Memang betul kayaknya dunia medis sekarang begitu,mengurus adm dahulu baru 
dilayani
Dulu waktu anakku baru berumur 7 hari ,sempat mengalami gagal nafas di rumah yg 
akhirnya hrs diberikan nafas buatan oleh eyangnya,
Pas aku bawa ke rumah sakit ya..itu pastinya hrsz mengurus adm dahulu..bayar 
uang muka ,nicu klo g salah 7jutaan..
Untungnya pas mau kerumah sakit yang ibu  saya ingat saya hrsz bawa dompet yg 
berisi uang..(Setelah melahirkan saya msh dirumah ortu)
Duwhh..ga kebayang deh klo sampe lupa..takut g dilayanin,lgpl kbtulan salah 
satu suster kenal dgn muka saya mngkn krn ambil kamar vip jd rada ngeh 
susternya..,dan diberikan pelayanan yg baik

Maaf klo ada yg tidak berkenan

Love,
Caishienafawwaz 3 years
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

-----Original Message-----
From: Deianeira Hidayat <[email protected]>

Date: Thu, 12 Feb 2009 18:23:11 
To: <[email protected]>
Subject: Bls: [parentsguide] sebuah kebobrokan dunia medis : a true story


Mereka itu luar biasa tega sekali yah... Apa mereka tim medis tidak pernah 
berpikir kejadian tersebut bisa terjadi dengan mereka?

Semua hal pasti ada hikmahnya. Jika mereka bisa melakukan pada orang lain bisa 
jadi sewaktu-waktu Allah memberikan situasi yang sama kepada mereka dengan 
kesulitan yang lebih.

Semoga Allah memberikan ketabahan dan kemudahan2 kepada keluarga tersebut. Amin.

--- Pada Kam, 12/2/09, Andriani Dhania <[email protected]> menulis:
Dari: Andriani Dhania <[email protected]>
Topik: [parentsguide] sebuah kebobrokan dunia medis : a true story
Kepada: [email protected]
Tanggal: Kamis, 12 Februari, 2009, 7:15 AM











    
            Kejadian ini bermula pada hari rabu tgl11 februari pukul 4 sore.. 
Waktu itu anak sahabatku yang baru berusia 2,5th sedang bermain dengan 
sepedanya, tidak lama kemudian dia mengeluh sakit perut kemudian diare. Si ibu 
yang panik kemudian membawa si anak ke seorang bidan desa, setelah si anak 
meminum obat diare dari ibu bidan, diarenya langsung mampat, tapi 2jam kemudian 
tepatnya jam 7malam, diarenya kambuh lagi tapi sangat banyak sampai sulit 
berhenti. Si ibu panik lagi dan membawa si anak beserta suami dan anak keduanya 
berobat ke puskesmas. Mereka hanya menaiki sepeda motor. Si ibu harus memangku 
dua anaknya sekaligus. Anak keduanya baru berusia 1tahun. Sesampainya di 
puskesmas 24jam, si anak tidak diberikan terapi apa2, hanya langsung
 dirujuk tanpa dibekali infus dan tidak diantar ambulans. Mereka langsung 
berangkat ke RSI Hidayatullah Jogja untuk penanganan lebih lanjut. Apesnya, 
motor yang ditumpangi kehabisan bensin ditengah jalan, si ayah panik, langsung 
berusaha menghentikan mobil yang kebetulan lewat tapi tidak ada yang mau 
berhenti. Melihat si anak semakin kritis, si ayah langsung berhenti di tengah 
jalan, tidak peduli ada mobil yang akan menabraknya, karena hanya itulah 
satu2nya jalan supaya ada mobil yang mau berhenti. Setelah itu ada mobil pick 
up yang berhenti untuk menolong, si ibu bersama dua anaknya naik ke mobil 
sementara si ayah mengurus motornya supaya tidak hilang. Jarak RS sangat jauh. 
Sampai di RS jam 1 dini hari, tidak segera mendapatkan pertolongan apapun, 
perawat yang akan memberikan infus angkat tangan karena pembuluh darah si anak 
sudah kisut dan tidak bisa dimasukkan jarum. Melihat kondisi yang kritis, si 
ibu malah disuruh menyelesaikan pendaftaran dan
 administrasi. Tidak ada terapi lagi untuk si anak. Di tengah kebingungan 
karena harus menghadapi ini semua sendirian, ditambah harus menemani anak 
kedua, si anak yang sakit ini mengeluh haus kepada ibunya. Suaranya sangat 
lirih hampir tak terdengar. Kemudian si ibu berinisiatif memberikan air 
untuknya, tapi setiap habis minum, si anak langsung kencing. Pencernaannya 
seperti tidak berfungsi. Beberapa menit kemudian, si anak meninggal dunia. 
Meninggal di pangkuan ibunya yang kebingungan. Setelah meninggal, baru si 
dokter datang dan memeriksanya. 
Entah apa yang ada di pikiran paramedis2 itu sewaktu si ibu dan anak ini datang 
meminta pertolongan ??? Semua paramedis harusnya tahu, terapi utama untuk diare 
adalah rehidrasi cairan. Bagaimana mungkin ada puskesmas yang tidak menyediakan 
infus dan ambulans ??? Bagaimana mungkin mereka tega mengulur2 waktu si ibu 
untuk menyelesaikan pendaftaran dan administrasi padahal di pangkuan ibu ini 
ada anak yang sedang meregang nyawa ??? 
Dimana letak kedua mata dan satu hati mereka sewaktu melihat anak ini semakin 
kritis sehingga tidak segera diberikan pertolongan ??? 
Ingin rasanya aku melihat tampang2 pucat dan panik paramedis di RS itu sewaktu 
melihat calon pasien mereka meninggal sebelum diberikan pertolongan.  
Aku ini juga seorang dokter. Aku juga memiliki banyak kekhilafan sebagai 
seorang manusia. Tapi aku tidak akan memaafkan dan mentolerir tindak kriminal 
“membunuh” pasien apalagi dengan disengaja. Diare itu bukan penyakit sepele, 
justru banyak kematian yang disebabkan oleh ketidaktahuan kita akan 
berbahayanya penyakit itu. Tidak direkomendasikan obat untuk diare akut pada 
bayi dan balita kecuali jika diare itu sudah kronis/berhari2 dan disertai 
gejala adanya bakteri seperti berbau busuk, berbuih, warna hijau, berlendir, 
berdarah, dll. Hanya dengan rehidrasi cairan atau bisa ditambah dengan Lacto-b.


      
 

      

    

           
  
    
        
         
        
        








        


        
        


___________________________________________________________________________
Dapatkan alamat Email baru Anda!
Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan sebelum diambil orang lain!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/id/

Kirim email ke