--- On Thu, 9/18/08, Handoko <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: Handoko <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: RE: Penipuan OMNI Iternational Hospital Alam Sutera Tangerang - 
waspadalah, waspadalah ..... !!!
To: [EMAIL PROTECTED]
Date: Thursday, September 18, 2008, 5:00 AM

 
 From: prita mulyasari [mailto:[EMAIL PROTECTED] 
 Sent: Friday, August 15, 2008 3:51 PM
 To: customer_care@ banksinarmas.com ;
 hendra.goenawan@ banksinarmas. com;
dekkyharyanto@ yahoo.com;
 
 Subject: Penipuan OMNI Iternational Hospital Alam Sutera Tangerang
 
 
 Jangan sampai kejadian saya ini akan menimpa ke nyawa
 manusia lainnya,  terutama anak-anak, lansia dan bayi.
 Bila anda berobat, berhati-hatilah dengan kemewahan RS dan
 Title  International karena semakin mewah RS dan semakin pintar
 dokter maka semakin sering uji coba pasien, penjualan obat dan
 suntikan.
 
 Saya tidak mengatakan semua RS International seperti ini
 tapi saya mengalami kejadian ini di RS Omni International.
 
 Tepatnya tanggal 7 Agustus 2008 jam 20.30 WIB, saya dengan
 kondisi panas tinggi dan pusing kepala, datang ke RS. OMNI Intl dengan
 percaya bahwa RS tersebut berstandard International, yang tentunya
pasti
 mempunyai ahli kedokteran dan manajemen yang bagus.
 
 Saya diminta ke UGD dan mulai diperiksa suhu badan saya dan
 hasilnya 39 derajat.  Setelah itu dilakukan pemeriksaan darah dan
 hasilnya adalah thrombosit saya 27.000 dengan kondisi normalnya adalah
 200.000, saya diinformasikan dan ditangani oleh dr. Indah (umum) dan
 dinyatakan saya wajib rawat inap.  Dr. Indah melakukan pemeriksaan lab
 ulang dengan sample darah saya yang sama dan hasilnya dinyatakan masih
sama 
yaitu thrombosit 27.000.  Dr. Indah menanyakan dokter specialist mana
yang akan saya 
gunakan tapi saya meminta referensi darinya karena saya sama sekali buta
dengan RS ini.  
Lalu referensi dr. Indah adalah dr. Henky.
 Dr. Henky memeriksa kondisi saya dan saya menanyakan saya sakit apa
 dan dijelaskan bahwa ini sudah positif demam berdarah.
 
 Mulai malam itu saya diinfus dan diberi suntikan tanpa
 penjelasan atau ijin pasien atau keluarga pasien suntikan tersebut
untuk
 apa.  Keesokan pagi, dr.Henky visit saya dan menginformasikan bahwa ada
 revisi hasil lab semalam bukan 27.000 tapi 181.000 (hasil lab bisa
dilakukan
 revisi?), saya kaget tapi dr. Henky terus memberikan instruksi ke
suster
 perawat supaya diberikan berbagai macam suntikan yang saya tidak tahu
dan
 tanpa ijin pasien atau keluarga pasien.  Saya tanya kembali jadi saya
 sakit apa sebenarnya dan tetap masih sama dengan jawaban semalam
 bahwa saya kena demam berdarah.  Saya sangat kuatir karena dirumah saya
 memiliki 2 anak yang masih batita jadi saya lebih memilih berpikir
positif
 tentang RS dan dokter ini supaya saya cepat sembuh dan saya percaya
saya
 ditangani oleh dokter profesional standard Internatonal.
 
 Mulai Jumat terebut saya diberikan berbagai macam suntikan yang setiap
 suntik tidak ada keterangan apapun dari suster perawat, dan setiap saya
 meminta keterangan tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan, lebih
 terkesan suster hanya menjalankan perintah dokter dan pasien harus
 menerimanya.  Satu box lemari pasien penuh dengan infus dan suntikan
 disertai banyak ampul.
 
