hai semua,

Saya bukan dokter, tapi dengan sharing ini membuat kita lebih berhati-hati 
terhadap penyakit yang menyerang anak-anak kita......terutama sekali kalau 
dalam masa 1 minggu dan telah ke dokter penyakit anak tidak kunjung 
sembuh......

Semoga lekas sembuh ya......

Ayah Tiara dan Daniel Riezky





olivia damarani <[EMAIL PROTECTED]>
Sent by: [email protected]
11/21/07 09:00 AM
Please respond to parentsguide

 
        To:     sigit carlos <[EMAIL PROTECTED]>, Mkom UI 
<[EMAIL PROTECTED]>, [EMAIL PROTECTED], 
[email protected], yusuf <[EMAIL PROTECTED]>
        cc: 
        Subject:        [parentsguide] kronologis penyakit  (hati-hati)


Hasan wrote:
>
> Dear mom's and dad
>
> Terima kasih atas doa dari mom's and dad, mengenai kronologis penyakit 
> anak
> saya ini adalah sebagai berikut :
>
> Anak saya kembar keduanya perempuan usia 2 tahun 11 bulan (desember 
nanti
> usianya 3 tahun), yang terkena penyakit ini adalah kakaknya bernama 
> Maureen
> Hiu, sedangkan adiknya Michelle Hiu sampai dengan saat ini Puji Tuhan 
> masih
> sehat-sehat saja.
>
> KRONOLOGIS Penyakit Anakku (MAUREEN HIU)
>
> Tgl. 05 Nov' 2007 hari Senin pagi jam 05.00, anak saya mendadak bangun
> dengan keluhan sakit perut, sudah diobati dengan menggunakan baluran 
> balsam
> maupun bawang merah, tetap tidak sembuh, tiba-tiba anak saya 
muntah-muntah
> sehingga langsung dibawa ke RS Hermina Jatinegara untuk diperiksa. 
Setelah
> diperiksa dan obat dicoba untuk diminumkan, kondisinya terlihat tidak
> terlalu mengkhawatirkan sehingga kita memutuskan untuk pulang ke 
> rumah. Tiba
> di rumah +/- jam 10 hingga sore jam 4 anak saya tidak mau makan, minum 
air
> putih maupun susu dan tetap mengeluh sakit perut, sehingga istri saya
> memutuskan untuk rawat inap dengan pertimbangan anak saya sudah terlihat
> lemas dan hanya mau tiduran terus di rumah.
>
> Tgl. 06-07 Nov' 2007, setelah diinfus ± 2 hari, anak saya mulai terlihat
> lebih segar dan sudah ceria/badung lagi, meskipun sesekali masih tetap
> mengeluh perutnya sakit dan makannya pun hanya sedikit sekali.
>
> Tgl. 08 Nov' 2007, hari Kamis pagi setelah cabut infus, ternyata kondisi
> anak saya drop lagi, lantaran perutnya yang makin sakit dan nafsu 
> makan yang
> berkurang. Malam harinya pun anak saya tidak dapat tidur karena
> sebentar-sebentar bangun dan merintih/menangis karena sakit perut.
>
> Tgl. 09 Nov' 2007, hari Jumat pagi anak saya agak mengantuk dan lemas 
> karena
> semalaman tidak tidur. Mempertimbangkan bahwa sakit perutnya tak kunjung
> reda, istri saya minta ke dokter agar diperiksa urinenya untuk 
meyakinkan
> apakah anak saya terkena infeksi saluran kencing, dan ternyata hasilnya
> semuanya normal. Istri saya juga meminta agar anak saya dikonsultasikan 
ke
> dokter pencernaan, yang dikatakan bahwa anak saya terkena radang 
lambung.
> Namun setelah minum obat, anak saya tetap tidak ada perubahan, malah 
mulai
> muncul keluhan sakit kepala, yang oleh dokter dikatakan normal 
> lantaran efek
> sakit perutnya yang tak kunjung sembuh. Akhirnya Jumat malam hingga 
Sabtu
> pagi kami mengalami nasib yang sama seperti malam sebelumnya (anak saya
> tidak bisa tidur karena sakit perut) dan mulai jam 3 pagi anak saya 
mulai
> muntah dan demam (37-38 C), sehingga akhirnya saya memutuskan untuk
> memanggil dokter anaknya untuk datang segera.
>
