Puasa Tak Bahaya bagi Ibu Hamil
(www.hypno-birthing.web.id) Puasa tak mempengaruhi kondisi janin yang 
dikandung. Puasa tidak berpengaruh terhadap kesehatan. Bahkan perempuan yang 
sedang hamil sekalipun tetap diperbolehkan menjalankan ibadah puasa. "Puasa 
tidak mempengaruhi kondisi janin yang berada di dalam kandungan," jelas dokter 
ahli kandungan dan kebidanan, dr Maman Hilman SPOG."Justru yang terpengaruh 
adalah kondisi sang ibunya sendiri, apakah dia sehat dalam menjalankan ibadah 
puasa atau tidak," ujarnya pada Republika, Kamis (13/10). Pada usia kehamilan 
dengan kisaran antara empat sampai tujuh bulan, menurut dokter Maman, puasa 
tidak akan berpengaruh apa-apa. Sebab pada masa itu biasanya kondisi kesehatan 
sang ibu sudah dalam taraf penyesuaian.

Masalahnya akan lain bila masa kehamilannya masih muda. Pada masa ini biasanya 
si ibu hamil sering merasa mual-mual dan terkadang berlanjut dengan muntah. 
Lantaran kondisi kesehatannya tak memungkinkan, maka ibu hamil terpaksa tidak 
berpuasa. "Sebetulnya kalau daya tahan sang ibu kuat, ya tidak ada masalah. 
Dan, ini tetap saja tidak mempengaruhi janin," ungkap Maman. "Tapi, janganlah 
memaksakan diri untuk berpuasa," anjur dokter RS Hermina Depok
itu. Dia kembali menegaskan bahwa pengaruhnya memang tidak terjadi langsung 
pada janin. Akan tetapi, tambah dokter Maman, pada si ibu hamil itu sendiri. 
Antara lain terjadi kekurangan cairan di dalam tubuh karena sering keluar lewat 
muntah. "Yang jelas lihat dulu kondisi kesehatan. Hukum Islam pun menganjurkan 
bahwa jika dalam keadaan sakit diperbolehkan tidak berpuasa. Tapi, akan lebih 
baik lagi jika ini dikonsultasikan dengan dokter kandungan langganannya," 
lanjutnya.

Mantan dokter RS Pasar Rebo yang dikeluarkan karena menentang privatisasi ini 
menambahkan, bayi yang ada dalam kandungan tidak terpengaruh secara langsung 
berkaitan dengan kegiatan pola makan yang dilakukan sang ibu. Sebab, tutur 
dokter Maman, bayi yang berada dalam kandungan mendapat asupan makanan dari 
plasenta atau ari-ari lewat aliran darah dan langsung menyebar ke seluruh 
tubuh. Sebelumnya dengan dipompa terlebih dahulu lewat jantung kemudian 
disalurkan.
Bagaimana pula dengan ibu yang hamil tua? Bolehkah berpuasa? Dokter Maman 
sekali lagi berpulang pada kondisi kesehatan sang ibu. Bila kondisi fisiknya 
memungkinkan, tak masalah sang ibu berpuasa. Yang patut diperhatikan adalah 
bahwa pada usia kehamilan lebih dari tujuh bulan biasanya janin memerlukan 
asupan makanan lebih banyak. Inilah yang menyebabkan si ibu terlihat sering 
lemas. "Cara mensiasatinya selain jangan dipaksakan apabila memang benar-benar 
tidak kuat, juga harus minum sebanyak-banyaknya sewaktu sahur dan berbuka puasa 
untuk menambah cairan dalam tubuh," lanjutnya. Menyangkut konsumsi cairan 
selama puasa itu, Dr Piprim B Yanuarso menyebutkan bahwa pada dasarnya puasa 
bagi ibu hamil
sama dengan ibu menyusui. "Sang ibu harus pandai-pandai memperbanyak cairan 
dalam tubuh ketika berbuka puasa atau sahur. Sebab pada dasarnya hanya memindah 
kegiatan jam makan saja," kata Piprim, secara terpisah. "Sama saja dengan ibu 
menyusui yang bisa terus berpuasa apabila sang bayi tidak rewel. Begitu juga 
bagi ibu yang hamil tua, jangan dipaksakan apabila gerak bayi tidak seperti 
biasanya," tambah Direktur Layanan Kesehatan Cuma-cuma (LKC) itu.

Ia mengatakan pada usia kehamilan delapan bulan biasanya ibu sudah bisa 
merasakan gerakan janin dalam kandungnya. Apabila janin ada perubahan dari 
biasanya, misalnya geraknya menjadi sedikit atau bahkan tidak bergerak sama 
sekali, janganlah dipaksakan berpuasa. "Pengaruhnya juga untuk sang ibu, kalau 
tidak kuat bisa hipogrikemi atau kadar gula menurun. Yang ini tentu saja kurang 
bagus untuk anak," tambahnya. Prinsipnya, kalori tidak boleh berkurang. Perlu 
makanan yang nilai kalorinya lebih tinggi dari biasanya. Makanan itu bisa 
didapat dengan selain makan sehat diselingi makan buah-buahan. Dan untuk 
menambahnya bisa dengan minum es krim susu.

Kirim email ke