran tak dapat 
mengungkapkan keinginannya dengan jelas. Dia hanya bisa berteriak-teriak, 
berguling, menangis keras, dan sebagainya. Namun pada anak yang dasarnya 
bersifat kalem, temper tantrum umumnya jarang ditemui. 
  * USIA 2-3 TAHUN 
  - Negativistik 
  Pernahkan menemukan anak usia 2 tahun ke atas ngambek ketika dilarang makan 
es krim. Hal ini dikarenakan anak usia di atas 30 bulan sudah mampu berespons 
secara emosional terhadap sesuatu yang salah atau menurutnya tak sesuai. Dia 
akan cemberut, membanting benda yang dipegangnya, menangis, memukul orangtuanya 
dan sebagainya bila tak dipenuhi keinginannya. Inilah yang dinamakan perilaku 
negativistik. Meskipun negatif namun ini adalah fase normal yang harus dilalui 
dalam tahapan pertumbuhan anak. 
  - Prososial 
  Mulai usia 2 tahunan, anak mulai mengembangkan tingkah laku prososial. Dia 
mulai belajar beradaptasi, berinteraksi, termasuk belajar sharing dengan 
lingkungannya. Maka dari itu, dukunglah perkembangannya ini dengan menjadi 
model yang positif bagi anak. Kita bisa melakukannya lewat hal-hal sederhana, 
misalnya meminta anak memberikan uang kepada pengemis, bermain bersama-sama 
tanpa terus-menerus ribut dan hindari tindakan negatif, termasuk berkata kasar. 
  - Agresif 
  Ada dua jenis sifat agresif, instrumental aggression dan hostile aggression. 
Intrumental aggression umumnya dialami anak usia 2 tahun ke bawah sebagai 
pengekspresian emosinya. Dia berperilaku agresif sebagai instrumen guna 
memperoleh sesuatu. Sedangkan di usia 2 tahun ke atas, anak sudah bisa 
melakukan hostile aggression, yakni sikap agresif yang ditujukan ke orang lain 
karena dorongan rasa kesal atau marah. Perilaku yang muncul bisa berupa 
pukulan, tendangan, atak kata-kata kasar. Umumnya sikap agresif ini lebih 
banyak terjadi pada anak laki-laki ketimbang anak perempuan.
  Irfan Hasuki. Ilustrator: Pugoeh 
  Narasumber: 
  Indri Savitri, Psi
  dari LPT UI Jakarta

