Dear Mama Ina,

Makasih banget ya buat artikelnya...
Cinta ku[4th], juga mulai bertemperamen tinggi...kakaknya lebih sering
jadi sasaran.
Udah dikasih tau berkali-kali tapi bukannya malah nurut yang ada makin
menjadi-jadi. apalagi kalo di tempat ramai duhhhh malunya itu lho
mom...jadi serba susah juga.

regards,
artha

--- In [email protected], rina dewiyanthi
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Dear Mama Adnan,
>    
>   Alyssa ku [23 bulan] juga beberapa bulan terakhir mulai
bertemperamen hihihi, kalo minta sesuatu pake teriak, kalo nggak
diturutin nangis kenceng2, kalo dilarang suka mukul, cembetut sampe
mulutnya dimonyong2 in gitu deh, waduh waduh.... katanya sih lagi
masanya begitu Mama Adnan...
> 
>   Tapi ini ada artikel yg cukup menarik... dari salah satu
tabloid... semoga membantu..
>    
>   salam
>   mama ina - mom alyssa
>    
>             PERKEMBANGAN EMOSI BATITA
>   Bila kita memahami latar belakangnya, mengatasi hal apa pun tentu
akan lebih mudah, termasuk perilaku egosentris dan negativistik anak.
Berikut perkembangan emosi anak usia batita. 
>   * Usia 1-2 tahun 
>   - Egosentris 
>   Anak masih berpikir dan memandang sesuatu dari sudut pandangnya
sendiri. Ketika dia menginginkan sesuatu maka harus terpenuhi saat itu
juga tanpa memikirkan akibat bagi dirinya maupun orang lain. Misalnya,
ketika menginginkan mainan yang dipegang temannya akan langsung
direbut. Hal ini dikarenakan batita hanya berpikir satu arah, dari dan
ke arah dirinya sendiri. Pahami "keegoisan" ini sebagai salah satu
tahap perkembangan emosinya dan buang pikiran yang menuduh anak ingin
menang sendiri. 
>   - Temper Tantrum 
>   Pada anak sulit, temper tantrum sering kali melekat. Tempramennya
mudah sekali meledak, umumnya terjadi pada anak usia 1-2 tahun yang
belum lancar bicara. Karena belum lancar bicara makanya gampang
frustrasi lantaran tak dapat mengungkapkan keinginannya dengan jelas.
Dia hanya bisa berteriak-teriak, berguling, menangis keras, dan
sebagainya. Namun pada anak yang dasarnya bersifat kalem, temper
tantrum umumnya jarang ditemui. 
>   * USIA 2-3 TAHUN 
>   - Negativistik 
>   Pernahkan menemukan anak usia 2 tahun ke atas ngambek ketika
dilarang makan es krim. Hal ini dikarenakan anak usia di atas 30 bulan
sudah mampu berespons secara emosional terhadap sesuatu yang salah
atau menurutnya tak sesuai. Dia akan cemberut, membanting benda yang
dipegangnya, menangis, memukul orangtuanya dan sebagainya bila tak
dipenuhi keinginannya. Inilah yang dinamakan perilaku negativistik.
Meskipun negatif namun ini adalah fase normal yang harus dilalui dalam
tahapan pertumbuhan anak. 
>   - Prososial 
>   Mulai usia 2 tahunan, anak mulai mengembangkan tingkah laku
prososial. Dia mulai belajar beradaptasi, berinteraksi, termasuk
belajar sharing dengan lingkungannya. Maka dari itu, dukunglah
perkembangannya ini dengan menjadi model yang positif bagi anak. Kita
bisa melakukannya lewat hal-hal sederhana, misalnya meminta anak
memberikan uang kepada pengemis, bermain bersama-sama tanpa
terus-menerus ribut dan hindari tindakan negatif, termasuk berkata kasar. 
>   - Agresif 
>   Ada dua jenis sifat agresif, instrumental aggression dan hostile
aggression. Intrumental aggression umumnya dialami anak usia 2 tahun
ke bawah sebagai pengekspresian emosinya. Dia berperilaku agresif
sebagai instrumen guna memperoleh sesuatu. Sedangkan di usia 2 tahun
ke atas, anak sudah bisa melakukan hostile aggression, yakni sikap
agresif yang ditujukan ke orang lain karena dorongan rasa kesal atau
marah. Perilaku yang muncul bisa berupa pukulan, tendangan, atak
kata-kata kasar. Umumnya sikap agresif ini lebih banyak terjadi pada
anak laki-laki ketimbang anak perempuan.
