Wah, menarik banget sharing-nya Mama Kavin.
Aku punya teman seorang apoteker. Jadi dia kasih
komentar juga pada point2 yang diungkapkan.
1. Menurunnya kestabilan obat - kenapa?
karena obat-obatan yang dicampur tersebut punya
kemungkinan
berinteraksi satu sama lain.  Setujuh, obat
yang fungsinya sejalan saja terkadang sering
berinteraksi dan memberikan efek yang kurang
menguntungkan seperti efek peniadaan terhadap efek
obat lainnya (ini masih untung, kadang ada obat yang
dicampur dengan obat lain membuat efek dengan
intensitas yang tinggi)
2. Bisa jadi obatnya sudah rusak sebelum mencapai
sasaran krn proses
penggerusan. Ada obat yang sedemikian rupa dibuat,
karena obat tersebut akan hancur
oleh asam lambung. Karena misalnya, obat itu ditujukan
untuk infeksi
saluran pernapasan atas, maka obat tersebut harus
dibuat sehingga terlindung
dari asam lambung. Nah, kalo digerus jadi puyer, ya
obat itu akan segera
hancur kena asam lambung. Lebih buruk, obat itu bisa
jadi malah akan melukai
lambung.  kalau yang ini sebenarnya kesalahan
dari peresepannya. Obat2 dengan mama kavin sebutkan
biasanya memang dibuat dalam bentuk sediaan khusus,
seperti tablet salut gula, salut selaput atau salut
enterik (obat2 ini dibaut khusus agar : tidak dirusak
oleh asam lambung, atau harus larut di usus, atau
larut secara perlahan-lahan agar memberi efek jangka
panjang atau disebut retard). Obat2 seperti ini
memang tidak boleh digerus. Ini siy berarti harus
kembali ke kesadaran dokter dan petugas apoteknya
dalam meresepkan atau menyiapkan obat dari resep
dokter.
3. Dosis yang berlebihan - dokter kan nggak mungkin
apal sama setiap
merek obat. Jadi akan ada kemungkinan dokter
meresepkan 2 merek obat yang
berbeda, namun kandungan aktifnya sama.  bener
juga. Padahal sebenarnya ada buku daftar obat seperti
MIMS atau ISO(kita juga bisa beli lho di toko2 buku
terdekat, buku ini keluar tiap tahun), tapi terkadang
kita pasien suka agak meragukan dokter yang membuka
primbon, kesannya dokternya kurang canggih. Kalau
mengingat dokter juga manusia yang mungkin bisa lupa,
sebaiknya kita mengubah pandangan kita jadi dokter
juga gak malu membuka primbon di depan kita he he he
4. Sulitnya mendeteksi obat mana yang menimbulkan efek
samping - karena
berbagai obat digerus jadi satu (Prof Ria nto
menyebutkan, ada dokter
yang meresepkan sampai 57 obat dalam 1 puyer!!!), dan
terjadi reaksi efek
samping terhadap pasien, akan sulit untuk melacak obat
mana yang menimbulkan
reaksi, lha wong obatnya dicampur semua... 
ini kelewatan ya
5. Kesalahan dalam peracikan obat - bisa jadi tulisan
dokter bisa jadi
nggak kebaca sama apoteker, sehingga bisa membuat
salah peracikan (Prof
Ria nto mencontohkan pasien asma diberi obat diabetes
karena apoteker
salah baca tulisan dokter. Alhasil pasien seketika
pingsan, dan saat sadar,
fungsi otaknya sudah tidak bisa kembali seperti
semula).
6. Pembuatan puyer dengan cara digerus atau diblender,
sehingga akan
ada sisa obat yg menempel di alatnya. Berarti, puyer
yang diberikan ke
pasien, dosisnya sudah berubah - jadi.. kalo yang
diresepin itu AB, tetep akan
ada kemungkinan resistensi dong ya, kan dosisnya udah
di bawah dari
yang diresepin dokter?  sisanya seberapa dulu.
Tablet kan isinya tidak cuma zat aktif, ada juga yang
disebut zat pengisi, jadi gak semua yang menempel itu
zat aktifnya. Tapi memang harus ada perhatian dari
pihak apotek mengenai hal ini.
7. Proses pembuatan obat itu kan harus steril,
istilahnya harus dibuat
dalam ruangan yang jumlah kumannya sudah disterilkan
(istilah kerennya
sterile room) - lha waktu proses pembuatan puyer di
apotek... hmmm di
dalem sterile room kah? Apotekernya pake sarung tangan
kah? Sisa obat lain yang
sebelumnya digerus, sudah dibersihkan dengan benarkah?