   
             Si kecil memukul Anda? Aduh, pasti bikin kecewa. Seperti air susu 
dibalas air tuba. Padahal mungkin bukan cuma pada orangtuanya ia mendaratkan 
pukulan, tapi juga pada om, tante, pengasuh, bahkan gurunya. Ya, banyak faktor 
yang melatarbelakangi perilaku agreasif pada si prasekolah. Namun, anak 
prasekolah belum terlalu bisa mengontrol emosinya. Apalagi pada anak yang 
mengalami gangguan pertumbuhan impuls saraf sehingga perilakunya sering tidak 
dapat terkontrol. 
  Nah, apa pun penyebabnya, perilaku agresif ini tak boleh dibiarkan karena 
buruk dampaknya buat si anak. Jangan khawatir, setiap perilaku anak masih bisa 
diubah dan diperbaiki, termasuk anak yang menderita gangguan hiperaktif atau 
autisme sekalipun.
  5 Penyebab
  1. Sulit mengomunikasikan keinginan 
  Tidak semua anak prasekolah bisa mengungkapkan keinginannya dengan baik 
sehingga membuat kita sulit memahaminya. Kesulitan mengungkapkan keinginannya 
inilah yang membuat anak sering melakukan jalan pintas dengan bersifat agresif. 
Contoh, anak minta dibelikan cokelat merek tertentu namun dia tak bisa 
menyebutkannya. Ketika kita tidak menanggapinya, bisa saja dia bersikap agresif 
dengan memukul atau menendang. Sikap agresif akibat kesulitan mengomunikasikan 
keinginan ini akan semakin kentara bila anak mengalami gangguan pertumbuhan 
kemampuan bicara. Pasalnya, anak sangat kesulitan mengungkapkan keinginannya 
sehingga dia akan memilih jalur agresif sebagai jalan pintas. 
  2. Mendapat contoh 
  Bisa saja anak bersifat agresif karena mendapat contoh dari lingkungannya. 
Umpama, kita pernah mengungkapkan kekesalan dengan memukul bokong anak saat ia 
sulit diajak mandi. Contoh seperti ini efektif ditiru anak sehingga anak pun 
mudah melakukan hal yang seperti kita lakukan. 
  Mungkin kita merasa tak pernah memberi contoh perilaku agresif ke anak, 
tetapi ada sumber peniruan lain yang bisa dilihat anak seperti teman TK-nya, 
tetangganya, om dan tante, atau tayangan di teve. Untuk yang terakhir, sangat 
efektif ditiru anak mengingat teve begitu menarik dengan banyaknya adegan yang 
dimanipulasi lewat suara dan gambar. Apalagi hampir setiap anak sangat senang 
menonton teve. Bila yang ditontonnya adalah Bawang Merah yang sedang menjambak 
Bawang Putih, tak mustahil anak akan menirunya. 
  3. Emosi tak tertahankan 
  Kadangkala keinginan anak begitu besar, misal, ingin bersepeda padahal hari 
sedang terik-teriknya. Ketika kita tidak menyetujui keinginannya itu, sontak 
anak emosi. Emosi yang tak tertahankan membuat anak bersikap agresif. Dia akan 
memukul, menendang, menjambak, dan sebagainya. Emosi yang tak tertahankan ini 
pun muncul karena anak merasakan sebuah kehilangan yang sangat besar. Dalam 
benaknya, bersepeda adalah kegiatan yang sangat mengasyikkan. Nah, karena tidak 
mau keasyikannya terhalang, dia pun bersikap agresif. 
  Emosi yang tak tertahankan kemudian diiringi dengan sikap agresif ini sering 
kali muncul pada anak yang memiliki sifat temperamental, sering 
"meledak-ledak". Mungkin penyebabnya sepele, makanan kesenangannya terjatuh 
misal, dia bisa langsung marah besar. Dia tidak mau diberikan kue lain padahal 
kue yang dipegangnya sudah jatuh. 
  4. Cemburu dan cari perhatian 
  Kehadiran adik baru sering menimbulkan kecemburuan karena si kakak merasa tak 
diperhatikan lagi. Ini memang reaksi wajar karena anak merasa kehilangan fokus 
perhatian dari orangtuanya. Cemburu bisa membuat anak bersikap agresif kepada 
orangtua dengan tujuan mendapat perhatian dari orangtuanya. Bila perhatian tak 
kunjung didapat maka sikap agresif akan kerap muncul. 
  5. Ada gangguan pertumbuhan 
  Gangguan pertumbuhan dalam diri anak pun dapat membuatnya melakukan sikap 
agresif, seperti pada penderita hiperaktif dan autisme. Mereka mengalami 
gangguan pada impuls sarafnya sehingga sering kali perilakunya tidak 
terkontrol. Saat keinginannya tak terpenuhi misal, mudah sekali bagi mereka 
untuk mengungkapkan perasaannya dengan perilaku agresif. Tak hanya memukul, 
menendang, dan menjambak, agresivitas yang sifatnya menyakiti diri sendiri pun 
akan dilakukan anak, seperti membentur-benturkan tubuhnya ke dinding, 
berguling-guling di lantai, melukai sebagian tubuhnya, dan lainnya.
  4 DAMPAK NEGATIF Bila DIBIARKAN 
  1. Menetap dan terbawa hingga lama. 
  Banyak kan orangtua yang membiarkan anaknya bersikap agresif? Mereka tidak 
ambil peduli ketika si anak memukul tubuh dan menendang kakinya. Hal ini akan 
membuat perilaku anak menjadi keterusan dan tak mustahil akan menetap hingga ia 
besar. Bila demikian, ketika anak menghadapi masalah dengan orang lain, dia 
akan lebih mudah untuk bersikap agresif. 
  2. Citra negatif. 
  Sikap agresif yang kental pada diri anak akan membuatnya dijauhi 
teman-temannya. Ada kan anak yang tidak mau atau dilarang bermain dengan anak 
lain oleh orangtuanya karena takut dipukul atau ditendang? Hal ini akan 
merugikan si anak sendiri. Selain dia memiliki citra negatif, anak juga akan 
kehilangan kesempatan bersosialisasi. Padahal banyak sekali manfaat yang bisa 
didapat anak saat ia bersosialisasi, seperti belajar berinteraksi, mengenal 
lebih dalam lingkungannya, memahami karakter temannya, dan sebagainya. 
  3. Tidak tahu mengungkapkan perasaan. 
  Terbiasa bersikap agresif membuat pola pikir anak menjadi sempit. Umpama, 
ketika anak emosi, cara meluapkan yang ia tahu hanyalah dengan bersikap 
agresif. Setiap dilarang melakukan kesenangannya, anak akan memukul, menendang, 
menjambak, bahkan melempar kita dengan benda yang ada di tangannya. Pasalnya, 
anak tak diberitahu kalau untuk mengungkapkan emosi bisa dengan berkomunikasi 
lebih baik, mengungkapkan ketidaksetujuan dengan cara menggeleng dan 
sebagainya. 
  4. Tidak punya empati. 
  Dipukul, ditendang, dicubit, tentu akan terasa sakit. Bila anak melakukannya 
namun kita tak menjelaskan akibat yang ditimbulkannya, membuat anak tidak tahu 
bahwa ada orang lain yang kesakitan. Ketidaktahuan inilah yang akhirnya membuat 
anak tidak tersentuh rasa empatinya. Empati yang tak tersentuh membuatnya sulit 
untuk berempati kepada orang lain. Padahal, empati dapat memperkuat sifat kasih 
sayang anak. Bila empati tidak ada dan anak tak punya rasa kasih sayang, 
dikhawatirkan akan membuat pertumbuhan kepribadiannya tidak ke arah positif. 
Mungkin saja dia akan seenaknya dalam berperilaku, mau menang sendiri, tak 
peduli dengan penderitaan orang lain. 
   
