Yang pasti saya memberi dukungan pada pihak yang benar lewat doa.Karena Tuhan 
pasti tidak tinggal diam.--- On Fri, 9/19/08, angsa putih <[EMAIL PROTECTED]> 
wrote:From: angsa putih <[EMAIL PROTECTED]>Subject: Re: [parentsguide] Fw: RE: 
Penipuan OMNI Iternational Hospital Alam Sutera Tangerang - waspadalah, 
waspadalah ..... !!!To: [EMAIL PROTECTED]: Friday, September 19, 2008, 1:46 
AMsetau saya masalah ini skrg lagi dalam somasi antara pihak omni dan si 
penulis emailso, hati2 untuk memforward email2 spt ini, jgn sampai nanti kena 
somasi jugabisa dicek di harian kompas, ada iklan setengah halaman ttg somasi 
ini--- On Thu, 9/18/08, wita radyasari <[EMAIL PROTECTED] com> wrote:From: wita 
radyasari <[EMAIL PROTECTED] com>Subject: [parentsguide] Fw: RE: Penipuan OMNI 
Iternational Hospital Alam Sutera Tangerang - waspadalah, waspadalah ..... 
!!!To: "Dewi" <dewisa_salim@ yahoo.com>, "Dedy Firmanto" <dedy.firmanto@ 
andhika.com>, "Hany N."
 <[EMAIL PROTECTED] com>, "Nana" <[EMAIL PROTECTED] com>, "novi bahana" <[EMAIL 
PROTECTED] co.id>, "nur dp merck" <[EMAIL PROTECTED] co.id>,  "Ongky" <[EMAIL 
PROTECTED] net.id>, "yamin pertamina" <[EMAIL PROTECTED] com>, "rika woori" 
<[EMAIL PROTECTED] com>, "sarma" <[EMAIL PROTECTED] tbk.co.id>, "amin 
supangkat" <aminsupangkat@ yahoo.com>, "taufik sompo" <taufik.budiman@ 
sompojapanindone sia.com>, "victor" <[EMAIL PROTECTED] com>, "wiwiek astratel" 
<wiwiek.riswati@ astratel. co.id>, parentsguide@ yahoogroups. comDate: 
Thursday, September 18, 2008, 8:51 PM--- On Thu, 9/18/08, Handoko <[EMAIL 
PROTECTED] e.co.id> wrote:From: Handoko <[EMAIL PROTECTED] e.co.id>Subject: RE: 
Penipuan OMNI Iternational Hospital Alam Sutera Tangerang - waspadalah, 
waspadalah ..... !!!To: [EMAIL PROTECTED] e.co.idDate: Thursday, September 18, 
2008, 5:00 AM From: prita mulyasari [mailto:prita. mulyasari@ yahoo.com]  Sent: 
Friday, August 15, 2008 3:51 PM To: customer_care@
 banksinarmas. com ; hendra.goenawan@ banksinarmas. com;dekkyharyanto@ 
yahoo.com; Subject: Penipuan OMNI  Iternational Hospital Alam Sutera Tangerang 
Jangan sampai kejadian saya ini akan menimpa ke nyawa manusia lainnya,  
terutama anak-anak, lansia dan bayi. Bila anda berobat, berhati-hatilah dengan 
kemewahan RS dan Title  International karena semakin mewah RS dan semakin 
pintar dokter maka semakin sering uji coba pasien, penjualan obat dan suntikan. 
