Salam buat teman-teman semua,

Terutama sekali Mas Udo, untuk tulisannya yang mudah-mudahan bisa membuat 
mata pembacanya untuk melihat secara nyata dan tergugah untuk memiliki 
"VISI KEPAHLAWAN" dalam hati dan pikiran serta tindakan sehari-hari.

Saya hanya mau menambahkan saja, walaupun hanya semacam himbauan dan 
masukkan saja. Kalau menurut Mas Udo, untuk menciptakan pahlawan dengan 
menyebut anak-anaknya dengan kata pahlawan. Ada yang paling berharga lagi 
yang dapat kita lakukan untuk menghargai para pahlawan bangsa ini adalah 
menumbuhkan rasa cinta tanah air dan bangsa serta bahasa Indonesia. Pasti 
bertanya bagaimana caranya? Sebetulnya susah-susah gampang atau gampang-gampang 
susah bagi kita orangtua jaman sekarang. Kita ambil contoh paling mendasar saja 
adalah bagaimana kita memberi contoh kepada anak untuk membuang sampah 
pada tempat, sedangkan kita terkadang dengan sesuka hati membuah kertas 
kecil sembarangan atau plastik bekas makan. Jika anak bilang ayah/bunda 
jangan buang sampah sembarangan....maka kita akan mencari 1001 alasan, 
seperti: wah, ayah/bunda lupa, kan itu hanya sampah kecil, atau kamu itu 
sok dewasa, atau besok-besok ayah/bunda tidak akan lupa lagi deh......

Cinta lingkungan sekitar kita dengan menumbuhkan rasa sosial yang besar 
itu terhadap sesama manusia, tanpa mengenal bibit-bobot-bebet, atau status 
sosial dari manusia tersebut dan ditambah untuk hilangkan rasa curiga 
diantara sesama, itu dapat membuat "Visi Kepahlawan" para pejuang kita 
dapat berjalan dengan penuh khikmad dan membuat sesama kita sejahtera. 
Masih banyak cara menumbuhkan "VISI KEPAHLAWANAN", seperti: berbahasa 
Indonesialah dengan benar dan baik, kalau kita saja 
tidak menghargai bahasa ibu kita, bagaimana bangsa lain menghargai kita. 
Sama seperti hubungan antara orang tua dengan anak-anaknya, kalau 
anak-anak kita tidak mendengarkan saran atau wejangan (kata orang jawa) 
maka kita jangan pernah mengharapkan saran atau wejangan kita di dengar 
orang lain. 

Maka mari kita didik anak-anak bangsa Indonesia dengan penuh rasa 
kebanggan karena mereka adalah penerus kita dengan menumbuhkan rasa cinta 
terhadap nilai dan norma yang baik yang telah di teladani oleh para pejuang 
kita yang mengorbankan 
darah-jiwa-raganya untuk keturunannya. 

SALAM......
AYAH MUTIARA DAN DANIEL NUSANTARA SAMOSIR





VISI KEPAHLAWANAN
Oleh: Udo Yamin Efendi Majdi

"Faktor utama yang mempengaruhi keberhasilan peradaban-peradaban dunia 
adalah "visi kolektif" yang dimiliki oleh para individunya mengenai masa 
depan mereka". (Fred Polak, Psikolog Belanda)

Apa makna hari pahlawan bagi Anda? Sebagai pelajar atau mahasiswa, mungkin 
akan Anda memaknainya sebagai hari bebas dari tugas belajar dalam kelas 
dan kampus. Sebagai pegawai atau karyawan, mungkin akan Anda maknai 
sebagai hari libur kerja dari tugas dan rutinitas yang membosankan. 
Sebagai keluarga atau keturunan pahlawan, mungkin ini adalah hari 
kesedihan karena ditinggalkan orang yang Anda cintai. Sebagai apapun kita, 
sah-sah saja memberikan makna apa saja terhadap Hari Pahlawan.