Kalo itu semua
jawabannya tidak (atau salah satu aja jawabannya
tidak), means, obat yang digerus
sudah tercemar.  pabrik obat memang harus
menjaga kebersihan ruangan produksinya (bakteri dan
partikel / debu-nya). Kemudian operator produksi juga
harus menggunakan pakaian khusus produksi termasuk
tutup kepala dan masker. Kalau ruangan steril hanya
utk produksi obat steril seperti oabt tetes mata dan
obat suntik. Kalau masih gak pd dengan kebersihan
saat pembuatan puyer, kita bisa mendatangi apotek2
yang ruangan peracikannya terbuka atau bisa dilihat
oleh pasien.
Yang paling mengerikan : ada obat yang sengaja dibuat
slow release,
artinya dalam 1 tablet yang diminum, itu akan larut
sedikit demi
sedikit di dalam tubuh. Kalo sudah digerus jadi puyer,
obat itu akan seketika
larut. Kebayang kan , berarti akan ada efek dumping...
mampukah tubuh kita
menahan efek itu? Sementara, yang biasa dikasih puyer
kan bayi dan anak-anak...
mampukah tubuh kecil mereka menahan efek ini..??
 iya, betul.
Sedikit pandangan aja sih.
Kemudian, kita jangan hanya membayangkan puyer itu
berupa puyer di kertas yang harus dilarutkan dulu
sebelum minum. Kapsul yang dimakan orang dewasa juga
bisa berupa puyer racikan.
Regards,
Mala
--- Eva Julia <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Subject: Say NO to Puyer!!
>
>
> May 5, '08 10:20 AM
>
> Say NO to Puyer!
>
>
> Sabtu kemarin, tanggal 3 Mei 2008, aku
> ikut seminar kesehatan, dengan tema : Seminar dan
> Diskusi Pakar :
> Puyer,
> Quo Vadis? Sepintas, nggak ada yang aneh sama
> judulnya.. kelihatannya
> cuma
> 'oohh tentang puyer'. Siapa sih nggak kenal puyer?
> Dari jaman kita
> masih kecil, sampe sekarang kita punya anak, dokter
> kan sering
> meresepkan
> puyer buat kita. Jadi, kenapa musti dibuat seminar
> khusus??
>
>
> Menilik para pembicara... hmmm...
>
> 1. Prof. Dr. dr. Rianto Setiabudi, Sp.FK
> (Departemen Farmakologi FKUI)
>
> 2. Dra. Ida Z. Hafiz, Apt. Msi (Departemen
> Farmasi FKUI)
>
> 3. Dr. Moh Shahjahan (WHO)
>
> 4. dr, Purnamawati S. Pujiarto, Sp.A(K),
> MMPed (Yayasan Orang Tua Peduli)
>
> Kemudian ada diskusi yang diikuti para
> panelis dari YLKI, IDI Jakarta, Pembicara, Majelis
> Kode Etik
> Kedokteran, Dirjen Pelayanan Kefarmasian dan Alat
> Kesehatan Depkes.
>
> Jelas ini seminar penting. Pesertanya
> lumayan banyak, ada dari mahasiswa FKUI, dokter2,
> apoteker2, dan juga
> masyarakat awam. Pesertanya sekitar 300 orang. Makin
> penasaran, hal yang begitu
> biasa diseminarkan, dengan dihadiri para ahli pula??
>
> Dari seminar ini, aku lumayan terhenyak
> dengan penjelasan dari Prof Rianto. Sebenernya aku
> udah tau sih, puyer
> itu polifarmasi, yang akan meningkatkan efek samping
> obat, yang
> dosisnya jadi nggak jelas, yang meningkatkan risiko
> interaksi obat, de el el.
> Tapi penjelasan Prof Rianto lebih membuka mata
> terhadap risiko puyer yang
> nggak main-main. Apa aja sih risiko pemberian puyer
> itu :
>
> 1. Menurunnya kestabilan obat - kenapa?
> karena obat-obatan yang dicampur tersebut punya
> kemungkinan
> berinteraksi satu sama lain.
>
> 2. Bisa jadi obatnya sudah rusak sebelum mencapai
> sasaran krn proses
> penggerusan. Ada obat yang sedemikian rupa dibuat,
> karena obat tersebut akan hancur
> oleh asam lambung. Karena misalnya, obat itu
> ditujukan untuk infeksi
> saluran pernapasan atas, maka obat tersebut harus
> dibuat sehingga terlindung
> dari asam lambung. Nah, kalo digerus jadi puyer, ya
> obat itu akan segera
> hancur kena asam lambung. Lebih buruk, obat itu bisa
> jadi malah akan melukai
> lambung.
>
> 3. Dosis yang berlebihan - dokter kan nggak mungkin
> apal sama setiap
> merek obat. Jadi akan ada kemungkinan dokter
> meresepkan 2 merek obat yang
> berbeda, namun kandungan aktifnya sama.
