mom, sabar yach, mudah-mudahan Tuhan melakukan mujizat yg besar u/ anak ibu... kebetulan di kantor ku ada temen ku yg mempunyai anak 3 Tahun seperti leukosit nya sempat 32.000, waktu itu demamnya sempat tinggi hampir mencapai 42, dan cek darah tidak ada apa-apa.. saat ini sudah ke bagian hematologi, tp kayaknya blom ada hasil, apa ciri-ciri meningitis seperti itu yach??
----- Original Message ---- From: olivia damarani <[EMAIL PROTECTED]> To: sigit carlos <[EMAIL PROTECTED]>; Mkom UI <[EMAIL PROTECTED]>; [EMAIL PROTECTED]; [email protected]; yusuf <[EMAIL PROTECTED]> Sent: Wednesday, November 21, 2007 9:00:17 AM Subject: [parentsguide] kronologis penyakit (hati-hati) Hasan wrote: > > Dear mom's and dad > > Terima kasih atas doa dari mom's and dad, mengenai kronologis penyakit > anak > saya ini adalah sebagai berikut : > > Anak saya kembar keduanya perempuan usia 2 tahun 11 bulan (desember nanti > usianya 3 tahun), yang terkena penyakit ini adalah kakaknya bernama > Maureen > Hiu, sedangkan adiknya Michelle Hiu sampai dengan saat ini Puji Tuhan > masih > sehat-sehat saja. > > KRONOLOGIS Penyakit Anakku (MAUREEN HIU) > > Tgl. 05 Nov' 2007 hari Senin pagi jam 05.00, anak saya mendadak bangun > dengan keluhan sakit perut, sudah diobati dengan menggunakan baluran > balsam > maupun bawang merah, tetap tidak sembuh, tiba-tiba anak saya muntah-muntah > sehingga langsung dibawa ke RS Hermina Jatinegara untuk diperiksa. Setelah > diperiksa dan obat dicoba untuk diminumkan, kondisinya terlihat tidak > terlalu mengkhawatirkan sehingga kita memutuskan untuk pulang ke > rumah. Tiba > di rumah +/- jam 10 hingga sore jam 4 anak saya tidak mau makan, minum air > putih maupun susu dan tetap mengeluh sakit perut, sehingga istri saya > memutuskan untuk rawat inap dengan pertimbangan anak saya sudah terlihat > lemas dan hanya mau tiduran terus di rumah. > > Tgl. 06-07 Nov' 2007, setelah diinfus ± 2 hari, anak saya mulai terlihat > lebih segar dan sudah ceria/badung lagi, meskipun sesekali masih tetap > mengeluh perutnya sakit dan makannya pun hanya sedikit sekali. > > Tgl. 08 Nov' 2007, hari Kamis pagi setelah cabut infus, ternyata kondisi > anak saya drop lagi, lantaran perutnya yang makin sakit dan nafsu > makan yang > berkurang. Malam harinya pun anak saya tidak dapat tidur karena > sebentar-sebentar bangun dan merintih/menangis karena sakit perut. > > Tgl. 09 Nov' 2007, hari Jumat pagi anak saya agak mengantuk dan lemas > karena > semalaman tidak tidur. Mempertimbangkan bahwa sakit perutnya tak kunjung > reda, istri saya minta ke dokter agar diperiksa urinenya untuk meyakinkan > apakah anak saya terkena infeksi saluran kencing, dan ternyata hasilnya > semuanya normal. Istri saya juga meminta agar anak saya dikonsultasikan ke > dokter pencernaan, yang dikatakan bahwa anak saya terkena radang lambung. > Namun setelah minum obat, anak saya tetap tidak ada perubahan, malah mulai > muncul keluhan sakit kepala, yang oleh dokter dikatakan normal > lantaran efek > sakit perutnya yang tak kunjung sembuh. Akhirnya Jumat malam hingga Sabtu > pagi kami mengalami nasib yang sama seperti malam sebelumnya (anak saya > tidak bisa tidur karena sakit perut) dan mulai jam 3 pagi anak saya mulai > muntah dan demam (37-38 C), sehingga akhirnya saya memutuskan untuk > memanggil dokter anaknya untuk datang segera. > > Tgl. 10 Nov' 2007, setelah dokter datang ± jam 06.00, anak saya kembali > diinfus dan diambil darahnya untuk pemeriksaan lengkap. Setelah diambil > darahnya, anak saya tiba-tiba kejang (2x) dan akhirnya dokter memutuskan > agar anak saya dirawat di ICU mengingat kondisinya yang parah. Setelah di > ICU baru diketahui penyebab kejang adalah karena tekanan darah yang tinggi > (170/100). Menjelang siang anak saya mulai hilang nafas sehingga harus > menggunakan ventilator/respirat or. > > tgl. 11-12 Nov' 2007 penanganan anak saya di ICU dilakukan oleh tim dokter > yg terdiri dr dokter2 spesialis (jantung, saraf, darah, enkologi, dan > dokter > anak yang pertama menangani anak saya). Pada saat itu para dokter masih > merasa aneh atas penyakit anak saya ini. Namun dugaan terkuat adalah > infeksi > selaput otak (manginitis) yang dibuktikan dengan hasil pemeriksaan cairan > otak lewat tulang belakang yang menunjukkan jumlah lekosit 40.000. Ini > juga > dirasa dokter sebagai hal yang tak wajar karena selama menjadi dokter > tidak > pernah diketemukan jumlah lekosit setinggi itu, paling top juga 1000 itu > sudah maksimal. > > Satu lagi keanehan penyakit anak saya, hari senin tgl. 12 Nov' 2007 > kemarin > anak saya sempat shock lagi, dimana nadi melemah dan detak jantung