Aduh mba Sinta menyentuh sekali ceritanya,ijinkan saya copy paste di blog
saya ya

Pada tanggal 17/09/08, Shinta_Angie <[EMAIL PROTECTED]> menulis:
>
>
>
>
>
> *Titip Ibuku ya Allah*
>
> *" Nak, bangun... udah adzan subuh. Sarapanmu udah ibu siapin di meja..."
>
> Tradisi ini sudah berlangsung 20 tahun, sejak pertama kali aku bisa
>
> mengingat.
>
> Kini usiaku sudah kepala 3 dan aku jadi seorang karyawan disebuah
>
> Perusahaan Tambang, tapi kebiasaan Ibu tak pernah berubah.
>
> " Ibu sayang... ga usah repot-repot Bu, aku dan adik-adikku udah dewasa"
>
> pintaku pada Ibu pada suatu pagi. Wajah tua itu langsung berubah. Pun
>
> ketika Ibu mengajakku makan siang di sebuah restoran. Buru-buru
>
> kukeluarkan uang dan kubayar semuanya. Ingin kubalas jasa Ibu selama ini
>
> dengan hasil keringatku. Raut sedih itu tak bisa disembunyikan.
>
> Kenapa Ibu mudah sekali sedih ? Aku hanya bisa mereka-reka, mungkin
>
> sekarang fasenya aku mengalami kesulitan memahami Ibu karena dari sebuah
>
> artikel yang kubaca ... orang yang lanjut usia bisa sangat sensitive dan
>
> cenderung untuk bersikap kanak-kanak ..... tapi entahlah.... Niatku
>
> ingin membahagiakan malah membuat Ibu sedih. Seperti biasa, Ibu tidak
>
> akan pernah mengatakan apa-apa
>
> Suatu hari kuberanikan diri untuk bertanya,
>
> " Bu, maafin aku kalau telah menyakiti perasaan Ibu. Apa yang bikin Ibu
>
> sedih ? "
>
> Kutatap sudut-sudut mata Ibu, ada genangan air mata di sana .
>
> Terbata-bata Ibu berkata,
>
> " Tiba-tiba Ibu merasa kalian tidak lagi membutuhkan Ibu. Kalian sudah
>
> dewasa, sudah bisa menghidupi diri sendiri. Ibu tidak boleh lagi
>
> menyiapkan sarapan untuk kalian, Ibu tidak bisa lagi jajanin kalian.
>
> Semua sudah bisa kalian lakukan sendiri "
>
> Ah, Ya Allah, ternyata buat seorang Ibu .. bersusah payah melayani
>
> putra-putrinya adalah sebuah kebahagiaan.
>
> Satu hal yang tak pernah kusadari sebelumnya. Niat membahagiakan bisa
>
> jadi malah membuat orang tua menjadi sedih karena kita tidak berusaha
>
> untuk saling membuka diri melihat arti kebahagiaan dari sudut pandang
>
> masing-masing.
>
> Diam-diam aku bermuhasabah. .. Apa yang telah kupersembahkan untuk Ibu
>
> dalam usiaku sekarang ? Adakah Ibu bahagia dan bangga pada putera
>
> putrinya ? Ketika itu kutanya pada Ibu, Ibu menjawab,
>
> " Banyak sekali nak kebahagiaan yang telah kalian berikan pada Ibu.
>
> Kalian tumbuh sehat dan lucu ketika bayi adalah kebahagiaan . Kalian
>
> berprestasi di sekolah adalah kebanggaan buat Ibu. Kalian berprestasi di
>
> pekerjaan adalah kebanggaan buat Ibu . Setelah dewasa, kalian berprilaku
>
> sebagaimana seharusnya seorang hamba, itu kebahagiaan buat Ibu. Setiap
>
> kali binar mata kalian mengisyaratkan kebahagiaan di situlah kebahagiaan
>
> orang tua."
>
> Lagi-lagi aku hanya bisa berucap,
>
> " Ampunkan aku ya Allah kalau selama ini sedikit sekali ketulusan yang
>
> kuberikan kepada Ibu. *
> *Masih banyak alasan ketika Ibu menginginkan
> sesuatu. "
>
> Betapa sabarnya Ibuku melalui liku-liku kehidupan. Sebagai seorang
>
> wanita karier seharusnya banyak alasan yang bisa dilontarkan Ibuku untuk
>
> "cuti" dari pekerjaan rumah atau menyerahkan tugas itu kepada pembantu.
>
> Tapi tidak! Ibuku seorang yang idealis. Menata keluarga, merawat dan
>
> mendidik anak-anak adalah hak prerogatif seorang ibu yang takkan bisa
>
> dilimpahkan kepada siapapun. Pukul 3 dinihari Ibu bangun dan
>
> membangunkan kami untuk tahajud. Menunggu subuh Ibu ke dapur menyiapkan
>
> sarapan sementara aku dan adik-adik sering tertidur lagi...
>
> Ah, maafin kami Ibu ... 18 jam sehari sebagai "pekerja" seakan tak
>
> pernah membuat Ibu lelah.. Sanggupkah aku ya Allah ?
>
> " Nak... bangun nak, udah azan subuh .. sarapannya udah Ibu siapin
>
> dimeja.. "
>
> Kali ini aku lompat segera.. kubuka pintu kamar dan kurangkul Ibu
>
> sehangat mungkin, kuciumi pipinya yang mulai keriput, kutatap matanya
>
> lekat-lekat dan kuucapkan,
>
> " Terimakasih Ibu, aku beruntung sekali memiliki Ibu yang baik hati,
>
> ijinkan aku membahagiakan Ibu...".
>
> Kulihat binar itu memancarkan kebahagiaan. .. Cintaku ini milikmu,
>
> Ibu... Aku masih sangat membutuhkanmu. .. Maafkan aku yang belum bisa
>
> menjabarkan arti kebahagiaan buat dirimu..
>
> Sahabat.. tidak selamanya kata sayang harus diungkapkan dengan kalimat
>
> "aku sayang padamu... ",
>
> namun begitu, Rasulullah menyuruh kita untuk menyampaikan rasa cinta yang
> kita punya kepada orang yang kita cintai karena Allah.
>
> Ayo kita mulai dari orang terdekat yang sangat mencintai kita ... Ibu
>
> dan ayah walau mereka tak pernah meminta dan mungkin telah tiada.
>
> Percayalah.. . kata-kata itu akan membuat mereka sangat berarti dan
> bahagia.
>
> Wallaahua'lam
>
> "Ya Allah, cintai Ibuku, beri aku kesempatan untuk bisa membahagiakan
> Ibu..., dan jika saatnya nanti Ibu Kau panggil, panggillah dalam keadaan 
> khusnul
> khatimah. Ampunilah segala dosa-dosanya dan sayangilah ia
> sebagaimana ia menyayangi aku selagi aku kecil "
>
> "Titip Ibuku ya Allah"*
>
>
>
> Cheers,
> Shinta
>
>
> 
>

Kirim email ke