>
> 4. Sulitnya mendeteksi obat mana yang menimbulkan
> efek samping - karena
> berbagai obat digerus jadi satu (Prof Rianto
> menyebutkan, ada dokter
> yang meresepkan sampai 57 obat dalam 1 puyer!!!),
> dan terjadi reaksi efek
> samping terhadap pasien, akan sulit untuk melacak
> obat mana yang menimbulkan
> reaksi, lha wong obatnya dicampur semua...
>
> 5. Kesalahan dalam peracikan obat - bisa jadi
> tulisan dokter bisa jadi
> nggak kebaca sama apoteker, sehingga bisa membuat
> salah peracikan (Prof
> Rianto mencontohkan pasien asma diberi obat diabetes
> karena apoteker
> salah baca tulisan dokter. Alhasil pasien seketika
> pingsan, dan saat sadar,
> fungsi otaknya sudah tidak bisa kembali seperti
> semula).
>
> 6. Pembuatan puyer dengan cara digerus atau
> diblender, sehingga akan
> ada sisa obat yg menempel di alatnya. Berarti, puyer
> yang diberikan ke
> pasien, dosisnya sudah berubah - jadi.. kalo yang
> diresepin itu AB, tetep akan
> ada kemungkinan resistensi dong ya, kan dosisnya
> udah di bawah dari
> yang diresepin dokter?
>
> 7. Proses pembuatan obat itu kan harus steril,
> istilahnya harus dibuat
> dalam ruangan yang jumlah kumannya sudah disterilkan
> (istilah kerennya
> sterile room) - lha waktu proses pembuatan puyer di
> apotek... hmmm di
> dalem sterile room kah? Apotekernya pake sarung
> tangan kah? Sisa obat lain yang
> sebelumnya digerus, sudah dibersihkan dengan
> benarkah? Kalo itu semua
> jawabannya tidak (atau salah satu aja jawabannya
> tidak), means, obat yang digerus
> sudah tercemar.
>
> Yang paling mengerikan : ada obat yang sengaja
> dibuat slow release,
> artinya dalam 1 tablet yang diminum, itu akan larut
> sedikit demi
> sedikit di dalam tubuh. Kalo sudah digerus jadi
> puyer, obat itu akan seketika
> larut. Kebayang kan, berarti akan ada efek
> dumping... mampukah tubuh kita
> menahan efek itu? Sementara, yang biasa dikasih
> puyer kan bayi dan anak-anak...
> mampukah tubuh kecil mereka menahan efek ini..??
>
> Lebih terhenyak lagi, saat Dr. Moh Shahjahan
> dari WHO menceritakan bawa untuk Asian Region, cuma
> Indonesia yang
> masih pake puyer. Even Bangladesh, yang miskin itu,
> sudah lama meninggalkan
> puyer, karena dinilai terlalu banyak risks nya
> ketimbang benefitnya.
>
> Sayang, dari seminar tersebut, para
> dokter sendiri masih pro dan kontra mengenai puyer.
> Kebanyakan yang pro
> puyer, hanya menyoroti soal murah dan mudah (kan
> pasien kecil susah
> minum obat)... tapi kalo sudah membahayakan jiwa...
> masihkah bisa berlindung
> di balik alasan2 tersebut??
>
> So far, yang bisa dilakukan hanyalah
> menyadari konsumen yang bijak. Bukan dokter yang
> akan menanggung efek
> sampingnya...tapi anak-anak kita.. jadi bijaklah
> dalam memutuskan apapun yang harus
> diminum oleh anak...
>
> dr. Purnamawati menyarankan:
>
> 1. tanya diagnosa dalam bahasa medis,
> setiap kali kita berkunjung ke dokter (ternyata
> radang tenggorokan itu
> bukan diagnosa, tapi gejala... hiks..), supaya kita
> bisa browsing di
> internet mengenai penyakit tersebut
>
> 2. tiap kali diberi obat (atau resep)
> tanyakan nama obatnya, kegunaan obat tersebut, dan
> efek sampingnya.
> Usahakan, sebelum ditebus, browsing dulu di
> internet, supaya kita benar2 tahu apa
> kandungan aktif dari obat tersebut dan apa efek
> sampingnya.
>
> Selama kita masih bisa ke dokter, dan dokter masih
> sempet nulis resep, artinya keadaan belum emergency.
> Jadi sempatkan untuk browsing dan/atau cari 2nd
> opinion. Kalo keadaan
> emergency, pasti dokter gak akan nulis resep, tapi
> akan segera merujuk ke RS,
> bukan?
>
> Soal obat, aku punya pengalaman, dikasih
> obat penahan rasa sakit sama dokter (saat itu aku
> menderita abses
> peritonsillar
> - di dokter ke 3 baru berhasil dapetin diagnosa ini,
> 2 dokter
> sebelumnya cuma bilang radang tenggorokan), yang
> ternyata efek sampingnya :
>
=== message truncated ===
____________________________________________________________________________________
Be a better friend, newshound, and
know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now.
http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