>   Irfan Hasuki. Ilustrator: Pugoeh 
>   Narasumber: 
>   Indri Savitri, Psi
>   dari LPT UI Jakarta
> 
>    
>              Si kecil memukul Anda? Aduh, pasti bikin kecewa.
Seperti air susu dibalas air tuba. Padahal mungkin bukan cuma pada
orangtuanya ia mendaratkan pukulan, tapi juga pada om, tante,
pengasuh, bahkan gurunya. Ya, banyak faktor yang melatarbelakangi
perilaku agreasif pada si prasekolah. Namun, anak prasekolah belum
terlalu bisa mengontrol emosinya. Apalagi pada anak yang mengalami
gangguan pertumbuhan impuls saraf sehingga perilakunya sering tidak
dapat terkontrol. 
>   Nah, apa pun penyebabnya, perilaku agresif ini tak boleh dibiarkan
karena buruk dampaknya buat si anak. Jangan khawatir, setiap perilaku
anak masih bisa diubah dan diperbaiki, termasuk anak yang menderita
gangguan hiperaktif atau autisme sekalipun.
>   5 Penyebab
>   1. Sulit mengomunikasikan keinginan 
>   Tidak semua anak prasekolah bisa mengungkapkan keinginannya dengan
baik sehingga membuat kita sulit memahaminya. Kesulitan mengungkapkan
keinginannya inilah yang membuat anak sering melakukan jalan pintas
dengan bersifat agresif. Contoh, anak minta dibelikan cokelat merek
tertentu namun dia tak bisa menyebutkannya. Ketika kita tidak
menanggapinya, bisa saja dia bersikap agresif dengan memukul atau
menendang. Sikap agresif akibat kesulitan mengomunikasikan keinginan
ini akan semakin kentara bila anak mengalami gangguan pertumbuhan
kemampuan bicara. Pasalnya, anak sangat kesulitan mengungkapkan
keinginannya sehingga dia akan memilih jalur agresif sebagai jalan
pintas. 
>   2. Mendapat contoh 
>   Bisa saja anak bersifat agresif karena mendapat contoh dari
lingkungannya. Umpama, kita pernah mengungkapkan kekesalan dengan
memukul bokong anak saat ia sulit diajak mandi. Contoh seperti ini
efektif ditiru anak sehingga anak pun mudah melakukan hal yang seperti
kita lakukan. 
>   Mungkin kita merasa tak pernah memberi contoh perilaku agresif ke
anak, tetapi ada sumber peniruan lain yang bisa dilihat anak seperti
teman TK-nya, tetangganya, om dan tante, atau tayangan di teve. Untuk
yang terakhir, sangat efektif ditiru anak mengingat teve begitu
menarik dengan banyaknya adegan yang dimanipulasi lewat suara dan
gambar. Apalagi hampir setiap anak sangat senang menonton teve. Bila
yang ditontonnya adalah Bawang Merah yang sedang menjambak Bawang
Putih, tak mustahil anak akan menirunya. 
>   3. Emosi tak tertahankan 
>   Kadangkala keinginan anak begitu besar, misal, ingin bersepeda
padahal hari sedang terik-teriknya. Ketika kita tidak menyetujui
keinginannya itu, sontak anak emosi. Emosi yang tak tertahankan
membuat anak bersikap agresif. Dia akan memukul, menendang, menjambak,
dan sebagainya. Emosi yang tak tertahankan ini pun muncul karena anak
merasakan sebuah kehilangan yang sangat besar. Dalam benaknya,
bersepeda adalah kegiatan yang sangat mengasyikkan. Nah, karena tidak
mau keasyikannya terhalang, dia pun bersikap agresif. 
>   Emosi yang tak tertahankan kemudian diiringi dengan sikap agresif
ini sering kali muncul pada anak yang memiliki sifat temperamental,
sering "meledak-ledak". Mungkin penyebabnya sepele, makanan
kesenangannya terjatuh misal, dia bisa langsung marah besar. Dia tidak
mau diberikan kue lain padahal kue yang dipegangnya sudah jatuh. 