Bagi saya sendiri, hari ini adalah untuk mengafirmasi visi kepahlawan yang 
telah saya bangun selama ini. Ya, saya ingin mendiskusikan kepada Anda 
tentang visi kepahlawan. Namun karena keterbatasan ilmu saya dalam 
mengartikulasikan makna kepahlawanan, maka saya tidak pandai berteori, 
melainkan saya hanya akan bertutur tentang apa yang bisa saya lakukan 
dalam memenuhi visi kepahlawan itu.

Visi kepahlawanan itu mulai menyeruak dalam hati saya, tatkala telinga 
saya mendengar bahwa penduduk dunia semakin tidak mengenal Sang Pencipta 
alam semesta. Visi itu muncul, saat mata saya terbelalak melihat Indonesia 
seperti Burung Garuda patah sayap dan kakinya, sehingga menggelapar tak 
berdaya. Visi itu hadir, manakala saya merasakan orang-orang mulai 
melupakan kampung halaman dan kerabatnya, lalu bermegah-megah di kota 
metropolitan. Namun setelah saya teliti lebih dalam lagi, bukan hanya itu, 
yang membentuk cara pandang saya bahwa Indonesia butuh para pahlawan. Visi 
itu datang sewaktu nurani saya menjerit karena saya tidak mampu menjadi 
seorang dermawan untuk mengentaskan kemiskinan; hati saya terluka karena 
tidak sanggup menjadi seorang guru untuk menghapuskan kebodohan; dan jiwa 
saya menangis karena belum jadi solusi dari beraneka-ragam patologi 
sosial.

Visi itu semakin mengkristal sewaktu saya pulang ke Indonesia. Di sebuah 
tokok buku di kota Bogor, saya menemukan buku karya Anis Matta, berjudul 
"Mencari Pahlawan Indonesia". Buku tersebut saya bawa ke Mesir. Buku 
berisi 76 kolom yang pernah dimuat dalam Tarbawi itu, menggerakkan hati 
saya untuk berbuat sesuatu. Saya pun ajak isteri saya untuk melakukannya. 
Sebelum mata kami terpejam, saya dan  isteri saya mendiskusikan satu 
persatu tulisan itu. Hingga ketika hari ke-76, tersisa sebuah pertanyaan: 
"bagaimana menciptakan pahlawan itu?" Sebelumnya, pembicaraan kami masih 
pada tahap membicarakan "apa itu pahlawan dan mengapa kita butuh 
pahlawan?". Makna pahlawan bagi kami sangat sederhana, yaitu manakala kami 
mampu melejitkan potensi diri terbaik dan memberikannya kepada siapa saja 
yang membutuhkan. Itulah alasan, mengapa pahlawan sangat dibutuhkan saat 
manusia tak mampu memberikan yang terbaik. Dari sanalah, kami berdua mulai 
merumuskan cara melahirkan pahlawan itu. Dan kami punya kesimpulan, bahwa 
pahlawan itu tidak pernah datang, bila tidak diawali dari diri sendiri. 

Maka visi kepahlawan itu, menjadi visi pribadi dan visi keluarga kami. 
Sehingga setiap hari, kata-kata pahlawan, sering muncul dalam mulut kami. 
Bahkan, jauh hari sebelum kami memiliki anak, kami telah merumuskan cara 
mendidik anak kami agar menjadi seorang pahlawan. Kami sebut, PENDIDIKAN 
BERBASIS KASIH SAYANG; Tujuh Prinsip Mendidik Anak Menjadi Pahlawan. 
Bahkan, kami menyiapkan nama anak-anak kami yang memiliki makna 
kepahlawan. (silahkan baca e-mail selanjutnya: Ketika Vira Bicara). Bukan 
hanya itu saja, ketika membuat multiply pun, kata pahlawan itu tak bisa 
saya tinggalkan (klik www.udoyamin.multiply.com). Ketika anak kami lahir, 
saya membuat tulisan yang saya print out, lalu saya bingkai dengan pigura: 
"Selamat datang pahlawan kami, semoga menjadi rahmatan lil 'alamin"

Hari ini, tanggal 10 November 2007, visi kepahlawanan itu memasuki tahun 
ketiga. Selama itu, beragam warna perasaan yang kami ukir dalam kanvas 
kehidupan. Ada rasa lucu, tatkala isteri saya yang sedang mengandung tujuh 
bayi pertama kami merengek kepada saya: "Buya... ingin Kedondong!"