melemah > juga. Sementara menurut dunia medis hal yang wajar adalah nadi melemah > karena kekurangan cairan sehingga seharusnya akan menyebabkan detak > jantung > makin tinggi karena harus bekerja lebih cepat agar nadinya tetap dapat > berdenyut. Lebih anehnya lagi, begitu dokter akan menyuntikkan obat agar > nadi menguat, obat yang masuk hanya 5 cc saja, karena nadi sudah > menguat dan > detak jantung yang semakin cepat, sementara untuk kasus-kasus gawat serupa > umumnya obat yang harus disuntikkan minimal 50-100 cc. > > Tgl. 13-14 Nov' 2007, perkembangan terbaru, menurut suster jaga > semalam anak > saya ada pergerakan sedikit saat akan diambil darahnya, namun dokter tidak > bisa menjanjikan apa-apa karena tidak melihat secara langsung dan hasil > pemeriksaan medis masih belum menunjukkan angka/hasil yang memuaskan. > Meskipun pada saat itu hasil pemeriksaan lekosit darah menunjukkan angka > normal (8000) sementara sebelumnya sempat menunjukkan angka 32.000, namun > kondisi lainnya masih belum membaik, seperti gula darah masih terus tinggi > sehingga harus dipacu dengan insulin, kencing masih belum normal yang > terkadang banyak terkadang terlalu sedikit, tekanan darah yang juga masih > naik turun, dan suhu tubuh yang terkadang normal namun terkadang juga > terlalu dingin (dibawah 36 C). > > Tgl. 15 Nov' 2007 kemarin, kondisi anak saya menurun lagi, yang > ditunjukkan > dengan jumlah lekosit darah yang meningkat lagi menjadi 21.000, pct yang > naik dari 0,5 (normal) menjadi 10, dan ph yang menurun sehingga harus > dilakukan transfusi darah. mengingat infeksi dalam darah mengalami > peningkatan lagi, maka akhirnya dokter memutuskan untuk mengganti > antibiotiknya dengan antibiotik "gram positif" tipe lainnya yaitu tiennam > (sebelumnya Maxipim dan meronem dirasa bagus / sensitif untuk membunuh > kuman > seratia yang ditemukan dalam darah anak saya - setelah darah anak saya > dikultur selama ± 5 hari - namun karena kemudian lekosit dan hasil > test pct > nya naik lagi, maka antibiotiknya harus diganti karena hal tersebut > artinya > antibiotik yang lama sudah tidak efektif membunuh kuman seratia tersebut). > Urine anak saya juga mulai ada darahnya, sehingga akhirnya dokter ahli > darah > menyatakan anak saya harus diberi obat hibernin yang harganya ± Rp 4 > juta/ampul. Menurut dokter ahli darahnya, obat tersebut berguna untuk > mencegah pendarahan di dalam. Jumlah trombosit anak saya juga mengalami > penurunan, namun dokter masih belum dapat memastikan apakah penurunan > trombosit dikarenakan adanya infeksi, ataukah disebabkan karena telah > terjadi pendarahan di dalam yang oleh dunia medis disebut sebagai CDI. > > Sampai dengan hari ini, dokter masih terus memantau perkembangan/ efek dari > pemberian antibiotik yang baru (tiennam) maupun pemberian obat hibernin, > yang harganya setinggi langit itu. > > Saya terus berharap dan memohon bantuan doa dari Moms and Dads agar obat > yang terakhir diberikan dokter tersebut adalah benar-benar obat yang tepat > untuk membunuh kuman seratia tersebut, dan tidak ada kuman lagi ditemukan > selain kuman seratia tersebut. > > Seandainya ada di antara peserta milis adalah dokter spesialis, saya juga > mau bertanya apakah penanganan dokter terhadap anak tersebut sudah tepat > atau belum ?Apakah dokter pernah menangani kasus maningitis serupa dengan > yang anak saya alami ? Apakah memang gejala-gejala yang menyertai > maningitis > seperti gula darah tinggi, hipertensi, dan suhu tubuh yang terkadang > dingin > (< 36 C) normal diketemukan pada pasien penderita maningitis ? > > Demikian sharing dari saya. Sekedar informasi saja (hanya informasi saja > perlu diwaspadai tapi tidak boleh terlalu takut yang penting berserah > kepada > Tuhan) bahwa di Bandung sudah sering ditemukan anak-anak yang awalnya > hanya > menderita batuk, pilek, demam, maupun sakit perut biasa yang tak kunjung > sembuh, dan ternyata buntut-buntutnya adalah terkena penyakit maningitis. > Jadi saran saya, jika memang anak Moms and Dads ada yang mengalami gejala > serupa, segeralah untuk memeriksakan darahnya secara lengkap, sehingga > dapat > segera diketahui apakah hal tersebut suatu yang normal atau tidak. > > Brgds, > > Hasan > > ::BCA:: mudah-mudahan bermanfaat jazakallah bil jannah Wassalamu'alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh Olivia Damarani Be a better pen pal. Text or chat with friends inside Yahoo! Mail. See how. ____________________________________________________________________________________ Be a better pen pal. Text or chat with friends inside Yahoo! Mail. See how. http://overview.mail.yahoo.com/

