Sharing ini saya tulis udah cukup lama (Juli 2008) di blog saya, selengkapnya 
di http://bunda2f.multiply.com/journal/item/114/Sudah_Siapkah_Anak_Sekolah_
 
Berhubung banyak mom yang sepertinya bingung dg masalah sekolah anaknya, 
terutama sekolah dini, saya coba posting lagi dan share bersama tentang ini di 
milis.
 
Smoga bermanfaat ya
 
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Sudah Siapkah Anak Sekolah ?
 
Sekolah menuntut kesiapan mental lho...
Banyak orang tua yg dibuat bingung, kapan ya anak musti mulai sekolah. Nah, 
sekolah yg saya maksud di sini adalah mulai dari playgroup/kelompok bermain..
Kalau buat saya (ini saya sendiri lho ya, jadi bisa aja gak sama buat yg 
lain), usia wajib sekolah itu umur 4 - 5 th, dan buat saya langsung masuk TK, 
bisa TK selama 1 th atau 2 th.
 
Tapi, ada beberapa ortu yg menilai, anak perlu juga masuk mulai dari playgroup. 
OK! Masing-masing ortu beda-beda pertimbangannya, gak bisa ditarik satu garis 
lurus yg saklek. 
 
Selain itu masing-masing anak juga berbeda. Ada anak yang sudah siap sekolah 
sejak dini dan terus saja merengek minta sekolah, tapi ada juga anak yang butuh 
waktu lama untuk siap masuk sekolah. 
 
Saya aja jaman dulu kecil-kecilnya pernah masuk Playgroup bareng adik saya, 
padahal ibu saya adalah FTM, ibu rumah tangga biasa. Tapi giliran anak sendiri 
saya gak mau, saya gak mau masukin anak saya sekolah lebih dini. Anak saya 
mulai masuk sekolah ya TK., itupun minimal umurnya 4 th..hehehe...
 
Buat saya kesiapan anak untuk masuk sekolah penting banget..
 
Pertama, kesadaran anak untuk mau sekolah tentu harus dari dirinya sendiri, 
karena anaklah yg akan menjalaninya, jadi dia harus mau dan mampu menanggung 
konsekwensinya, supaya tidak ada kasus anak mogok sekolah, males bangun pagi, 
dsb
 
Masa sekolah itu adalah masa yang sangat panjang, bayangkan berapa tahun anak 
harus sekolah nantinya? Nah selama masa sekolah yang nantinya panjang itu tentu 
ada saatnya anak akan mengalami kejenuhan, bayangkan jika sejak dini anak-anak 
yg mustinya "tugas psikologis dan perkembangannya" hanya bermain itu sudah 
"dituntut" untuk sekolah, duduk manis dan diam mendengarkan guru berbicara atau 
mendengarkan instruksi guru. 
 
Sementara anak-anak usia dini kebutuhan perkembangannya masih ingin bebas 
bermain dan berlari kesana kemari, mengeksplor apapun yg ditemui dan 
dihadapinya. Mampukah "sekolah dini" memfasilitasi kebutuhan perkembangan anak 
itu?
 
Kedua, sudah siapkah anak secara mental emosional, untuk sekolah?
 
coba kita jawab pertanyaan-pertanyaan simpel berikut :
 
sanggupkah anak bangun pagi?
 
sanggupkah anak beradaptasi dg situasi baru tanpa ortu, hanya dg 
guru/asistennya ?
 
sanggupkah anak berada di lingkungan baru selama beberapa jam ?
 
sanggupkah anak menerima instruksi guru ?
 
sanggupkah anak mengerti apa yg diinstruksikan oleh guru ?
 
sanggupkah anak melakukan apa yg diinstruksikan oleh guru ?
 
sanggupkah anak melakukan "tugas" dari guru? seperti jika guru memberi 
instruksi untuk memberi warna, menggunting,  menempel, menulis, dsb ?
 
sanggupkah anak maju ke depan kelas, bercerita, bertanya pada guru, dsb?
 
sanggupkah anak melakukan beberapa hal secara mandiri, seperti makan sendiri, 
pergi ke kamar mandi sendiri, menyimpan mainan atau peralatan ke tempatnya, dsb?
 
sanggupkah anak menyimpan dan memasukkan peralatannya sendiri ke dalam tas 
tanpa bantuan?
 
sanggupkah anak melakukan aktifitas-aktifitas fisik yg menuntut kemampuan 
motorik kasar seperti berlari, menaiki tangga, menendang /melempar bola, dsb?
 
sanggupkah anak menghadapi teman-temannya ?
 
sanggupkah anak berkenalan ?
 
sanggupkah anak mendekati teman dan mengajaknya main bersama?
 
sanggupkah anak berbagi mainan bersama temannya?
 
sanggupkah anak bermain bersama teman-temannya secara baik dan fair ?
 
sanggupkah anak menghadapi persaingan ?
 
sanggupkah anak menghadapi pertengkaran antar teman?
 
sanggupkah anak menghadapi teman yg kasar ? agresif ? suka merebut mainan 
?suka mengejek teman ? dsb?
 