"Lho, bunda jangan macam-macam dong. Di Mesir ini mana ada Kedondong? 
Pohonnya aja gak ada, apalagi buahnya!" jawab saya.

Dengan cemberut, isteri saya berkata: "Ini kan, bukan kemauan bunda, tapi 
keinginan pahlawan!"

Ada rasa bahagia, ketika ibu-bapak dan kedua mertua saya mengirim SMS: 
"Pahlawan, nenek dan kakek sangat rindu padamu". Ya, teman-teman dekat 
saya, ketika menanyakan tentang anak saya, dengan kata: "Gimana khabar 
pahlawan?". Begitu juga dengan adik-kakak dan teman-teman saya di 
Indonesia. Itu mereka lakukan, setelah mereka mengetahui dan memahami visi 
kepahlawanan yang saya maksud.

Ada rasa sedih, saat anak pertama saya yang berumur 1 tahun 6 bulan, 
menunjuk kulkas dan berkata: "Aaadnah..., 'aaadnah..., aaadnah...!" Itu 
kata-kata yang anak saya ucapkan ketika minta dot berisi susu, padahal di 
kulkas susu sudah habis, sedangkan duit habis untuk bayar sewa rumah, 
listrik, telpon, keperluan kuliah, dan kebutuhan sehari-hari. Hiks...

Dan ada juga rasa bahagia dan semangat hidup, tatkala memandang dan 
bermain bersama kedua anak saya. Sebab, setiap saya memanggil nama mereka, 
di sana ada konsekuensi dari visi kepahlawanan yang telah kami pancangkan, 
agar kami melahirkan generasi sholeh, cerdas, kreatif, dan mandiri yang 
akan membangun dunia. Nama mereka adalah judul dari naskah kehidupan yang 
harus kami jalani dan perjuangkan. Apapun yang terjadi, visi itu tidak 
boleh hilang. Visi itu menuntun saya untuk berkata: "Persoalan bangsa tak 
pernah akan selesai dengan kata-kata, tapi berbuatlah sesuatu!" Visi itu 
pula yang membuat saya kuat dalam dunia sunyi. Visi itu menjadikan saya 
tidak begitu menghiraukan apapun komentar manusia, yang penting berbuat, 
biarlah Allah, rasul-Nya, dan orang-orang beriman menjadi saksi. Visi itu 
pula membuat saya merindukan ingin bertemu Allah Swt dan sang pahlawan 
sejati; nabi Muhammad Saw. Nah, sekali lagi, apa makna hari ini bagi Anda? 
Wallahu a'lamu bish shawab.


======================================================
Best Regards
UDO YAMIN EFENDI MAJDI 
Penulis QURANIC QUOTIENT: Menggali & Melejitkan Potensi Diri Melalui 
Al-Quran
(Qultum Media, 2007)
http://www.udoyamin.blogspot.com/
http://udoyamin.wordpress.com/
http://udoyamin.multiply.com/
======================================================

 



This e-mail and attachments (if any) is intended only for the addressee(s) and 
is subject to copyright.
This email contains information which may be confidential or privileged. If you 
are not the intended
recipient please advise the sender by return email, do not use or disclose the 
contents and delete the
message and any attachments from your system. Unless specifically stated, this 
email does not
constitute formal advice or commitment by the sender or Colliers International 
or any of its subsidiaries.
 
Colliers International respects your privacy. Our privacy policies can be 
accessed by clicking
here: http://www.colliersmn.com/privacy.

Please let us know if you no longer wish to receive marketing material and 
other property information
from us - send an email to our Chief Privacy Officer at [EMAIL PROTECTED] If 
possible,
please include the name of the property and/or Colliers International 
publication that you most recently
received.

Kirim email ke