Subhanallah... jadi terharu. Jadi inget ibu sendiri, kalau pas pulang ke rumah langsung nyiapin ini dan itu. Padahal pengennya pulang tuh mau ngobrol banyak sama ibu. Eh ibunya malah sibuk bikin juslah, bubur kacanglah dan apapun yang beliau kira saya suka. Dan kalau pulang biasanya dititipin makanan banyak, pisang, singkong, dsb. Saya juga sempet berfikir, "kayaknya saya bisa beli di pasar deket rumah deh. Toh barangnya sama. Dari pada bawa jauh2 dari rumah ibu". Sekarang, melalui cerita ini, saya jadi lebih paham, itu adalah kebahagiaan buat Ibu.
Memang sungguh luar biasa ibu, tidak salah jika "Syurga itu di bawah telapak kaki ibu". Oya, beberapa hari lalu saya jalan2 di Youtube. Ada beberapa video yang sangat bagus tentang Ibu. Bagi saya, sangat menyentuh. http://www.youtube.com/watch?v=S3h5g37Z7DY http://www.youtube.com/watch?v=mGBnsaUh8Hs Yang ini iklan lucu tentang ibu.Lucu tapi menyentuh. Nyambung sama ceritanya Mbak Shinta http://www.youtube.com/watch?v=_SR2yISr7y0 Oya, kita yang dilahirkan oleh ibu kita secara caesar, video ini mungkin berguna http://www.youtube.com/watch?v=jm7Kooxymas Dan masih banyak lagi. Kalau mau search lebih lanjut, buka aja www.youtube.com trus search dengan keyword IBU Oya, buat Mbak Shinta, kalau diperbolehkan saya mau kutip juga buat di blog. Gimana Mbak? Wassalamu'alaikum wrwb http://parentingislami.wordpress.com Pada 19 September 2008 09:26, Dwi Ruslan <[EMAIL PROTECTED]> menulis: > Aduh mba Sinta menyentuh sekali ceritanya,ijinkan saya copy paste di > blog saya ya > > Pada tanggal 17/09/08, Shinta_Angie <[EMAIL PROTECTED]> menulis: > >> >> >> >> >> *Titip Ibuku ya Allah* >> >> *" Nak, bangun... udah adzan subuh. Sarapanmu udah ibu siapin di meja..." >> >> Tradisi ini sudah berlangsung 20 tahun, sejak pertama kali aku bisa >> >> mengingat. >> >> Kini usiaku sudah kepala 3 dan aku jadi seorang karyawan disebuah >> >> Perusahaan Tambang, tapi kebiasaan Ibu tak pernah berubah. >> >> " Ibu sayang... ga usah repot-repot Bu, aku dan adik-adikku udah dewasa" >> >> pintaku pada Ibu pada suatu pagi. Wajah tua itu langsung berubah. Pun >> >> ketika Ibu mengajakku makan siang di sebuah restoran. Buru-buru >> >> kukeluarkan uang dan kubayar semuanya. Ingin kubalas jasa Ibu selama ini >> >> dengan hasil keringatku. Raut sedih itu tak bisa disembunyikan. >> >> Kenapa Ibu mudah sekali sedih ? Aku hanya bisa mereka-reka, mungkin >> >> sekarang fasenya aku mengalami kesulitan memahami Ibu karena dari sebuah >> >> artikel yang kubaca ... orang yang lanjut usia bisa sangat sensitive dan >> >> cenderung untuk bersikap kanak-kanak ..... tapi entahlah.... Niatku >> >> ingin membahagiakan malah membuat Ibu sedih. Seperti biasa, Ibu tidak >> >> akan pernah mengatakan apa-apa >> >> Suatu hari kuberanikan diri untuk bertanya, >> >> " Bu, maafin aku kalau telah menyakiti perasaan Ibu. Apa yang bikin Ibu >> >> sedih ? " >> >> Kutatap sudut-sudut mata Ibu, ada genangan air mata di sana . >> >> Terbata-bata Ibu berkata, >> >> " Tiba-tiba Ibu merasa kalian tidak lagi membutuhkan Ibu. Kalian sudah >> >> dewasa, sudah bisa menghidupi diri sendiri. Ibu tidak boleh lagi >> >> menyiapkan sarapan untuk kalian, Ibu tidak bisa lagi jajanin kalian. >> >> Semua sudah bisa kalian lakukan sendiri " >> >> Ah, Ya Allah, ternyata buat seorang Ibu .. bersusah payah melayani >> >> putra-putrinya