Saya tidak mengatakan semua RS International seperti ini tapi saya mengalami 
kejadian ini di RS Omni International. Tepatnya tanggal 7 Agustus 2008 jam 
20.30 WIB, saya dengan kondisi panas tinggi dan pusing kepala, datang ke RS. 
OMNI Intl dengan percaya bahwa RS tersebut berstandard International, yang 
tentunyapasti mempunyai ahli kedokteran dan manajemen yang bagus. Saya diminta 
ke UGD dan mulai diperiksa suhu badan saya dan hasilnya 39 derajat.  Setelah 
itu dilakukan pemeriksaan darah dan hasilnya adalah
 thrombosit  saya 27.000 dengan kondisi normalnya adalah 200.000, saya 
diinformasikan dan ditangani oleh dr. Indah (umum) dan dinyatakan saya wajib 
rawat inap.  Dr. Indah melakukan pemeriksaan lab ulang dengan sample darah saya 
yang sama dan hasilnya dinyatakan masihsama yaitu thrombosit 27.000.  Dr. Indah 
menanyakan dokter specialist manayang akan saya gunakan tapi saya meminta 
referensi darinya karena saya sama sekali butadengan RS ini.  Lalu referensi 
dr. Indah adalah dr. Henky. Dr. Henky memeriksa kondisi saya dan saya 
menanyakan saya sakit apa dan dijelaskan bahwa ini sudah positif demam 
berdarah. Mulai malam itu saya diinfus dan diberi suntikan tanpa penjelasan 
atau ijin pasien atau keluarga pasien suntikan tersebutuntuk apa.  Keesokan 
pagi, dr.Henky visit saya dan menginformasikan bahwa ada revisi hasil lab 
semalam bukan 27.000 tapi 181.000 (hasil lab bisadilakukan revisi?), saya  
kaget tapi dr. Henky terus memberikan instruksi kesuster perawat
 supaya diberikan berbagai macam suntikan yang saya tidak tahudan tanpa ijin 
pasien atau keluarga pasien.  Saya tanya kembali jadi saya sakit apa sebenarnya 
dan tetap masih sama dengan jawaban semalam bahwa saya kena demam berdarah.  
Saya sangat kuatir karena dirumah saya memiliki 2 anak yang masih batita jadi 
saya lebih memilih berpikirpositif tentang RS dan dokter ini supaya saya cepat 
sembuh dan saya percayasaya ditangani oleh dokter profesional standard 
Internatonal. Mulai Jumat terebut saya diberikan berbagai macam suntikan yang 
setiap suntik tidak ada keterangan apapun dari suster perawat, dan setiap saya 
meminta keterangan tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan, lebih terkesan 
suster hanya menjalankan perintah dokter dan pasien harus menerimanya.  Satu 
box lemari pasien penuh dengan infus dan suntikan disertai banyak ampul. Tangan 
kiri saya mulai membengkak, saya minta dihentikan infus dan suntikan dan minta 
ketemu dengan dr. Henky namun dokter
 tidak datang sampai saya dipindahkan ke ruangan.  Lama kelamaan suhu badan 
sayamakin naik kembali ke 39 derajat dan datang dokter pengganti yang saya juga 
tidak tahu dokter apa, setelah dicek dokter tersebut hanya mengatakanakan 
menunggu dr. Henky saja. Esoknya dr. Henky datang sore hari dengan hanya 
menjelaskan ke suster untuk memberikan obat berupa suntikan lagi, saya tanyakan 
ke dokter tersebut saya sakit apa sebenarnya dan dijelaskan saya kena 
virusudara. Saya tanyakan berarti bukan kena demam berdarah tapi dr. Henky 
tetap menjelaskan bahwa demam berdarah tetap virus udara.  Saya dipasangkan 
kembali infus sebelah kanan dan kembali diberikan suntikan yang sakit sekali. 
Malamnya saya diberikan suntikan 2 ampul sekaligus  dan saya terserang sesak 
napas selama 15 menit dan diberikan oxygen. Dokter jaga datangnamun hanya 
berkata menunggu dr. Henky saja.  Jadi malam itu saya masih dalam kondisi infus 
padahal tangan kanan saya pun mengalami
 pembengkakanseperti tangan kiri saya. Saya minta dengan paksa untuk 
diberhentikan infusnyadan menolak dilakukan suntikan dan obat-obatan. Esoknya 
saya dan keluarga menuntut dr. Henky untuk ketemu dengan kami namun janji 
selalu diulur-ulur dan baru datang malam hari. Suami dan kakak-kakak saya 
menuntut penjelasan dr. Henky mengenai sakit saya, suntikan, hasil lab awal 
yang 27.000 menjadi revisi 181.000 danserangan sesak napas yang dalam riwayat 
hidup saya belum pernah terjadi. Kondisi saya makin parah dengan membengkaknya 
leher kiri dan mata kirisaya. Dr, Henky tidak memberikan penjelasan dengan 
memuaskan, dokter tersebut malah mulai memberikan instruksi  ke suster untuk 
diberikan obat-obatan kembali dan menyuruh tidak digunakan infus kembali.  Kami 
berdebat mengenai kondisi saya dan meminta dr. Henky bertanggung jawab 
mengenaiini dari hasil lab yang pertama yang seharusnya saya bisa rawat jalan 
saja. Dr. Henky menyalahkan bagian lab dan tidak bisa
 memberikan keteranganyang memuaskan. Keesokannya kondisi saya makin parah 
dengan leher kanan saya juga mulai membengkak dan panas kembali menjadi 39 
derajat namun saya tetap tidakmau dirawat di RS ini lagi dan mau pindah ke RS 
