taunya di jkt mba, dr baharuddin, RSIA budi kemulyaan atau YPK rgts jihan
> Maaf, mumpung masi soal ELO, sy mau tanya barangkali diantara ibu2 ada > yg tau. Kalau di hermina bogor ELO uda jadi prosedur std persalinan > blm ya? Atau paling tdk ada ga dokter yg sudah menerapkan elo? Trims > b4 - Tutia > > On 7/10/07, elizabethtanti <[EMAIL PROTECTED]> wrote: >> >> (ARTIKEL ELO) Bayi Jangan Langsung Dimandikan Setelah Lahir >> >> >> Sumber : http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=91206 >> >> Rabu, 4 Agustus 2004 >> >> Cegah Hilangnya Refleks Menyusu : >> Bayi Jangan Langsung Dimandikan Setelah Lahir >> >> >> Penelitian di Swedia baru-baru ini memperlihatkan bayi yang >> diletakkan di dekat puting ibunya segera setelah lahir memiliki >> respon menyusui yang lebih baik, dibandingkan bayi yang dibersihkan >> lebih dahulu. Kondisi itu sangat menguntungkan sang bayi karena >> tidak saja mendapatkan kolostrum dari ASI --yang kaya zat gizi untuk >> kekebalan tubuhnya-- tetapi juga melatih refleks menyusunya dengan >> benar. >> >> Dalam sebuah tayang video disajikan bagaimana bayi baru lahir itu >> diletakkan di samping puting ibunya mampu menggerakkan tangan dan >> kakinya untuk mendapatkan puting ibunya. Begitu didapat, bayi dengan >> cepat membuka lebar mulutnya, lalu menyusui tanpa dibantu tangan >> ibunya. Setelah 10 menit bayi kemudian dibersihkan, kemudian >> diletakkan kembali ke dada ibunya. Refleks menyusunya sangat cepat >> dengan menggunakan tenaganya sendiri. >> >> Sementara bayi yang dibersihkan setelah lahir, lalu diletakkan >> disamping puting ibunya tidak memperlihatkan respon atas puting >> ibunya. Meski sudah diletakkan diatas puting, bibir si bayi hanya >> diam saja. Keinginan menyusu dari bayi baru terjadi 10 jam kemudian, >> itupun harus dipandu sang ibu karena bayi kesulitan mendapatkan >> puting ibunya sambil menangis. >> >> "Jika begitu lahir bayi langsung dimandikan, refleks menyusu ini >> langsung hilang 50 persen. Jika bayi lahir dengan operasi Caesar dan >> langsung dimandikan, refleks itu 100 persen hilang," kata Ketua >> Sentra Laktasi Indonesia, dr Utami Roesli mengomentari tayang yang >> menarik itu dalam sebuah diskusi tentang ASI, di Jakarta, Jumat >> (30/7) sehubungan dengan peringatan peringatan Pekan ASI Dunia 2004 >> yang jatuh pada 1-7 Agustus. >> >> Penelitian terbaru itu, menurut dr Utami Roesli, seharusnya bisa >> mematahkan prosedur persalinan yang selama ini langsung membersihkan >> bayi segera setelah dilahirkan. "Bila melihat efek yang luar biasa >> pada bayi, kenapa kita tidak mencoba mempraktekkannya. Tetapi memang >> usaha ini bukan perkara mudah, karena bukan saja terkait dengan >> kebiasaan yang sudah mengakar masyarakat, tetapi juga harus >> berhadapan dengan produsen susu formula yang melakukan praktek gelap >> di rumah sakit," katanya. >> >> Beberapa rumah sakit memberikan susu formula pada bayi yang baru >> lahir sebelum ibunya mampu memproduksi ASI. Hal itu menyebabkan bayi >> tidak terbiasa menghisap ASI dari puting susu ibunya, dan akhirnya >> tidak mau lagi mengonsumsi ASI atau sering disebut dengan "bingung >> puting". >> >> "Menghisap susu dari botol itu lain dengan menghisap puting susu >> ibu. Bayi harus belajar sejak awal dan ibu juga harus belajar >> menyusui, karena ketrampilan itu memang harus dipelajari oleh >> keduanya," ujar dr Utami Roesli. >> >> Sejak lahir, seorang bayi harus diajari menyusu dengan cara >> memasukkan seluruh areola payudara (daerah berwarna cokelat di >> payudara ibu) ke dalam mulut bayi. Jika bayi hanya mengisap puting >> susu saja, ASI yang keluar hanya sedikit. "Gudang ASI terletak di >> bawah daerah cokelat itu. Jika yang diisap hanya putingnya saja, ASI >> yang keluar hanya sedikit. Sedangkan, kalau dari daerah cokelat itu, >> ASI yang keluar akan banyak sekali," jelas Utami. >> >> Jika ASI di gudang itu habis, pabrik