  TIP & TRIK MENGATASI
  * Terangkan.
  Maklum, usia anak masih kecil, tentu dia perlu belajar banyak dari 
lingkungannya mengenai apa yang boleh dan tak boleh dilakukannya. Jadi, kala 
anak bersikap agresif, segera atasi dengan menerangkan bahwa apa yang 
dilakukannya dapat menyakiti orang lain, "Adek, kok Mama dipukul? Kan sakit." 
Dari situ anak bisa berpikir kalau tindakannya itu bisa menyakiti orang lain. 
Lalu empatikan ke anak terhadap rasa sakit yang kita derita, "Coba kalau Adek 
dipukul, bagaimana rasanya? Pasti sakit!" Dengan berusaha menumbuhkan empati 
yang ada, anak akan lebih berhati-hati bersikap. Tentu agak sulit meminta anak 
untuk segera memahami apa yang kita terangkan. Namun bila kita terus berusaha, 
lambat laun anak akan mengubah sikap agresifnya. Demikian pula bila yang 
dipukul adalah orang lain, seperti om-tante, pengasuh, atau guru, segeralah 
terangkan bahwa perilaku tersebut tak baik dilakukan anak. 
  * Berikan alternatif perilaku. 
  Jangan hanya menerangkan tetapi kita harus memberikan alternatif perilaku 
lain yang bisa dilakukan anak, supaya anak benar-benar memahami apa yang 
seharusnya dia lakukan. Misal, dengan meminta anak untuk tidak memukul tetapi 
menyayangi kita, "Adek, lebih asyik kalau Adek 
  sayang sama Mama. Begini nih caranya," sambil kita menunjukkan cara bagaimana 
perilaku menyayangi itu, seperti membelai rambut, mencium pipi, dan sebagainya. 
Dengan alternatif perilaku ini, sikap agresif anak menjadi teralihkan. Bila 
kita tidak mengalihkan, anak akan bingung, bagaimana dia harus berperilaku. 
  Mungkin, terhadap anak yang pada dasarnya sangat aktif sehingga dia mudah 
bersikap agresif, perlu cara lain untuk mengatasinya. Umpama, dengan memberinya 
sansak untuk dijadikan sarana memukul, menendang, sehingga emosinya 
tersalurkan. Atau mungkin bisa memberikan alat-alat tulis sehingga anak bisa 
mencorat-coret atau mengungkapkan keinginannya lewat gambar atau tulisan. 
  * Libatkan ahli. 
  Bila penyebab agresivitasnya karena gangguan pada diri anak seperti 
hiperaktif atau autisme, tentu sangat berat menangainya sendiri. Pasalnya, 
butuh konsistensi dan terapi tertentu sehingga kita perlu bantuan ahli, seperti 
psikolog. Klinik-klinik atau sekolah untuk anak kebutuhan khusus biasanya punya 
metode tertentu yang dapat diterapkan ke anak. 
  * Beri perhatian secara adil. 
  Bila penyebabnya adalah mencari perhatian karena lahirnya adik, selain 
memberi penjelasan kita pun perlu mengoreksi diri apakah selama ini kita kurang 
memberinya perhatian. Sambil memberi perhatian, tak salah bila kita meminta 
maaf, "Maaf ya Kak, kemarin Mama sibuk memerhatikan adik. Mama juga sayang kok 
sama Kakak." 
  Bila anak keterusan mencari perhatian, maka tindakan yang paling efektif 
adalah tidak mengacuhkan perilakunya. Biarkan saja anak agresif karena kalau 
hanya "caper" pasti akan hilang sendiri lantaran "capernya" tak berhasil. 
  * Tidak memojokkan tapi berikan reward. 
  Saking kesal dengan perilaku anak sering kali sikap kita lepas kontrol. Kita 
menangani anak dengan kata-kata kasar, mengancam, bahkan tindakan fisik yang 
membuat anak terpojok. Tindakan ini tak dibenarkan karena anak akan bingung 
untuk melakukan sesuatu yang benar. Ditambah lagi anak mendapat contoh baru, 
kata-kata kasar, yang dikhawatirkan kelak akan dicontoh anak. 
  Sebaiknya kita kembangkan sisi positifnya. Bila anak berhasil meredam 
emosinya dengan tutur kata yang baik, berilah reward, "Pintar, begitu dong 
kalau ingin minta susu, bilang dengan baik," sambil kita membelai rambutnya. 
Dengan begitu anak akan senang melakukannya lagi dan lambat laun sikap 
agresifnya pun akan hilang. 
  Irfan Hasuki. Foto: Ferdi/NAKITA
  Narasumber: 
  Vitriani Sumarlis, MSi., Psi.,
  dari Sekolah Dasar Khusus Pantara, Jakarta Selatan

    
         




       
---------------------------------
Take the Internet to Go: Yahoo!Go puts the Internet in your pocket: mail, news, 
photos & more. 

Kirim email ke