adalah sebuah kebahagiaan. >> >> Satu hal yang tak pernah kusadari sebelumnya. Niat membahagiakan bisa >> >> jadi malah membuat orang tua menjadi sedih karena kita tidak berusaha >> >> untuk saling membuka diri melihat arti kebahagiaan dari sudut pandang >> >> masing-masing. >> >> Diam-diam aku bermuhasabah. .. Apa yang telah kupersembahkan untuk Ibu >> >> dalam usiaku sekarang ? Adakah Ibu bahagia dan bangga pada putera >> >> putrinya ? Ketika itu kutanya pada Ibu, Ibu menjawab, >> >> " Banyak sekali nak kebahagiaan yang telah kalian berikan pada Ibu. >> >> Kalian tumbuh sehat dan lucu ketika bayi adalah kebahagiaan . Kalian >> >> berprestasi di sekolah adalah kebanggaan buat Ibu. Kalian berprestasi di >> >> pekerjaan adalah kebanggaan buat Ibu . Setelah dewasa, kalian berprilaku >> >> sebagaimana seharusnya seorang hamba, itu kebahagiaan buat Ibu. Setiap >> >> kali binar mata kalian mengisyaratkan kebahagiaan di situlah kebahagiaan >> >> orang tua." >> >> Lagi-lagi aku hanya bisa berucap, >> >> " Ampunkan aku ya Allah kalau selama ini sedikit sekali ketulusan yang >> >> kuberikan kepada Ibu. * >> *Masih banyak alasan ketika Ibu menginginkan >> sesuatu. " >> >> Betapa sabarnya Ibuku melalui liku-liku kehidupan. Sebagai seorang >> >> wanita karier seharusnya banyak alasan yang bisa dilontarkan Ibuku untuk >> >> "cuti" dari pekerjaan rumah atau menyerahkan tugas itu kepada pembantu. >> >> Tapi tidak! Ibuku seorang yang idealis. Menata keluarga, merawat dan >> >> mendidik anak-anak adalah hak prerogatif seorang ibu yang takkan bisa >> >> dilimpahkan kepada siapapun. Pukul 3 dinihari Ibu bangun dan >> >> membangunkan kami untuk tahajud. Menunggu subuh Ibu ke dapur menyiapkan >> >> sarapan sementara aku dan adik-adik sering tertidur lagi... >> >> Ah, maafin kami Ibu ... 18 jam sehari sebagai "pekerja" seakan tak >> >> pernah membuat Ibu lelah.. Sanggupkah aku ya Allah ? >> >> " Nak... bangun nak, udah azan subuh .. sarapannya udah Ibu siapin >> >> dimeja.. " >> >> Kali ini aku lompat segera.. kubuka pintu kamar dan kurangkul Ibu >> >> sehangat mungkin, kuciumi pipinya yang mulai keriput, kutatap matanya >> >> lekat-lekat dan kuucapkan, >> >> " Terimakasih Ibu, aku beruntung sekali memiliki Ibu yang baik hati, >> >> ijinkan aku membahagiakan Ibu...". >> >> Kulihat binar itu memancarkan kebahagiaan. .. Cintaku ini milikmu, >> >> Ibu... Aku masih sangat membutuhkanmu. .. Maafkan aku yang belum bisa >> >> menjabarkan arti kebahagiaan buat dirimu.. >> >> Sahabat.. tidak selamanya kata sayang harus diungkapkan dengan kalimat >> >> "aku sayang padamu... ", >> >> namun begitu, Rasulullah menyuruh kita untuk menyampaikan rasa cinta yang >> kita punya kepada orang yang kita cintai karena Allah. >> >> Ayo kita mulai dari orang terdekat yang sangat mencintai kita ... Ibu >> >> dan ayah walau mereka tak pernah meminta dan mungkin telah tiada. >> >> Percayalah.. . kata-kata itu akan membuat mereka sangat berarti dan >> bahagia. >> >> Wallaahua'lam >> >> "Ya Allah, cintai Ibuku, beri aku kesempatan untuk bisa membahagiakan >> Ibu..., dan jika saatnya nanti Ibu Kau panggil, panggillah dalam keadaan >> khusnul >> khatimah. Ampunilah segala dosa-dosanya dan sayangilah ia >> sebagaimana ia menyayangi aku selagi aku kecil " >> >> "Titip Ibuku ya Allah"* >> >> >> >> Cheers, >> Shinta >> >> >> > >