 Tangan kiri saya mulai membengkak, saya minta dihentikan infus dan
 suntikan dan minta ketemu dengan dr. Henky namun dokter tidak datang
 sampai saya dipindahkan ke ruangan.  Lama kelamaan suhu badan saya
makin
 naik kembali ke 39 derajat dan datang dokter pengganti yang saya juga
 tidak tahu dokter apa, setelah dicek dokter tersebut hanya mengatakan
akan
 menunggu dr. Henky saja.
 
 Esoknya dr. Henky datang sore hari dengan hanya menjelaskan ke suster
 untuk memberikan obat berupa suntikan lagi, saya tanyakan ke dokter
 tersebut saya sakit apa sebenarnya dan dijelaskan saya kena virus
udara.
 Saya tanyakan berarti bukan kena demam berdarah tapi dr. Henky tetap
 menjelaskan bahwa demam berdarah tetap virus udara.  Saya dipasangkan
 kembali infus sebelah kanan dan kembali diberikan suntikan yang sakit
 sekali.
 
 Malamnya saya diberikan suntikan 2 ampul sekaligus dan saya terserang
 sesak napas selama 15 menit dan diberikan oxygen. Dokter jaga datang
namun
 hanya berkata menunggu dr. Henky saja.  Jadi malam itu saya masih dalam
 kondisi infus padahal tangan kanan saya pun mengalami pembengkakan
seperti
 tangan kiri saya. Saya minta dengan paksa untuk diberhentikan infusnya
dan
 menolak dilakukan suntikan dan obat-obatan.
 
 Esoknya saya dan keluarga menuntut dr. Henky untuk ketemu dengan kami
 namun janji selalu diulur-ulur dan baru datang malam hari. Suami dan
 kakak-kakak saya menuntut penjelasan dr. Henky mengenai sakit saya,
 suntikan, hasil lab awal yang 27.000 menjadi revisi 181.000 dan
serangan
 sesak napas yang dalam riwayat hidup saya belum pernah terjadi. 
Kondisi saya makin parah dengan membengkaknya leher kiri dan mata kiri
saya.
 
 Dr, Henky tidak memberikan penjelasan dengan memuaskan, dokter tersebut
 malah mulai memberikan instruksi ke suster untuk diberikan obat-obatan
 kembali dan menyuruh tidak digunakan infus kembali.  Kami berdebat
 mengenai kondisi saya dan meminta dr. Henky bertanggung jawab mengenai
ini
 dari hasil lab yang pertama yang seharusnya saya bisa rawat jalan saja.
 Dr. Henky menyalahkan bagian lab dan tidak bisa memberikan keterangan
yang
 memuaskan.
 
 Keesokannya kondisi saya makin parah dengan leher kanan saya juga mulai
 membengkak dan panas kembali menjadi 39 derajat namun saya tetap tidak
mau dirawat 
di RS ini lagi dan mau pindah ke RS lain.  Tapi saya membutuhkan
 data medis yang lengkap dan lagi-lagi saya dipermainkan dengan
diberikan
 data medis yang fiktif.
 
 Dalam catatan medis, diberikan keterangan bahwa BAB saya lancar padahal
 itu kesulitan saya semenjak dirawat di RS ini tapi tidak ada follow
upnya
 samasekali. Lalu hasil lab yang diberikan adalah hasil thrombosit saya
 yang 181.000 bukan 27.000.
 
 Saya ngotot untuk diberikan data medis hasil lab 27.000 namun sangat
 dikagetkan bahwa hasil lab 27.000 tersebut tidak dicetak dan yang
tercetak
 adalah 181.000, kepala lab saat itu adalah dr. Mimi dan setelah saya
 complaint dan marah-marah, dokter tersebut mengatakan bahwa
 catatan hasil lab 27.000 tersebut ada di Manajemen Omni maka saya desak
 untuk bertemu langsung dengan Manajemen yang memegang hasil lab
tersebut.
 