> Tgl. 10 Nov' 2007, setelah dokter datang ± jam 06.00, anak saya kembali
> diinfus dan diambil darahnya untuk pemeriksaan lengkap. Setelah diambil
> darahnya, anak saya tiba-tiba kejang (2x) dan akhirnya dokter memutuskan
> agar anak saya dirawat di ICU mengingat kondisinya yang parah. Setelah 
di
> ICU baru diketahui penyebab kejang adalah karena tekanan darah yang 
tinggi
> (170/100). Menjelang siang anak saya mulai hilang nafas sehingga harus
> menggunakan ventilator/respirat or.
>
> tgl. 11-12 Nov' 2007 penanganan anak saya di ICU dilakukan oleh tim 
dokter
> yg terdiri dr dokter2 spesialis (jantung, saraf, darah, enkologi, dan 
> dokter
> anak yang pertama menangani anak saya). Pada saat itu para dokter masih
> merasa aneh atas penyakit anak saya ini. Namun dugaan terkuat adalah 
> infeksi
> selaput otak (manginitis) yang dibuktikan dengan hasil pemeriksaan 
cairan
> otak lewat tulang belakang yang menunjukkan jumlah lekosit 40.000. Ini 
> juga
> dirasa dokter sebagai hal yang tak wajar karena selama menjadi dokter 
> tidak
> pernah diketemukan jumlah lekosit setinggi itu, paling top juga 1000 itu
> sudah maksimal.
>
> Satu lagi keanehan penyakit anak saya, hari senin tgl. 12 Nov' 2007 
> kemarin
> anak saya sempat shock lagi, dimana nadi melemah dan detak jantung 
melemah
> juga. Sementara menurut dunia medis hal yang wajar adalah nadi melemah
> karena kekurangan cairan sehingga seharusnya akan menyebabkan detak 
> jantung
> makin tinggi karena harus bekerja lebih cepat agar nadinya tetap dapat
> berdenyut. Lebih anehnya lagi, begitu dokter akan menyuntikkan obat agar
> nadi menguat, obat yang masuk hanya 5 cc saja, karena nadi sudah 
> menguat dan
> detak jantung yang semakin cepat, sementara untuk kasus-kasus gawat 
serupa
> umumnya obat yang harus disuntikkan minimal 50-100 cc.
>
> Tgl. 13-14 Nov' 2007, perkembangan terbaru, menurut suster jaga 
> semalam anak
> saya ada pergerakan sedikit saat akan diambil darahnya, namun dokter 
tidak
> bisa menjanjikan apa-apa karena tidak melihat secara langsung dan hasil
> pemeriksaan medis masih belum menunjukkan angka/hasil yang memuaskan.
> Meskipun pada saat itu hasil pemeriksaan lekosit darah menunjukkan angka
> normal (8000) sementara sebelumnya sempat menunjukkan angka 32.000, 
namun
> kondisi lainnya masih belum membaik, seperti gula darah masih terus 
tinggi
> sehingga harus dipacu dengan insulin, kencing masih belum normal yang
> terkadang banyak terkadang terlalu sedikit, tekanan darah yang juga 
masih
> naik turun, dan suhu tubuh yang terkadang normal namun terkadang juga
> terlalu dingin (dibawah 36 C).
>
> Tgl. 15 Nov' 2007 kemarin, kondisi anak saya menurun lagi, yang 
> ditunjukkan
> dengan jumlah lekosit darah yang meningkat lagi menjadi 21.000, pct yang
> naik dari 0,5 (normal) menjadi 10, dan ph yang menurun sehingga harus
> dilakukan transfusi darah. mengingat infeksi dalam darah mengalami
> peningkatan lagi, maka akhirnya dokter memutuskan untuk mengganti
> antibiotiknya dengan antibiotik "gram positif" tipe lainnya yaitu 
tiennam
> (sebelumnya Maxipim dan meronem dirasa bagus / sensitif untuk membunuh 
> kuman
> seratia yang ditemukan dalam darah anak saya - setelah darah anak saya
> dikultur selama ± 5 hari - namun karena kemudian lekosit dan hasil 
> test pct
> nya naik lagi, maka antibiotiknya harus diganti karena hal tersebut 
> artinya