ASI (alveoli) akan segera >> memproduksi lagi. Alveoli berbentuk bulat dan bergerombol seperti >> buah anggur. Alveoli dikelilingi otot yang disebut myoepithel. Otot >> inilah yang memompa ASI keluar dari alveoli menuju gudang ASI. >> >> Namun, kinerja myoepithel sangat tergantung pada hormon oksitosin >> yang dikirim otak. Jika oksitosin keluar, otot pun bekerja. >> Sedangkan, oksitosin bisa keluar jika ibu merasa tenang dan disayang >> oleh suami serta mendapat dukungan dari orang-orang di >> sekelilingnya. "Makanya hormon ini disebut hormon kasih sayang. Dan >> di sinilah ayah memegang peranan penting," tegas Utami. >> >> Macetnya proses pemberian ASI ini disebabkan beberapa hal. Misalnya, >> bayi yang tidak bisa mengisap, posisi menyusui yang salah, ibu >> merasa tidak nyaman, atau suami dan lingkungan tidak >> mendukung. "Tidak ada cerita seorang ibu tidak bisa menyusui atau >> ASI yang tidak cukup. Perhatikan saja seekor marmut yang kecil bisa >> menyusui 12 ekor anaknya. Bayi gajah yang besar juga bisa disusui >> dengan cukup oleh induknya. Mereka tidak memerlukan susu hewan lain >> untuk memenuhi kebutuhan susu. ASI diproduksi berdasarkan jumlah >> yang dikeluarkan," ungkap Utami. >> >> Dua Persen >> >> Ia memperkirakan jumlah ibu yang memberikan ASI eksklusif kepada >> bayinya sampai berumur enam bulan saat ini masih rendah, yaitu >> kurang dari dua persen dari jumlah total ibu melahirkan. "Itu antara >> lain terjadi karena pengetahuan ibu tentang pentingnya ASI masih >> rendah, tatalaksana rumah sakit yang salah, dan banyaknya ibu yang >> mempunyai pekerjaan di luar rumah," ucapnya. >> >> ASI eksklusif adalah pemberian ASI tanpa makanan tambahan lain pada >> bayi berumur nol sampai enam bulan. ASI eksklusif adalah makanan >> terbaik yang harus diberikan kepada bayi, karena di dalamnya >> terkandung hampir semua zat gizi yang dibutuhkan oleh bayi. >> >> "Tidak ada yang bisa menggantikan ASI karena ASI didesain khusus >> untuk bayi, sedangkan susu sapi komposisinya sangat berbeda sehingga >> tidak bisa saling menggantikan," jelasnya. >> >> Menurut dia, ada lebih dari 100 jenis zat gizi dalam ASI antara lain >> AA, DHA, Taurin dan Spingomyelin yang tidak terdapat dalam susu >> sapi. Beberapa produsen susu formula mencoba menambahkan zat gizi >> tersebut, tetapi hasilnya tetap tidak bisa menyamai kandungan gizi >> yang terdapat dalam ASI. "Lagi pula penambahan zat-zat gizi tersebut >> jika tidak dilakukan dalam jumlah dan komposisi yang seimbang maka >> akan menimbulkan terbentuknya zat yang berbahaya bagi bayi," katanya. >> >> Ditegaskan, ASI sangat diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangan >> kecerdasan anak. "Menurut penelitian, anak-anak yang tidak diberi ASI >> mempunyai IQ (Intellectual Quotient) lebih rendah tujuh sampai >> delapan poin dibandingkan dengan anak-anak yang diberi ASI secara >> eksklusif. Karena itu, mengkonsumsi ASI bagi bayi merupakan hak anak >> yang hakiki," ujarnya. >> >> Anak-anak yang tidak diberi ASI secara eksklusif juga lebih cepat >> terjangkiti penyakit kronis seperti kanker, jantung, hipertensi dan >> diabetes setelah dewasa. Kemungkinan anak menderita kekurangan gizi >> dan mengalami obesitas (kegemukan) juga lebih besar. >> >> Selain pada anak, pemberian ASI juga sangat bermanfaat bagi ibu. ASI, >> selain dapat diberikan dengan cara mudah dan murah juga dapat >> menurunkan resiko terjadinya pendarahan dan anemia pada ibu, serta >> menunda terjadinya kehamilan berikutnya. >> >> Hal lain yang jauh lebih penting adalah timbulnya ikatan bathin >> (bonding) yang kuat antara ibu dan anak. "Ibu juga tidak perlu susah- >> susah melakukan diet untuk mengecilkan perut setelah melahirkan, >> karena hisapan anak pada puting susu ibu merangsang keluarnya hormon >> yang dapat mengencangkan dinding-dinding perut ibu kembali," >> katanya. (T-1) >> >> >> > -- Jihanoesinnabila