>   4. Cemburu dan cari perhatian 
>   Kehadiran adik baru sering menimbulkan kecemburuan karena si kakak
merasa tak diperhatikan lagi. Ini memang reaksi wajar karena anak
merasa kehilangan fokus perhatian dari orangtuanya. Cemburu bisa
membuat anak bersikap agresif kepada orangtua dengan tujuan mendapat
perhatian dari orangtuanya. Bila perhatian tak kunjung didapat maka
sikap agresif akan kerap muncul. 
>   5. Ada gangguan pertumbuhan 
>   Gangguan pertumbuhan dalam diri anak pun dapat membuatnya
melakukan sikap agresif, seperti pada penderita hiperaktif dan
autisme. Mereka mengalami gangguan pada impuls sarafnya sehingga
sering kali perilakunya tidak terkontrol. Saat keinginannya tak
terpenuhi misal, mudah sekali bagi mereka untuk mengungkapkan
perasaannya dengan perilaku agresif. Tak hanya memukul, menendang, dan
menjambak, agresivitas yang sifatnya menyakiti diri sendiri pun akan
dilakukan anak, seperti membentur-benturkan tubuhnya ke dinding,
berguling-guling di lantai, melukai sebagian tubuhnya, dan lainnya.
>   4 DAMPAK NEGATIF Bila DIBIARKAN 
>   1. Menetap dan terbawa hingga lama. 
>   Banyak kan orangtua yang membiarkan anaknya bersikap agresif?
Mereka tidak ambil peduli ketika si anak memukul tubuh dan menendang
kakinya. Hal ini akan membuat perilaku anak menjadi keterusan dan tak
mustahil akan menetap hingga ia besar. Bila demikian, ketika anak
menghadapi masalah dengan orang lain, dia akan lebih mudah untuk
bersikap agresif. 
>   2. Citra negatif. 
>   Sikap agresif yang kental pada diri anak akan membuatnya dijauhi
teman-temannya. Ada kan anak yang tidak mau atau dilarang bermain
dengan anak lain oleh orangtuanya karena takut dipukul atau ditendang?
Hal ini akan merugikan si anak sendiri. Selain dia memiliki citra
negatif, anak juga akan kehilangan kesempatan bersosialisasi. Padahal
banyak sekali manfaat yang bisa didapat anak saat ia bersosialisasi,
seperti belajar berinteraksi, mengenal lebih dalam lingkungannya,
memahami karakter temannya, dan sebagainya. 
>   3. Tidak tahu mengungkapkan perasaan. 
>   Terbiasa bersikap agresif membuat pola pikir anak menjadi sempit.
Umpama, ketika anak emosi, cara meluapkan yang ia tahu hanyalah dengan
bersikap agresif. Setiap dilarang melakukan kesenangannya, anak akan
memukul, menendang, menjambak, bahkan melempar kita dengan benda yang
ada di tangannya. Pasalnya, anak tak diberitahu kalau untuk
mengungkapkan emosi bisa dengan berkomunikasi lebih baik,
mengungkapkan ketidaksetujuan dengan cara menggeleng dan sebagainya. 
>   4. Tidak punya empati. 
>   Dipukul, ditendang, dicubit, tentu akan terasa sakit. Bila anak
melakukannya namun kita tak menjelaskan akibat yang ditimbulkannya,
membuat anak tidak tahu bahwa ada orang lain yang kesakitan.
Ketidaktahuan inilah yang akhirnya membuat anak tidak tersentuh rasa
empatinya. Empati yang tak tersentuh membuatnya sulit untuk berempati
kepada orang lain. Padahal, empati dapat memperkuat sifat kasih sayang
anak. Bila empati tidak ada dan anak tak punya rasa kasih sayang,
dikhawatirkan akan membuat pertumbuhan kepribadiannya tidak ke arah
positif. Mungkin saja dia akan seenaknya dalam berperilaku, mau menang
sendiri, tak peduli dengan penderitaan orang lain. 
>    
>   TIP & TRIK MENGATASI
>   * Terangkan.
>   Maklum, usia anak masih kecil, tentu dia perlu belajar banyak dari
lingkungannya mengenai apa yang boleh dan tak boleh dilakukannya.