lain.  Tapi saya membutuhkan data medis yang lengkap dan lagi-lagi saya 
dipermainkan dengandiberikan data medis yang fiktif. Dalam catatan medis, 
diberikan keterangan bahwa BAB saya lancar padahal itu kesulitan saya semenjak 
dirawat di RS ini tapi tidak ada followupnya samasekali. Lalu hasil lab yang 
diberikan adalah hasil thrombosit saya yang  181.000 bukan 27.000. Saya ngotot 
untuk diberikan data medis hasil lab 27.000 namun sangat dikagetkan bahwa hasil 
lab 27.000 tersebut tidak dicetak dan yangtercetak adalah 181.000, kepala lab 
saat itu adalah dr. Mimi dan setelah saya complaint dan marah-marah, dokter 
tersebut mengatakan bahwa catatan hasil lab 27.000 tersebut ada di Manajemen 
Omni maka saya desak untuk bertemu langsung
 dengan Manajemen yang memegang hasil labtersebut. Saya mengajukan complaint 
tertulis ke Manajemen Omni dan diterima olehOgi (customer service coordinator) 
dan saya minta tanda terima.  Dalamtanda terima tersebut hanya ditulis saran 
bukan complaint, saya benar-benar dipermainkan oleh Manajemen Omni dengan staff 
Ogi yang tidak adaservice nya sama sekali ke customer melainkan seperti 
mencemooh tindakan saya meminta tanda terima pengajuan complaint tertulis. 
Dalam kondisi sakit, saya  dan suami saya ketemu dengan Manajemen, atas nama 
Ogi (customer service coordinator) dan dr. Grace (customer service manager) dan 
diminta memberikan keterangan kembali mengenai kejadianyang terjadi dengan 
saya. Saya benar-benar habis kesabaran dan saya hanyameminta surat pernyataan 
dari lab RS ini mengenai hasil lab awal saya adalah27.000 bukan 181.000 makanya 
saya diwajibkan masuk ke RS ini padahal dengan kondisithrombosit 181.000 saya 
masih bisa rawat jalan. Tanggapan dr.
 Grace yang katanya adalah penanggung jawab masalahcomplaint saya ini tidak 
profesional samasekali.  Tidak menanggapicomplaint dengan baik, dia mengelak 
bahwa lab telah memberikan hasil lab 27.000 sesuai dr. Mimi informasikan ke 
saya.  Saya minta duduk barengantara lab, Manajemen dan dr. Henky namun tidak 
bisa dilakukan dengan alasanakan dirundingkan ke atas (Manajemen) dan berjanji 
akan memberikan surat tersebut jam 4 sore. Setelah itu saya ke RS lain dan 
masuk ke perawatan dalam kondisi sayadimasukkan dalam ruangan isolasi karena 
virus saya ini menular, menurut analisa ini adalahsakitnya anak-anak yaitu 
sakit gondongan namun sudah parah karena sudah membengkak, kalau kena orang 
dewasa yangke laki-laki bisa terjadi impoten dan perempuan ke pankreas dan 
kista. Saya lemas mendengarnya dan benar-benar marah dengan RS Omni yang telah 
membohongi saya dengan analisa sakit demam berdarah dan sudah diberikan 
suntikan macam-macam dengan dosis tinggi sehingga
 mengalamisesak napas. Saya tanyakan mengenai suntikan tersebut ke RS yang baru 
ini dan memang saya tidak kuat dengan suntikan dosis tinggi sehingga terjadi 
sesak napas. Suami saya datang kembali ke RS Omni menagiih surat hasil lab 
27.000 tersebut namun malah dihadapkan ke perundingan yang tidak jelas dan 
meminta diberikan  waktu besok pagi datang langsung ke rumah saya.Keesokan 
paginya saya tunggu kabar orang rumah sampai jam 12 siang belum adaorang yang 
datang dari Omni memberikan surat tersebut.  Saya telepon dr.Grace sebagai 
penanggung jawab compaint dan diberikan keterangan bahwakurirnya baru mau jalan 
ke rumah saya namun sampai jam 4 sore saya tunggu dan ternyata belum ada juga 
yang datang kerumah saya.  Kembali saya telepon dr. Grace dan dia mengatakan 
bahwa sudah dikirim dan ada tanda terimaatas nama Rukiah, ini benar-benar 
kebohongan RS yang keterlaluan sekali, dirumah saya tidak ada nama Rukiah, saya 
minta disebutkan alamat jelas saya dan
 mencari datanya sulit sekali dan membutuhkan waktu yang lama. Logikanya dalam 
tanda terima tentunya ada alamat jelas surat tertujunya kemana kan? makanya 
saya sebut Manajemen Omni PEMBOHONG BESAR semua. Hati-hati dengan permainan 
mereka yang mempermainkan  nyawaorang. Terutama dr. Grace dan Ogi, tidak ada 
sopan santun dan etika mengenai pelayanan customer, tidak sesuai dengan 
standard International yang RS ini cantum. Saya bilang ke dr. Grace, akan 
datang ke Omni untuk mengambil surat tersebut dan ketika suami saya datang ke 
Omni hanya dititipkan ke resepsionis saja dan pas dibaca isi suratnya sungguh 
membuat sakit hati kami, pihak manajemen hanya menyebutkan mohon maaf atas 
ketidaknyamanankami dan tidak disebutkan mengenai kesalahan lab awal yang 
menyebutkan 27.000 dan dilakukan revisi 181.000 dan diberikan suntikan yang 
mengakibatkan kondisi kesehatan makin memburuk dari sebelum masuk ke RS Omni. 
