BUNDA AYUN AKU DALAM BUAIANMU ! http://parentingislami.wordpress.com
Bila kita perhatikan, pola asuh yang berbeda sangat terlihat antara pola asuh budaya Barat serta Timur. Kebanyakan pola asuh yang biasa diterapkan oleh masyarakat di Barat, tampak menerapkan kemandirian sejak anak masih kecil. Anak dibiarkan dalam kamar terpisah sendari dini ( bahkan sejak masih bayi ), dibiarkan untuk tertidur dalam kamarnya tersebut. Bandingkan dengan budaya di daerah Timur, bayi ditidurkan dengan diayun, di-ais ( bahasa Sunda ), di-emban ( bahasa Jawa ), tidur dalam satu kamar, bahkan satu tempat tidur dengan ayah bundanya. Sepintas nampak perbedaan yang jelas terhadap pola asuh tadi. Namun adakah pengaruh yang signifikan terhadap pola tumbuh kembang anak selanjutnya? Ternyata pola tadi sempat ditanyakan dalam bukunya Dr.Ratna Megawangi, Character Parents space, dikatakan bagaimana pengaruhnya bila anak dininabobokan oleh ibunya sebelum tidur. Ternyata jawabanya sungguh mengejutkan. Pola di Timur yang biasa kita lakukan ternyata perlu kita syukuri. Dikatakan bila anak lebih banyak mendapatkan dekapan dan sentuhan fisik, ada semacam kerinduan terhadap orangtuanya. Dan hal ini merupakan dasar bagi hubungan harmonis di dalam kelurga. Di Barat, anak yang diberi kamar sendiri sejak bayi, dalam perkembanganya anak bukannya mandiri , malah cenderung untuk individualis. Hal ini disebabkan karena sebenarnya mereka belum siap dipisahkan dan masih merindukan ketergantungan kepada orangtua. Hal ini didukung juga dengan penelitian yang memaparkan bahwa hal tadi ( meninabobokan dll ) dapat menimbulkan efek psikologis kedekatan hubungan antara ibu dan anak lebih erat. Anak merasa aman, mendapatkan kasih sayang, dan sentuhan membuat fondasi perkembangan spiritual dan emosi anak berkembang. Efek ini juga sama jika kita mendongengkan sebuah cerita. Pengaruh mengayun ini ternyata sangat luar biasa. Bukankah anak mudah tertidur saat kita ayun? Meng'ayun' sebenarnya 'fitrahnya' bayi. Karena ia terbiasa di'ayun'dalam cairan dalam rahim ibu saat ia masih dalam kandungan. Lihat saja saat ia menangis, pola mengayun ini sering membuat tenang (tentu bukan menangis karena lapar atau basah ya) Semoga tulisan ini dapat menjadi semangat bagi bunda atau ayah, yang mungkin kelelahan saat mengayun anaknya atau yang beranggapan bahwa mengayun anak membuat jadi kebiasaan yang salah atau bahkan membuat anak tergantung. Percayalah ini adalah investasi yang berharga bagi masa depannya kelak. Karena tentu kita berharap, anak-anak kita bukan saja tumbuh sehat secara jasmaninya saja, tapi juga sehat mentalnya juga sehat secara emosionalnya. Amiin Jadi bunda…., ayunlah anak-anak kita dalam buaianmu…. dr.Kharisma Perdani K *Public Relation WISE ( Women's Initiative for Society Empowerment ). Klinik, Konsultasi dan Pelatihan, Jl.Tubagus Ismail No.40A Bandung *Redaktur Parenting Islami

