Sedih sekali. Ya Allah....semoga di sekitar kita masih banyak dokter dan 
paramedis yang mempunyai moral dan hati nurani. Amiiin. 




________________________________
From: Andriani Dhania <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Thursday, 12 February, 2009 14:15:09
Subject: [parentsguide] sebuah kebobrokan dunia medis : a true story


Kejadian ini bermula pada hari rabu tgl11 februari pukul 4 sore.. Waktu itu 
anak sahabatku yang baru berusia 2,5th sedang bermain dengan sepedanya, tidak 
lama kemudian dia mengeluh sakit perut kemudian diare. Si ibu yang panik 
kemudian membawa si anak ke seorang bidan desa, setelah si anak meminum obat 
diare dari ibu bidan, diarenya langsung mampat, tapi 2jam kemudian tepatnya jam 
7malam, diarenya kambuh lagi tapi sangat banyak sampai sulit berhenti. Si ibu 
panik lagi dan membawa si anak beserta suami dan anak keduanya berobat ke 
puskesmas. Mereka hanya menaiki sepeda motor. Si ibu harus memangku dua anaknya 
sekaligus. Anak keduanya baru berusia 1tahun. Sesampainya di puskesmas 24jam, 
si anak tidak diberikan terapi apa2, hanya langsung dirujuk tanpa dibekali 
infus dan tidak diantar ambulans. Mereka langsung berangkat ke RSI Hidayatullah 
Jogja untuk penanganan lebih lanjut. Apesnya, motor yang ditumpangi kehabisan 
bensin ditengah jalan, si ayah panik,
 langsung berusaha menghentikan mobil yang kebetulan lewat tapi tidak ada yang 
mau berhenti. Melihat si anak semakin kritis, si ayah langsung berhenti di 
tengah jalan, tidak peduli ada mobil yang akan menabraknya, karena hanya itulah 
satu2nya jalan supaya ada mobil yang mau berhenti. Setelah itu ada mobil pick 
up yang berhenti untuk menolong, si ibu bersama dua anaknya naik ke mobil 
sementara si ayah mengurus motornya supaya tidak hilang. Jarak RS sangat jauh. 
Sampai di RS jam 1 dini hari, tidak segera mendapatkan pertolongan apapun, 
perawat yang akan memberikan infus angkat tangan karena pembuluh darah si anak 
sudah kisut dan tidak bisa dimasukkan jarum. Melihat kondisi yang kritis, si 
ibu malah disuruh menyelesaikan pendaftaran dan administrasi. Tidak ada terapi 
lagi untuk si anak. Di tengah kebingungan karena harus menghadapi ini semua 
sendirian, ditambah harus menemani anak kedua, si anak yang sakit ini mengeluh 
haus kepada ibunya. Suaranya sangat
 lirih hampir tak terdengar. Kemudian si ibu berinisiatif memberikan air 
untuknya, tapi setiap habis minum, si anak langsung kencing. Pencernaannya 
seperti tidak berfungsi. Beberapa menit kemudian, si anak meninggal dunia. 
Meninggal di pangkuan ibunya yang kebingungan. Setelah meninggal, baru si 
dokter datang dan memeriksanya. 
Entah apa yang ada di pikiran paramedis2 itu sewaktu si ibu dan anak ini datang 
meminta pertolongan ??? Semua paramedis harusnya tahu, terapi utama untuk diare 
adalah rehidrasi cairan. Bagaimana mungkin ada puskesmas yang tidak menyediakan 
infus dan ambulans ??? Bagaimana mungkin mereka tega mengulur2 waktu si ibu 
untuk menyelesaikan pendaftaran dan administrasi padahal di pangkuan ibu ini 
ada anak yang sedang meregang nyawa ??? 
Dimana letak kedua mata dan satu hati mereka sewaktu melihat anak ini semakin 
kritis sehingga tidak segera diberikan pertolongan ??? 
Ingin rasanya aku melihat tampang2 pucat dan panik paramedis di RS itu sewaktu 
melihat calon pasien mereka meninggal sebelum diberikan pertolongan..  
Aku ini juga seorang dokter. Aku juga memiliki banyak kekhilafan sebagai 
seorang manusia. Tapi aku tidak akan memaafkan dan mentolerir tindak kriminal 
“membunuh” pasien apalagi dengan disengaja. Diare itu bukan penyakit sepele, 
justru banyak kematian yang disebabkan oleh ketidaktahuan kita akan 
berbahayanya penyakit itu. Tidak direkomendasikan obat untuk diare akut pada 
bayi dan balita kecuali jika diare itu sudah kronis/berhari2 dan disertai 
gejala adanya bakteri seperti berbau busuk, berbuih, warna hijau, berlendir, 
berdarah, dll. Hanya dengan rehidrasi cairan atau bisa ditambah dengan Lacto-b. 

   


      

Kirim email ke