VISI KEPAHLAWANAN
Oleh: Udo Yamin Efendi Majdi

"Faktor utama yang mempengaruhi keberhasilan peradaban-peradaban dunia adalah 
"visi kolektif" yang dimiliki oleh para individunya mengenai masa depan 
mereka". (Fred Polak, Psikolog Belanda)

Apa makna hari pahlawan bagi Anda? Sebagai pelajar atau mahasiswa, mungkin akan 
Anda memaknainya sebagai hari bebas dari tugas belajar dalam kelas dan kampus. 
Sebagai pegawai atau karyawan, mungkin akan Anda maknai sebagai hari libur 
kerja dari tugas dan rutinitas yang membosankan. Sebagai keluarga atau 
keturunan pahlawan, mungkin ini adalah hari kesedihan karena ditinggalkan orang 
yang Anda cintai. Sebagai apapun kita, sah-sah saja memberikan makna apa saja 
terhadap Hari Pahlawan.

Bagi saya sendiri, hari ini adalah untuk mengafirmasi visi kepahlawan yang 
telah saya bangun selama ini. Ya, saya ingin mendiskusikan kepada Anda tentang 
visi kepahlawan. Namun karena keterbatasan ilmu saya dalam mengartikulasikan 
makna kepahlawanan, maka saya tidak pandai berteori, melainkan saya hanya akan 
bertutur tentang apa yang bisa saya lakukan dalam memenuhi visi kepahlawan itu.

Visi kepahlawanan itu mulai menyeruak dalam hati saya, tatkala telinga saya 
mendengar bahwa penduduk dunia semakin tidak mengenal Sang Pencipta alam 
semesta. Visi itu muncul, saat mata saya terbelalak melihat Indonesia seperti 
Burung Garuda patah sayap dan kakinya, sehingga menggelapar tak berdaya. Visi 
itu hadir, manakala saya merasakan orang-orang mulai melupakan kampung halaman 
dan kerabatnya, lalu bermegah-megah di kota metropolitan. Namun setelah saya 
teliti lebih dalam lagi, bukan hanya itu, yang membentuk cara pandang saya 
bahwa Indonesia butuh para pahlawan. Visi itu datang sewaktu nurani saya 
menjerit karena saya tidak mampu menjadi seorang dermawan untuk mengentaskan 
kemiskinan; hati saya terluka karena tidak sanggup menjadi seorang guru untuk 
menghapuskan kebodohan; dan jiwa saya menangis karena belum jadi solusi dari 
beraneka-ragam patologi sosial.

Visi itu semakin mengkristal sewaktu saya pulang ke Indonesia. Di sebuah tokok 
buku di kota Bogor, saya menemukan buku karya Anis Matta, berjudul "Mencari 
Pahlawan Indonesia". Buku tersebut saya bawa ke Mesir. Buku berisi 76 kolom 
yang pernah dimuat dalam Tarbawi itu, menggerakkan hati saya untuk berbuat 
sesuatu. Saya pun ajak isteri saya untuk melakukannya. Sebelum mata kami 
terpejam, saya dan  isteri saya mendiskusikan satu persatu tulisan itu. Hingga 
ketika hari ke-76, tersisa sebuah pertanyaan: "bagaimana menciptakan pahlawan 
itu?" Sebelumnya, pembicaraan kami masih pada tahap membicarakan "apa itu 
pahlawan dan mengapa kita butuh pahlawan?". Makna pahlawan bagi kami sangat 
sederhana, yaitu manakala kami mampu melejitkan potensi diri terbaik dan 
memberikannya kepada siapa saja yang membutuhkan. Itulah alasan, mengapa 
pahlawan sangat dibutuhkan saat manusia tak mampu memberikan yang terbaik. Dari 
sanalah, kami berdua mulai merumuskan cara melahirkan pahlawan itu. Dan kami
 punya kesimpulan, bahwa pahlawan itu tidak pernah datang, bila tidak diawali 
dari diri sendiri.  

