Dear mama Neil, kita bisa mengetahui info seputar obat di buku ISO atau MIMS.
regards, Mala --- olive s <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > salam kenal... > saya olive, mamanya neils 6 bln tinggal di denpasar > waktu neils 2 bulan dia sempet diare, trus sama > dokternya dikasi resep puyer. > saya baru kasih dia 2 x, seharusnya 3x1 sampai 3 > hari, tapi pupnya lsg mampet. dia jd susah pup. > selama 2 bulan lebih setiap pup dikasi microlax 3 > hari sekali. > saya jd kapok deh kasih dia puyer, n langsung pindah > dokter. > jd ntar klo dikasih resep ma dokter mending tanya2 > dulu deh apa efek sampingnya, sama obatnya apa aja. > thanks > > > ----- Original Message ---- > From: friday october <[EMAIL PROTECTED]> > To: [email protected] > Sent: Thursday, May 8, 2008 9:50:20 AM > Subject: Re: [parentsguide] say no to puyer > > > Wah, menarik banget sharing-nya Mama Kavin. > > Aku punya teman seorang apoteker. Jadi dia kasih > komentar juga pada point2 yang diungkapkan. > > 1. Menurunnya kestabilan obat - kenapa? > karena obat-obatan yang dicampur tersebut punya > kemungkinan > berinteraksi satu sama lain.  Setujuh, obat > yang fungsinya sejalan saja terkadang sering > berinteraksi dan memberikan efek yang kurang > menguntungkan seperti efek peniadaan terhadap efek > obat lainnya (ini masih untung, kadang ada obat yang > dicampur dengan obat lain membuat efek dengan > intensitas yang tinggi) > > 2. Bisa jadi obatnya sudah rusak sebelum mencapai > sasaran krn proses > penggerusan. Ada obat yang sedemikian rupa dibuat, > karena obat tersebut akan hancur > oleh asam lambung. Karena misalnya, obat itu > ditujukan > untuk infeksi > saluran pernapasan atas, maka obat tersebut harus > dibuat sehingga terlindung > dari asam lambung. Nah, kalo digerus jadi puyer, ya > obat itu akan segera > hancur kena asam lambung. Lebih buruk, obat itu bisa > jadi malah akan melukai > lambung.  kalau yang ini sebenarnya > kesalahan > dari peresepannya. Obat2 dengan mama kavin sebutkan > biasanya memang dibuat dalam bentuk sediaan khusus, > seperti tablet salut gula, salut selaput atau salut > enterik (obat2 ini dibaut khusus agar : tidak > dirusak > oleh asam lambung, atau harus larut di usus, atau > larut secara perlahan-lahan agar memberi efek jangka > panjang atau disebut retard). Obat2 seperti ini > memang tidak boleh digerus. Ini siy berarti harus > kembali ke kesadaran dokter dan petugas apoteknya > dalam meresepkan atau menyiapkan obat dari resep > dokter. > > 3. Dosis yang berlebihan - dokter kan nggak mungkin > apal sama setiap > merek obat. Jadi akan ada kemungkinan dokter > meresepkan 2 merek obat yang > berbeda, namun kandungan aktifnya sama.  > bener > juga. Padahal sebenarnya ada buku daftar obat > seperti > MIMS atau ISO(kita juga bisa beli lho di toko2 buku > terdekat, buku ini keluar tiap tahun), tapi > terkadang > kita pasien suka agak meragukan dokter yang membuka > primbon, kesannya dokternya kurang canggih. Kalau > mengingat dokter juga manusia yang mungkin bisa > lupa, > sebaiknya kita mengubah pandangan kita jadi dokter > juga gak malu membuka primbon di depan kita he he he > > 4. Sulitnya mendeteksi obat mana yang menimbulkan > efek > samping - karena > berbagai obat digerus jadi satu (Prof Ria nto > menyebutkan, ada dokter > yang meresepkan sampai 57 obat dalam 1 puyer!!!), > dan > terjadi reaksi efek > samping terhadap pasien, akan sulit untuk melacak > obat > mana yang menimbulkan > reaksi, lha wong obatnya dicampur semua...  > ini kelewatan ya > > 5. Kesalahan dalam peracikan obat - bisa jadi > tulisan > dokter bisa jadi > nggak kebaca sama apoteker, sehingga bisa membuat > salah peracikan (Prof > Ria nto mencontohkan pasien asma diberi obat > diabetes > karena apoteker > salah baca tulisan dokter. Alhasil pasien seketika > pingsan, dan saat sadar, > fungsi otaknya sudah tidak bisa kembali seperti > semula). > > 6. Pembuatan puyer dengan cara digerus atau > diblender, > sehingga akan > ada sisa obat yg menempel di alatnya. Berarti, puyer > yang diberikan ke > pasien, dosisnya sudah berubah - jadi.. kalo yang > diresepin itu AB, tetep akan > ada kemungkinan resistensi dong ya, kan dosisnya > udah > di bawah dari > yang diresepin dokter?  sisanya seberapa > dulu. > Tablet kan isinya tidak cuma zat aktif, ada juga > yang > disebut zat pengisi, jadi gak semua yang menempel > itu > zat aktifnya. Tapi memang harus ada perhatian dari > pihak apotek mengenai hal ini. > > 7. Proses pembuatan obat itu kan harus steril, > istilahnya harus dibuat > dalam ruangan yang jumlah kumannya sudah disterilkan > (istilah kerennya > sterile room) - lha waktu proses pembuatan puyer di > apotek... hmmm di > dalem sterile room kah? Apotekernya pake sarung > tangan > kah? Sisa obat lain yang > sebelumnya digerus, sudah dibersihkan dengan > benarkah? > Kalo itu semua > jawabannya tidak (atau salah satu aja jawabannya > tidak), means, obat yang digerus > sudah tercemar.  pabrik obat memang harus > menjaga kebersihan ruangan produksinya (bakteri dan > partikel / debu-nya). Kemudian operator produksi > juga > harus menggunakan pakaian khusus produksi termasuk > tutup kepala dan masker. Kalau ruangan steril hanya > utk produksi obat steril seperti oabt tetes mata dan > obat suntik. Kalau masih gak pd dengan kebersihan > saat pembuatan puyer, kita bisa mendatangi apotek2 > yang ruangan peracikannya terbuka atau bisa dilihat > oleh pasien. > > Yang paling mengerikan : ada obat yang sengaja > dibuat > slow release, > artinya dalam 1 tablet yang diminum, itu akan larut > sedikit demi > sedikit di dalam tubuh. Kalo sudah digerus jadi > puyer, > obat itu akan seketika > larut. Kebayang kan , berarti akan ada efek > dumping... > mampukah tubuh kita > menahan efek itu? Sementara, yang biasa dikasih > puyer > kan bayi dan anak-anak... > mampukah tubuh kecil mereka menahan efek ini..?? >  iya, betul. > > Sedikit pandangan aja sih. > Kemudian, kita jangan hanya membayangkan puyer itu > berupa puyer di kertas yang harus dilarutkan dulu > sebelum minum. Kapsul yang dimakan orang dewasa juga > bisa berupa puyer racikan. > > Regards, > > Mala > > --- Eva Julia <ticklegiggle@ yahoo.co. id> wrote: > > > Subject: Say NO to Puyer!! > > > > > > May 5, '08 10:20 AM > > > > Say NO to Puyer! > > > > > > Sabtu kemarin, tanggal 3 Mei 2008, aku > > ikut seminar kesehatan, dengan tema : Seminar dan > > Diskusi Pakar : > > Puyer, > > Quo Vadis? Sepintas, nggak ada yang aneh sama > > judulnya.. kelihatannya > > cuma > > 'oohh tentang puyer'. Siapa sih nggak kenal puyer? > === message truncated === ____________________________________________________________________________________ Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now. http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ

