Dirawatnya Soeharto ini mengingatkan saya pada ayah saya dulu. Ternyata harga kesehatan begitu berharga. Saat sudah semakin uzur organ telah semakin melemah.
Ternyata dokter mengalami dilema yang luar biasa saat menyembuhkan Soeharto. Dia kekurangan hemoglobin. Di transfusi agar hb nya naik jantungnya nggak kuat. Itu yang saya baca dari situs http:// www.halohalo.co.id Mengapa Napas Soeharto Tinggal 70 persen JAKARTA -- Banyak orang bertanya-tanya mengapa apa yang sebenarnya terjadi pada mantan presiden Soeharto. Apakah itu hal biasa pada orang-orang yang sudah senja seperti dia? Awalnya adalah melemahnya fungsi organ-organ Soeharto. Jantung Soeharto ini sudah pernah bermasalah pada 21 Juni 2001. Saat itu sang jenderal ini dipasangi alat pacu jantung. "Kami perkirakan alat pompa jantung di bilik kirinya tidak berfungsi dengan baik," kata Muhammad Munawar, salah satu anggota tim dokter Soeharto. Dan kini, saat Soeharto belum dirawat di Rumah Sakit Pusat Pertamina, Jakarta, dia mengalami bengkak-bengkak. Bengkak ini sebenarnya adalah bertumpuknya cairan di tempat yang tak semestinya. Biasanya cairan ini mengisi ruang-ruang antarsel. Ketika terjadi bengkak, Soeharto langsung diboyong ke rumah sakit. Dugaan dokter adalah alat pacu jantung Soeharto sudah mulai melempem. Bila alat pacu jantung ini tak bekerja normal, aliran darah dari dan menuju jantung pun seret. Kerja ginjal untuk membuang cairan pun kurang maksimal. Alhasil, terjadilah penumpukan cairan di beberapa bagian tubuh. Cairan yang ada di darah itu mengalir ke ruang-ruang antarsel. "Bisa bengkak di kaki, tangan, muka, dan tempat lainnya," kata Munawar. Karena macetnya alat pacu jantung itu, cairan menggenangi paru. Pada saat yang sama, ginjal Soeharto juga tak berfungsi baik. Dalam darah Soeharto terjadi kekurangan protein Protein inilah yang mempertahankan cairan di pembuluh darah. Ketika ini terjadi, cairan pun akhirnya mengalir ke luar pembuluh. Ini bisa terjadi bila ginjal bermasalah dan tak bisa mengeluarkan cairan. Kesehatan Soeharto mulai menuju titik terang setelah ia dipasangi alat pencuci darah continues venous hemodialysis. Melalui alat itu, cairan tubuh selain darah dikeluarkan sekitar 50 cc per jam atau satu liter per hari. Cairan berupa darah dimasukkan lagi lewat pembuluh darah yang sama. Dengan cara ini, kata Munawar, pembengkakan bisa dihentikan. "Bahkan cairan yang sebelumnya ada di paru-paru pasien bisa dibersihkan," katanya. Namun, masalah belum berhenti. Soeharto juga mengalami penurunkan kadar hemoglobin atau Hb. Ini adalah pembawa oksigen dalam sel darah merah. Pada Selasa lalu kadar hemoglobin Soeharto turun dari 8,4 menjadi 7,6 gram persen. Turunnya hemoglobin ini karena tubuh Soeharto yang berusia 87 tahun itu sudah tak bisa membentuk sel darah merah dengan baik. Untuk mengatasi hal itu, kata profesor Heriyanto Reksodipuro, anggota tim dokter Soeharto, dokter melakukan transfusi darah. Namun, transfusi darah bisa memberikan efek jantung bekerja lebih keras. Akibatnya jantung bisa menurun kinerjanya. Kerja jantung yang turun itu bisah berdampak pada pasokan darah ke ginjal merosot dan organ itu pun akan makin memburuk. Selasa lalu, misalnya, pengeluaran urinenya tercatat 13 cc per jam. Padahal, menurut Mardjo, dengan berat badan 75 kilogram, seharusnya Soeharto mengeluarkan urine 75 cc per jam. Kini dengan paru masih terendam cairan, Soeharto belum bisa bernapas normal. Napas Soeharto tinggal 70 persen. Dokter membantunya dengan memasang ventilator. Ventilator ini, kini menyokong 30 persen napas Soeharto. Hingga Sabtu malam pukul 23.00 kondisi Soeharto sudah sadar. Alat seperti ventilator masih bekerja untuknya. "Kondisinya sadar tapi masih ditidurkan," kata Juniarti Hatta, anggota tim dokter kepresidenan. (sun/ast)