Pertanyaan-pertanyaan di atas perlu dijawab ortu utk melihat seberapa jauhkan 
dan seberapa siapkah anak sekolah?
 
Hal-hal yg sudah disebutkan itu hanya beberapa hal yg akan dihadapi anak kelak 
di sekolahnya.
 
Anak-anak yg belum siap mental utk bersekolah, nantinya akan bermasalah di 
sekolah. Entah berdampak langsung pada saat itu juga misalnya mogok sekolah, 
sekolah tapi ogah-ogahan, takut/trauma sekolah, atau selalu minta ditemani di 
sekolah, sekolah tapi menjerit-jerit karena tidak mau masuk kelas, sekolah tapi 
mondar mandir di kelas, tidak konsentrasi, dsb, atau berdampak di kemudian 
hari, entah anak nantinya jd pendiam, pemalu, penakut, malas belajar, sulit 
konsentrasi, suka mengganggu teman, suka membolos, dsb.
 
Anak-anak yg belum siap juga nantinya akan merepotkan ortu toh? Misalnya harus 
ditungguin bahkan sampai ke kelas, ditemenin belajar di sekolah sepanjang 
waktu?....hm....*mikir-mikir*
 
Jika ortu mampu memberikan stimulasi yg baik di rumah, misalnya 
mengenalkan konsep bentuk (segitiga, kotak, bulat, dst), 
konsep warna (merah, kuning, ijo, dst), 
konsep berhitung (pengenalan konsep jumlah seperti jumlah barang ada 1, 2, 3, 
dst), 
menulis (memegang pensil, mencoret kertas, membentuk huruf/angka) ,
menggambar, mewarnai, dsb 
dengan cara-cara yg asyik dan fun, sambil bermain, 
ketika sedang makan, ketika sedang jalan-jalan, 
ketika sedang bermain, 
ketika sedang membaca bersama, 
tanpa pemaksaan, tentu akan lebih bagus lagi. 
Jada anak "sekolah" dg suasana yg lebih asyik di rumah, gak harus masuk 
playgroup.
Karena toh yg diajarkan di playgroup untuk menstimulasi anak juga. Jadi? Kenapa 
bukan ortunya saja yg berusaha menstimulasi semaksimal mungkin. 
 
Belikan mainan-mainan edukatif (stacking ring, shape shorter, dsb), buku-buku 
permainan utk balita yg bisa diterapkan bersama anak, buku-buku cerita untuk 
story telling, dsb. Toh investasinya sama dg kalo kita masukkan ke playgroup 
(mungkin lebih hemat sedikit dan uangnya bisa buat tambahan investasi sekolah 
atau kuliah anak di masa depan kan ?)
 
Tinggal kita bikin aja kurikulum dan susun target sendiri kalo menginginkan, 
disesuaikan dg kemampuan yg udah dicapai anak. Masing-masing ortu tentu lebih 
tahu kan kemampuan anaknya.
 
Jangan lupa, jangan cuma membelikan dan kemudian diberikan begitu saja ke anak, 
karena gak akan bermanfaat apa-apa, kecuali ortu mau main bersama anak dan 
"belajar" bersama anak hehehe. (untuk ini mungkin banyak ortu yg lebih pintar 
dari saya ya)
 
Lantas bagaimana dengan sosialisasinya? Sosialisasi juga ada masanya kog, 
sedari kecil anak mungkin hanya berinteraksi dengan orang dewasa atau orang yg 
dikenalnya, seiring dg waktu ditambah kesiapan mental dan pertambahan umur dan 
kematangan berpikirnya, anak juga akan belajar bersosialisasi dengan teman 
sebaya. Sosialisasi gak mudah lho, gak semudah yg kita pikirkan, jadi perlu 
kesiapan mental juga. Bagaimana berhadapan dg teman, bagaimana berkenalan dan 
bertegur sapa dg teman, bagimana bermain bersama teman, bagaimana berbagi 
mainan dg teman, dsb. semua itu tentu butuh proses dan proses belajar yg tidak 
sebentar.
 
Yah biar bagaimanapun, masing-masing ortu mungkin beda pertimbangan 
dan kebijakan untuk menyekolahkan anak, semua kembali dari sisi anak 
dan ortunya juga.
 
by: Maya Siswadi / Maya Mai Farnomisa
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
 
Maya Siswadi - Bunda 3F
http://bunda2f.multiply.com


      

Kirim email ke