MIRACLES AT HOME (part 2 - tamat)

http://parentingislami.wordpress.com/2009/01/19/miracles-at-home-part-2
miracles-at-home-part-2/


Akhirnya aku mengikuti undangan trainer itu untuk mengikuti pelatihannya
selama dua hari penuh di akhir tahun 2008 ini. Subhaanallah. Aku jadi sangat
termotivasi dan terinspirasi untuk melakukan pengasuhan anak dengan teknik
yang benar. Tips nya pun begitu lengkap. Tips untuk memahami bahwa anak itu
anugerah yang paling indah. Anugrah yang seharusnya kita syukuri dan selalu
kita ingat. Yang membuat kita berpikir untuk mendidiknya dengan benar dan
tak akan menyakitinya dengan kata-kata apalagi fisik. Aku jadi tak ingin
lagi marah, membentak , apalagi mencubit.

Selain itu, aku jadi tahu tentang betapa cerdasnya anak-anak. Mereka
dianugrahi keinginan belajar yang sangat besar. Aku harus bisa sabar
menemani mereka mengacak-acak rumahku sebagai media belajar. Aku harus bisa
mengarahkan mereka untuk belajar dengan menyenangkan agar mereka menjadi
anak-anak yang cerdas. Persepsi positif mereka harus selalu diulang-ulang
terus untuk membuat mereka semakin melejitkan potensi positif mereka. Di
sisi lain, kebiasaanku terbiasa dengan cara pengasuhan lama harus kupendam
dalam-dalam. Aku tak boleh mengatakan jangan nakal, jangan malas, jangan
suka menyakiti adik, jangan galak, jangan suka mencubit. Benar-benar perlu
keteguhan hati.

Hal yang sering kita lupakan juga, ternyata aku harus belajar mendengarkan
anak. Jika menangis, marah, atau menginginkan sesuatu, kita harus
mendengarkan dulu apa yang mereka rasakan dan apa yang mereka inginkan.
Setelah itu barulah kita kita berikan persepsi positif kita pada mereka.
Jika kita tidak suka mendengarkan anak, maka anak akan merasa tidak
berharga. Rasa tidak berharga akan membuat anak mencari harga diri mereka di
luar rumah. Di lingkungan yang tidak kita inginkan. Akan tetapi, jika mereka
merasa berharga di rumah, aku yakin, mereka akan nyaman bersama aku dan
suamiku, dan tak akan tergoda pada lingkungan yang buruk di masa depan
nanti.

Ternyata, untuk mempunyai suasana rumah yang menyenangkan, kita juga harus
memiliki aturan. Aturan-aturan yang baik itu harus tetap konsisten kita
tetapkan. Jika kita melarang jajan, maka larangan itu harus tetap kita
patuhi walaupun anak akan meraung-raung dan bergulingan di pinggir jalan.
Karena jika tidak konsisten, maka anak akan belajar tentang berbohong, tidak
menepati kata-kata, dan mengulang hal yang sama di kemudian hari. Anak-anak
yang dengan bijak kita dengarkan keinginannya kemudian kita arahkan dengan
persepsi positif ternyata bisa kita jauhkan dari kebiasaan-kebiasaan yang
buruk, misalnya jajan, memukul adik, memukul teman, pelit, dan banyak hal
yang lain.

Aku pulang dan mulai mempraktekkan tips-tips dalam pelatihan. Aku melihat
bagaimana mata anakku berbinar ketika aku mendengarkan curhatnya setelah
marah dan memukul adiknya. Aku kemudian menceritakan sakitnya bila dipukul.
Dan akhirnya dia memutuskan untuk meminta maaf karena telah menyakiti
adiknya. Sebelumnya, anakku tidak pernah mau meminta maaf.

Selain itu, sekarang aku membiasakan shalat berjamaah. Setelah shalat
berjamaah, aku dudukkan anakku di pangkuanku dan aku berdoa dekat
telinganya. Kukatakan dengan jelas dekat bahwa aku bersyukur mendapat
seorang anak yang sholeh, yang sayang sama adik, pintar makan, suka belajar,
dan hal lain yang kuinginkan darinya.

Setiap ada kesulitan anak-anakku tidak mau melakukan rutinitas, aku tidak
marah-marah. Aku sudah punya banyak cara di kepalaku yang akan membuatnya
melakukan apa yang seharusnya dengan senang, tanpa perasaan terpaksa. Aku
sekarang sudah menjadi Nanny untuk keluargaku.

Hanya dalam dua hari, suasana rumahku berubah. Pembantuku senang karena dia
tidak kerepotan lagi oleh kedua anak. Aku bahagia, karena sekarang aku benar
punya syurga tempat aku melepaskan lelahku dan mendapatkan kebahagian. Aku
selalu ingin pulang dan menyempatkan untuk bermain sambil memberikan
persepsi-persepsi positif. Aku merasakan kebahagiaan karena mempunyai
anak-anak yang sholeh. Dan ternyata anak sholeh itu akan dimiliki oleh orang
tua yang sholeh, yang memahami cara pengasuhan anak.

Ini adalah kisah nyata yang aku alami. Semoga semua orang tua di dunia dapat
mengambil hikmahnya dengan meluruskan cara pengasuhan anaknya.

Zulaehah Hidayati,

dokter dan ibu dari dua orang anak

http://parentingislami.wordpress.com

Kirim email ke