Dear Mom,

Aq tertarik bgt bc cerita mba....Aq ibu dr 2 anak, yg pertama usia 3 th, yg 
kedua usia 1 th. Aq juga ibu yg bekerja. 
Anakku yg pertama jg suka susah kl disuruh salim. Kl uda bilang gk mau ya gk 
mau. Kadang2 aq suka sedih, apalagi kl papa ato mamanya yg mau berangkat kerja, 
akhirnya adiknya yg aq suruh salim, trus aq bilang, tuh kak adik aja pinter mau 
salim, masak kakak gk mau. Salah gk sih kl aq bilang seperti itu?? 
Dia juga suka dorong adiknya, apalgi kl dia lg asik main dan adinya datang, 
maksud adiknya mau main bareng, tapi kakanya merasa terganggu, kl adiknya 
pegang2 mainan yg sedang dia pakai. Kl sudah gitu, otomatis aq langsung bilang, 
kakak gk boleh gitu, adiknya kan mau ikutan main. Salah gk sih kl aq bilang 
seperti itu??
Alhamdulillah anak2 ku suka niru ortunya sholat. Tp akhir2 ini anakku yg ptama 
suka gk mau kl disuruh ikut sholat, apalg kl lg asik nonton kartun. Sebaiknya 
aq arahin bagaimana ya??
Waktu ikut training, khusus ortunya ato bs bw anak? Ngomong2 mau ngadain 
training semacam itu gk di Surabaya?? Tertarik juga ni...

Salam/Mom's Yusa n Yula



--- Pada Sen, 19/1/09, Parenting Islami <[email protected]> menulis:
Dari: Parenting Islami <[email protected]>
Topik: [parentsguide] MIRACLES AT HOME (part 2 - tamat)
Kepada: [email protected]
Tanggal: Senin, 19 Januari, 2009, 4:19 PM










    
            MIRACLES AT HOME (part 2 - tamat)http://parentingisl ami.wordpress. 
com/2009/ 01/19/miracles-at- home-part- 2miracles-at- home-part- 2/

Akhirnya aku mengikuti undangan trainer itu untuk mengikuti
pelatihannya selama dua hari penuh di akhir tahun 2008 ini.
Subhaanallah. Aku jadi sangat termotivasi dan terinspirasi untuk
melakukan pengasuhan anak dengan teknik yang benar. Tips nya pun begitu
lengkap. Tips untuk memahami bahwa anak itu anugerah yang paling indah.
Anugrah yang seharusnya kita syukuri dan selalu kita ingat. Yang
membuat kita berpikir untuk mendidiknya dengan benar dan tak akan
menyakitinya dengan kata-kata apalagi fisik. Aku jadi tak ingin lagi
marah, membentak , apalagi mencubit.
Selain itu, aku jadi tahu tentang betapa cerdasnya anak-anak. Mereka
dianugrahi keinginan belajar yang sangat besar. Aku harus bisa sabar
menemani mereka mengacak-acak rumahku sebagai media belajar. Aku harus
bisa mengarahkan mereka untuk belajar dengan menyenangkan agar mereka
menjadi anak-anak yang cerdas. Persepsi positif mereka harus selalu
diulang-ulang terus untuk membuat mereka semakin melejitkan potensi
positif mereka. Di sisi lain, kebiasaanku terbiasa dengan cara
pengasuhan lama harus kupendam dalam-dalam. Aku tak boleh mengatakan
jangan nakal, jangan malas, jangan suka menyakiti adik, jangan galak,
jangan suka mencubit. Benar-benar perlu keteguhan hati.
Hal
yang sering kita lupakan juga, ternyata aku harus belajar mendengarkan
anak. Jika menangis, marah, atau menginginkan sesuatu, kita harus
mendengarkan dulu apa yang mereka rasakan dan apa yang mereka inginkan.
Setelah itu barulah kita kita berikan persepsi positif kita pada
mereka. Jika kita tidak suka mendengarkan anak, maka anak akan merasa
tidak berharga. Rasa tidak berharga akan membuat anak mencari harga
diri mereka di luar rumah. Di lingkungan yang tidak kita inginkan. Akan
tetapi, jika mereka merasa berharga di rumah, aku yakin, mereka akan
nyaman bersama aku dan suamiku, dan tak akan tergoda pada lingkungan
yang buruk di masa depan nanti.
Ternyata, untuk mempunyai suasana rumah yang menyenangkan, kita juga
harus memiliki aturan. Aturan-aturan yang baik itu harus tetap
konsisten kita tetapkan. Jika kita melarang jajan, maka larangan itu
harus tetap kita patuhi walaupun anak akan meraung-raung dan
bergulingan di pinggir jalan. Karena jika tidak konsisten, maka anak
akan belajar tentang berbohong, tidak menepati kata-kata, dan mengulang
hal yang sama di kemudian hari. Anak-anak yang dengan bijak kita
dengarkan keinginannya kemudian kita arahkan dengan persepsi positif
ternyata bisa kita jauhkan dari kebiasaan-kebiasaan yang buruk,
misalnya jajan, memukul adik, memukul teman, pelit, dan banyak hal yang
lain.
Aku pulang dan mulai mempraktekkan tips-tips dalam pelatihan. Aku
melihat bagaimana mata anakku berbinar ketika aku mendengarkan
curhatnya setelah marah dan memukul adiknya. Aku kemudian menceritakan
sakitnya bila dipukul. Dan akhirnya dia memutuskan untuk meminta maaf
karena telah menyakiti adiknya. Sebelumnya, anakku tidak pernah mau
meminta maaf.
Selain itu, sekarang aku membiasakan shalat berjamaah. Setelah
shalat berjamaah, aku dudukkan anakku di pangkuanku dan aku berdoa
dekat telinganya. Kukatakan dengan jelas dekat bahwa aku bersyukur
mendapat seorang anak yang sholeh, yang sayang sama adik, pintar makan,
suka belajar, dan hal lain yang kuinginkan darinya.
Setiap ada kesulitan anak-anakku tidak mau melakukan rutinitas, aku
tidak marah-marah. Aku sudah punya banyak cara di kepalaku yang akan
membuatnya melakukan apa yang seharusnya dengan senang, tanpa perasaan
terpaksa. Aku sekarang sudah menjadi Nanny untuk keluargaku.
Hanya dalam dua hari, suasana rumahku berubah. Pembantuku senang
karena dia tidak kerepotan lagi oleh kedua anak. Aku bahagia, karena
sekarang aku benar punya syurga tempat aku melepaskan lelahku dan
mendapatkan kebahagian. Aku selalu ingin pulang dan menyempatkan untuk
bermain sambil memberikan persepsi-persepsi positif. Aku merasakan
kebahagiaan karena mempunyai anak-anak yang sholeh. Dan ternyata anak
sholeh itu akan dimiliki oleh orang tua yang sholeh, yang memahami cara
pengasuhan anak.
Ini adalah kisah nyata yang aku alami. Semoga semua orang tua di
dunia dapat mengambil hikmahnya dengan meluruskan cara pengasuhan
anaknya.
Zulaehah Hidayati, 
dokter dan ibu dari dua orang anak
http://parentingisl ami.wordpress. com

      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      Menambah banyak teman sangatlah mudah dan cepat. Undang teman dari 
Hotmail, Gmail ke Yahoo! Messenger sekarang! 
http://id.messenger.yahoo.com/invite/

Kirim email ke