Maka visi kepahlawan itu, menjadi visi pribadi dan visi keluarga kami. Sehingga 
setiap hari, kata-kata pahlawan, sering muncul dalam mulut kami. Bahkan, jauh 
hari sebelum kami memiliki anak, kami telah merumuskan cara mendidik anak kami 
agar menjadi seorang pahlawan. Kami sebut, PENDIDIKAN BERBASIS KASIH SAYANG; 
Tujuh Prinsip Mendidik Anak Menjadi Pahlawan. Bahkan, kami menyiapkan nama 
anak-anak kami yang memiliki makna kepahlawan. (silahkan baca e-mail 
selanjutnya: Ketika Vira Bicara). Bukan hanya itu saja, ketika membuat multiply 
pun, kata pahlawan itu tak bisa saya tinggalkan (klik 
www.udoyamin.multiply.com). Ketika anak kami lahir, saya membuat tulisan yang 
saya print out, lalu saya bingkai dengan pigura: "Selamat datang pahlawan kami, 
semoga menjadi rahmatan lil 'alamin"

Hari ini, tanggal 10 November 2007, visi kepahlawanan itu memasuki tahun 
ketiga. Selama itu, beragam warna perasaan yang kami ukir dalam kanvas 
kehidupan. Ada rasa lucu, tatkala isteri saya yang sedang mengandung tujuh bayi 
pertama kami merengek kepada saya: "Buya... ingin Kedondong!"

"Lho, bunda jangan macam-macam dong. Di Mesir ini mana ada Kedondong? Pohonnya 
aja gak ada, apalagi buahnya!" jawab saya.

Dengan cemberut, isteri saya berkata: "Ini kan, bukan kemauan bunda, tapi 
keinginan pahlawan!"

Ada rasa bahagia, ketika ibu-bapak dan kedua mertua saya mengirim SMS: 
"Pahlawan, nenek dan kakek sangat rindu padamu". Ya, teman-teman dekat saya, 
ketika menanyakan tentang anak saya, dengan kata: "Gimana khabar pahlawan?". 
Begitu juga dengan adik-kakak dan teman-teman saya di Indonesia. Itu mereka 
lakukan, setelah mereka mengetahui dan memahami visi kepahlawanan yang saya 
maksud.

Ada rasa sedih, saat anak pertama saya yang berumur 1 tahun 6 bulan, menunjuk 
kulkas dan berkata: "Aaadnah..., 'aaadnah..., aaadnah...!" Itu kata-kata yang 
anak saya ucapkan ketika minta dot berisi susu, padahal di kulkas susu sudah 
habis, sedangkan duit habis untuk bayar sewa rumah, listrik, telpon, keperluan 
kuliah, dan kebutuhan sehari-hari. Hiks...

Dan ada juga rasa bahagia dan semangat hidup, tatkala memandang dan bermain 
bersama kedua anak saya. Sebab, setiap saya memanggil nama mereka, di sana ada 
konsekuensi dari visi kepahlawanan yang telah kami pancangkan, agar kami 
melahirkan generasi sholeh, cerdas, kreatif, dan mandiri yang akan membangun 
dunia. Nama mereka adalah judul dari naskah kehidupan yang harus kami jalani 
dan perjuangkan. Apapun yang terjadi, visi itu tidak boleh hilang. Visi itu 
menuntun saya untuk berkata: "Persoalan bangsa tak pernah akan selesai dengan 
kata-kata, tapi berbuatlah sesuatu!" Visi itu pula yang membuat saya kuat dalam 
dunia sunyi. Visi itu menjadikan saya tidak begitu menghiraukan apapun komentar 
manusia, yang penting berbuat, biarlah Allah, rasul-Nya, dan orang-orang 
beriman menjadi saksi. Visi itu pula membuat saya merindukan ingin bertemu 
Allah Swt dan sang pahlawan sejati; nabi Muhammad Saw. Nah, sekali lagi, apa 
makna hari ini bagi Anda? Wallahu a'lamu bish shawab.
 



======================================================
  Best Regards
  UDO YAMIN EFENDI MAJDI 
Penulis QURANIC QUOTIENT: Menggali & Melejitkan Potensi Diri Melalui Al-Quran
(Qultum Media, 2007)
  http://www.udoyamin.blogspot.com/
http://udoyamin.wordpress.com/
http://udoyamin.multiply.com/
  ======================================================

       
---------------------------------
Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di bidang Anda di Yahoo! 
Answers

Kirim email ke