Jadi, kala anak bersikap agresif, segera atasi dengan menerangkan
bahwa apa yang dilakukannya dapat menyakiti orang lain, "Adek, kok
Mama dipukul? Kan sakit." Dari situ anak bisa berpikir kalau
tindakannya itu bisa menyakiti orang lain. Lalu empatikan ke anak
terhadap rasa sakit yang kita derita, "Coba kalau Adek dipukul,
bagaimana rasanya? Pasti sakit!" Dengan berusaha menumbuhkan empati
yang ada, anak akan lebih berhati-hati bersikap. Tentu agak sulit
meminta anak untuk segera memahami apa yang kita terangkan. Namun bila
kita terus berusaha, lambat laun anak akan mengubah sikap agresifnya.
Demikian pula bila yang dipukul adalah orang lain, seperti om-tante,
pengasuh, atau guru, segeralah terangkan bahwa perilaku tersebut tak
baik dilakukan anak. 
>   * Berikan alternatif perilaku. 
>   Jangan hanya menerangkan tetapi kita harus memberikan alternatif
perilaku lain yang bisa dilakukan anak, supaya anak benar-benar
memahami apa yang seharusnya dia lakukan. Misal, dengan meminta anak
untuk tidak memukul tetapi menyayangi kita, "Adek, lebih asyik kalau Adek 
>   sayang sama Mama. Begini nih caranya," sambil kita menunjukkan
cara bagaimana perilaku menyayangi itu, seperti membelai rambut,
mencium pipi, dan sebagainya. Dengan alternatif perilaku ini, sikap
agresif anak menjadi teralihkan. Bila kita tidak mengalihkan, anak
akan bingung, bagaimana dia harus berperilaku. 
>   Mungkin, terhadap anak yang pada dasarnya sangat aktif sehingga
dia mudah bersikap agresif, perlu cara lain untuk mengatasinya.
Umpama, dengan memberinya sansak untuk dijadikan sarana memukul,
menendang, sehingga emosinya tersalurkan. Atau mungkin bisa memberikan
alat-alat tulis sehingga anak bisa mencorat-coret atau mengungkapkan
keinginannya lewat gambar atau tulisan. 
>   * Libatkan ahli. 
>   Bila penyebab agresivitasnya karena gangguan pada diri anak
seperti hiperaktif atau autisme, tentu sangat berat menangainya
sendiri. Pasalnya, butuh konsistensi dan terapi tertentu sehingga kita
perlu bantuan ahli, seperti psikolog. Klinik-klinik atau sekolah untuk
anak kebutuhan khusus biasanya punya metode tertentu yang dapat
diterapkan ke anak. 
>   * Beri perhatian secara adil. 
>   Bila penyebabnya adalah mencari perhatian karena lahirnya adik,
selain memberi penjelasan kita pun perlu mengoreksi diri apakah selama
ini kita kurang memberinya perhatian. Sambil memberi perhatian, tak
salah bila kita meminta maaf, "Maaf ya Kak, kemarin Mama sibuk
memerhatikan adik. Mama juga sayang kok sama Kakak." 
>   Bila anak keterusan mencari perhatian, maka tindakan yang paling
efektif adalah tidak mengacuhkan perilakunya. Biarkan saja anak
agresif karena kalau hanya "caper" pasti akan hilang sendiri lantaran
"capernya" tak berhasil. 
>   * Tidak memojokkan tapi berikan reward. 
>   Saking kesal dengan perilaku anak sering kali sikap kita lepas
kontrol. Kita menangani anak dengan kata-kata kasar, mengancam, bahkan
tindakan fisik yang membuat anak terpojok. Tindakan ini tak dibenarkan
karena anak akan bingung untuk melakukan sesuatu yang benar. Ditambah
lagi anak mendapat contoh baru, kata-kata kasar, yang dikhawatirkan
kelak akan dicontoh anak. 
>   Sebaiknya kita kembangkan sisi positifnya. Bila anak berhasil
meredam emosinya dengan tutur kata yang baik, berilah reward, "Pintar,
begitu dong kalau ingin minta susu, bilang dengan baik," sambil kita
membelai rambutnya. Dengan begitu anak akan senang melakukannya lagi
dan lambat laun sikap agresifnya pun akan hilang. 
>   Irfan Hasuki. Foto: Ferdi/NAKITA
>   Narasumber: 
>   Vitriani Sumarlis, MSi., Psi.,
>   dari Sekolah Dasar Khusus Pantara, Jakarta Selatan
> 
>     
>          
> 
> 
> 
> 
>        
> ---------------------------------
> Take the Internet to Go: Yahoo!Go puts the Internet in your pocket:
mail, news, photos & more.
>


Kirim email ke