Kenapa saya dan suami saya ngotot dengan surat
 tersebut? karena sayaingin tahu bahwa sebenarnya hasil lab 27.000 itu benar 
ada atau fiktif sajasupaya RS Omni mendapatkan pasien rawat inap.  Dan setelah 
beberapa kali kami  ditipu dengan janjimaka sebenarnya adalah hasil lab saya 
27.000 adalah FIKTIF dan yang sebenarnya saya tidak perlu rawatinap dan tidak 
perlu ada suntikan dan sesak napas dan kesehatan saya tidak makin parah 
karenabisa langsung tertangani dengan baik. Saya dirugikan secara kesehatan, 
mungkin dikarenakan biaya RS inidengan asuransi makanya RS ini seenaknya 
mengambil limit asuransi sayasemaksimal mungkin tapi RS ini tidak memperdulikan 
efek dari keserakahan ini. Ogi menyarankan saya bertemiu dengan direktur 
operasional RS Omni (dr. Bina) namun saya dan suami saya terlalu lelah 
mengikuti permainan kebohongan mereka dengan kondisi saya masih sakit dan 
dirawat di RSlain. Syukur Alhamdulilah saya mulai membaik namun ada kondisi 
mata saya yang selaput atasnya robek dan terkena virus
 sehingga penglihatan saya tidak jelas dan apabila terkena sinar saya tidak 
tahan dan ini  membutuhkanwaktu yang cukup untuk menyembuhkan. Setiap kehidupan 
manusia pasti ada jalan hidup dan nasibnyamasing-masing, benar.... tapi apabila 
nyawa manusia dipermainkan oleh sebuah RS yang dpercaya untuk menyembuhkan 
malah mempermainkan sungguh mengecewakan, semoga Allah memberikan hati nurani 
ke Manajemen dandokter RS Omni supaya diingatkan kembali bahwa mereka juga 
punya keluarga,anak, orang tua yang tentunya suatu saat juga sakit dan 
membutuhkan medis, mudah-mudahan tidak terjadi seperti yang saya alami di RS 
Omni ini. Saya sangat mengharapkan mudah-mudahan salah satu pembaca adalah 
karyawan atau dokter atau Manajemen RS Omni, tolong sampaikan kedr. Grace, dr. 
Henky, dr. Mimi dan Ogi bahwa jangan sampai pekerjaanmulia kalian sia-sia hanya 
demi perusahaan Anda. Saya informasikan juga dr. Henky praktek di RSCM juga, 
saya tidak   mengatakan RSCM buruk  tapi
 lebih hati-hati dengan perawatan medis daridokter ini. salam, Prita 
Mulyasari~~~~~~~~~~~~ ~~~~~~~~~ ~~~~~~~~~ ~~~~~~~~~ ~~~~~~~~~ ~~~~~~~~~ 
~~~~~~~~~ ~~~~~ Problem apapun dengan bisnis dan usaha anda, temukan solusinya 
diwww.solusicorporati on.com   ~~~~~~~~~~~~ ~~~~~~~~~ ~~~~~~~~~ ~~~~~~~~~ 
~~~~~~~~~ ~~~~~~~~~ ~~~~~~~~~ ~~~~~                     


      

Kirim email ke