wah serem ya!!
  Temen-temen ada yang punya info ngga, merk produk yang ada bakterinya sama 
ciri-cirinya anak yang udah terjangkit bakteri itu, jadi kita bisa lebih 
tenang, soalnya Jeremy mulai lahir minum susu formula dan buburnya juga 
kadang-kadang pake bubur yang instan.
   
  Thanks buat infonya ya...........

lena hanifah <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          
http://www.pikiran-rakyat.com/
index.php?
mib=beritadetail&id=13292

lebih lengkapnya ini neh:

IPB Temukan Bakteri Dalam 
Produk Susu Bayi

JAKARTA, (PR).-
Pemerintah diminta segera 
menarik produk susu formula 
dan bubur bayi
yang tercemar bakteri 
Enterobacter sakazakii. 
"Masalah bakteri,
konsumen tidak bisa 
melihatnya. Mereka baru 
merasakan apabila sudah
terkena dampaknya. Oleh 
sebab itu, lebih baik bahan 
makanan yang
tercemar harus ditarik dari 
pasaran," kata Ketua YLKI 
Husna Zahir yang
dikutip okezone, Minggu (24/2).

Husna mengatakan, penarikan 
produk itu perlu dilakukan 
sambil menunggu
hasil keputusan yang diambil 
pemerintah terkait dengan 
temuan itu.
"Sambil menunggu tim 
gabungan bekerja, pemerintah 
bisa menarik produk
yang tercemar, sehingga 
konsumen tidak dirugikan," 
katanya.

Hal itu dikemukakan Husna 
terkait penemuan para 
peneliti Institut
Pertanian Bogor (IPB) 
mengenai adanya 
Enterobacter sakazakii dalam
susu formula anak-anak dan 
bubur bayi. Bakteri jenis ini bisa
menyebabkan radang selaput 
otak. Berdasarkan hasil 
penelitian terhadap
74 sampel susu formula, 13,5 
persen di antaranya 
mengandung bakteri
beracun. Tiga dari 46 sampel 
bubur susu bayi juga tercemar 
bakteri itu.

"Awalnya kami hanya ingin 
meneliti penyebab diare pada 
bayi, tapi saya
malah kaget dengan 
ditemukannya Enterobacter 
sakazakii, bukan bakteri
Escherichia coli yang sering 
ditemukan itu," kata Ketua 
Tim Peneliti
IPB, Sri Estuningsih, yang juga 
seorang ahli susu sapi dan 
makanan anak.

Menurut dia, bakteri 
Enterobacter sakazakii sangat 
membahayakan.
Selain bisa menyebabkan 
radang selaput otak, bakteri 
itu juga bisa
menyebabkan radang usus 
dan peradangan jaringan di 
seluruh tubuh.
"Apalagi, susu formula dan 
bubur bayi banyak diberikan 
kepada anak
usia di bawah satu tahun. Ini 
sangat membahayakan," 
katanya.

Penelitian ini dilakukan sejak 
tahun 2003 dan terus 
disempurnakan,
sebelum akhirnya 
dipublikasikan kepada Badan 
Pengawas Obat dan Makanan
(POM). Namun, dengan alasan 
Badan POM tidak memiliki 
kewenangan,
penelitian baru ditindaklanjuti 
dalam pertemuan dengan 
lembaga
terkait, Sabtu (23/2).

Dijelaskan Sri, temuan bakteri 
Enterobacter sakazakii pada 
susu
formula dan bubur bayi itu 
baru ditindaklanjuti oleh 
pemerintah,
dengan membentuk tim 
gabungan untuk mengusut 
kasus itu. "Kami, (Sabtu)
kemarin telah melakukan 
rapat dengan lembaga terkait 
di Kantor
Departemen Pertanian untuk 
membahas temuan kami," 
katanya.

Menurut dia, berdasarkan 
hasil pertemuan itu diputuskan 
pembentukan
tim gabungan yang berasal 
dari Departemen Kesehatan, 
Departemen
Pertanian, Badan POM, dan tim 
peneliti IPB yang melakukan 
penelitian
tersebut. "Nantinya, masing-
masing tim akan bekerja 
sesuai dengan
kapasitasnya," tuturnya.

Departemen Kesehatan, 
misalnya, akan meneliti 
tentang proses
pembuatannya. Departemen 
Pertanian pada bahan 
dasarnya, dan Badan POM
akan melakukan pendekatan 
kepada produsen. "Setelah tim 
gabungan ini
bekerja, nanti akan 
ditentukan langkah 
konkretnya," ujar Sri.

Umumkan segera

Sementara itu, masyarakat 
meminta agar pemerintah 
atau Balai Besar POM
Bandung segera melakukan 
penelusuran seputar masalah 
susu formula dan
bubur bayi yang ditengarai 
mengandung Enterobacter 
sakazakii. Hal itu
diperlukan agar masyarakat 
terhindar dari efek yang tidak 
diinginkan.

"Tetapi yang lebih penting, 
pemerintah segera 
mengumumkan nama susu
formula dan bubur bayi yang 
bermasalah, agar masyarakat 
bisa
menghindari produk beracun 
tersebut," ujar Dewi, ibu dari 
dua anak di
daerah Pasteur yang mengaku 
mengetahui hal itu dari 
internet.

Ketika "PR" meminta konfirmasi 
seputar masalah tersebut ke 
Balai Besar
POM di Bandung, mereka 
menyatakan belum menerima 
informasi seputar
masalah tersebut dari Badan 
POM. "Saya juga malah baru 
mengetahui
masalah tersebut dari salah 
satu media elektronik siang 
tadi," ujar
Kepala Bidang Sertifikasi dan 
Layanan Informasi Konsumen 
Balai Besar
POM Bandung, Dra. Siti 
Nuraniyah kepada "PR", Minggu 
(24/2).

"Biasanya, jika ada masalah 
yang harus ditindaklanjuti, 
Balai Besar
POM Bandung menerima 
faksimile, dan dari sana baru 
kita bisa melakukan
tindakan selanjutnya, sesuai 
dengan tugas yang diberikan. 
Tapi sejak
Jumat kemarin, kami tidak 
menerima surat apa pun," 
katanya. (A-34/A-62)***

--- End forwarded message ---



                         

       
---------------------------------
Looking for last minute shopping deals?  Find them fast with Yahoo! Search.

Kirim email ke