> antibiotik yang lama sudah tidak efektif membunuh kuman seratia 
tersebut).
> Urine anak saya juga mulai ada darahnya, sehingga akhirnya dokter ahli 
> darah
> menyatakan anak saya harus diberi obat hibernin yang harganya ± Rp 4
> juta/ampul. Menurut dokter ahli darahnya, obat tersebut berguna untuk
> mencegah pendarahan di dalam. Jumlah trombosit anak saya juga mengalami
> penurunan, namun dokter masih belum dapat memastikan apakah penurunan
> trombosit dikarenakan adanya infeksi, ataukah disebabkan karena telah
> terjadi pendarahan di dalam yang oleh dunia medis disebut sebagai CDI.
>
> Sampai dengan hari ini, dokter masih terus memantau perkembangan/ efek 
dari
> pemberian antibiotik yang baru (tiennam) maupun pemberian obat hibernin,
> yang harganya setinggi langit itu.
>
> Saya terus berharap dan memohon bantuan doa dari Moms and Dads agar obat
> yang terakhir diberikan dokter tersebut adalah benar-benar obat yang 
tepat
> untuk membunuh kuman seratia tersebut, dan tidak ada kuman lagi 
ditemukan
> selain kuman seratia tersebut.
>
> Seandainya ada di antara peserta milis adalah dokter spesialis, saya 
juga
> mau bertanya apakah penanganan dokter terhadap anak tersebut sudah tepat
> atau belum ?Apakah dokter pernah menangani kasus maningitis serupa 
dengan
> yang anak saya alami ? Apakah memang gejala-gejala yang menyertai 
> maningitis
> seperti gula darah tinggi, hipertensi, dan suhu tubuh yang terkadang 
> dingin
> (< 36 C) normal diketemukan pada pasien penderita maningitis ?
>
> Demikian sharing dari saya. Sekedar informasi saja (hanya informasi saja
> perlu diwaspadai tapi tidak boleh terlalu takut yang penting berserah 
> kepada
> Tuhan) bahwa di Bandung sudah sering ditemukan anak-anak yang awalnya 
> hanya
> menderita batuk, pilek, demam, maupun sakit perut biasa yang tak kunjung
> sembuh, dan ternyata buntut-buntutnya adalah terkena penyakit 
maningitis.
> Jadi saran saya, jika memang anak Moms and Dads ada yang mengalami 
gejala
> serupa, segeralah untuk memeriksakan darahnya secara lengkap, sehingga 
> dapat
> segera diketahui apakah hal tersebut suatu yang normal atau tidak.
>
> Brgds,
>
> Hasan
>
> ::BCA::

mudah-mudahan bermanfaat 

jazakallah bil jannah 

Wassalamu'alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh 

Olivia Damarani 
 Be a better pen pal. Text or chat with friends inside Yahoo! Mail. See how.
 



This e-mail and attachments (if any) is intended only for the addressee(s) and 
is subject to copyright.
This email contains information which may be confidential or privileged. If you 
are not the intended
recipient please advise the sender by return email, do not use or disclose the 
contents and delete the
message and any attachments from your system. Unless specifically stated, this 
email does not
constitute formal advice or commitment by the sender or Colliers International 
or any of its subsidiaries.
 
Colliers International respects your privacy. Our privacy policies can be 
accessed by clicking
here: http://www.colliersmn.com/privacy.

Please let us know if you no longer wish to receive marketing material and 
other property information
from us - send an email to our Chief Privacy Officer at [EMAIL PROTECTED] If 
possible,
please include the name of the property and/or Colliers International 
publication that you most recently
received.

Kirim email ke