 Saya mengajukan complaint tertulis ke Manajemen Omni dan diterima oleh
Ogi
 (customer service coordinator) dan saya minta tanda terima.  Dalam
tanda
 terima tersebut hanya ditulis saran bukan complaint, saya benar-benar
 dipermainkan oleh Manajemen Omni dengan staff Ogi yang tidak ada
service
 nya sama sekali ke customer melainkan seperti mencemooh tindakan saya
 meminta tanda terima pengajuan complaint tertulis.
 
 Dalam kondisi sakit, saya dan suami saya ketemu dengan Manajemen, atas
 nama Ogi (customer service coordinator) dan dr. Grace (customer service
 manager) dan diminta memberikan keterangan kembali mengenai kejadian
yang
 terjadi dengan saya. Saya benar-benar habis kesabaran dan saya hanya
meminta 
surat pernyataan dari lab RS ini mengenai hasil lab awal saya adalah
27.000 bukan 181.000 
makanya saya diwajibkan masuk ke RS ini padahal dengan kondisi
thrombosit 181.000 saya masih bisa rawat jalan.
 
 Tanggapan dr. Grace yang katanya adalah penanggung jawab masalah
complaint saya ini tidak profesional samasekali.  Tidak menanggapi
complaint dengan baik, dia mengelak bahwa lab telah memberikan hasil lab
 27.000 sesuai dr. Mimi informasikan ke saya.  Saya minta duduk bareng
antara
 lab, Manajemen dan dr. Henky namun tidak bisa dilakukan dengan alasan
akan
 dirundingkan ke atas (Manajemen) dan berjanji akan memberikan surat
 tersebut jam 4 sore.
 
 Setelah itu saya ke RS lain dan masuk ke perawatan dalam kondisi saya
dimasukkan dalam ruangan 
isolasi karena virus saya ini menular, menurut analisa ini adalah
sakitnya anak-anak yaitu sakit gondongan 
namun sudah parah karena sudah membengkak, kalau kena orang dewasa yang
ke laki-laki
 bisa terjadi impoten dan perempuan ke pankreas dan kista.
 Saya lemas mendengarnya dan benar-benar marah dengan RS Omni yang
 telah membohongi saya dengan analisa sakit demam berdarah dan sudah
 diberikan suntikan macam-macam dengan dosis tinggi sehingga mengalami
sesak napas. 
Saya tanyakan mengenai suntikan tersebut ke RS yang baru
 ini dan memang saya tidak kuat dengan suntikan dosis tinggi sehingga
 terjadi sesak napas.
 
 Suami saya datang kembali ke RS Omni menagiih surat hasil lab 27.000
 tersebut namun malah dihadapkan ke perundingan yang tidak jelas dan
 meminta diberikan waktu besok pagi datang langsung ke rumah saya.
Keesokan
 paginya saya tunggu kabar orang rumah sampai jam 12 siang belum ada
orang
 yang datang dari Omni memberikan surat tersebut.  Saya telepon dr.
Grace
 sebagai penanggung jawab compaint dan diberikan keterangan bahwa
kurirnya
 baru mau jalan ke rumah saya namun sampai jam 4 sore saya tunggu dan
 ternyata belum ada juga yang datang kerumah saya.  Kembali saya telepon
 dr. Grace dan dia mengatakan bahwa sudah dikirim dan ada tanda terima
atas
 nama Rukiah, ini benar-benar kebohongan RS yang keterlaluan sekali,
 dirumah saya tidak ada nama Rukiah, saya minta disebutkan alamat jelas
 saya dan mencari datanya sulit sekali dan membutuhkan waktu yang lama.
 Logikanya dalam tanda terima tentunya ada alamat jelas surat tertujunya
 kemana kan? makanya saya sebut Manajemen Omni PEMBOHONG
 BESAR semua. Hati-hati dengan permainan mereka yang mempermainkan nyawa
orang. 
Terutama dr. Grace dan Ogi, tidak ada sopan santun dan
 etika mengenai pelayanan customer, tidak sesuai dengan standard
 International yang RS ini cantum.
 
 Saya bilang ke dr. Grace, akan datang ke Omni untuk mengambil surat
 tersebut dan ketika suami saya datang ke Omni hanya dititipkan ke
 resepsionis saja dan pas dibaca isi suratnya sungguh membuat sakit hati
 kami, pihak manajemen hanya menyebutkan mohon maaf atas ketidaknyamanan
kami dan 
tidak disebutkan mengenai kesalahan lab awal yang
 menyebutkan 27.000 dan dilakukan revisi 181.000 dan diberikan suntikan
 yang mengakibatkan kondisi kesehatan makin memburuk dari sebelum
 masuk ke RS Omni.
 
 Kenapa saya dan suami saya ngotot dengan surat tersebut? karena saya
ingin
 tahu bahwa sebenarnya hasil lab 27.000 itu benar ada atau fiktif saja
supaya RS Omni mendapatkan 
pasien rawat inap.  Dan setelah beberapa kali kami ditipu dengan janji
maka sebenarnya adalah hasil 
lab saya 27.000 adalah FIKTIF dan yang sebenarnya saya tidak perlu rawat
inap dan tidak perlu ada 
suntikan dan sesak napas dan kesehatan saya tidak makin parah karena
bisa langsung tertangani dengan baik.
 
 Saya dirugikan secara kesehatan, mungkin dikarenakan biaya RS ini
dengan
 asuransi makanya RS ini seenaknya mengambil limit asuransi saya
semaksimal
 mungkin tapi RS ini tidak memperdulikan efek dari keserakahan ini.
 
 Ogi menyarankan saya bertemiu dengan direktur operasional RS Omni (dr.
 Bina) namun saya dan suami saya terlalu lelah mengikuti permainan
 kebohongan mereka dengan kondisi saya masih sakit dan dirawat di RS
lain.
 
 Syukur Alhamdulilah saya mulai membaik namun ada kondisi mata saya yang
 selaput atasnya robek dan terkena virus sehingga penglihatan saya tidak
 jelas dan apabila terkena sinar saya tidak tahan dan ini membutuhkan
waktu
 yang cukup untuk menyembuhkan.
 
 Setiap kehidupan manusia pasti ada jalan hidup dan nasibnya
masing-masing,
 benar.... tapi apabila nyawa manusia dipermainkan oleh sebuah RS yang
 dpercaya untuk menyembuhkan malah mempermainkan sungguh
 mengecewakan, semoga Allah memberikan hati nurani ke Manajemen dan
dokter 
RS Omni supaya diingatkan kembali bahwa mereka juga punya keluarga,
anak, orang tua 
yang tentunya suatu saat juga sakit dan membutuhkan medis,
 mudah-mudahan tidak terjadi seperti yang saya alami di RS Omni ini.
 
 Saya sangat mengharapkan mudah-mudahan salah satu pembaca
 adalah karyawan atau dokter atau Manajemen RS Omni, tolong sampaikan ke

dr. Grace, dr. Henky, dr. Mimi dan Ogi bahwa jangan sampai pekerjaan
mulia
 kalian sia-sia hanya demi perusahaan Anda.
 
 Saya informasikan juga dr. Henky praktek di RSCM juga, saya tidak   
mengatakan RSCM buruk tapi lebih hati-hati dengan perawatan medis dari
dokter ini.
 
 salam,
 
 Prita Mulyasari
 

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ 
Problem apapun dengan bisnis dan usaha anda, temukan solusinya di
www.solusicorporation.com   
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ 





      

Kirim email ke